Sisi Sunyi Taman Sari Sunyaragi, Cirebon


Tempat perisirahatan

Menyambangi sebuah hamparan bangunan penuh kesunyian itu menyenangkan. Tidak saja membuat keadaan yang panas, menjadi dingin dan sejuk tapi dapat meredam emosi dan menawarkan keadaan, sehingga tercipta suatu sinergi. Makna dari Sunyaragi selaras dengan bentuk bangunan yang sunyi dan menyepi. Sunya bermakna sepi dan Ragi adalah sebuah raga.  Dua buah kata yang berasal dari bahasa sansekerta. Konon, tujuan dari pembuatan Sunyaragi diperuntukan Sultan Cirebon untuk beristirahat dan bersemedi. 

Dalam Gua Peteng

Nampak Luar Gua Peteng

Luas kompleks gua dan bangunan mencapai 15 hektare. Kompleks terdiri dari gua-gua dan pesanggrahan. Dari beberapa gua yang ada, gua peteng merupakan gua utama yang memiliki fungsi sebagai ruang semedi Sultan. Apabila menyusuri beberapa gua, nuansa sunyi dan mistis begitu terasa. Apalagi, disekitar gua terdapat taman air yang menghubungkan beberapa gua disekitarnya. Disekitar gua, terdapat beberapa bukit, jalanan dan danau sebagai pintu utama yang terlihat dari jalan bridgen Dharsono.

Nuansa damai juga sangat terasa, ketika menyusuri jalan menuju bangunan yang disebut sebagai pesangrahan. Sebuah bangunan dengan beberapa ruang tidur, kamar rias, ruang ibadah, dan serambi yang sangat sejuk. Ketika kaki ini lelah menghampiri beberapa gua, dan tak sengaja tersengat matahari Kota Cirebon yang panas itu, duduk di serambi merupakan penawar segalanya. Hampir saja mata ini terpejam karena belaian angin sepoi-sepoi yang lembut itu.



Desain Sunyaragi memadukan beberapa unsur campuran dari berbagai aliran arsitek bangunan. Beberapa referensi menyebutkan bahwa Sunyaragi memiliki perpaduan gaya Eropa, Tiongkok, Arab dan Jawa. Sangat wajar apabila ukiran khas Jawa berakulturasi dengan gaya Tiongkok maupun Arab dan Eropa. Taman air yang mengalir disela-sela gua merupakan inspirasi nyata dari teknologi Eropa yang terkenal dengan teknologi bendungannya.



Sinar matahari kian redup dan menghilang di ufuk barat. Menyusuri Sunyaragi merupakan penawar rasa galau dengan bermeditasi dan menikmati indahnya siluet Gunung Cermai yang bisa dipandang dengan mata telanjang. Rasa damai itu masih terus tersisa saat melewati pintu keluar. Ada keinginan untuk kembali lagi untuk sekedar rehat dari segala rutinitas yang menghalau kalbu ini.



Artikel ini juga ditayangkan di blog pribadi khusus travelling www.bluepackerid.com

  • Share

Pemenang Giveaway Hop -Travel & Romance



Yeay, akhirnya saat yang ditunggu telah datang. Pengumuman pemenang salmanbiroe.com giveaway hop -travel & romance.

Berdasarkan ratusan bahkan ribuan (*lebay) data yang masuk, berikut nama-nama peserta yang memenuhi syarat-syarat Giveaway :
1. Aul Howler
2. Happy Muslimah
3. Anggi Budiman Ibrahim
4. Risa Susanti
5. Hutomo Aji Nuswantoro
6. Rani Dwi Tanti
7. Dias Shita Devi
8. Fita Eka Sahara


Dan, salmanbiroe.com memutuskan pemenang Giveaway kali ini adalah :

1. Happy Muslimah - Paket Buku A
Posting favorite di salmanbiroe.com adalah [Film Review] Ada Surga dirumahmu, dan tempat travelling yang diimpikan adalah Yogyakarta. Yogyakarta merupakan tempat yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Nice input Happy.
Selalu ada cerita dari Yogyakarta

 2. Rani Dwi Tanti - Paket Buku B
Posting favorite di salmanbiroe.com adalah Macau : Eropa dan Las Vegasnya Asia dan 7 Tempat Wisata Menarik di Seoul, dan tempat travelling yang diimpikan adalah Pulau Ora, Maluku, ini yang membuat saya tertarik dengan Pulaunya, dan keindahan alam sekitarnya. Nice input Rani.
Indahnya Pulau Ora Maluku (Source : http://grahatiket.com/5-tempat-wisata-pantai-di-indonesia.html)

3. Dias Shita Devi - Paket Buku C
Posting favorite di salmanbiroe.com adalah Kisah Ruben dan Clara, dan tempat travelling yang diimpikan adalah Brazil, wow out of the box banget dan gue suka banget menjelajah benua luar Asia.
Wonderfull Brazil (Source : http://www.hinckley.utah.edu/brazil-saopaulo-azul)

Congratulation buat pemenangnya, silahkan kirim Nama Lengkap, Alamat Lengkap, dan Nomor Handphone untuk keperluan pengiriman paket Buku. Silahkan kirim ke salman_akt@yahoo.com .

Dan, untuk kedelapan peserta yang lolos seleksi registrasi, anda telah menyumbangkan masing-masing satu buku ke Rumah Baca HOS Cokroaminoto , Sekolah Raya, Bekasi.

Terima kasih atas partisipasinya, mohon maaf apabila ada kurangnya. Keputuasan salmanbiroe.com tidak dapat diganggu gugat.

Semoga bisa mengadakan giveaway dan kuis dengan hadiah yang semakin meningkat lagi, amin.

Salam
salmanbiroe.com dan www.blogfam.com
  • Share

Giveaway Hop - Travel & Romance




Halo Ha,

Sebagai bentuk dukungan secara material dan spiritual terhadap pengunjung setia www.salmanbiroe.com *halah dikeplak*, Saya dan Blogger Family (www.blogfam.com) mengadakan sebuah Giveaway kecil-kecilan.

Nah sebagai wujud rasa syukur sayah, sayah memberikan beberapa koleksi "Buku" saya yaitu

Paket A
Kucing Melulu & Cerita Cinta (Me)lulu - Widya Octavia
Larutan Senja - Ratih Kumala

Paket B
Nomadic Heart - Ariy
When Life Lights Up - Serdar Ozkan

Paket C
The Vanilla Heart - Indah Hanaco
Menantu dan Mertua Metropolitan - Threes Emir


Syaratnya Gampang
1. Follow akun twitter @salman_faris dan @blogfam
2. Like Fan Page Blogfam
3. Isilah Google Docs dibawah ini dengan lengkap

4. Tantangan yang harus dipenuhi adalah
a. pilihan postingan favorite di www.salmanbiroe.com
(Boleh pilih dari bagian populer post)

b.Tempat travelling yang kamu impikan?
Jawab point (a) dan (b) melalui google docs.
Dan absen juga di komentar ya, bahwa telah mengikuti Giveaway ini
5. Peserta berdomisili di Indonesia
6. Pemenang akan diundi atau di tentukan berdasarkan pilihan pribadi.
7. Giveaway ini berlangsung dari 2 April s/d 14 April 2015, dan akan diumumkan 15 April 2015
.
1  Give Away Register = 1 Book for Rumba HOS Cokroaminoto

Notes : Setiap 1 orang pendaftar (memenuhi syarat-syarat diatas) berarti menyumbangkan 1 buku untuk Rumah Baca HOS Cokroaminoto  Jaringan Sekolah Raya di Bekasi



Good luck yah, sebarkan cinta dan berjalanlah untuk memetik sebuah keindahan dunia

Salam

Salmanbiroe & www.blogfam.com
  • Share

Surga Lampion Itu Ada Di Jawa Tengah

 
lampion/lam·pi·on/ n lentera yang terbuat dari kertas (penerangannya dengan lilin), dipakai pada pesta (perayaan); tanglung

Seorang anak kecil yang memegang kertas besar itu tersenyum. Nanti malam ia akan meyalakan sebuah lentera dari kertas dan menerbangkannya ke angkasa. Ia sepertinya tak sabar, ingin segera menyalakan dan menerbangkannya ke langit saat itu juga, namun Ibunya mengurungkan niatnya.

"Nanti malam, Nak. Lentera itu akan bersinar warna-warni diangkasa. Dan, kamu pun tak sendiri menyalakannya, kita beramai-ramai."

Anak kecil itu mengangguk pelan, tanda setuju. Kemudian ia menyimpannya rapat-rapat di dalam lemari. 

Malam pun tiba, anak kecil itu kemudian mengikuti langkah Ibunya menuju ke sebuah tanah lapang dalam sebuah perayaan menyambut ulang tahun sebuah kota di Jawa Tengah.

"Ibu, sebenarnya apa sih arti lentera ini?" Anak kecil itu bertanya pada Ibunya yang tengah menyalakan lentera warna putih.

"Lentera ini adalah sebuah pengharapan, sebuah mimpi, rasa bangga, dan banyak makna lainnya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Nak. Suatu saat kamu akan mengerti makna lentera penerang kehidupan ini."

Ratusan bahkan ribuan  lentera terbang ke angkasa sebagai bagian dari sebuah perayaan. Manusia-manusia itu berkumpul menikmati keindahan dan warna-warninya lentera. Angkasa itu menjadi saksi ribuan pengharapan yang beragam terhadap Yang Maha Kuasa.


Pesta Lampion



Mungkin kita sudah tahu bahwa Jawa Tengah memiliki sebuah candi yang merupakan maha karya dunia karena telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Namun, tahukah bahwa Jawa Tengah juga memiliki beberapa pesta lampion yang banyak menarik wisatawan lokal dan wisatawan asing untuk menunggu momen tersebut.

Sebuah bagian yang menarik dari sebuah perayaan, pesta lampion mampu menghipnotis wisatawan untuk mengikuti prosesinya dari awal sampai akhir. Seperti pada perayaan Waisak yang telah menyedot perhatian masyarakat, pesta lampion disajikan dalam rangka prosesi doa. Sedangkan di Semarang, pesta lampion diadakan sebagai bagian dari ulang tahun kota Semarang, dan pesta lampion yang ada di Dieng yang diadakan sebagai bagian dari Dieng Culture Festival.

Pesta lampion awalnya merupakan sebuah tradisi dari daratan Tiongkok pada masa Dinasti Xi Han tahun 3 Masehi, pada masa pembuatan kertas pertama kali di Tiongkok. Menurut budaya Tiongkok, Lampion merupakan sumber rejeki dan kebahagian. Selain rejeki dan kebahagian, lampion juga dipercaya sebagai pengusir roh jahat sehingga dipasang di luar rumah pada masa tersebut.

Dengan mengadopsi budaya dari Tiongkok, kemudian beberapa tahun belakangan ini di beberapa daerah di Jawa Tengah pun telah melaksanakan Festival Lampion.

Perayaan Waisak , Candi Borobudur

Setiap tahun, pelataran Candi Borobudur menjadi saksi sebuah perayaan umat Budha dari seluruh dunia. Perayaan Waisak menjadi sebuah magnet yang tak henti-hentinya menyita perhatian masyarakat Indonesia dan wisatawan asing untuk mengikuti sebuah prosesi sakral yang dilakukan di komplek Candi Borobudur. Sebagai bagian penting, pesta lampion pun diadakan pada malam hari Waisak. Segala harapan, doa dan puji-pujian menyambut peluncuran satu per satu lampion tersebut keudara.

Festival Banjir Kanal Barat Semarang


Festival Banjir Kanal Barat, di Semarang, diadakan untuk menyambut perayaan ulang tahun kota semarang setiap tahunnya. Tahun 2014 lalu, saya berhasil mengabadikan momen berharga tersebut. Sebuah pengalaman yang tak terduga sekaligus menyenangkan.

Festival ini merupakan rangkaian dari berbagai macam kegiatan seperti lomba hias perahu, festival kuliner, pasar malam dan  berbagai rangkaian acara lainnya.

Seperti Jakarta, Semarang memiliki Banjir Kanal yang memiliki fungsi mengalirkan air dari sungai hulu ke hilir dan berakhir di laut. Festival lampion kali ini pun memilih tempat yang sangat tepat, karena luas tempat dan tak jauh dari pusat kota Semarang. 

Jadwal acara festival lampion yang berdekatan dengan perayaan Waisak di Candi Borobudur menyebabkan membludaknya antusiasme penikmat acara lampion, hal ini juga dimanfaaatkan beberapa wisatawan asing yang memilih Semarang karena berdekatan dengan Magelang, Jawa Tengah. 

Dieng Culture Festival


Dieng, sebuah daratan yang menjulang tinggi sampai menembus batas awan, memiliki sebuah perayaan yang unik sebagai bagian dari Dieng Culture Festival yang tahun 2014 lalu memasuki tahun ke 5 pelaksanaanya. DCF memiliki rangkaian acara yang sangat dinanti-natikan oleh masyarakat terutama jazz diatas awan, festival lampion dan pemotongan rambut gimbal yang diadakan selama dua hari di kawasan Candi Pandawa. 


Letak Dieng yang berada di atas awan membuat semuanya jadi spesial. Suhu dingin yang menusuk tulang, suasana ramai pengunjung, dan riuh kembang api menambah semarak penerbangan ratusan bahkan ribuan lampion ke angkasa. 


Lautan manusia, ribuan lampion, sorotan lampu, dan beberapa buah candi sebagai saksi sebuah perayaan yag indah telah terjadi di Dieng. Saya merasa senang menjadi bagian dari sebuah festival yang seru, menyenangkan dan membanggakan. Dieng telah menunjukan bahwa lentera itu memang telah menjadi bagian dari masyarakatnya, bahkan menasbihkan bahwa Jawa Tengah menjadi salah satu surga lentera di Indonesia. Mungkin saja karena harapan setiap manusia yang menerbangkan lentera atau lampion tersebut yang ingin menjadikan Jawa Tengah sebagai surga bagi perayaan lampion di Indonesia.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Blog Competition #TravelNBlog 3 yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.


Referensi :http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/lampion-simbol-kebahagiaan-dan-harapan



  • Share

Cerita Travelling, Pantai Ndrini dan Selfie

“Traveling is a brutality. It forces you to trust strangers and to lose sight of all that familiar comfort of home and friends. You are constantly off balance. Nothing is yours except the essential things: air, sleep, dreams, sea, the sky - all things tending towards the eternal or what we imagine of it.
Cesare Pavese

Yeah, tapi kata-kata ini mengingatkan perjalanan saya ke sebuah pantai di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta. Perjalanan yang mungkin saja merupakan sebuah perumpaman yang sesuai dengan quote yang menyatakan bahwa berwisata itu sangat brutal dan diluar akal nalar kita, bagaimana tidak, aku bisa saja berbicara dengan orang asing yang sama-sama tidak mengenal sebelumnya, saat membuka pembicaraan, satu sama lain akan mengucapkan kata salam, dan mulai menceritakan tentang sebuah hal.

Sama saat saya travelling ke Malaysia, saat itu di Penang, saya ketemu dengan seorang agen TKI disana. Dia menceritakan bahwa kehidupan di Malaysia itu layaknya sebuah harapan baru bagi dirinya. Di Malaysia dia mendapatkan lebih dari pada saat ia bekerja di Indonesia. Dia memberitahukan pemberhentian yang saya tuju. Saya senang juga bisa mengobrol ngalor-ngidul untuk menawar rasa rindu kampung halaman.

Sumber : http://idanaaathename.tumblr.com/page/3
Lalu, saya bertemu dengan sepasang kakek nenek dari Korea Selatan, saya menanyakan sebuah lokasi pemberhentian shuttle bis, dan mereka memberi tahu saya dengan Bahasa Inggris mereka yang tak begitu baik, namun ajaibnya saya dapat memahaminya. Kemudian saat mereka berdua turun dari bus, saya mengucapkan terima kasih dalam bahasa Korea "gamsahamnida". Mereka berdua tersenyum dan kakek menepuk pundak saya tanda senang. Saya pun merasakan getaran tulus. Betapa sebuah kekuatan komunikasi dalam berbagai bahasa membuat saya menerima berbagai macam kebaikan.

Sebuah cerita di Jepang juga membuktikan, bahwa saya harus benar-benar percaya pada orang asing. Bagaimana tidak, saat saya travelling ke Jepang, saya hanya bermodalkan sebuah buku karya Claudia Kaunang dan pengetahuan yang saya cari melalui google. Untung saja ketika saya kebingungan mecari jalan ke sebuah agen penjualan tiket terusan ke Hakone, saya bertemu dengan seorang wanita, saya sudah lupa namanya, namun karena kebaikannya saya dapat menemukan agen perjalanan tersebut. Tak tanggung-tanggung, saya diantar sampai agen tersebut. Saya hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih dalam bahasa Jepang tentunya. 

What a travelling story, we must trust stanger every time we ask some question about the direction.

Pantai Ndrini

Kalau perjalanan menuju Pantai Ndrini ini membutuhkan waktu sekitar satu setengah sampai dua jam dari Yogyakarta, lebih jauh dari lokasi Goa Pindul. Saya dan teman saya harus menyewa sebuah mobil karena perjalanan yang sangat jauh itu. Disamping itu, untuk menghemat waktu karena berdekatan dengan Goa Pindul, maka saya dan dua teman saya dengan sangat rasional menyewa sebuah rental mobil.

Mempercayai orang asing pun harus saya alami pada perjalanan saat ini, perjalanan kali ini penuh dengan cerita tentang Yogyakarta mulai dari Obyek wisata yang akan kami kunjungi yaitu Pantai Ndrini. Kebetulan Pantai Ndrini ini adalah salah satu dari gugusan pantai-pantai di Gunung Kidul. 


Selfi tak harus tampak muka kan hahaha
 
Keunikan dari Pantai Ndrini ini adalah gugusan batu koral yang menyerupai  Tanah Lot di Bali. Keindahannya pun hampir sama bahkan lebih indah karena pasirnya yang putih bersih.  

Karena sebuah jejak yang harus ditinggalkan hanya sebuah tapak kaki, dan hal yang bisa diambil hanyalah foto, maka saya mengabadikan kenangan yang indah itu di Pantai Ndrini. Sebuah pantai dimana saya bisa mengambil sebuah makna baru, bahwa travelling kemana pun akan terus menerus menambah kenalan baru berupa orang asing yang telah teruji, dan bisa jadi orang asing itu akan menjadi teman, sahabat atau bahkan jodoh saya nantinya, hanya Tuhan yang tahu. 


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Selfie Story bersama Smartfren
  


SmartFren

 
  • Share

[Film Review] Ada Surga di Rumahmu




Seorang ibu berani mati demi sepuluh orang anaknya, tapi sepuluh orang anak belum tentu rela mati demi seorang ibunya
Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Ustad Alhabsyi sebagai salah satu pemeran di film Ada Surga di Rumahmu. Ustad Alhabsyi dalam film ini berperan sebagai paman pemeran utama, Ramadhan. Kisah dari sebuah daerah perkampungan arab di bumi sriwijaya, Palembang ini memberikan sebuah inspirasi, pesan dan makna yang tak akan pernah dilupakan. Bahwa surga itu sungguh dekat, surga tak usah dicari kemana-mana, cukuplah kau berbakti dengan kedua orang tuamu, terutama Ibumu, niscaya sebuah pintu surga akan menghinggapi dan memberikan sambutan kepada kita.

"Surga itu begitu dekat. Tapi, mengapa kita sibuk mengejar yang jauh?"

Sinopsis 

Cerita dibuka ketika sebuah anak bernama Ramadhan, berceramah dihadapan semua teman-teman mengajinya, ia menceritakan sebuah kisah seorang sahabat Rasul yang mengendong Ibunya ketika berpergian dari stau tempat ke tempat lainnya. Namun, betapa kagetnya sahabat Rasul itu ketika seorang berkata "kau tidak akan dapat menembus semua pahala ibumu walaupun kau mengendongnya dari ujung dunia ini. Betapa mulianya pengorbanan seorang ibu untuk anak dan suaminya.

Ramadhan, tetalah Ramadhan yang suka berkelahi, namun gemar berceramah. Hingga suatu saat, Abuya (Budi Khairul) dan Umi (Elma Theana) merelakan kepergian Ramadhan untuk mengenyam pendidikan di sebuah Pondok yang tak begitu jauh di Sumatera. Beruntung sekali, Abuya menitipkan Ramadhan kepada ustad Athar, Paman Ramdhan. 

Cerita beralih ke kehidupan Ramadhan di pondok pesantren. Ramadhan yang memiliki dua orang sahabat pun, kini kembaali berulah dengan kabur dari pondok pesantren tanpa ijin. Karena kenakalannya, tiga anak tersebut dibukum dengan berceramah di berbagai tempat seperti kuburan, pasar, dan tempat keramaian laainnya. Karena kepandaiannya berceramah, Ramadhan sering dihadiahi bingkisan dri pendengar ceramahnya.

Seiring tumbuh dewasanya Ramadhan (Husein Alatas), kemudian ia menetap di Pondok pesantren dan mengabdikan dirinya sebaagai penjagar di Pondok.Namun, cita-cita Ramadhan yang ingin terkenal membuat kegelisahan dihati Ramadhan. Sampai suatu saat, Pondok pesentren dijadikan sebuah lokasi syuting, entah angin apa yang menyebabkan Ramadhan kemudian bertemu dengan Kirana (Zeezee Shahab) dan bertemu pula dengan kru film yang menawarinya sebuah casting untuk film laga.

Tanpa berfikir panjang, Ramadhan dan kedua sahabatnya berangkat ke Jakarta. Namun, sesampainya di Jakarta, ia harus menelan pil pahit, castingnya harus diundur sampai beberapa hari kemudian. Untuk menunggu casting tersebut, Ramadhan terpaksa menginap di masjid. Pergulatan batin antara Pondok pesantren, kemudian kondisi ibunya yang sedang sakit membuat Ramadhan memutuskan untuk pulang ke Palembang.

Ia mencium tangan Umi saat tahu bahwa Umi tidak dalam kondisi yang sehat. Air matanya mengalir. Kemudian ia bertekad untuk serius mendalami ilmu ceramah, dan ketika suatu saat, ia diundang ke sebuah pengajian pemuda masjid, ia kembali bertemu dengan Kirana, padahal Sabat kecilnya yaitu Nayla juga menaruh hati pada Ramadhan. 

Kirana mengundang Ramadhan, Abuya dan Umi untuk menghadiri syukuraan di rumahnya yang mewah. Karena kondisi Umi yang masih sakit, tiba-tiba Umi jatuh pingsan. Sebelum jatuh pingsan, Umi sempat muntah dan mengotori rumah dan mengacaukan semua acara di syukuran orang tua Kirana. Setelah jatuh pingsan. Abuya dan Ramadhan langsung membawanya ke rumah sakit. Dan, setelah dioperasi, ternyata Umi mengalami stroke yang menyebabkan gangguan pada sebagian tubuhnya yang mengakibatkan gangguan bicara. Nayla (Nina Sepriani)  hadir setiap saat di rumah sakit ditemani oleh Abuya dan saudara Ramadhan.

Sebelumya, dikisahkan bahwa Paman Ramadhan, ustad Athar meninggal dunia, dan meninggalkan duka yang dalam. Apalagi, Ramadhan baru tahu bahwa selama ini yang mendonorkan ginjal kepada ustad Athar adalah Abuya, sebagai balasannya, Ramadhan dititipkan di Pondok pesantren.

Cerita diakhiri dengan sebuah ceramah dari Ramadhan dari televisi yang disaksikan semua keluarga Ramadhan, dan semu orang menyaksikan dengan bangga. Sebuah mimpi Ramadhan yang tertunda, kini malah menjadi kenyataan, menjadi dai terkenal di televisi.

Makna Cerita

Banyak makna cerita yang terkandung dalam Film berdurasi kurang lebih sekitar seratus menit ini. Salah satu yang paling mengena adalah bahwa berbakti kepada orang tua adalah sebuah nilai yang harus diperhatikan, apalagi bahwa surga memang benar-benar bisa kita nikmati dengan salah satu jalan berbakti terhadap Orang tua kita.

Menurut saya, Film ini sangat layak ditonton oleh semua genre umur, baik itu anak-anak maupun dewasa. Selain itu, Film ini jelas mengangkat keindahan bumi Sriwijaya sebagai setting tempat, dan juga kultur Indonesia yang sangat kental. Namun, memang ada beberapa yang harus diperbaiki seperti ending yang masih jauh dari harapan, karena masih terlalu dini, dan kurang klimaks, dan juga perlu pendalaman karakter lebih untuk menghasilkan sebuah perpaduan adegan yang smooth.

Rekomendasi 


Film menarik ditonton oleh siapapun. Saya merekomendasikan Film karena makna yang terkandung dalam cerita sangat dalam. Saat ini jarang sekali film dengan makna yang dalam seperti ini.

Cast 

Sutradara : Aditya Gumai
Produser : Ustad Ahmad Al-Habsyi 
Pemain : Husein Alatas (Idol), Elma Theana, Budi Khairul, Ustad Al-Habsyi, Zeezee Shahab, Nina Septiani
Produksi : Mizan Productions
Tanggal Rilis : 2 April 2015


  • Share