salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
  •  

    Namaku Sphyrna, aku terlahir di perairan laut Jawa, di antara ratusan saudara kecil yang berenang membentuk gerombolan. Tak seperti temanku, mata dan lubang hidungku berada di ujung kepala. Kepalaku lonjong seperti martil, walau bentuk kepalaku unik tapi akulah penjaga keseimbangan di lautan lepas. Namun mirisnya, aku jugalah yang paling diburu. 


    Saat tubuhku belum genap satu meter, ketika hidupku belum dimulai, jaring besar itu menutup langit biru di atas permukaan air. Aku ditarik ke dek kapal bersama puluhan saudara dan teman-teman, semuanya belum dewasa. Aku belum sempat tumbuh, belum sempat mengembalikan satupun kehidupan ke laut yang melahirkanku. 


    Aku dilindungi, setidaknya dalam aturan manusia. Namun di pelabuhan, tubuhku dipotong tanpa ragu, siripku ditimbang dengan cepat. Tidak ada yang bertanya apakah aku martil harus dijaga, atau dilarang diperdagangkan. Tidak ada yang peduli, berempati apalagi mengembalikan aku ke lautan lepas. 


    Sampai suatu hari, seorang pemuda dari Banyuwangi bernama Oka Bayu Pratama, menyadari bahwa permasalahan utamanya bukan hanya penangkapan namun karena ketidaktahuan. Aku mati bukan karena kejahatan, namun karena manusia tidak bisa membedakan dari jenis ikan lainnya di lautan luas. 


    Saat Hiu diburu, Hati Oka Bayu Pratama Membeku  


    Angin laut membelai rambut pendek seorang pemuda di pelabuhan Banyuwangi. Ia membetulkan posisi kacamata, sambil terus mengamati perahu nelayan mendekati bibir dermaga. Tiap harinya, ratusan ton ikan berhasil ditangkap oleh nelayan hingga akhirnya dipasarkan pelelangan ikan di Pancer, Muncar, dan Grajagan, Kabupaten Banyuwangi. Ikan tuna, tenggiri, tongkol, kembung, kakap dan cakalang merupakan hasil tangkapan disamping ikan lemuru, sang primadona di perairan selat Bali. 


    “Banyak sekali overfishing yang terjadi di Indonesia, semua ikan yang nilai jualnya tinggi dan banyak pasarnya,” Jelas Oka Bayu dengan menggebu-gebu. 


    Lemuru, bak artis ternama sangat populer dikalangan ibu-ibu rumah tangga dan anak kos saat tanggal tua. Sardinella Lemuru telah menjadi komoditas unggulan Banyuwangi, tak dipungkiri dari tahun ke tahun permintaan semakin banyak karena menjadi konsumsi skala nasional. Permintaan banyak sehingga nelayan pun melakukan penangkapan secara besar-besaran sehingga terjadi overfishing. 


    Dalam 2024, Kabupaten Banyuwangi menyumbang 30.534 kg hasil tangkapan, sekitar 46,12 persen tangkapan ikan lemuru di Indonesia. Disamping itu, penangkapan ikan lemuru telah melampaui jumlah tangkap yang diperbolehkan secara ekonomi sehingga mengancam keberlanjutan populasi ikan apabila tidak dilakukan dengan hati-hati (Jurnal Akuatiklestari, 2025).


    “Karena overfishing lemuru, akibatnya harus mendatangkan ikan dari India karena lemuru membutuhkan waktu bereproduksi kembali,” Ucap Oka Bayu trenyuh. 



    Jaring-jaring kuat dan rapat ditarik oleh nelayan kemudian dimasukan ke dalam dek kapal. Pukat cincin, sebuah jaring menyerupai kantong besar melingkari dan mengurung gerombolan ikan. Kemudian, dengan satu tarikan saja di bagian bawah, baik ikan besar maupun kecil tidak bisa meloloskan diri. Mirisnya, bukan hanya ikan lemuru ataupun jenis ikan yang bisa dikonsumsi saja, namun ikan hiu pun turut terjaring. 


    Seorang nelayan mengangkut hasil tangkapan menuju tempat pelelangan ikan. Hasil tangkapannya melimpah terutama ikan lemuru. Hati Oka Bayu Pratama terpacu saat melihat ke arah lantai. Kumpulan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ternyata bukan ikan layak konsumsi, namun ikan hiu yang dilindungi.


    “Hiu-hiu sudah dipotong sehingga tinggal sirip bahkan tinggal kulitnya karena dicacah,” Ungkap Oka Bayu. 


    Hiu-hiu yang terjaring pukat, dipotong-potong bagian tubuhnya. Sirip dan bagian berharga dipisahkan untuk dijual. Sementara, potongan tubuh ikan sudah tak berbentuk sehingga tak bisa dikenali lagi sebagai hiu. 


    “Ternyata justru yang ditangkap itu hiu-hiu yang dilindungi dan dibatasi bahkan di kuota, namun di lapangan masih belum ada pengawasan yang ketat,” Tambah Oka Bayu berkaca-kaca. 


    Panggilan Hati, Oka Bayu Pratama Bergerak Meneliti

    Luasnya laut Indonesia, tersimpan kekayaan satwa laut terutama ikan dilindungi seperti hiu, penyu, pari dan duyung. Namun, mirisnya menurut TRAFFIC (Komite Pemantau Perdagangan Satwa Liar Internasional), Indonesia merupakan penangkap hiu terbesar di dunia, setiap tahunnya bisa menangkap 110.737 hiu dan menyumbang sekitar 16,8% dari total tangkapan hiu di dunia. Sebetulnya, ikan-ikan tersebut dilindungi oleh beberapa peraturan salah satunya Keputusan Menteri No. 66 tahun 2025. Ikan hiu yang dilindungi antara lain Hiu Paus, Hiu Berjalan, Hiu Martil, dan Hiu Koboi. 


    Fakta dilapangan berbeda 180 derajat dari peraturan yang dibuat. Selagi permintaan pasar masih banyak, sebanyak apapun peraturan yang disampaikan tak akan digubris. Bahkan petugas di lapangan pun tidak bisa mengidentifikasi ikan hiu karena faktor ketidaktahuan dan keterbatasan teknologi dalam identifikasi hiu dan jenis ikan lainnya. Hal inilah yang mengusik Oka Bayu Pratama.  


    “Sebagai orang perikanan yang bisa IT, saya ingin berkontribusi untuk permasalahan yang urgen untuk diselesaikan,” Oka Bayu memaparkan keinginan berkontribusi melalui identifikasi ikan hiu melalui  teknologi IT dan AI. 


    Semangat pemuda asal Desa Bayu, Banyuwangi menggebu. Berbekal latar belakang Akuakultur Universitas Airlangga, Oka Bayu pun melakukan survey dan studi terlebih dahulu. Bahkan biaya penelitian dan pengembangan aplikasi dibiayai dari hasil budidaya lele yang ia jalankan, baru kemudian ia mendapatkan dukungan dana penelitian dari organisasi non profit  bernama Indonesian Youth Elasmobranch Scholarship (IYES). Kebetulan IYES mendukung penelitian terkait hiu dan pari di Indonesia.   



    “Sebetulnya, ekspektasi saya ketika di pelabuhan besar di Jawa Timur itu tidak terjadi penangkapan hiu. Justru ketika saya disana, mirisnya hiu disana banyak ditangkap bahkan seharusnya dilindungi,” Ujar Oka Bayu mengungkapkan fakta dilapangan ketika mengunjungi pelabuhan di Lamongan, Jawa Timur. 


    Tak hanya itu, petugas pendata pun hanya melakukan tugas identifikasi ikan hanya beberapa kali dalam sebulan. Tidak ada metode khusus dalam mengidentifikasi, hanya dilakukan beberapa sampel sehingga tidak  efektif dalam mengenali hiu-hiu yang dilindungi. 


    Dalam perjalanan survey ke beberapa daerah seperti Banyuwangi, Lamongan dan Lombok Timur, Oka Bayu sebetulnya masih sangsi, apakah bisa memecahkan permasalahan yang terjadi di lapangan mulai dari proses identifikasi dengan kondisi pengambilan data, kondisi masyarakat dan berbagai macam kendala di lapangan. 


    SeeShark, Aplikasi AI Identifikasi Hiu Pertama di Dunia 


    Berkat usaha kerasnya kurang dari setahun, SeeShark lahir sebagai salah satu aplikasi AI untuk mengidentifikasi spesies hiu secara akurat. Saat ini SeeShark memiliki database lebih dari 9.600 gambar hiu dari 10 jenis spesies hiu yang dilindungi dan paling rentan dieksploitasi dengan tingkat akurasi 95,3 persen sehingga sangat membantu petugas di pelabuhan dalam proses pengidentifikasi hiu-hiu tersebut.  


    “SeeShark itu pertama di dunia. Identifikasi hiu melalui potongan tubuh dan kulit dengan AI, tidak ada yang pernah melakukannya sebelumnya,” Ucap Oka Bayu dengan semangat.


    Sebelum SeeShark, Food and Agriculture Organization (FOA) of United Nation terlebih dahulu menciptakan ISharkFin, sebuah teknologi identifikasi spesies hiu dengan sirip hiu dengan mengunggah foto sirip dorsal atau pectoral. Namun, fakta di lapangan terutama di pelabuhan Indonesia, sirip hiu sudah dipisahkan dan hanya tersisa potongan hiu saja sehingga sulit diidentifikasi. SeeShark menggunakan teknologi AI dan mampu mengidentifikasi hiu hanya dari sirip, potongan tubuh atau kulit. 


    Dalam hitungan detik, sistem AI memproses pola kulit, bentuk potongan, dan tekstur yang tidak bisa dikenali mata manusia, kemudian menampilkan hasil identifikasi spesies beserta status perlindungannya. Dengan cara sederhana ini, petugas dapat segera mengetahui apakah potongan tersebut berasal dari hiu yang dilindungi, tanpa perlu alat khusus atau keahlian identifikasi manual yang rumit.


    “Kami mengutamakan user experience. Bahkan orang awam bisa mengidentifikasi hiu hanya dengan memotret dan mengunggah gambarnya.”


    Bukan hanya petugas di pelabuhan dan pemerintah, namun masyarakat pun bisa menggunakan aplikasi SeeShark dengan leluasa, sehingga pengawasan dan partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan. 


    Antara Tradisi dan Kecantikan Diri, Hiu pun Banyak Dicari

    Namaku Sphyrna, saat di pelabuhan aku berpisah dengan saudara dan temanku. Tubuhku tertupuk dengan ikan lain. Sulit rasanya melepaskan diri. Aku melihat satu persatu tubuh saudaraku dipotong dipisahkan sirip dan potongan tubuh lain. Bagi sebagian penduduk Indonesia, potongan tubuhku bisa mengundang kemakmuran dan kesejahteraan.


    Aku pun mendengar orang berbicara, “Squalene juga banyak yang cari.” 


    Bukan hanya siripku saja, namun minyak hatiku ternyata diburu untuk dijadikan produk kecantikan. Bagi manusia, ternyata kecantikan itu dibayar mahal dengan mengorbankanku. 


    ***

    “Selama permintaannya tinggi, hiu akan tetap ditangkap,” Ungkap Oka Bayu mengenai masih maraknya penangkapan hiu di Indonesia. 

    Di sebagian wilayah Indonesia, hiu merupakan simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Pada perayaan hari tertentu, mengkonsumsi sirip ikan hiu diyakini bisa membawa keberuntungan dan bagian dari ucapan rasa syukur atas kehidupan selama ini. Bukan hanya simbol kemakmuran, sirip hiu juga dipercaya sebagai bagian menunjukan status sosial. 


    Saat melihat etalase toko online, mata tertuju pada produk kecantikan dengan bahan minyak squalene. Bukan hanya satu atau dua produk, namun banyak produk minyak squalene bisa bebas diperjualbelikan. Minyak squalene berasal dari minyak hati ikan hiu. Produk kecantikan dan kesehatan masih banyak yang menggunakan squalene.



    “Kami tidak ingin menyalahkan nelayan. Mereka bekerja karena ada permintaan. Kami ingin membantu mereka mendapatkan penghasilan yang lebih baik dengan cara yang lebih baik.”


    Selama ini, nelayan memenuhi permintaan dari pasar skala nasional. Jika permintaan masih terus menerus berdatangan, maka nelayan pun akan berusaha memenuhinya. Faktor ekonomi dan supply demand masih menjadi momok bagi SeeShark dan komunitas konservasi hiu. Apalagi jika ingin mengurai jalur perdagangan hiu, resikonya sangat berat karena terkoneksi dengan perusahan besar yang menguasai Indonesia. 


    “Perusahaan-perusahaan harus mulai beralih. Squalene bisa dari zaitun, bahkan dari mikroalga. Tidak harus dari hiu.”


    Oka Bayu berharap perusahaan-perusahaan kosmetik dan suplemen dengan bahan dasar squalene bisa beralih menggunakan bahan plant base. Indonesia memiliki keragaman hayati, sehingga banyak sekali alternatif minyak squalene dari zaitun dan mikroalga. 


    “Karena itu kami menyasar hilir berupa audit dan regulasi untuk produk kosmetik dari squalene dan produk jadi.”


    Tak berhenti sampai disitu, Oka juga mendorong berbagai regulasi jelas agar perusahaan-perusahaan tidak menggunakan bahan baku squalene dengan audit, sertifikasi seperti ISO dan regulasi ketat di skala nasional seperti peraturan pemerintah atau undang-undang.


    “Kami tidak ingin membatasi nelayan, karena mereka punya hak untuk menangkap ikan termasuk hiu, namun memang ada batasan.”


    Oka Bayu mengungkapkan bahwa nelayan sebetulnya tidak memiliki pilihan karena faktor ekonomi. SeeShark dan komunitas serta NGO pun kedepannya bisa melakukan tindakan berupa regulasi jelas dan bisa membuka peluang baru dari penangkapan hiu ke produk lain yaitu squalene seperti zaitun dan mikroalga. Bukan hanya membuka peluang ekonomi, namun ekosistem di laut pun akan semakin membaik sehingga ikan-ikan pun melimpah.


    Inovasi Besar Lahir Dari Desa Bayu

    Setelah SeeShark lahir, dampak luar biasa terasa. Upaya Oka Bayu Pratama mengenalkan inovasi berupa aplikasi pendeteksi hiu berbasis kecerdasan buatan (AI) membuahkan hasil mendapatkan apresiasi dari SATU Indonesia Awards 2025 dalam kategori Teknologi Tepat Guna. 


    “Saya hanya ingin membuktikan bahwa inovasi besar bisa lahir dari desa, dari tangan-tangan yang mau bekerja keras,” ujar Oka.


    Oka berhasil menyisihkan 17.700 pendaftar dari seluruh Indonesia. Karya inovasi lahir dari sebuah desa, yang ternyata memberikan dampak luar biasa bagi keberlangsungan kehidupan hiu yang dilindungi. 


    “Dari kolam lele, Oka berhasil menciptakan inovasi berkelas skala nasional. “


    Ketua Garda Lestari, Andri Saputra mengungkapkan bahwa inovasi bisa lahir dari kesederhanaan dan perjuangan Oka ini bisa menginspirasi pemuda-pemuda di seluruh Indonesia untuk menciptakan inovasi dari kegelisahan dan kegalauan dari berbagai permasalahan yang dihadapi di kehidupan sehari-hari. 


    ***

    Namaku Sphyrna, tubuhku kembali merasakan arus hangat yang memeluk siripku. Dari kejauhan, kulihat pemuda berkacamata itu berdiri, menatap laut yang sama yang pernah hampir merenggut hidupku. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tindakannya sudah cukup, ia mengenaliku bukan sekadar sebagai ikan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

    Air mengalir melewati kepalaku yang berbentuk martil. Rasanya seperti nafas kedua. Rasanya seperti kesempatan untuk tumbuh dan suatu hari, melahirkan kehidupan baru di laut ini.


    Terima kasih, manusia muda. Semoga langkahmu menjadi awal dari ribuan langkah lain, agar aku tidak lagi menjadi angka tanpa nama di pelabuhan. Semoga semakin banyak orang yang mau melihat, mengenali, dan melepaskanku kembali.


    Laut ini milik kita bersama. Jika aku terus hidup, maka kehidupan manusia pun akan terus berlanjut.


    Sumber Referensi : 

    • Wawancara dengan Oka Bayu Pratama 

    • Windra Neka, Mochammad Fattah, Dwi Sofiati, Asyifa Anandya: Status Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) di Perairan Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur (Jurnal Akuatiklestari, 2025)

    • Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 66 tahun 2025 

    • https://banyuwanginews.com/view/modal-dari-kolam-lele-pemuda-banyuwangi-ciptakan-aplikasi-ai-pelindung-hiu

    • https://banyuwanginews.com/view/aplikasi-seeshark-ciptaan-pemuda-banyuwangi-masuk-satu-indonesia-awards-2025

    Sumber dokumentasi : 

    Foto diambil dari unsplash.com dan Dokumentasi Oka Bayu Pratama (SeeShark).



    Continue Reading

    Gelaran International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2025 hadir di awal tahun, tanggal 5-9 Februari di Jakarta International Convetion Center (JICC). Pada lobby hall JCC sebelum masuk ke area pameran, Tugu Jogja sengaja disuguhkan sebagai ikon Yogyakarta dan tema Inacraft tahun ini. Inacraft tahun ini memasuki perayaan ke-25 dan mengusung tema "From Smart Village to Global Market" dengan konsep “Sustainability and Collaboration”. Sejalan dengan tema tersebut, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), sebagai salah satu pelopor pembina UMKM di Indonesia pun menghadirkan UMKM binaan dan produk unggulan dari Desa Sejahtera Astra (DSA).

    Tema Inacraft From Smart Village to Global Market, memberikan kesempatan produk UMKM lokal untuk memasarkannya ke pasar global, sedangkan Sustainability and Collaboration mengusung produk ramah lingkungan dan berkelanjutan, disamping itu Inacraft memberikan ruang berkolaborasi baik antar UMKM, pemerintah, swasta, perorangan dan negara lain. 

    6 UMKM binaan YDBA dan 3 Desa Sejahtera Astra menampilkan produk unik dan ramah lingkungan di hadir di Assembly Hall JCC, Senayan Jakarta No. 123 – 126 mulai Rabu, 5 Februari 2025 hingga Minggu, 9 Februari 2025.

    Produk Unggulan UMKM Astra Hadir di Inacraft 2025


    Produk ramah lingkungan dan unik dan berbagai kreasi dihasilkan oleh UMKM binaan Astra dan Desa Sejahtera Astra dipamerkan di Assembley Hall, Jakarta International Convention Center (JICC) hingga 9 Februari mendatang di pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara. 

    Nah, inilah deretan UMKM binaan YDBA dan produk unggulan dari Desa Sejahtera Astra :

    UMKM Sigawawak Farm


    Aromaterapi, minyak pijat, pewangi dari bahan dasar serai dan minyak asiri dihasilkan oleh petani di Lebak, Banten. UMKM Sigawawak Farm mampu menghasilkan 40-50 kg produk untuk kebutuhan beberapa perusahaan besar di daerah Banten, sedangkan produk turunannya dilakukan kerjasama dengan pengecer parfum, tukang pijat dan ibu-ibu rumah tangga. 

    UMKM Batik Namburan


    Batik Namburan asal Yogyakarta meraih runner-up di acara UMKM Award dari Indonesian Marketing Association pada Desember 2024 lalu menjadikannya sebagai salah satu UMKM dengan produk unggulan ramah lingkungan. Proses pembuatan Batik menggunakan malam ramah lingkungan dan teknik colet untuk meminimalisir limbah. 

    UMKM KaIND 


    Dari sutra eri, katun, rami dan serat nanas diubah menjadi serat alami dengan hasil akhir menjadi produk fashion ramah lingkungan. Walaupun menggunakan serat alami, namun kualitas produk yang ditampilkan sangat menawan. Dalam pengerjaannya, UMKM KaIND melibatkan peran anak muda dalam menenun dan membatik. 

    UMKM Loka Bina Karya (LBK) Malaka


    UMKM Loka Bina Karya (LBK) Malaka memberdayakan difabel dengan menciptakan produk bernilai tambah dan kompetitif. Berfokus pada kerajinan tangan, LBK menghasilkan berbagai produk seperti tas, celengan decoupage, tas rajut, dan keset. Melalui inovasi dan keterampilan, UMKM ini membuka peluang ekonomi bagi difabel, mendorong kemandirian, serta meningkatkan daya saing produk lokal.

    UMKM Khanaya Zhafira

    UMKM Khanaya Zhafira dari Bogor memproduksi berbagai jenis tas dengan melibatkan kaum difabel dalam proses produksi, quality control, pemasaran, penjualan, dan pengantaran. Melalui pemberdayaan ini, UMKM tidak hanya menghasilkan produk berkualitas tetapi juga mendukung inklusivitas dan kemandirian ekonomi bagi difabel.

    UMKM Dewoz Art


    UMKM Dewoz Art memproduksi kerajinan dari kayu jati Belanda, seperti tempat sendok, rak bumbu, meja, kursi, dan produk customized lainnya. Mengutamakan kualitas dan keberlanjutan, produk Dewoz Art ramah lingkungan serta dirancang dengan kreativitas dan keunikan.

    Sedangkan 3 produk unggulan dari Desa Sejahtera Astra, adalah sebagai berikut : 

    Desa Sejahtera Astra Blitar, Kendang Djembe 


    DSA Blitar dikenal dengan produk unggulannya, seperti Kendang Djembe dari kayu mahoni serta berbagai peralatan rumah tangga dari kayu jati dan mahoni. Produk-produknya telah menembus pasar internasional, termasuk Hong Kong, China, Kanada, dan India. Selain itu, DSA Blitar memanfaatkan limbah kulit untuk diolah menjadi kendang dan produk lainnya, mendukung prinsip keberlanjutan. 

    Di China, kendang hasil produksi mereka digunakan sebagai terapi penyembuhan bagi tuna rungu dan grahita melalui terapi musik. Dengan skala produksi besar, DSA Blitar telah mengirimkan produk hingga dalam jumlah kontainer, membuktikan daya saing dan kualitasnya di pasar global.

    Desa Sejahtera Astra Jepara, Produk Ukiran 


    Desa Sejahtera Astra Jepara memberdayakan pengrajin ukir lokal dalam mengolah limbah kayu menjadi produk rumah tangga, seperti dispenser sabun, tumbler, mangkuk, serta berbagai aksesori kayu. Selain itu, mereka juga mengembangkan kerajinan kayu dan tenun Jepara bermotif Toraja. 

    Dengan melibatkan pengrajin dari lima kecamatan dan sepuluh desa di Jepara, DSA turut mengolah limbah kayu menjadi produk inovatif, termasuk korek kayu. Inisiatif ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan tetapi juga meningkatkan kesejahteraan pengrajin lokal melalui pemanfaatan sumber daya berkelanjutan.

    Desa Sejahtera Astra Sumedang, Batik Ecoprint dan Fashion


    DSA Sumedang memberdayakan ibu rumah tangga dalam produksi fashion, seperti set batik tulis, jaket kain perca, dan tren fashion lainnya. Mengusung konsep ramah lingkungan, produk batik ecoprint mereka menggunakan pewarna alami dari kopi. 

    Dengan dukungan 150 reseller, mayoritasnya ibu rumah tangga, DSA Sumedang berhasil memasarkan 90% produknya melalui jaringan reseller dan penjualan online. Inisiatif ini tidak hanya mendorong kemandirian ekonomi bagi para ibu rumah tangga, tetapi juga mendukung keberlanjutan melalui penggunaan bahan alami dalam industri fashion.

    Continue Reading

    Semenjak mengenal pada 2007, saat masih kuliah di Universitas Indonesia, rasanya blog telah berubah jauh. Dahulu blog bukanlah tempat mencari rezeki, namun tempat mencurahkan isi hati. Kini, blog menjadi salah satu media menumpahkan opini, cerita pribadi, pengalaman hidup, ulasan produk, dan berbagai pemikiran lainnya. Dari tulisan di blog, bisa menghasilkan pendapatan yang lumayan fantastis. Beruntung, saya dapat menggali lebih dalam mengenai inovasi profesi blogger di era social media di Menara Astra, bersama Ani Berta, Founder Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB). 

    Kilas balik, ketika saya resign dari pekerjaan pada penghujung tahun 2014. Saat itu, saya menulis di blog hanya untuk mengisi waktu di luar pekerjaan, dan kemudian awal 2015 saya memutuskan untuk terjun sebagai fulltime blogger. Lahirlah domain salmanbiroe.com sebagai nama blog yang saya pilih. Bulan depan, blog ini akan berusia 10 tahun, sebuah usia yang cukup matang untuk sebuah platform tulisan yang bisa mengulas apapun dari curhat hingga masalah teknologi dan pendidikan. Berkat ngeblog, saya bisa menghasilkan cuan dan gratis jalan-jalan keliling Indonesia dan luar negeri seperti Malaysia.

    Sebagai orang yang bertahan selama 10 tahun, kemudian banyak pertanyaan muncul di benak. Salah satunya adalah apakah profesi blogger masih relevan di era social media yang merajalela. Platform blog dianggap kalah populer dibandingkan instagram dan tiktok, atau social media yang menampilkan gambar dan video. Namun, bagaimana blogger bisa bertahan ditengah gempuran media lain? Penasaran dengan blogger masih memiliki peran penting sebagai media publikasi dan promosi serta terindex di mesin pencarian seperti google?  

    Inovasi atau Punah: Tantangan Blogger di Era Social Media


    Perkembangan teknologi dan perubahan serta inovasi membuat social media menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Apalagi konsumsi social media di Indonesia menunjukan angka luar biasa, sehingga untuk menarik perhatian mau tidak mau harus mengikuti perkembangan terkini. Kemudian, muncul berbagai pertanyaan seperti, apakah blog masih dicari sebagai sumber informasi? apakah profesi blogger masih relevan di era social media saat ini? atau apa saja yang membuat blog masih dicari saat ini? Seluruh pertanyaan dibahas secara langsung oleh Ani Berta dalam workshop Anugerah Pewarta Astra di awal tahun 2025 ini. 

    Perlu diketahui, Anugerah Pewarta Astra merupakan penghargaan bagi jurnalis dan blogger yang terus mengaungkan kepedulian Astra terhadap beberapa pilar diantaranya pendidikan, kesehatan, lingkungan dan kewirausahaan. Setiap tahunnya, penghargaan ini diberikan kepada jurnalis dan blogger dengan karya terbaiknya. 

    Teh Ani, panggilan akrab dari Ani Berta, seorang perempuan penggagas Komunitas Indonesian Social Blogpreneur dan Female Digest. Teh Ani aktif mencurahkan isi hatinya melalui blog sejak 2008, dan pada 2013 memutuskan untuk resign dari pekerjaan utama di bidang akuntansi. Dari titik balik inilah, Teh Ani memutuskan untuk menjadi seorang full time blogger. 

    Lalu, apa sajakah yang harus dimiliki sebagai seorang blogger yang relevan di berbagai perkembangan teknologi dan social media yang terus menerus diperbaharui? 


    Menurut Teh Ani, seorang blogger harus memiliki beberapa hal dan langkah yang harus dilakukan diantaranya : 

    Filosofi Blogging dan Value 

    Blogger harus pandai dalam menuliskan berbagai hal dan memahami SEO serta mempercantik tampilan blog dengan video dan infografis. Selain itu, harus memiliki kedalaman karya melalui riset matang dan perspektif mendalam, penyajian yang didukung dengan data dan fakta dari berbagai sumber dan menambahkan unsur analisis sehingga pembaca mampu memahami isu lebih baik. 

    Kendaraan Penting Dan Inovasi Seorang Blogger

    Blog dapat menjadi batu loncatan seseorang dengan membangun personal branding, portfolio, peluang kerjasama, pembelajaran dan fleksibilitas blog. 

    Sementara itu, untuk menjadi seorang blogger yang mampu bertahan dalam era sosial media, dibutuhkan konsistensi, adaptasi, inovasi, kolaborasi dan integrasi dalam berbagai media atau platform. 

    Monetisasi dan Pengembangan Karir Blogger

    Perkembangan blogger dapat dibedakan dari sebelum profesional yang fokus pada sponsor post, placement post, dan program afiliasi. Sementara setelah menjadi blogger professional, bisa mengembangan karir dengan pilot project dengan brand, institusi atau NGO, content writer dan terbuka peluang kolaborasi dengan blogger atau kreator lain. 

    Modal dan Amunisi Blogger

    Menjadi seorang blogger, dibutuhkan modal dasar diantaranya platform blog (baik gratisan ataupun domain), gadget, digital tools dan koneksi internet. 

    Disamping itu, blogger memerlukan keterampilan sebagai sebuah amunisi seperti public speaking, Self Development, Learning from failure dan harus memiliki growth mindset. 


    Dengan berbagai hal tersebut, blogger masih memiliki kapasitas dalam era social media, bahkan blog bisa mendapatkan tempat sebagai salah satu platform yang turut membangun citra positif dari brand, institusi ataupun korporasi seperti PT Astra International, Tbk. 

    Selama Google atau search engine masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam mencari berbagai informasi penting dan lengkap serta kredibel, blog akan mendapatkan tempat dan terbuka peluang yang sangat lebar dalam era social media saat ini. 

    Harapannya, blogger mampu menjadi trendsetter di kalangan anak muda, terutama generasi penerus seperti salah satu peserta workshop Anugerah Pewarta Astra yang merupakan siswi SMP, bernama Salwa. Kedepannya semoga, blogging akan kembali booming sebagai salah satu platform yang tak usang dimakan perubahan teknologi dan zaman. 


    Continue Reading
    Older
    Stories

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top