Kado Buku Di Harbuknas

 

Dengan Buku, Aku Melihat Dunia Tanpa Batas 
17 Mei, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). Patut kita rayakan dengan meriah dan megah, ya seperti pesta tahun baru dengan kembang api, atau mungkin pada saat 17 Agustus yang dirayakan dengan lomba-lomba meriah, dan upacara bendera. Namun, nyatanya, hanya sebagian orang saja yang memeriahkan. Padalah buku itu sumber ilmu, wawasan dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Patut kita renungkan bersama, mengapa tidak ada pesta yang memeriahkan sebuah hari tentang buku yang begitu penting. Mungkin saja, hanya beberapa toko buku yang mengelar pesta bukunya, pun sudah begitu bergembira dengan adanya pesta buku semacam itu.

Berangkat dari sebuah sinergi yang sama pasukan singkong mewujudkan sebuah kado buku untuk Taman Baca Masyarakat dan Individu. Pasukan singkong merupakan kumpulan anak muda yang rajin berbagi, mereka berasal Komunitas dari Hibah Buku, Sajubu, Buku Berkaki, Buku Bagi NTT, Sagu Maluku, Relawan KFP dan Blogfam, namun terdapat individu yang bergabung tanpa mengusung bendera komunitas.

Lomba ini membuka kesempatan bagi TBM dan Individu untuk mengungkapkan minat baca yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Mengapa minat baca yang kami perhatikan? Jawabnya mungkin saja sama dengan antusiasme menyambut Harbuknas itu sendiri. Minat baca di Indonesia lebih rendah di bandingkan beberapa negara tetangga di ASEAN. 

Info lomba selengkapnya dan pemenang : Kado di Harbuknas 


Pemenang Kado di Harbuknas

Sumber Foto : Hibah Buku

Setelah melalui tahap penjurian, ditetapkanlah 4 pemenang, 1 Individu dan 3 dari TBM. Berikut Pemenangnya :

Individu : Adisa Soedarso 

Adisa tergabung dalam Klub Buku Bandung. Adisa menuliskan minat baca pada kota Bandung. Beberapa hal yang dilakukan oleh Kota Bandung sebenernya telah maksimal, seperti mengadakan Pesta Buku, Penyediaan Perpustakaan dengan koleksi lengkap dan Seminar dan Talkshow pun ikut digelar. Menurutnya, minat baca warga Bandung masih minim, dibandingkan dengan televisi dan radio.

Berikut tulisan lengkap Adisa : Mencintai Literasi Sejak Dini.


TBM : Ruang Inspirasi - Naluri Bella Wati

Ada semacam perasaan sedih ketika membaca sebuah artikel dari Naluri yang berjudul R.I.P Ruang Inspirasi. Ruang Inspirasi adalah sebuah Taman Baca yang didirikan di Desa Titi Akar, Pulau Rapat, Kabupaten Bengkalis, Riau. Namun, pada sekitar Desember 2014, Ruang Inpirasi habis dilalap si jago merah. Seakan merasakan betapa kehilangan sebuah tempat yang bukan hanya sebuah taman baca, namun tempat belajar, diskusi, dan melahirkan karya-karya baru.

Bagi yang ingin berbagi menyumbangkan buku ke Ruang Inspirasi bisa kontak langsung Naluri di twitternya

Berikut tulisan lengkap Naluri : R.I.P Ruang Inspirasi 


TBM : Perpustakaan SMK Taman Siswa Jetis Yogyakarta - Alit P. Samekto 

Alit merupakan pustakawan di SMK Taman Siswa Jetis Yogyakarta. Sebagai sekolah swasta, Perpus tersebut tidak mendapatkan suplai rutin dari pihak tertentu. Kondisi perpustakaan tersebut yang membuat Alit membuat tulisan dan mengajukannya dalam kado harbuknas ini.

Tulisan lengkap Alit dapat di baca : Perpustakaan Taman Siswa 


TBM : Taman Baca Sebangau For Kids - Hardian Agustin 



Membaca note facebook dari Hardian Agustin ini, serasa dibawa kembali kemasa lalu, masa bermain, dan bercita-cita tinggi. Ada Via, yang bercita-cita menjadi pramugari, lain lagi dengan Ihwan yang ingin menerbangkan pesawat dengan cita-citanya sebagai pilot, dan Ryan yang ingin populer sebagai pemain sepakbola. Mereka bertiga merupakan pembaca setia di Taman Baca Sebangau For Kids. Dengan adanya Taman Baca, semoga cita-cita tulus mereka dapat terealisasi. Amin.

Kisah lengkapnya dapat dilihat di : Taman Baca Sebangau For Kids.


Demikian, sharing saya mengenai Harbuknas. Semoga semangat berbagi bukan hanya hak prerogratif orang berpunya, namun menjadi hak setiap manusia yang memiliki hati dan mau berbagi dalam bentuk apapun, termasuk berbagi dengan tulisan ini.


Baca Juga :
Indahnya Symphony of Light Hongkong
Berkeliling Museum Benteng Vredebrug Yogyakarta
Rasa Indonesia di Cuaseway Bay Hongkong 
Sisi Sunyi Taman Sunyaragi Cirebon
Surga Lampion di Jawa Tengah  

  • Share

Bermain di Kumpul Bocah

Sumber : http://kumpulbocah.indocharity.org


Hari Kamis lalu, merupakan hari yang spesial. Bukan karena saya mendapatkan hadiah ataupun menang kuis, namun karena pada hari itu saya mendapatkan kesempatan berharga menemani adik-adik dalam acara Kumpul Bocah. It is very special for me.
Kumpul Bocah = Indo Charity

Kumpul Bocah atau disingkat sebagai Kumbo, merupakan sebuah acara charity yang diselengarakan oleh Indo Charity . Tema yang diangkat adalah Bakti Sosial Melalu Lomba Tari dan Permainan Tradisional. Permainan tradisional yang dilomba diantaranya adu layangan dan lompat karet, sedangkan permainan tradisional lainnya juga turut di tampilkan di booth permainan seperti congklak, gasing, egrang, bakiak, bekel dan kelereng. Indo Charity seakan mengingatkan kita bahwa budaya permainan tradisional telah digeser oleh permainan digital. Untuk sekeder keluar dari rutinitas dan tetap melestarikan permainan tradisional tersebutlah maka Kumbo ini diselenggarakan.

Dok Pribadi
Dalam kegiatan ini, terdapat dua tempat penyelenggaraaan, yaitu di Monas dan Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia (GIK GI). Sebagai informasi, Lomba adu layangan dan lompat karet diadakan di Monas, begitu pulan booth permainan tradisional juga terdapat di Monas, sedangkan untuk lomba tari tradisional mengambil tempat di GIK GI.

Peserta Kumpul Bocah

Dok Pribadi
Peserta Kumpul Bocah kali ini merupakan Rumah Belajar, Bimbingan Belajar, dan Sekolah Bersama di daerah Jakarta, Bogor, Bekasi, dan yang terjauh Banten.

Melihat peserta yang sangat antusias dengan kumpul bocah kali ini, membuat panitia semangat untuk memberikan pelayanan terhadap setiap peserta.

Lomba Adu Layangan dan Lompat Karet 
Foto Oleh  Novita Anggraini , Seorang Reporter Sedang Mencoba Permainan Lompat Karet
Kegiatan bermain di lapangan terbuka merupakan sebuah kesenangan. Saat usia sekolah dasar, saya sering melakukan permainan  tradisional yang mungkin saja di saat sekarang telah bergeser dan mulai sedikit yang memainkannya. Ketika itu saya sangat senang bermain gobak sodor, lempar batu, kasti, berenang di sungai, kwartet, main monopoli, main ludo, dan masih banyak permainan yang dimainkan bersama teman-teman di luar rumah.

Menarik, itulah pendapat saya pribadi terhadap acara kumpul bocah edisi 2015 ini. Selain mengajarkan anak-anak untuk kreatif dan memiliki jiwa kompetisi, namun anak-anak juga merasakan kebersamaan serta relaksasi dari segala rutinitas yang selama ini mereka lakukan.

Saya bertugas sebagai pendamping adik-adik dalam adu layangan. Saya mendampingi dua anak yang berasal dari rumah belajar di sekitar Jakarta. Tugas saya hanya mendampingi dan memperhatikan permainan adu layaangan yang dilakukan oleh anak-anak. Mudah bukan? Namun, bukan mudah atau tidaknya tugas ini, melainkan makna berbagi dan bermain bersama anak-anak inilah yang membuat saya senang. Aih, magis benar kata-katanya.

Foto : Novita A. Malaikat Tanpa Sayap :D

Oh iya, untuk tim voulenteer Adu Layangan sering di sebut sebagai "Alay" , bukan dalam makna sebenarnya ya, namun merupakan singkatan semata. Selain Alay, ada juga Akar, loh kok ada tumbuh-tumbuhan, bukan ini merupakan singkatan dari tim Adu Lompat Karet.

Adu layangan di mulai sekitar pukul 11.30 dan berakhir sekitar pukul 12.15, jam makan siang. Alhamdulillah, anak yang saya dampingi mendapatkan juara dua. Kriteria yang digunakan dalam menentukan juara sangat mudah, dengan metode last man standing, dan bisa mengalahkan lawan-lawannya. Beruntung sekali, anak yang saya dampingi jatuh sekitar beberapa detik sebelum juara satu berhasil menerbangkannya tanpa jatuh sekalipun. Selamat ya udah juara dua.

Foto : Novita A. Kakak-Kakak Alay Yang Belum Puas Bermain Layangan
Setelah lomba, pun masih terdapat beberapa anak yang masih menerbangkan layangan. Tidak ada salahnya kan untuk bermain-main di Mona yang luas itu. Beberapa menit kemudian, kakak-kakak dari Alay pun turut serta menerbangakan layangan. Dan, ternyata sensasi bermain layangan itu memang luar biasa menyenangkan. Ah ingin berlama-lama rasanya bermain layangan. Rasanya Ingin main layangan lagi-lagi dan lagi. Next, kapan-kapan kita bermain lagi ya Kakak-kakak.

Tari Tradisional

Untuk melestarikan budaya dan permainan tradisional, maka langkah terkecil yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan ruang kreasi. Ruang ini telah diselenggarakan oleh Indo Charity dalam Kumpul Bocah kali ini. Dan, salah satu yang mendapatkan ruang adalah tari tradisional.

Rupanya antusias anak-anak rumah belajar dari berbagai daerah ini sangat luar biasa, terbukti dengan gerakan-gerakan tari tradisional, mereka mampu menunjukan kelihaiannya dalam menari. Tak hanya perempuan saja, namun laki-laki pun turut ambil bagian dalam kegiatan postifi ini.

Luar biasa sekali, itulah gambaran kata-kata yang dapat mengambarkan sebuah kegiatan yang mendukung kreativitas dan juga mendukung kelestarian budaya tradisional yang makin tergerus oleh budaya digital. Semoga Kumpul Bocah 2016, dan acara sejenis lainnya dapat terlaksana mendatang. Amin.

Galeri Foto



Baca Juga :
Great Budha di Kamakura Jepang
Berkeliling Museum Benteng Vredebrug Yogyakarta
Indahnya Symphony of Light Hongkong
Rasa Indonesia di Causeway Bay Hongkong
Cara Mengajukan Visa Korea Selatan
  • Share

Mengasah Kreativitas Dengan Mading (SMP Terbuka)

Sumber Foto : Pak Adi dan Mas Bisot

Kreativitas bukanlah menemukan sesuatu yang baru, tetapi membuat sesuatu yang sudah ada menjadi baru – James Russell Lowell
Beberapa hari lalu, saya didaulat Blogger Family (Blogfam) untuk berbagi mengenai cara membuat majalah dinding di SMP Terbuka di daerah Bekasi, tepatnya di Desa Samudra Jaya. Ester (SMP Terbuka) merupakan salah satu dari beberapa sekolah yang masuk dalam jaringan Sekolah Raya. Rasa senang dan bangga dapat menularkan virus kreativitas hinggap di dada.

Sebelum membahas majalah dinding secara keseluruhan, saya bisa berbagi cerita asal mula perkenalan saya dengan dunia mading (majalah dinding). Tepatnya di Madrasah Tsanawinyah (MTSN) Pemalang, sebuah sekolah dengan konsep Agamis, dibawah naungan Departemen Agama, yang merupakan tempat pertama saya mengenal apa itu Mading.


Awalnya saya melintas di depan perpustakaan sekolah, tepat di depan perpustkaan terdapat beberapa papan pengumuman dari sekolah. Mata saya tidak langsung tertuju pada pengumuman sekolah, namun saya melihat tulisan yang tak biasa, berwarna-warni, sangat menarik dan kreatif. Ternyata, karya tersebut bernama "Mading". Kemudian saya mulai tertarik untuk membuat sebuah puisi dan menampilkannya di mading MTSN Pemalang.

Pertemuan pertama begitu mengoda. Mungkin situasi inilah yang membuat saya semakin terpacu untuk terus berkarya. Dari momen inilah, saya mulai menulis puisi secara rutin di buku diary. Sampai-sampai saya memiliki beberapa buku yang penuh dengan puisi. Dan, saat kuliah pun, saya aktif diberbagai bidang terutama jurnalistik dan sastra, padahal saya kuliah di jurusan akuntansi. Namun, antusiasme itu makin menjadi, apalagi setelah saya membuat blog pribadi yang berisi puisi dan catatan harian.

Begitulah kira-kira yang melatarbelakangi kecintaan saya terhadap dunia kreativitas sampai saat ini.

Pelatihan Mading di SMP Terbuka
Sumber Foto : Pak Adi dan Mas Bisot
Matahari memancarakan sinarnya secara penuh sehingga membuat suhu naik seketika siang itu. Sebuah sepeda motor milik Mas Bisot berhenti sempurna di halaman sebuah SMP di Samudra Jaya, Bekasi. Saat Saya turun dari motor beberapa murid yang berseragam pramuka menyambut saya dengan cium tangan. Mereka sangat antusias menyambut saya, karena mereka tahu, bahwa saya akan sharing mengenai mading. Kemudian langkah kaki saya pacu dengan cepat karena Pak Adi, Kepala Sekolah SMP Terbuka, telah berada di sebuah ruangan terbuka dengan beberapa murid lain.

Senyum simpul dan tulus menyambut saya di ruangan tanpa pintu dan jendela serta tak berlantai keramik. Masih dalam tahap pembangunan, dan menantikan beberapa donasi dari pihak yang dermawan. Kemudian saya duduk, dan memulai materi yang kali ini saya bawakan dengan ringan.

Kreativitas dan Mading
Metode pembelajaran Mading yang saya gunakan hanya metode berbagi dan langsung praktek. Bagi saya, teori apapun yang saya sampaikan akan sia-sia saja tanpa langsung mengaplikasikannya, apalagi Mading merupakan karya kreativitas yang memiliki sisi bentuk dan rasa yang harus langsung diaplikasikan.

1. Perkenalan

Metode ini saya gunakan untuk mengenali murid SMP Terbuka.

2. Hobi 

Dengan mengetahui hobi masing-masing, saya bisa mengarahkan langsung, apa saja yang dapat di gali lebih dalam, dan dapat dikembangan sehingga dapat disajikan dalam Mading. Kemudian, secara spontan, murid Ester tersebut saya berikan waktu untuk menuangkan hobi dan minat mereka terhadap sesuatu kedalam sebuah kertas kosong. Hobi dan minat tersebut sangat beragam, misalnya puisi, pantun, musik, gambar, karikatur, olahraga, beladiri dan lainnya.

Sumber Foto : Pak Adi dan Mas Bisot

3. Kelompok

Setelah menyelesaikan sebuah tugas secara individu, saya mulai mengelompokan dalam beberapa grup dengan masing-masing grup terdiri dari 5-6 murid.

4. Membuat Mading

Dengan kelompok tersebut, kemudian mulailah membuat sebuah mading dengan bahan-bahan karton dengaan ukuran sedang, kertas warna, gunting, lem dan majalah/koran bekas. Untuk metode yang saya gunakan kali ini adalah memadukan kreativitas individu yang dipadukan dengan karya bersama, serta didukung oleh penambahan dari majalah/koran bekas. Perpaduan karya tersebut yang memacu beberapa kelompok untuk menjadi yang terbaik.

Mading Terbaik SMP Terbuka
Berikut beberapa karya dari murid SMP Terbuka :




Sebuah kepuasan batin telah berbagi kebahagian kecil bersama murid SMP Terbuka Samudra Jaya, rasanya saya ingin terus mendampingi mereka dalam berkreativitas dan mengembangkan segala kemampuan dan hobi sehingga dapat membuat karya yang lebih baik lagi. Amin.


Untuk selanjutnya, saya akan mengunjungi Sekolah Dasar Alam Anak Soleh (SDAAS) dan Pondok Yatim Darussalam yang juga termasuk dalam jaringan Sekolah Raya.

Baca Juga :
Great Budha di Kamakura Jepang
Berkeliling Museum Benteng Vredebrug Yogyakarta
Indahnya Symphony of Light Hongkong
Rasa Indonesia di Causeway Bay Hongkong
Cara Mengajukan Visa Korea Selatan
  • Share

Kerja Itu Main Versi Saya


Kerja itu main versi saya itu bisa jalan-jalan sekaligus mengerjakan kerjaan dengan tenang dan senang, apalagi bisa dibayar dengan 20 juta per bulan *aseek kipas-kipas duit*

Mengenai Kerjaan


Alhamdulillah kerjaan selama ini berhubungan dengan ranah audit yang berkutat pada angka dan angka. Tak hanya berhubungan dengan angka saja, namun juga berhubungan dengan klien saya, baik komunikasi secara langsung, via telepon dan via email. Dari pekerjaan ini saya mendapatkan beberapa skill komunikasi yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah maupun pendidikan formal. Selain skill komunikasi, secara manajemen juga terasah secara alami, menejemen tersebut sangat erat dengan waktu (perusahaan jasa sangat bergantung dengan waktu) dan manajemen organisasi baik ke bawahan maupun ke atasan.


Main dan Hobi 




Saya ini pecinta jalan-jalan kemana saja, apalagi yang berhubungan dengan pantai, alam,  tempat bersejarah, dan apapun, yang penting jalan-jalan ini bisa mengurai kejenuhan karena aktivitas rutin yang selama ini dilakukan. Tak hanya jalan-jalan dalam rangka "backpacker' , namun juga saya beberapa kali melakukan kegiatan sosial seperti yang saya lakukan di Banjarnegara dan Cirebon beberapa waktu lalu.

Selama jalan-jalan, saya lebih berfokus pada makna yang di dapat ketika mengunjungi sebuah negara baru atau daerah baru yang selama ini belum pernah saya singgahi. Sebetulnya makna yang didapat itu sangat personal, dalam artian seperti memberikan penghargaan ke diri sendiri atas kerja keras, kemudian menikmati keindahan yang Tuhan berikan melalui tempat-tempat yang kita kunjungi, dan juga mempelajari budaya baik dari negara luar maupun daerah lain di Indonesia. Contoh simple adalah ketika ke Singapura pertama kali, di sana oraang sangat menghargai kebersihan, sehingga kotanya sangat nyaman, dan wisatawan pun sangat nyaman, hal ini pasti sangat layak ditiru oleh Jakarta dan kota lain di Indonesia. Hal kecil seperti inilah yang saya dapati ketika bepergian ke luar daerah saya.


Selain jalan-jalan, saya juga memiliki hobi lain seperti fotografi, videografi, berenang, membaca buku, mendengarkan musik, main dan menonton badminton. Selain kegiatan tadi saya juga tergabung dalam komunitas Blogger Family (Blogfam) dan dipercaya sebagai ketua, serta aktif sebagai relawan di Sekolah Raya Bekasi.

Kerja = Main


Kerja itu main versi saya adalah ketika semua kegiatan atau hobi yang dilakukan dapat menghasilkan uang sekaligus. Menurut banyak orang sih, apabila kita melakukan hobi dengan serius dan sekaligus menghasilkan uang, maka saat itulah sebuah kepuasan batin tercapai. Kepuasan batin tidak bisa dinominalkan dengan uang berapa pun, tapi kalau 20 juta sebulan sih mau aja hehehe.

Dengan melihat skill, hobi, kerjaan dan aspek lainnya, Kerja = Main itu saya banget. Apalagi kalau dalam 5 bulan kedepan dipercaya sebagai Acer Explorer, saya akan melakukannya dengan sebuah keikhlasan dan tentu saja kepuasan batin ini tercukupi. Amiiin.


Mengunjungi Toko Acer terdekat 


 
Nah, salah satu cara untuk menjadi bagian dari Kerja itu Main, maka sebelumnya harus mendaftar ke web site resmi Kerja Itu Main. Setelah mengisi biodata, kemudian anda harus mengunjungi toko Acer terdekat di kota anda. 

Hari ini saya telah melaksanakan misi untuk bermain-main di Toko Acer. Salah satu toko yang saya pilih adalah di toko Acer Ambassador. Setelah memasuki toko, anda akan dipandu oleh beberapa petuga mengenai cara mendapatkan kode unik yang akan dimasukan kedalam web site kerja itu main.

Setelah bermain-main dengan ACER One 10, maka saya akhirnya mendapatkan kode uniknya hanya dengan sekali bermain saja. Wah lagi beruntung banget ya. Sebelum meninggalkan tempat, saya sempat bertanya, sebetulnya apa sih tugas di kerja itu main, dan petugas menjelaskan bahwa tugasnya sangat simpel seperti kerja itu main, bisa dilakukan dimana pun dan kapan saja. 

Untuk info selengkapnya silahkan cek website resmi kerja itu main. 
Jangan lupa dukung dan doain saya ya biar jadi Acer Explorer. Silahkan kunjungi Kerja itu Main Versi Salman

Youtube AcerID


  • Share

Selamat Jalan Mamah


Usia cepat pergi, hilang seperti bayang
meninggalkan kenangan, sayup-sayup di belakang.                                                                                       (Tangga dan Keladi)  ~ Rosli K. Matari

Kamis lalu, ada sebuah pesan melalui direct message twitter dari Beta, suadara sepupu, Mas hapenya dinyalain. Sotak saja langsung kaget dan menyalakan hape yang sedang di charge. Beberapa menit kemudian, secara bergiliran Ayah, Ali dan Fandi serta Om Untung menelpon.

"Man, Mamah sudah meninggal. Dan akan dimakamkan sore ini."

Belum genap beberapa hari lalu, Mamah telah pulang kembali ke rumah setelah sekian lama di rawat di Semarang, dan kemudian rabu lalu baru saja cuci darah secara rutin, kabar itu cukup mengejutkan. Hati ini bercampur tidak karuan, ada perasaan sedih, namun harus tetap tenang, dan sabar serta ikhlas atas berpulangnya Mamah.

Tiket Habis

Setelah dering telepon itu reda, dalam kondisi tak tentu arah, saya mencoba berpikir jernih, naik kendaraan apa yang bisa tepat waktu, sore itu. Setelah cek ke berbagai situs pencarian tiket, ternyata tiket kereta dan pesawat berbagai maskapai telah habis. Iya memang kamis ini adalah hari penyambutan akhir pekan panjang. Tiket terdekat jam 11 pun habis tak bersisa, dan yang terdekat hanya tiket jam 2. Dengan bergegas saya memesan, tanpa berpikir tentang alternatif transportasi lain seperti bus yang akan memakan waktu yang sangat panjang. Klik, dengan satu proses tiket jam 2 dalam gengaman.

Terdapat jeda dan delay yang menahan laju saya menuju rumah, ada perasaan yang membuat saya berpikir, saya tidak dapat melihat jenazah Mamah untuk terakhir kali. Segera setelah sampai di semarang, saya mengirimkan pesan pendek kepada Ayah. "Kalau Mamah mau dimakamkan sore ini, saya ikhlas, dan ngga papa". Saya tertunduk, namun saya harus ikhlas. Saya sampai di rumah, pemalang, hampir jam 8 malam. Keesokan harinya barulah saya bisa menjumpai makam Mamah. 



Jalur Pengobatan


Akhir Januari lalu, Mamah mulai mengalamai gangguan pada ginjal dan paru-paru. Kondisinya sempat kritis dan dirawat di ICU (Baca Kabar dari Rumah ) namun kemudian setelah beberapa kali berganti rumah sakit dan terakhir di rawat di Tegal, Mamah sedikit pulih. Pada awal Maret, kemudian muncul beberapa komplikasi di bagian empedu yang terdapat batu, tak hanya batu empedu, namun paru-paru dan jantung pun kian memburuk. Akhir Maret, setelah pindah ke rumah sakit di Semarang, dan beberapa minggu dirawat disana, Mamah akhirnya pulang ke rumah. Sebelum akhinya berpulang kepada Allah Swt pada kamis pagi hari.

Selamat jalan Mamah, Surga telah menunggumu

  • Share