salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
  •  

    Belakangan ini cuaca benar-benar sulit ditebak. Kadang matahari terasa begitu terik dan lembab, lalu tiba-tiba hujan turun tanpa ampun tapi panasnya tetap tertinggal di udara. Di saat seperti ini, solusi paling sederhana dan efektif tentu saja kipas angin. Udara yang dihembuskannya terasa langsung menyegarkan saat panas, tapi tidak membuat tubuh kaget saat suhu berubah jadi sejuk karena hujan. Tubuh bisa menyesuaikan dengan nyaman tanpa perlu repot menyalakan elektronik lain atau khawatir udara jadi terlalu dingin.


    Hari ini saya memutuskan untuk work from cafe di sekitaran Cikini, sekalian bertemu teman. Rasanya, setiap ke Cikini bukan cuma soal tempat kerja yang tenang, tapi juga godaan untuk mencicipi jajanan di sekitar Taman Ismail Marzuki (TIM). Ajakan sederhana seperti, “Kulineran yuk di TIM,” selalu terdengar menggoda. Kalau bekerja di cafe atau perpustakaan itu menyenangkan, maka berburu kuliner jelas jadi puncak kebahagiaan versi saya sebuah “obat penawar” dari segala penat dan gundah yang kadang datang tanpa permisi.


    Pas sedang berburu kuliner di Taman Ismail Marzuki, ternyata ada Kipas Angin Besar BIGFAN loh. Saya penasaran banget ini kipas angin apa kok besar banget dan ketika berputar meniupkan angin kesegaran diantara cuaca panas terik, seperti angin surga. 


    Kipas Angin “BIGFAN” Miyako di Taman Ismail Marzuki



    Bukan hanya sekedar Kipas Angin “BIGFAN” Miyako tapi sungguh pemandangan langka di tengah terik matahari. Angin berhembus seketika menyejukan banget. Angin surga. 


    Bukan hanya angin surga, tapi kamu bisa mengabadikan Kipas Angin Miyako dan mendapatkan berbagai produk elektronik dari Miyako. Cukup abadikan momen di tengah menikmati Kipas Angin Miyako, dan dapatkan aksesoris kipas angin mini dari Miyako. 


    Ditengah sedang mengambil foto, ternyata Mas Agung @Karmalogy sedang bagi-bagi Kipas Angin Miyako Kesayangan Nikita Willy di depan booth. Tingkah lucu dan menghibur @karmalogy ini bikin suasana panas menjadi riuh tawa dan terasa menyejukan seperti kipas angin. Beruntung banget 2 orang pengunjung bisa mendapatkan hadiah kipas angin dari @karmalogy. 


    Tak hanya itu, saat cuaca panas seperti ini kamu butuh banget kipas angin mini. Kebetulan banget kamu bisa dapat kipas itu dengan mengikuti photo challenge bersama Kipas Angin Miyako dan hanya upload ke instagram feed saja. Dan, Alhamdulillah walaupun panas tapi banyak banget orang yang penasaran dan ikutan challengenya. Tinggal foto di Kipas Angin dan upload serta dapetin merchandise kipas angin mini. 



    Beruntung banget ya, bisa mendapatkan Kipas Angin Miyako Kesayangan Nikita Willy. Bukan tanpa alasan Nikita Willy memilih kipas angin sebagai andalan di rumahnya. Ditengah perubahan cuaca yang sering berubah-ubah, kadang panas menyengat, lalu mendadak hujan deras, kipas menjadi solusi paling fleksibel. Saat udara terasa pengap, kipas membantu menjaga sirkulasi udara agar tetap segar dan nyaman. Udara terus bergerak mencegah ruangan terasa lembab apalagi disaat musim hujan. 


    Di sisi lain, kipas mampu membantu proses evaporasi keringat, tubuh akan terasa lebih sejuk tanpa harus menurunkan suhu ruangan secara ekstrem. Dengan manfaat tersebut, konsumsi energi pada saat kipas menyala lebih rendah dibandingkan perangkat elektronik lain. Terakhir, biaya awal dan perawatannya juga sangat rendah sehingga sangat hemat. 


    Viral! Kipas Angin Kesayangan Nikita Willy  



    Jujur, saya sangat mudah berkeringat di cuaca apapun terutama pada saat panas. Kipas Angin sudah menjadi bagian dari keseharian dan berbagai cuaca karena memang sepenting itu menjadi penolong banget. Nah kalau harus memilihnya, pastikan harus memiliki teknologi terkini, tidak bising dan tahan lama. Oh iya, yang paling sering bermasalah itu jika kipas angin ditaruh ruang tamu pasti akan rawan debu dan kotoran, makanya sangat penting banget memilih kipas angin anti debu.  


    Kipas Angin Miyako KAS-1697 DRW jadi salah satu produk kipas yang dipajang di Taman Ismail Marzuki dan menjadi favorit dari Nikita Willy. Bukan tanpa sebab produk ini dipamerkan dikala cuaca sedang panas dan terik dan menjadi kesayangan Nikita Willy. Mengusung teknologi Eco Power dengan DC motor, kipas ini menawarkan konsumsi kipas angin yang hemat daya listrik hanya 45 watt, namun tetap menghembuskan angin ekstra kuat hingga 13,4 meter hingga menjangkau ruangan luas.


    Dari sisi daya tahan, Miyako dibekali oleh KAS-1697 DRW dengan motor double bearing sehingga lebih tahan lama dan tahan debu. Dari segi kenyamanan, kipas ini memiliki teknologi silence sound dengan tingkat kebisingan 61,7 dB, sehingga tetap senyap saat digunakan. 


    Tak hanya itu, tampilan pun kini lebih modern berkat display digital dan penggunaan Crystal Blade, baling-baling bening menawan dan mempercantik tampilan serta memperkokoh penampilan. Dan, untuk memudahkan penggunaan terdapat remote control serta timer sampai 9 jam sehingga bisa dimaksimalkan pada saat tidur atau beraktivitas sehari-hari. 


    Dari sisi keamanan dan ketahanannya, kipas ini benar-benar dirancang untuk dipakai jangka panjang tanpa bikin was-was. Ada Thermofuse yang otomatis mencegah motor dari panas berlebih, jadi aman kalau sering dipakai dalam durasi lama. Ditambah lagi, Jaring Musang Anti Karat bikin tampilannya tetap rapi dan bersih meski terkena debu atau udara lembab sehingga nggak perlu khawatir karat muncul karena partikel korosi.


    Yang bikin makin percaya untuk memilih Miyako KAS-1697 DRW di rumah adalah kualitasnya sudah bersertifikat SNI dan mengantongi Sertifikat Hemat Energi (SHE). Jadi bukan cuma adem dan cantik dilihat, tapi juga sudah teruji efisien. Bahkan, Miyako berani kasih Garansi Tanpa Syarat 3 Tahun untuk motor dan jaring musangnya, jarang banget ada kipas di kelasnya yang se-percaya diri itu. Kombinasi hemat energi, desain modern, performa kuat, dan daya tahan tinggi inilah yang bikin KAS-1697 DRW cocok banget buat rumah yang mengutamakan kenyamanan sekaligus efisiensi.


    Continue Reading
    Sumber gambar : unsplash.com
     

    Setiap detik, pohon tumbang. Setiap jam, jutaan flora fauna tak memiliki tempat di muka bumi ini. Setiap hari, banyak video menyatakan bahwa produk-produknya aman bagi lingkungan, padahal malah sebaliknya. Mau sampai kapan pembohongan publik demi keuntungan terus digalakan? Apakah sampai anak cucu bahkan generasi berikutnya merasakan krisis iklim bahkan krisis pangan? 


    Melihat 20 tahun kebelakang, saya memiliki masa bermain yang indah. Saya berlarian di tanah lapang dan sungai. Semuanya masih hijau karena banyak pepohonan, bahkan saya sering bermain di ladang. Saya biasa menangkap jangkrik atau capung yang hinggap di dahan. Masa itu seperti sangat susah untuk diulang, karena lahan-lahan hijau itu telah berubah menjadi beton dan bangunan. Lahan hijau mulai berkurang dengan sangat masif belakangan ini. 


    Menurut penelitian dari CfDS UGM (2024), hampir seperempat masyarakat Indonesia percaya bahwa krisis iklim adalah rekayasa penguasa global. Ini langsung memberikan gambaran bahwa hoaks iklim bukan cuma “masalah luar negeri”, tapi nyata di Indonesia.


    Ternyata krisis iklim dan deforestasi bukan hanya di Indonesia saja, Brazil pun memiliki problematika sama. Brazil memiliki hutan Amazon, sebagai paru-paru dunia, memiliki tantangan sangat pelik. Hutan ditebang, flora fauna tergerus dan banyak disinformasi tentang krisis iklim dan deforestasi. 


    Dalam kurun waktu puluhan tahun, hutan Amazon telah mengalami deforestasi tak sedikit, hitungan ribuan kilometer hutan dibabat tanpa ampun atas nama modernisasi. Kerusakan hutan Amazon bukan hanya soal vegetasi hilang, tapi juga fungsi penyerapan karbon, regulasi curah hujan, dan keanekaragaman hayati. 


    Berbagai permasalahan tersebut membutuhkan sebuah gebrakan bukan hanya oleh satu dua pihak, namun seluruh masyarakat dunia yang peduli akan masa depan bumi ini. November nanti, COP30 akan diadakan di Belem, Brazil, sebagai bentuk perjuangan untuk menyuarakan betapa pentingnya satu pohon bagi kehidupan manusia. 


    Dari Amazon ke Nusantara



    Mentira tem Preço, setiap kebohongan ada harganya. Brazil memiliki hutan Amazon, salah satu hutan terluas di dunia. Paru-paru dunia yang sangat penting, namun terancam oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab atas nama modernisasi. Rantai ekonomi dibalik disinformasi inilah penyebab utama krisis iklim. Maraknya disinformasi inilah yang menggerakan FALA Estúdio de Impacto untuk menunjukan bahwa terjadi pergolakan untuk menyelamatkan krisis iklim baik di meja negosiasi maupun di media informasi dan media sosial. 


    Dalam Investigasi oleh FALA Estúdio de Impacto & Observatório de Integridade da Informação (Oii) menemukan bahwa terdapat jejaring pembiayaan dari perusahaan minyak dan pertambangan yang mendukung konten “anti-iklim” di media digital. Dan setiap tahun, platform media sosial memperoleh US$ 13,4 juta dari iklan kanal yang menyebarkan hoaks iklim.


    Serupa dengan Brazil, Indonesia pun memiliki permasalahan serupa. Dengan banyaknya pengguna media sosial, Indonesia rawan dengan disinformasi tentang berbagai hal seperti krisis iklim, gelombang panas, salju di tropis atau CO2 tidak berbahaya, seluruh informasi tersampaikan secara tidak benar. Ketidakjelasan informasi tentu saja membuat masyarakat antipati dengan kebijakan pro iklim yang sulit dipahami.


    Tak hanya itu, langkah-langkah mitigasi atau adaptasi untuk mencegah krisis iklim pun tak selalu didukung bahkan sebagian masyarakat menentang. Akibat disinformasi ini, menurut Bappenas 2023, kerugian dari potensi ekonomi akibat perubahan iklim di pesisir, laut, pertanian, ketersediaan air, kesehatan dan lainnya mencapai Rp 554 Triliun. 

    Melawan Hoaks dan Krisis Iklim di COP 30 Brazil


    Kalau berbicara hoaks dan krisis iklim, mata dunia tertuju pada satu forum yaitu Conference of the Parties (COP). Sebuah forum pertemuan tahunan di mana negara-negara berkumpul untuk membahas nasib bumi mulai dari bagaimana menekan emisi karbon, menjaga hutan dan transisi energi hijau. 


    Perjalanan COP dimulai jauh di tahun 1995 di Berlin, saat isu perubahan iklim baru dianggap masalah ilmuwan. Namun, seiring waktu, dampaknya makin nyata mulai dari es mencair, cuaca ekstrem meningkat, dan bencana alam datang silih berganti. 


    Momen penting terjadi di COP3 Kyoto (1997) dengan lahirnya Protokol Kyoto, yang untuk pertama kalinya mengikat negara-negara maju agar mengurangi emisi. Lalu, dua dekade kemudian, dunia menyaksikan sejarah baru di COP21 Paris (2015) di mana 195 negara sepakat menandatangani Perjanjian Paris. Intinya sederhana tapi krusial yaitu menjaga agar suhu bumi tidak naik lebih dari 1,5°C.


    Setelah itu, terjadi tarik menarik antara janji dan aksi yang telah disepakati bersama. Beberapa negara masih bergantung pada energi fosil, sementara transformasi energi hijau masih tersandung kepentingan ekonomi.


    Kini, dunia bersiap menuju COP30 di Brasil pada 2025, sebuah titik penting dalam evaluasi komitmen Net Zero Emission 2050. Brasil, dengan Hutan Amazon-nya yang menjadi paru-paru dunia, akan jadi tuan rumah sekaligus pusat perhatian. Disinilah harapan untuk menanggulangi krisis iklim dan transformasi energi hijau disuarakan kembali untuk menjaga keberlangsungan bumi tercinta. 


    Menjelang COP30 di Brazil, Indonesia datang bukan sekadar sebagai peserta, tapi sebagai contoh nyata negara berkembang yang berani bertransformasi. Dalam Paviliun Indonesia nanti, Indonesia akan menegaskan bahwa emisi net-zero bukan pepesan kosong, seperti yang ditegaskan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Ini tentang tanggung jawab kolektif bagaimana negara, korporasi, dan masyarakat bisa bergerak serentak menjaga bumi.


    Karena COP bukan lagi sekadar konferensi, namun merupakan perjalanan panjang untuk menjaga bumi supaya layak dihuni oleh generasi mendatang. Dan mungkin, di COP30 nanti, kita bisa benar-benar membuktikan bahwa janji untuk bumi bukan sekedar kata, tapi langkah nyata bersama.


    Continue Reading

     

    Sebagai masyarakat, tentu saja ingin mendapatkan semua hal yang layak mulai dari pekerjaan, rumah dan segala aspek kehidupan. Jika kondisi tak sejalan dengan harapan, bisa dipastikan akan banyak kontra, ditambah banyaknya berita beredar tentang penilaian publik terhadap pemerintahan saat ini. Semuanya ingin Indonesia menuju kejayaan, apalagi 2045 nanti dicanangkan sebagai Indonesia Emas. Wajar sekali ekspektasi masyarakat terhadap kinerja dan kebijakan pemerintah sangat tinggi. 


    Kompleksitas dan luasnya wilayah Indonesia membuat tantangan tersendiri bagi pemerintah, apalagi ditambah aspek-aspek lain. Namun, pemerintah juga berhasil menerapkan beberapa kebijakan yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Tepat 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Garuda TV sebagai salah satu TV nasional memberikan apresiasi terhadap kinerja pemerintahan/kementerian/lembaga nasional yang memiliki kontribusi signifikan bagi negara dalam tajuk Piala Adhi Praya. 


    Acara ini bukan hanya seremonial acara penghargaan semata, namun menampilkan ruang dialog dan refleksi atas capaian, tantangan, serta kebijakan nasional di tahun pertama kepemimpinan kabinet baru. Forum ini dihadiri oleh para pejabat, lembaga dan tokoh publik di Universitas Tarumanegara dan disiarkan live di channel youtube https://www.youtube.com/@garudatv.official . 


    Dari Hukum hingga Energi : Ruang Dialog Para Menteri tentang Arah Kebijakan Nasional



    Capaian 1 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran tentu saja sangat membanggakan beberapa diantaranya adalah menjadi salah satu inisiator dalam perdamaian dunia dalam berbagai forum seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian di Sharm El-Sheikh dan pidatonya di Sidang Umum PBB, pemberantasan korupsi dengan salah satu nilainya mencapai 13 triliun rupiah dan IHSG mencapai level tertinggi yaitu 8.000.    


    Piala Adhi Praya Garuda TV merupakan oase di era media sosial saat ini, untuk memberikan refleksi bagaimana kebijakan ini bisa memberikan dampak langsung terhadap masyarakat yang memiliki distorsi informasi tentang kebijakan. Selama ini masyarakat hanya berfokus pada satu dua hal, namun melupakan capaian yang telah dilakukan oleh pemerintah. 



    Cing Abdel, membuka suguhan Piala Adhi Praya dengan jokes ala Stand Up Comedy. Selama berkarya dalam profesi komedian, Abdel menceritakan bahwa inilah salah satu callingan terpagi yang pernah dilakoninya. Bagi partner Mamah Dedeh dalam acara tausiah pagi, membuka acara ini dengan candaan tentang cek kesehatan gratis sangat bermanfaat dalam balutan candaan khasnya. 


    Yusril Ihza Mahendra, Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, membuka perspektif hukum melalui upaya penertiban hukum ditengah era digital saat ini. Saat ini pemerintah berfokus pada regulasi jelas dalam pemberantasan judi online dan pinjaman online ilegal serta aspek HAM salah satunya pelanggaran HAM berat di masa lalu. Di bidang keimigrasian, langkah nyata juga terlihat dari integrasi data kependudukan dan negosiasi pemulangan ribuan WNI yang tengah menjalani hukuman di luar negeri, terutama di Malaysia.


    Sejalan dengan itu. Menkomdigi, Meutya Hafid juga menyoroti regulasi judi online dan pinjol. Tak kalah pentingnya, pemerataan konektivitas salah satunya internet pun saat ini dilakukan dengan menggandeng pihak swasta. Konektivitas ini difokuskan di Indonesia Timur, seperti Papua. 


    Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyoroti konsep transmigrasi baru bukan hanya menyoroti pemindahan pendudukan melainkan pengembangan wilayah dan pemerataan dan pertumbuhan ekonomi inklusif. 



    Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menjelaskan bahwa salah satu unggulan programnya adalah perbaikan infrastruktur seperti jalan raya dan ditampung menggunakan media sosial dan google form dengan penanganan secara cepat tergantung dengan anggaran yang dialokasikan. Selain itu, berbagai program strategis diarahkan untuk memperkuat pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal. Kebijakan Dana BOSDA diperluas hingga sekolah swasta dan madrasah, disertai program beasiswa mahasiswa serta perluasan Jamkes Gratis yang dijalankan dengan prinsip transparansi anggaran.


    Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan pandangan optimis bahwa ekonomi Indonesia akan mampu tumbuh di tengah ketidakpastian global, terlepas dari revisi proyeksi pertumbuhan oleh lembaga internasional. Optimisme ini didasarkan pada keyakinannya terhadap fondasi ekonomi nasional yang kuat dan arah kebijakan strategis pemerintah, serta pandangannya bahwa situasi global saat ini merupakan "peluang emas" bagi investasi.


    Kementerian Pertahanan melalui Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang menegaskan pentingnya stabilitas nasional sebagai fondasi ekonomi, dengan melanjutkan modernisasi Alutsista dan penguatan Trisula Nusantara demi menjaga kedaulatan negara. Sementara PLN di bawah kepemimpinan Darmawan Prasodjo berkomitmen mencapai 100% elektrifikasi desa pada 2029 serta mendorong swasembada energi nasional dengan memaksimalkan sumber daya domestik.

    Di sisi lain, BKKBN melalui Menteri Wihaji menekankan pentingnya pembangunan keluarga sehat dan tangguh melalui program Genting Tamasan dan Kate. Inovasi Super App Keluarga dihadirkan untuk memperkuat layanan digital konsultasi gizi dan keluarga, sekaligus menjawab tantangan sosial seperti pernikahan dini dan fenomena fatherless era yang berpotensi mempengaruhi kualitas generasi mendatang.

    Piala Adhi Praya Garuda TV, Penghargaan dan Apresiasi Kerja Keras Menuju Indonesia Emas


    Dengan hadirnya para pejabat dan lembaga nasional dalam ajang Piala Adhi Praya Garuda TV membuat optimisme kedepan semakin nampak terutama dalam berbagai bidang seperti ekonomi, hukum, lingkungan dan lain-lain. Dalam 1 tahun perjalanan Prabowo-Gibran ternyata banyak hal terluput dan ternyata telah dicapai dalam kurun waktu yang cukup singkat. Sebagai masyarakat, tentu saja ingin kesejahteraan dan kedamaian dalam menjalani kehidupan sehingga tak henti-henti berharap bisa melihat Indonesia menjadi salah satu dengan ekonomi dan kesejahteraan yang merata. Bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, segala fasilitas bisa dinikmati seperti sekolah, rumah sakit dan fasilitas publik dan segala aspek kehidupan bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. 


    Continue Reading

     

    “Selagi benar dan bermanfaat, saya akan lurus saja, tidak akan menengok kanan kiri,” Ucap wanita paruh baya dengan luapan semangat sambil menyuap kuah seblak di Malakasari Edufarm, Duren Sawit, Jakarta Timur. Melalui Prinsip inilah, Haryati mampu membawa kebun kecil dari pekarangan rumah menjadi sebuah oase pendidikan di tengah beton kota Jakarta. 


    Sosok wanita inilah penggerak Kelompok Tani Wanita (KWT) D’shafa berhasil mengubah tempat penampungan sampah dan kumuh menjadi lahan hijau melalui green house, tempat produksi dan edukasi melalui agrowisata Malakasari Edufarm. Mulanya, Haryati dan ibu-ibu di RW 05 Malakasari rajin menanam tanaman di pekarangan rumah sebagai bagian untuk mengisi waktu luang dan hobi. Kemudian, para pejuang penghijauan di Malakasari memenangkan lomba Gang Hijau dalam upayanya menghijaukan kawasan sekitar RW 05. 



    Kemenangan kompetisi Gang Hijau skala nasional ini memicu semangat Haryati dengan mengajak ibu-ibu memanfaatkan lahan kosong. Lahan kosong tempat pembuangan sampah seluas 200 meter dipergunakan untuk menanam di samping SMAN 44 Jakarta. 


    Bermodalkan pengetahuan dari media sosial, Haryati melakukan penanaman secara konvensional, tak hanya itu Ia melakukan pembibitan secara mandiri. Badai pandemi pun datang, namun UMKM tetap bertahan bahkan terus tumbuh karena permintaan sayuran segar meningkat. Pada tahun 2020, Haryati dan ibu-ibu pun membentuk Kelompok Tani Wanita (KWT) D’Shafa. 


    Metode penanaman pun beralih dari konvensional menjadi hidroponik, dan hasil panen pun sangat melimpah. Sayuran segar didistribusikan kepada pemasok, namun ternyata hasil penjualan tidak sesuai dengan harapan. Untuk menutupi biaya produksi dan karyawan, Haryati pun sempat kewalahan. Berbekal inovasi dan kreativitas, D’Shafa bekerja sama dengan Puskesmas, Kelurahan, dan berbagai pihak dengan produk olahan dari sayuran berupa keripik, cheese stick, produk olahan makanan dan minuman herbal dan tradisional. 


    “Tadinya saya hanya menjual ke supplier saja, namun harganya tidak begitu bagus. Kemudian, saya berinovasi dengan berbagai produk olahan seperti cheese stick kelor ini,” Wanita asal Sragen menunjukan sebuah kaleng cheese stick saat menceritakan kisah sedih sebelum menemukan inovasi dari produk olahan sayur.


    Perkembangan dan inovasi tersebutlah yang membawa KWT D’Shafa mendapatkan bantuan PemProv. DKI Jakarta dengan lahan bekas tempat pembuangan sampah. Lokasi inilah, awal mula Malakasari Edufarm lahir dengan green house, tempat produksi dan agrowisata edufarm. 


    Oase Pendidikan Melalui Malakasari Edufarm

    Riuh tawa dan candaan terdengar dari Malakasari Edufarm siang itu. Matahari telah merangkak naik, namun anak-anak tetap ceria dan beramai-ramai menuju ke green house. Haryati menunjukan salah satu tanaman yaitu pakcoi. Tanaman ini terlihat sangat segar dengan penanaman melalui hidroponik. Tak hanya dijelaskan jenis tanaman, namun anak-anak diajarkan menanam dan memanen sayur. Berbagai produk olahan dari hasil panen pun tak luput dari pantauan anak-anak. Pengenalan dunia pertanian inilah yang membuat Malakasari Edufarm sangat disukai oleh anak-anak hingga remaja bahkan dewasa. Selama tiga tahun dari 2022 hingga 2024, pengunjung Malakasari Edufarm mencapai 13.831 orang, sesuatu pencapaian yang luar biasa. 


    “Kalau dengan anak-anak dan remaja, saya jadi gurunya. Kalau dengan dosen, saya jadi mahasiswanya,” Gurau Dea, salah satu ibu-ibu yang diberdayakan. 


    Lambat laun, Malakasari Edufarm tersohor dari mulut ke mulut. Bukan hanya edukasi semata, produk pembibitan, peralatan dan perlengkapan perkebunan pun menjadi salah satu usaha yang dikembangkan oleh UMKM ini. 


    “Bukan hanya paket edukasi, namun produk bibit dan perlengkapan kebun pun sangat laku,” Haryati menjelaskan dengan penuh semangat. 


    Bahkan Haryati menjelaskan pelajar sekolah menengah pun menjadi salah satu agen penjualan dengan menawarkan paket edukasi, penjualan produk kebun hingga produk olahan dari kebun. 


    “Kalau anak sekolah malah lebih kreatif, dicampur macam-macam jadi minuman kekinian.”


    Saluran penjualan bukan datang dari kolega pemerintah, swasta dan berbagai institusi, namun dari ibu-ibu, pelajar dan masyarakat pun menjadi tulang punggung meroketnya penjualan seluruh produk dan jasa yang ditawarkan. 


    Pemberdayaan Perempuan, Inovasi Produk dan Tata Kelola Manajemen

    “Ibu Kartini, seorang pensiunan guru sangat aktif dan banyak channelnya,” Tambah Haryati sambil membetulkan posisi duduk.


    Bukan hanya usia belia, seorang lansia bernama Ibu Kartini pun menjadi salah satu penopang Malakasari Edufarm dalam menghadirkan pengunjung setiap hari kerja. Bukan hanya Ibu Kartini, namun Ibu Dea pun mengaku telah 7 tahun bergabung bersama UMKM D’Shafa. 


    “Awalnya kami tetangga di RT 01, kemudian ikut bersama Ibu Haryati dan memenangkan lomba Gang Hijau.”


    Dea merupakan tetangga Haryati, mulanya enggan bergabung karena masih sibuk dengan pekerjaannya, namun setelah diberhentikan dari perusahaan ia pun kemudian bergabung dengan UMKM D’Shafa. 



    “Dulu malam-malam kami harus mengantar invoice sendiri ke kantor. Tiba-tiba di tengah jalan, invoice pun terbawa angin,” Dengan raut sedih Ibu Dea menceritakan perjalanan panjang D’Shafa. 


    Bukan hanya Ibu Dea saja namun terdapat 13 karyawan yang tergabung dalam usaha ini. Bahkan, beberapa karyawan pun mendapatkan giliran untuk menerima pembekalan dari Yayasan Astra - YDBA diantaranya pelatihan 5R, keuangan, dan tata kelola manajemen. 


    “Dulu sebelum bergabung dengan Yayasan Astra - YDBA, kami bingung dan berantakan sekali serta kenapa terus merugi?”



    Haryati mengungkapkan bahwa sebelum bergabung dengan Yayasan Astra - YDBA tidak ada metode khusus dalam pencatatan maupun merumuskan harga pokok penjualan. Dalam operasional sehari-hari hanya mengandalkan perhitungan seadanya. Berkat mengikuti pelatihan perencanaan keuangan dan pelatihan lainnya, kini UMKM D’Shafa memiliki omset bersih sekitar 150 juta sebulan. 


    Selain secara tata kelola, inovasi produk pun semakin bervariasi mulai dari keripik, cheese stick, berbagai produk olahan hasil kebun dan minuman herbal. Kemasan produk pun mengalami perubahan cukup signifikan menjadi lebih modern dan tahan lama. 



    Salah satu tanaman unik dan langka di green house adalah Pegagan. Kebetulan tanaman ini jarang dibudidayakan oleh masyarakat, namun D’Shafa mampu membuat produk olahan seperti keripik pegagan. Pegagan ini banyak diminati namun kebun masih jarang ditemui sehingga perlu dikembangkan.



    “Salah satu impian saya adalah membuat Malakasari UMKM Festival,” Ucap Haryati sambil berkaca-kaca. 

    Harapan besar Malakasari Edufarm adalah bisa menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi banyak orang. Ke depan, Malakasari ingin berkembang menjadi pusat UMKM yang bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk tumbuh bersama.

    Salah satu langkahnya adalah menghadirkan booth pada berbagai event, agar produk anggota semakin dikenal masyarakat luas. Dari kafe sederhana yang menyajikan makanan sehat, minuman segar, hingga inovasi kekinian seperti “Ngejamu Yuk” dan makanan sehat, semua dirancang untuk memberi nilai tambah sekaligus menjaga gaya hidup sehat.

    Bergerak dan Tumbuh Bersama UMKM


    Tak hanya berbisnis, William Soeryadjaya, Founding Father Astra, memiliki cita-cita mulia menjadikan Astra sebagai pohon rindang, sebuah simbol kesejahteraan bersama. Pohon yang tidak hanya kokoh berdiri, tetapi juga berbuah manis sehingga banyak orang bisa bernaung di bawahnya dan turut menikmati hasilnya. Cita-cita tersebut diwujudkan melalui empat pilar: Astra Hijau, Astra Sehat, Astra Cerdas, dan Astra Kreatif.

    Melalui Astra Kreatif, Astra berkomitmen menggali potensi lokal dan membuka peluang usaha kreatif di masyarakat. Salah satu manifestasi nyata hadir dalam bentuk Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Bagi Astra, YDBA adalah akar yang memperkuat pohon rindang itu, mewujudkan Catur Dharma pertama: “Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.”


    Ketua Yayasan Astra - YDBA, Pak Rahmat Samulo, menegaskan bahwa YDBA menjalankan program pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan untuk mendorong UMKM naik kelas secara berkelanjutan. Tantangan memang ada, namun dapat diatasi dengan kolaborasi bersama berbagai pihak.

    Hingga 2024, terdapat sebanyak 13.668 UMKM yang mengikuti program pembinaan Yayasan Astra - YDBA. UMKM binaan itu tersebar di 19 wilayah di Tanah Air, menandakan luasnya jangkauan serta dampak nyata yang dihasilkan.

    Salah satunya adalah D’Shafa, UMKM kuliner berbasis produk makanan olahan yang tumbuh dari kebun kecil di tengah beton kota. Kehadirannya tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga memberdayakan perempuan dan membuka lapangan kerja. Melalui pendampingan dan kolaborasi yang difasilitasi YDBA, D’Shafa mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta mengakses pembiayaan.

    D’Shafa membuktikan bahwa UMKM bukan sekadar usaha bertahan hidup, melainkan pilar penting perekonomian bangsa. Dengan pembinaan yang tepat, UMKM dapat naik kelas dan menghadirkan dampak sosial yang lebih luas. Inilah buah nyata dari pohon rindang Astra, buah yang manis dan bisa dinikmati banyak orang, terutama masyarakat kecil yang kini bisa berdiri lebih tegak dan percaya diri.


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top