Inspirasi Dari Sang Penanam Buah Langka Kalimantan, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2018

  • 11/01/2018 11:00:00 PM
  • By Salman Faris
  • 1 Comments


Apa yang sudah kita berikan pada bangsa kita ini? Mungkin kita belum memberikan apapun. Namun dengan baiknya, negeri ini menghadiahkan sumber dan kekayaan alam yang bisa kita nikmati tanpa harus bersusah payah. Dulu saya pernah ditanya guru saya, "Apa yang kau berikan kepada negerimu ini?" Saya hanya tersenyum lugu dan dalam hati saya hanya bisa berkata, suatu saat nanti saya ingin menjadi inspirasi bagi orang banyak. Guru saya pun tersenyum, beliau selalu berkata bahwa apapun cita-cita kami, kami bisa memberikan sumbangsih untuk negeri. Bekerjalah dengan rajin dan kerja keras, suatu saat orang tua dan bangsa ini akan bangga dengan hasil kerja yang sudah kita perbuat belakangan ini.

Saya tersenyum ketika menerima undangan SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia Awards 2018 dari PT Astra International Tbk. Kali ini saya bukanlah inspirator, namun saya mampu menyihir ratusan hingga ribuan orang lewat tulisan yang saya peroleh dari buah pemikiran. Bukankah guru saya bilang bahwa apapun pekerjaannya, kerjakan dengan sepenuh hati, apresiasi merupakan bonus dan anugerah yang bisa membuat kita lebih termotivasi lagi. SATU Indonesia Awards ini merupakan pemberian apresiasi kepada sosok Inspiratif (Inspirator) yang mampu menggerakkan masyarakat dengan karyanya yang sangat inovatif dan luar biasa. Bahkan, saya pun sampai geleng-geleng kepala tanda kagum akan karya setiap penerima apresiasi.


Sebelum memasuki tahap final dan memberikan apresiasi, 9th SATU Indonesia Awards 2018 ini telah menjaring hampir 6.000 karya dari seluruh Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa pemuda Indonesia masih sangat peduli dengan bangsanya dan menjawab pertanyaan yang mengganjal di dalam dada mereka tentang apa yang telah kamu lakukan untuk bangsa ini. Saya sangat kagum dan terpukau dengan antusiasme pemuda di seluruh Indonesia, berbanding terbalik dengan bayang saya dengan kenakalan pemuda mulai dari tawuran, narkoba, dan kejahatan lainnya yang justru menghancurkan masa depan.

“Berikan saya sepuluh pemuda dan akan saya goncangkan dunia.” Bung Karno, Presiden pertama Indonesia pernah mengatakan ini untuk membangkitkan semangat pemuda-pemuda Indonesia yang sebetulnya memiliki banyak potensi luar biasa bahkan tidak kalah dibandingkan dengan pemuda-pemuda dari negara maju sekalipun. Jika satu pemuda mampu menggerakan setidaknya 10 orang maka bukan tidak mungkin seluruh penduduk di Indonesia ini tidak akan kekurangan dalam berbagai hal. SATU Indonesia Awards inilah yang memberikan wadah atau platform bagi seluruh pemuda yang memiliki inovasi yang brilian dan belum pernah menerima penghargaan.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Bapak Prijono Sugiarto membuka SATU Indonesia Awards 2018
Apresiasi Astra Untuk Anak Bangsa 9th SATU Indonesia Awards 2018 memberikan penghargaan kepada anak-anak muda inspiratif yang berkarya di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Teknologi, dan Kelompok yang mewakili kelima bidang tersebut. Dewan juri yang digandeng pun sangat kompeten dalam bidangnya, yaitu Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Nila Moeloek, Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Indonesia Prof. Emil Salim, Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prof. Fasli Jalal, Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan Ir. Tri Mumpuni, Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo Ph,D, Komisaris PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti, Head of Corporate Communications Astra International Boy Kelana Soebroto, Head of Environment & Social Responsibility Astra International Riza Deliansyah, dan juri tamu Founder dan CEO GO-JEK Nadiem Makarim.

Bapak Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk, menyampaikan semangat yang sama bahwa kini saatnya pemuda-pemudi di Indonesia mampu memberikan inspirasi dengan karya nyata bukan malah sebaliknya. Saya jadi teringat dulu saya memiliki kawan di universitas yang selalu bersemangat mengikuti kompetisi dengan ide-idenya yang sangat brilian. Bahkan karyanya yang merupakan manisan dari batang pepaya mampu membawa kami (waktu itu kami satu tim) lolos sampai ke tingkat nasional. Rupanya dari bahan-bahan yang dianggap kurang berguna, ternyata bisa dimanfaatkan dengan nilai jual yang lebih tinggi. Memori berjumpa dengan pemuda-pemuda yang luar biasa dari seluruh Indonesia memang sangat menyenangkan dan kembali melahirkan banyak ide-ide dan mimpi-mimpi yang belum tuntas kami realisasikan.



Dari sekitar 6.000 karya dari seluruh Indonesia, kemudian terpilihlah 7 penerima apresiasi. Dari bidang kesehatan, Nordianto mampu menarik perhatian juri dengan kampanye menekan penikahan dini dan melahirkan banyak relawan dengan GenRengers Educamp. GenRengers Educamp ini menyiapkan peserta untuk punya pemahaman tentang reproduksi remaja kemudian dapat menjadi role model bagi remaja lainnya. Bidang pendidikan, Surya Dharma adalah penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018 sebagai pejuang pendidikan wajib belajar 12 tahun di Palu, Sulawesi Tengah. Menurutnya, dengan tuntas wajib belajar 12 tahun, para lulusan bisa mendaftar setidaknya sebagai buruh pabrik atau berwirausaha sehingga mendorong untuk tidak melakukan tindak kejahatan. Mohamad Hanif Wicaksono dari Kalimantan Selatan, merupakan pejuang Lingkungan. Ia merupakan pembudidaya tanaman buah langka. Buah endemik Kalimantan menurutnya perlu dibudidayakan sehingga bisa mendatangkan manfaat ekonomi jika dikelola dengan baik.



Franly Aprilano Oley, Kalimantan Timur, juga menerima apresiasi di bidang Lingkungan. Baginya menyejahterakan warga dengan memaksimalkan potensi lokal yang dimiliki tanpa harus merusak keanekaragaman hayati di dalamnya. Sedangkan Narman dari Baduy, Lebak, Banten, ini mampu membuka cara berpikir masyarakat Baduy untuk lebih sejahtera dari berwirausaha secara online. Baginya sangat berat untuk menerobos tradisi di Baduy apalagi pemuka adat menegaskan untuk tidak menggunakan internet untuk hal-hal selain membantu penjualan kerajinan tangan khas Baduy, jangan sampai mengubah tatanan adat Baduy. Azza Aprisaufa merupakan penerima apresiasi dari Takengon, Aceh, di bidang Teknologi. Ia memberdayakan sarjana melalui sebuah aplikasi. Program (aplikasi) ini bisa juga dibuat dan diterapkan di sejumlah wilayah Indonesia dan menjadi salah satu solusi pemberdayaan manusia, khususnya para sarjana dan magister.


Nodeflux dari Jakarta juga menjadi penerima apresiasi dari bidang Teknologi, hanya saja mereka masuk dalam kategori Kelompok. Ia mengembangkan Teknologi Artificial Intelligence yang membantu pemerintah kota di beberapa wilayah di Indonesia dalam mengembangkan kemampuan manajemen perkotaan dengan konsep smart city. Selamat kepada para penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018, semoga mampu menjadi inspirator yang terus menerus menggerakan masyarakat di Indonesia ke arah kemajuan.



Selain acara awarding, 9th SATU Indonesia Awards 2018 juga menampilkan banyak musisi Indonesia mulai dari yang legendaris seperti Gigi, hingga Gloria Jessica dan Tulus, untuk menghibur penonton yang memadati Cendrawasih Hall, Jakarta Convention Center, malam itu (27/10). Gigi dengan Armand Maulana, mampu menghipnotis penonton termasuk saya dengan lagunya yang nostalgic banget. Gloria Jessica juga menyanyikan lagu A Sky Full of Stars yang membuatnya tenar di Indonesia. Tulus dengan melownya mampu membuat kami bernyanyi lagu-lagunya yang kece banget. 


Saya tertarik dengan Mohamad Hanif Wicaksono, Sang Penanam Buah Langka Kalimantan. Bagi saya, buah itu sangat memorable. Dulu saya sangat gemar manjat pohon jambu batu di kampung, selain itu saya suka sekali dengan buah-buah lain yang tumbuh secara subur di pekarangan rumah sendiri maupun tetangga. Di Jakarta, beton-beton tinggilah yang setiap hari menghias kehidupan saya kini. Beruntung sekali rasanya bertemu dengan Mas Hanif.

Mas Hanif mendiami Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Yang membuat saya kagum adalah kegigihannya selama 6 tahun belakangan ini mengembangbiakan buah langka asli Kalimantan, padahal ia bukanlah penduduk asli dari Kalimantan Selatan. Profesinya sebagai penyuluh keluarga berencana di Kabupaten Balangan ini membuatnya sering keluar masuk desa terpencil, salah satunya Desa Marajai, Kecamatan Halong dimana ia banyak mendapatkan banyak informasi buah-buahan hutan dari masyarakat adat Suku Dayak. Mulai dari sinilah ia mendokumentasikan setiap buah yang ia temukan di dalam hutan. Mulai dari sini pula, ia belajar bagaimana mengidentifikasi dan membudidayakannya karena memang terancam punah.

Tak berhenti mendokumentasikan, ia juga membudidayakan dengan melibatkan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian, ia juga memiliki program Tunas Meratus dan hingga saat ini telah mengumpulkan kurang lebih 160 jenis bibit buah langka khas Kalimantan



Demi keberlanjutannya, Hanif menggerakkan masyarakat dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang berbagai macam jenis buah langka asli Kalimantan.

Kita membutuhkan lebih banyak Hanif-Hanif lainnya untuk melestarikan buah langka asli dari hutan-hutan di Indonesia. Kita membutuhkan banyak sosok-sosok seperti penerima apresiasi SATU Indonesia Awards. Untuk info lebih lengkap tentang penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018, klik aja www.satu-indonesia.com/satuindonesiaawards .

Siapkan dirimu untuk mengikuti SATU Indonesia Awards 2019 yang merupakan penyelenggaraan tahun ke-10, yang tentunya banyak sekali kejutan dan hadiah yang akan diberikan kepada sosok-sosok muda inspiratif


You Might Also Like

1 komentar