salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
  •  

    Namaku Sphyrna, aku terlahir di perairan laut Jawa, di antara ratusan saudara kecil yang berenang membentuk gerombolan. Tak seperti temanku, mata dan lubang hidungku berada di ujung kepala. Kepalaku lonjong seperti martil, walau bentuk kepalaku unik tapi akulah penjaga keseimbangan di lautan lepas. Namun mirisnya, aku jugalah yang paling diburu. 


    Saat tubuhku belum genap satu meter, ketika hidupku belum dimulai, jaring besar itu menutup langit biru di atas permukaan air. Aku ditarik ke dek kapal bersama puluhan saudara dan teman-teman, semuanya belum dewasa. Aku belum sempat tumbuh, belum sempat mengembalikan satupun kehidupan ke laut yang melahirkanku. 


    Aku dilindungi, setidaknya dalam aturan manusia. Namun di pelabuhan, tubuhku dipotong tanpa ragu, siripku ditimbang dengan cepat. Tidak ada yang bertanya apakah aku martil harus dijaga, atau dilarang diperdagangkan. Tidak ada yang peduli, berempati apalagi mengembalikan aku ke lautan lepas. 


    Sampai suatu hari, seorang pemuda dari Banyuwangi bernama Oka Bayu Pratama, menyadari bahwa permasalahan utamanya bukan hanya penangkapan namun karena ketidaktahuan. Aku mati bukan karena kejahatan, namun karena manusia tidak bisa membedakan dari jenis ikan lainnya di lautan luas. 


    Saat Hiu diburu, Hati Oka Bayu Pratama Membeku  


    Angin laut membelai rambut pendek seorang pemuda di pelabuhan Banyuwangi. Ia membetulkan posisi kacamata, sambil terus mengamati perahu nelayan mendekati bibir dermaga. Tiap harinya, ratusan ton ikan berhasil ditangkap oleh nelayan hingga akhirnya dipasarkan pelelangan ikan di Pancer, Muncar, dan Grajagan, Kabupaten Banyuwangi. Ikan tuna, tenggiri, tongkol, kembung, kakap dan cakalang merupakan hasil tangkapan disamping ikan lemuru, sang primadona di perairan selat Bali. 


    “Banyak sekali overfishing yang terjadi di Indonesia, semua ikan yang nilai jualnya tinggi dan banyak pasarnya,” Jelas Oka Bayu dengan menggebu-gebu. 


    Lemuru, bak artis ternama sangat populer dikalangan ibu-ibu rumah tangga dan anak kos saat tanggal tua. Sardinella Lemuru telah menjadi komoditas unggulan Banyuwangi, tak dipungkiri dari tahun ke tahun permintaan semakin banyak karena menjadi konsumsi skala nasional. Permintaan banyak sehingga nelayan pun melakukan penangkapan secara besar-besaran sehingga terjadi overfishing. 


    Dalam 2024, Kabupaten Banyuwangi menyumbang 30.534 kg hasil tangkapan, sekitar 46,12 persen tangkapan ikan lemuru di Indonesia. Disamping itu, penangkapan ikan lemuru telah melampaui jumlah tangkap yang diperbolehkan secara ekonomi sehingga mengancam keberlanjutan populasi ikan apabila tidak dilakukan dengan hati-hati (Jurnal Akuatiklestari, 2025).


    “Karena overfishing lemuru, akibatnya harus mendatangkan ikan dari India karena lemuru membutuhkan waktu bereproduksi kembali,” Ucap Oka Bayu trenyuh. 



    Jaring-jaring kuat dan rapat ditarik oleh nelayan kemudian dimasukan ke dalam dek kapal. Pukat cincin, sebuah jaring menyerupai kantong besar melingkari dan mengurung gerombolan ikan. Kemudian, dengan satu tarikan saja di bagian bawah, baik ikan besar maupun kecil tidak bisa meloloskan diri. Mirisnya, bukan hanya ikan lemuru ataupun jenis ikan yang bisa dikonsumsi saja, namun ikan hiu pun turut terjaring. 


    Seorang nelayan mengangkut hasil tangkapan menuju tempat pelelangan ikan. Hasil tangkapannya melimpah terutama ikan lemuru. Hati Oka Bayu Pratama terpacu saat melihat ke arah lantai. Kumpulan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ternyata bukan ikan layak konsumsi, namun ikan hiu yang dilindungi.


    “Hiu-hiu sudah dipotong sehingga tinggal sirip bahkan tinggal kulitnya karena dicacah,” Ungkap Oka Bayu. 


    Hiu-hiu yang terjaring pukat, dipotong-potong bagian tubuhnya. Sirip dan bagian berharga dipisahkan untuk dijual. Sementara, potongan tubuh ikan sudah tak berbentuk sehingga tak bisa dikenali lagi sebagai hiu. 


    “Ternyata justru yang ditangkap itu hiu-hiu yang dilindungi dan dibatasi bahkan di kuota, namun di lapangan masih belum ada pengawasan yang ketat,” Tambah Oka Bayu berkaca-kaca. 


    Panggilan Hati, Oka Bayu Pratama Bergerak Meneliti

    Luasnya laut Indonesia, tersimpan kekayaan satwa laut terutama ikan dilindungi seperti hiu, penyu, pari dan duyung. Namun, mirisnya menurut TRAFFIC (Komite Pemantau Perdagangan Satwa Liar Internasional), Indonesia merupakan penangkap hiu terbesar di dunia, setiap tahunnya bisa menangkap 110.737 hiu dan menyumbang sekitar 16,8% dari total tangkapan hiu di dunia. Sebetulnya, ikan-ikan tersebut dilindungi oleh beberapa peraturan salah satunya Keputusan Menteri No. 66 tahun 2025. Ikan hiu yang dilindungi antara lain Hiu Paus, Hiu Berjalan, Hiu Martil, dan Hiu Koboi. 


    Fakta dilapangan berbeda 180 derajat dari peraturan yang dibuat. Selagi permintaan pasar masih banyak, sebanyak apapun peraturan yang disampaikan tak akan digubris. Bahkan petugas di lapangan pun tidak bisa mengidentifikasi ikan hiu karena faktor ketidaktahuan dan keterbatasan teknologi dalam identifikasi hiu dan jenis ikan lainnya. Hal inilah yang mengusik Oka Bayu Pratama.  


    “Sebagai orang perikanan yang bisa IT, saya ingin berkontribusi untuk permasalahan yang urgen untuk diselesaikan,” Oka Bayu memaparkan keinginan berkontribusi melalui identifikasi ikan hiu melalui  teknologi IT dan AI. 


    Semangat pemuda asal Desa Bayu, Banyuwangi menggebu. Berbekal latar belakang Akuakultur Universitas Airlangga, Oka Bayu pun melakukan survey dan studi terlebih dahulu. Bahkan biaya penelitian dan pengembangan aplikasi dibiayai dari hasil budidaya lele yang ia jalankan, baru kemudian ia mendapatkan dukungan dana penelitian dari organisasi non profit  bernama Indonesian Youth Elasmobranch Scholarship (IYES). Kebetulan IYES mendukung penelitian terkait hiu dan pari di Indonesia.   



    “Sebetulnya, ekspektasi saya ketika di pelabuhan besar di Jawa Timur itu tidak terjadi penangkapan hiu. Justru ketika saya disana, mirisnya hiu disana banyak ditangkap bahkan seharusnya dilindungi,” Ujar Oka Bayu mengungkapkan fakta dilapangan ketika mengunjungi pelabuhan di Lamongan, Jawa Timur. 


    Tak hanya itu, petugas pendata pun hanya melakukan tugas identifikasi ikan hanya beberapa kali dalam sebulan. Tidak ada metode khusus dalam mengidentifikasi, hanya dilakukan beberapa sampel sehingga tidak  efektif dalam mengenali hiu-hiu yang dilindungi. 


    Dalam perjalanan survey ke beberapa daerah seperti Banyuwangi, Lamongan dan Lombok Timur, Oka Bayu sebetulnya masih sangsi, apakah bisa memecahkan permasalahan yang terjadi di lapangan mulai dari proses identifikasi dengan kondisi pengambilan data, kondisi masyarakat dan berbagai macam kendala di lapangan. 


    SeeShark, Aplikasi AI Identifikasi Hiu Pertama di Dunia 


    Berkat usaha kerasnya kurang dari setahun, SeeShark lahir sebagai salah satu aplikasi AI untuk mengidentifikasi spesies hiu secara akurat. Saat ini SeeShark memiliki database lebih dari 9.600 gambar hiu dari 10 jenis spesies hiu yang dilindungi dan paling rentan dieksploitasi dengan tingkat akurasi 95,3 persen sehingga sangat membantu petugas di pelabuhan dalam proses pengidentifikasi hiu-hiu tersebut.  


    “SeeShark itu pertama di dunia. Identifikasi hiu melalui potongan tubuh dan kulit dengan AI, tidak ada yang pernah melakukannya sebelumnya,” Ucap Oka Bayu dengan semangat.


    Sebelum SeeShark, Food and Agriculture Organization (FOA) of United Nation terlebih dahulu menciptakan ISharkFin, sebuah teknologi identifikasi spesies hiu dengan sirip hiu dengan mengunggah foto sirip dorsal atau pectoral. Namun, fakta di lapangan terutama di pelabuhan Indonesia, sirip hiu sudah dipisahkan dan hanya tersisa potongan hiu saja sehingga sulit diidentifikasi. SeeShark menggunakan teknologi AI dan mampu mengidentifikasi hiu hanya dari sirip, potongan tubuh atau kulit. 


    Dalam hitungan detik, sistem AI memproses pola kulit, bentuk potongan, dan tekstur yang tidak bisa dikenali mata manusia, kemudian menampilkan hasil identifikasi spesies beserta status perlindungannya. Dengan cara sederhana ini, petugas dapat segera mengetahui apakah potongan tersebut berasal dari hiu yang dilindungi, tanpa perlu alat khusus atau keahlian identifikasi manual yang rumit.


    “Kami mengutamakan user experience. Bahkan orang awam bisa mengidentifikasi hiu hanya dengan memotret dan mengunggah gambarnya.”


    Bukan hanya petugas di pelabuhan dan pemerintah, namun masyarakat pun bisa menggunakan aplikasi SeeShark dengan leluasa, sehingga pengawasan dan partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan. 


    Antara Tradisi dan Kecantikan Diri, Hiu pun Banyak Dicari

    Namaku Sphyrna, saat di pelabuhan aku berpisah dengan saudara dan temanku. Tubuhku tertupuk dengan ikan lain. Sulit rasanya melepaskan diri. Aku melihat satu persatu tubuh saudaraku dipotong dipisahkan sirip dan potongan tubuh lain. Bagi sebagian penduduk Indonesia, potongan tubuhku bisa mengundang kemakmuran dan kesejahteraan.


    Aku pun mendengar orang berbicara, “Squalene juga banyak yang cari.” 


    Bukan hanya siripku saja, namun minyak hatiku ternyata diburu untuk dijadikan produk kecantikan. Bagi manusia, ternyata kecantikan itu dibayar mahal dengan mengorbankanku. 


    ***

    “Selama permintaannya tinggi, hiu akan tetap ditangkap,” Ungkap Oka Bayu mengenai masih maraknya penangkapan hiu di Indonesia. 

    Di sebagian wilayah Indonesia, hiu merupakan simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Pada perayaan hari tertentu, mengkonsumsi sirip ikan hiu diyakini bisa membawa keberuntungan dan bagian dari ucapan rasa syukur atas kehidupan selama ini. Bukan hanya simbol kemakmuran, sirip hiu juga dipercaya sebagai bagian menunjukan status sosial. 


    Saat melihat etalase toko online, mata tertuju pada produk kecantikan dengan bahan minyak squalene. Bukan hanya satu atau dua produk, namun banyak produk minyak squalene bisa bebas diperjualbelikan. Minyak squalene berasal dari minyak hati ikan hiu. Produk kecantikan dan kesehatan masih banyak yang menggunakan squalene.



    “Kami tidak ingin menyalahkan nelayan. Mereka bekerja karena ada permintaan. Kami ingin membantu mereka mendapatkan penghasilan yang lebih baik dengan cara yang lebih baik.”


    Selama ini, nelayan memenuhi permintaan dari pasar skala nasional. Jika permintaan masih terus menerus berdatangan, maka nelayan pun akan berusaha memenuhinya. Faktor ekonomi dan supply demand masih menjadi momok bagi SeeShark dan komunitas konservasi hiu. Apalagi jika ingin mengurai jalur perdagangan hiu, resikonya sangat berat karena terkoneksi dengan perusahan besar yang menguasai Indonesia. 


    “Perusahaan-perusahaan harus mulai beralih. Squalene bisa dari zaitun, bahkan dari mikroalga. Tidak harus dari hiu.”


    Oka Bayu berharap perusahaan-perusahaan kosmetik dan suplemen dengan bahan dasar squalene bisa beralih menggunakan bahan plant base. Indonesia memiliki keragaman hayati, sehingga banyak sekali alternatif minyak squalene dari zaitun dan mikroalga. 


    “Karena itu kami menyasar hilir berupa audit dan regulasi untuk produk kosmetik dari squalene dan produk jadi.”


    Tak berhenti sampai disitu, Oka juga mendorong berbagai regulasi jelas agar perusahaan-perusahaan tidak menggunakan bahan baku squalene dengan audit, sertifikasi seperti ISO dan regulasi ketat di skala nasional seperti peraturan pemerintah atau undang-undang.


    “Kami tidak ingin membatasi nelayan, karena mereka punya hak untuk menangkap ikan termasuk hiu, namun memang ada batasan.”


    Oka Bayu mengungkapkan bahwa nelayan sebetulnya tidak memiliki pilihan karena faktor ekonomi. SeeShark dan komunitas serta NGO pun kedepannya bisa melakukan tindakan berupa regulasi jelas dan bisa membuka peluang baru dari penangkapan hiu ke produk lain yaitu squalene seperti zaitun dan mikroalga. Bukan hanya membuka peluang ekonomi, namun ekosistem di laut pun akan semakin membaik sehingga ikan-ikan pun melimpah.


    Inovasi Besar Lahir Dari Desa Bayu

    Setelah SeeShark lahir, dampak luar biasa terasa. Upaya Oka Bayu Pratama mengenalkan inovasi berupa aplikasi pendeteksi hiu berbasis kecerdasan buatan (AI) membuahkan hasil mendapatkan apresiasi dari SATU Indonesia Awards 2025 dalam kategori Teknologi Tepat Guna. 


    “Saya hanya ingin membuktikan bahwa inovasi besar bisa lahir dari desa, dari tangan-tangan yang mau bekerja keras,” ujar Oka.


    Oka berhasil menyisihkan 17.700 pendaftar dari seluruh Indonesia. Karya inovasi lahir dari sebuah desa, yang ternyata memberikan dampak luar biasa bagi keberlangsungan kehidupan hiu yang dilindungi. 


    “Dari kolam lele, Oka berhasil menciptakan inovasi berkelas skala nasional. “


    Ketua Garda Lestari, Andri Saputra mengungkapkan bahwa inovasi bisa lahir dari kesederhanaan dan perjuangan Oka ini bisa menginspirasi pemuda-pemuda di seluruh Indonesia untuk menciptakan inovasi dari kegelisahan dan kegalauan dari berbagai permasalahan yang dihadapi di kehidupan sehari-hari. 


    ***

    Namaku Sphyrna, tubuhku kembali merasakan arus hangat yang memeluk siripku. Dari kejauhan, kulihat pemuda berkacamata itu berdiri, menatap laut yang sama yang pernah hampir merenggut hidupku. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tindakannya sudah cukup, ia mengenaliku bukan sekadar sebagai ikan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

    Air mengalir melewati kepalaku yang berbentuk martil. Rasanya seperti nafas kedua. Rasanya seperti kesempatan untuk tumbuh dan suatu hari, melahirkan kehidupan baru di laut ini.


    Terima kasih, manusia muda. Semoga langkahmu menjadi awal dari ribuan langkah lain, agar aku tidak lagi menjadi angka tanpa nama di pelabuhan. Semoga semakin banyak orang yang mau melihat, mengenali, dan melepaskanku kembali.


    Laut ini milik kita bersama. Jika aku terus hidup, maka kehidupan manusia pun akan terus berlanjut.


    Sumber Referensi : 

    • Wawancara dengan Oka Bayu Pratama 

    • Windra Neka, Mochammad Fattah, Dwi Sofiati, Asyifa Anandya: Status Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) di Perairan Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur (Jurnal Akuatiklestari, 2025)

    • Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 66 tahun 2025 

    • https://banyuwanginews.com/view/modal-dari-kolam-lele-pemuda-banyuwangi-ciptakan-aplikasi-ai-pelindung-hiu

    • https://banyuwanginews.com/view/aplikasi-seeshark-ciptaan-pemuda-banyuwangi-masuk-satu-indonesia-awards-2025

    Sumber dokumentasi : 

    Foto diambil dari unsplash.com dan Dokumentasi Oka Bayu Pratama (SeeShark).



    Continue Reading

    Apa yang sudah kita berikan pada bangsa kita ini? Mungkin kita belum memberikan apapun. Namun dengan baiknya, negeri ini menghadiahkan sumber dan kekayaan alam yang bisa kita nikmati tanpa harus bersusah payah. Dulu saya pernah ditanya guru saya, "Apa yang kau berikan kepada negerimu ini?" Saya hanya tersenyum lugu dan dalam hati saya hanya bisa berkata, suatu saat nanti saya ingin menjadi inspirasi bagi orang banyak. Guru saya pun tersenyum, beliau selalu berkata bahwa apapun cita-cita kami, kami bisa memberikan sumbangsih untuk negeri. Bekerjalah dengan rajin dan kerja keras, suatu saat orang tua dan bangsa ini akan bangga dengan hasil kerja yang sudah kita perbuat belakangan ini.

    Saya tersenyum ketika menerima undangan SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia Awards 2018 dari PT Astra International Tbk. Kali ini saya bukanlah inspirator, namun saya mampu menyihir ratusan hingga ribuan orang lewat tulisan yang saya peroleh dari buah pemikiran. Bukankah guru saya bilang bahwa apapun pekerjaannya, kerjakan dengan sepenuh hati, apresiasi merupakan bonus dan anugerah yang bisa membuat kita lebih termotivasi lagi. SATU Indonesia Awards ini merupakan pemberian apresiasi kepada sosok Inspiratif (Inspirator) yang mampu menggerakkan masyarakat dengan karyanya yang sangat inovatif dan luar biasa. Bahkan, saya pun sampai geleng-geleng kepala tanda kagum akan karya setiap penerima apresiasi.


    Sebelum memasuki tahap final dan memberikan apresiasi, 9th SATU Indonesia Awards 2018 ini telah menjaring hampir 6.000 karya dari seluruh Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa pemuda Indonesia masih sangat peduli dengan bangsanya dan menjawab pertanyaan yang mengganjal di dalam dada mereka tentang apa yang telah kamu lakukan untuk bangsa ini. Saya sangat kagum dan terpukau dengan antusiasme pemuda di seluruh Indonesia, berbanding terbalik dengan bayang saya dengan kenakalan pemuda mulai dari tawuran, narkoba, dan kejahatan lainnya yang justru menghancurkan masa depan.

    “Berikan saya sepuluh pemuda dan akan saya goncangkan dunia.” Bung Karno, Presiden pertama Indonesia pernah mengatakan ini untuk membangkitkan semangat pemuda-pemuda Indonesia yang sebetulnya memiliki banyak potensi luar biasa bahkan tidak kalah dibandingkan dengan pemuda-pemuda dari negara maju sekalipun. Jika satu pemuda mampu menggerakan setidaknya 10 orang maka bukan tidak mungkin seluruh penduduk di Indonesia ini tidak akan kekurangan dalam berbagai hal. SATU Indonesia Awards inilah yang memberikan wadah atau platform bagi seluruh pemuda yang memiliki inovasi yang brilian dan belum pernah menerima penghargaan.

    Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Bapak Prijono Sugiarto membuka SATU Indonesia Awards 2018
    Apresiasi Astra Untuk Anak Bangsa 9th SATU Indonesia Awards 2018 memberikan penghargaan kepada anak-anak muda inspiratif yang berkarya di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Teknologi, dan Kelompok yang mewakili kelima bidang tersebut. Dewan juri yang digandeng pun sangat kompeten dalam bidangnya, yaitu Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Nila Moeloek, Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Indonesia Prof. Emil Salim, Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Prof. Fasli Jalal, Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan Ir. Tri Mumpuni, Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo Ph,D, Komisaris PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti, Head of Corporate Communications Astra International Boy Kelana Soebroto, Head of Environment & Social Responsibility Astra International Riza Deliansyah, dan juri tamu Founder dan CEO GO-JEK Nadiem Makarim.

    Bapak Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk, menyampaikan semangat yang sama bahwa kini saatnya pemuda-pemudi di Indonesia mampu memberikan inspirasi dengan karya nyata bukan malah sebaliknya. Saya jadi teringat dulu saya memiliki kawan di universitas yang selalu bersemangat mengikuti kompetisi dengan ide-idenya yang sangat brilian. Bahkan karyanya yang merupakan manisan dari batang pepaya mampu membawa kami (waktu itu kami satu tim) lolos sampai ke tingkat nasional. Rupanya dari bahan-bahan yang dianggap kurang berguna, ternyata bisa dimanfaatkan dengan nilai jual yang lebih tinggi. Memori berjumpa dengan pemuda-pemuda yang luar biasa dari seluruh Indonesia memang sangat menyenangkan dan kembali melahirkan banyak ide-ide dan mimpi-mimpi yang belum tuntas kami realisasikan.



    Dari sekitar 6.000 karya dari seluruh Indonesia, kemudian terpilihlah 7 penerima apresiasi. Dari bidang kesehatan, Nordianto mampu menarik perhatian juri dengan kampanye menekan penikahan dini dan melahirkan banyak relawan dengan GenRengers Educamp. GenRengers Educamp ini menyiapkan peserta untuk punya pemahaman tentang reproduksi remaja kemudian dapat menjadi role model bagi remaja lainnya. Bidang pendidikan, Surya Dharma adalah penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018 sebagai pejuang pendidikan wajib belajar 12 tahun di Palu, Sulawesi Tengah. Menurutnya, dengan tuntas wajib belajar 12 tahun, para lulusan bisa mendaftar setidaknya sebagai buruh pabrik atau berwirausaha sehingga mendorong untuk tidak melakukan tindak kejahatan. Mohamad Hanif Wicaksono dari Kalimantan Selatan, merupakan pejuang Lingkungan. Ia merupakan pembudidaya tanaman buah langka. Buah endemik Kalimantan menurutnya perlu dibudidayakan sehingga bisa mendatangkan manfaat ekonomi jika dikelola dengan baik.



    Franly Aprilano Oley, Kalimantan Timur, juga menerima apresiasi di bidang Lingkungan. Baginya menyejahterakan warga dengan memaksimalkan potensi lokal yang dimiliki tanpa harus merusak keanekaragaman hayati di dalamnya. Sedangkan Narman dari Baduy, Lebak, Banten, ini mampu membuka cara berpikir masyarakat Baduy untuk lebih sejahtera dari berwirausaha secara online. Baginya sangat berat untuk menerobos tradisi di Baduy apalagi pemuka adat menegaskan untuk tidak menggunakan internet untuk hal-hal selain membantu penjualan kerajinan tangan khas Baduy, jangan sampai mengubah tatanan adat Baduy. Azza Aprisaufa merupakan penerima apresiasi dari Takengon, Aceh, di bidang Teknologi. Ia memberdayakan sarjana melalui sebuah aplikasi. Program (aplikasi) ini bisa juga dibuat dan diterapkan di sejumlah wilayah Indonesia dan menjadi salah satu solusi pemberdayaan manusia, khususnya para sarjana dan magister.


    Nodeflux dari Jakarta juga menjadi penerima apresiasi dari bidang Teknologi, hanya saja mereka masuk dalam kategori Kelompok. Ia mengembangkan Teknologi Artificial Intelligence yang membantu pemerintah kota di beberapa wilayah di Indonesia dalam mengembangkan kemampuan manajemen perkotaan dengan konsep smart city. Selamat kepada para penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018, semoga mampu menjadi inspirator yang terus menerus menggerakan masyarakat di Indonesia ke arah kemajuan.



    Selain acara awarding, 9th SATU Indonesia Awards 2018 juga menampilkan banyak musisi Indonesia mulai dari yang legendaris seperti Gigi, hingga Gloria Jessica dan Tulus, untuk menghibur penonton yang memadati Cendrawasih Hall, Jakarta Convention Center, malam itu (27/10). Gigi dengan Armand Maulana, mampu menghipnotis penonton termasuk saya dengan lagunya yang nostalgic banget. Gloria Jessica juga menyanyikan lagu A Sky Full of Stars yang membuatnya tenar di Indonesia. Tulus dengan melownya mampu membuat kami bernyanyi lagu-lagunya yang kece banget. 


    Saya tertarik dengan Mohamad Hanif Wicaksono, Sang Penanam Buah Langka Kalimantan. Bagi saya, buah itu sangat memorable. Dulu saya sangat gemar manjat pohon jambu batu di kampung, selain itu saya suka sekali dengan buah-buah lain yang tumbuh secara subur di pekarangan rumah sendiri maupun tetangga. Di Jakarta, beton-beton tinggilah yang setiap hari menghias kehidupan saya kini. Beruntung sekali rasanya bertemu dengan Mas Hanif.

    Mas Hanif mendiami Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Yang membuat saya kagum adalah kegigihannya selama 6 tahun belakangan ini mengembangbiakan buah langka asli Kalimantan, padahal ia bukanlah penduduk asli dari Kalimantan Selatan. Profesinya sebagai penyuluh keluarga berencana di Kabupaten Balangan ini membuatnya sering keluar masuk desa terpencil, salah satunya Desa Marajai, Kecamatan Halong dimana ia banyak mendapatkan banyak informasi buah-buahan hutan dari masyarakat adat Suku Dayak. Mulai dari sinilah ia mendokumentasikan setiap buah yang ia temukan di dalam hutan. Mulai dari sini pula, ia belajar bagaimana mengidentifikasi dan membudidayakannya karena memang terancam punah.

    Tak berhenti mendokumentasikan, ia juga membudidayakan dengan melibatkan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian, ia juga memiliki program Tunas Meratus dan hingga saat ini telah mengumpulkan kurang lebih 160 jenis bibit buah langka khas Kalimantan



    Demi keberlanjutannya, Hanif menggerakkan masyarakat dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang berbagai macam jenis buah langka asli Kalimantan.

    Kita membutuhkan lebih banyak Hanif-Hanif lainnya untuk melestarikan buah langka asli dari hutan-hutan di Indonesia. Kita membutuhkan banyak sosok-sosok seperti penerima apresiasi SATU Indonesia Awards. Untuk info lebih lengkap tentang penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018, klik aja www.satu-indonesia.com/satuindonesiaawards .

    Siapkan dirimu untuk mengikuti SATU Indonesia Awards 2019 yang merupakan penyelenggaraan tahun ke-10, yang tentunya banyak sekali kejutan dan hadiah yang akan diberikan kepada sosok-sosok muda inspiratif


    Continue Reading
    Older
    Stories

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top