salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
    • Home
    • About Me
    • Contact Me
    • Tekno
    • Film
    • Travel
    • Food

     

    Sebuah mobil melintas di jalan Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur. Di pinggir jalan, seorang ibu mengais botol plastik dan kardus dari tumpukan sampah, lalu memasukkannya ke dalam gerobak kayu yang sudah tampak usang. Anak laki-laki yang ikut bersamanya duduk di atas gerobak sambil memperhatikan botol-botol yang dikumpulkan ibunya.

    Pemandangan seperti ini dulu menjadi bagian dari keseharian warga Kampung Sumur. Memulung menjadi salah satu cara keluarga mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di balik aktivitas tersebut, ternyata ada persoalan lain terkait pendidikan dan pengasuhan anak.

    “Dahulu masalahnya sangat kompleks, bahkan hampir 90 persen permasalahannya adalah penelantaran dan salah pengasuhan anak. Bahkan saat memulung, anak-anak sengaja dibawa untuk mengharapkan belas kasihan,” Ujar Pak Endang  saat di temui di Sekretariat Swara Hijau Farm, Klender, Jakarta Timur. 

    Semua berawal di tahun 2015, Yayasan Swara Peduli mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam program pendampingan bagi para pemulung dari Kementerian Sosial di kawasan Pemulung di Jakarta Timur. 

    Bapak Endang menceritakan prosesnya dimulai dengan melakukan asesmen terhadap para pemulung dan keluarga mereka yang berdomisili Kampung Sumur, Jakarta Timur. Kemudian, Yayasan Swara Peduli menyewa sebuah tempat yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti Weekend ceria, setiap Sabtu dan Minggu. Awalnya, kegiatan tersebut banyak diisi dengan aktivitas untuk anak-anak, menghadirkan ruang belajar dan bermain di tengah keseharian mereka.

    “Saat relawan datang untuk mengajar anak-anak, kondisi jalanan masih berupa tanah. Dan, saat hujan akhirnya berubah menjadi kubangan lumpur,” Cerita Pak Endang mengenang saat awal-awal perjuangan. 

    Tak hanya pendidikan, kondisi jalanan pun sangat memprihatinkan. Saat hujan turun, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur bercampur dengan sampah-sampah. Tak hanya itu, instalasi listrik dan internet pun masih belum menyentuh Kampung Sumur.

    “Program ini untuk memutus mata rantai masalah pendidikan di Kampung Pemulung. Kini 90 persen anak-anak sudah bersekolah, bahkan 10 anak pun mendapatkan beasiswa biaya pendidikan,” Ungkap Pak Endang bangga. 

    Kampung Pemulung kini tak lagi sama, setelah anak-anak yang dulu berada di gerobak-gerobak sampah itu telah mengenakan seragam sekolah serta menenteng tas dan buku. Kini hanya tinggal 10 persen anak-anak yang belum mengenyam bangku pendidikan. Bahkan 10 anak diantaranya kini mendapatkan beasiswa pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan sekolah dan pembayaran SPP bagi anak di sekolah swasta. 

    Setelah kegiatan pendidikan berdampak pada anak-anak, kemudian donasi berdatangan dan kemudian didirikan sekretariat. Tak lama kemudian, lahan pun bertambah dan kemudian dimanfaatkan sebagai kandang ayam, budidaya maggot dan kebun sayur hidroponik serta kolam ikan. 

    Dari Gagal Panen hingga Menjadi Percontohan Urban Farming

    Inisiasi dimulai dengan pelatihan budidaya tanaman dan ikan dalam ember. Instalasi dengan media ember tersebut terdiri dari tanaman kangkung di atas dan kemudian di bawahnya terdapat ikan lele. Sekitar 50 instalasi ember untuk dibudidayakan di rumah masing-masing, namun kenyataanya hanya 50% yang berhasil. Dan, kemudian mulai saat itu, instalasi tersebut dipusatkan di sekretariat Yayasan Swara Peduli, dan saat itulah cikal bakal Swara Hijau Farm didirikan. 

    “Setelah mendapatkan over lahan di belakang sekretariat, kemudian dikembangkan lagi menjadi kandang ayam, maggot, kebun hidroponik, dan kolam ikan,” Pak Endang membeberkan bagaimana Swara Hijau Farm bermula. 

    Pada awalnya, warga Kampung Pemulung sempat bingung dengan metode pertanian ini. Biasanya dari hasil memulung, warga bisa mendapatkan upah harian sehingga bisa menyambung hidup. 

    Sedangkan budidaya tanaman dan ikan membutuhkan waktu mulai dari menanam, menyiram, merawat baru kemudian panen sehingga membutuhkan waktu beberapa minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa menikmati hasil jerih payahnya. Namun, berjalannya waktu warga mengerti bahwa dibutuhkan waktu untuk membudidayakan sehingga tercipta kesabaran dalam menghasilkan pundi-pundi ekonomi.

    Di tengah pandemi Covid-19 pada 2020, Pak Endang memberanikan diri mencoba menanam melon. Pengetahuannya saat itu masih terbatas. Ia pun belajar secara otodidak, mulai dari menonton video di YouTube hingga membaca berbagai laman tentang pertanian organik dan perikanan.

    Tidak semuanya berjalan mulus. Namun, dari mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, perlahan Pak Endang mulai memahami bagaimana merawat tanaman melon hingga akhirnya menemukan cara yang tepat untuk menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik.

    Swara Hijau Farm kemudian mendirikan green house untuk penanaman melon pada tahun 2021. Sebelum akhirnya, mendapatkan bantuan dari BUMN untuk lahan green house seluas 132 meter pada tahun 2022, sebagai lahan untuk menanam melon dengan metode hidroponik. Melon dipilih dengan berbagai pertimbangan, salah satunya masa tanam dan panen tidak terlalu lama sekitar 2-3 bulan tergantung dari cuaca. 

    "Banyak perjalanannya dan banyak pula kegagalannya. Mulai dari melon rasa timun, rasanya hambar. Dan, kemudian akhirnya mulai meracik nutrisi sehingga melonnya pun kini mencapai brix 15-16 dengan tingkat kemanisan cukup tinggi," Pak Endang mengungkapkan perjalanan dari kegagalan berbuah manis. 

    Perjalanan Swara Hijau Farm tidak berhenti pada keberhasilan membudidayakan melon. Kini, kebun ini telah berkembang menjadi model percontohan dan memiliki sejumlah mitra, salah satunya Sentra Mulia Jaya di Pasar Rebo yang mengembangkan melon, sayuran hidroponik, dan budidaya ikan.

    Dari Memulung hingga Menanam Harapan di Swara Hijau Farm

    Lisna Marida, seorang pengurus kelompok tani Swara Hijau Farm mengantarkan kami ke sebuah greenhouse. Lokasinya tak jauh dari sekretariat, hanya berjalan beberapa puluh meter saja. 

    “Warga di kampung pemulung ini sangat beragam, ada dari Jawa, Sunda, Bugis,” ujar Lisna sambil berjalan menuju greenhouse. 

    Greenhouse berukuran 40-50 meter itu berdiri di tengah kampung pemulung. Tak hanya greenhouse, di lahan berukuran sekitar 132 meter itu digunakan sebagai bank sampah. Bank sampah digunakan untuk menampung sampah-sampah dari warga.

    “Sampah-sampah itu di tabung di bank sampah. Warga memang sengaja menabung sampah agar pada saat hari besar bisa ditarik,” ucap Lisna menunjukan botol-botol air mineral yang menumpuk di bank sampah. 

    Walaupun masih memulung, sebagian warga sengaja menabung sampah di Bank Sampah Swara Cipta Mandiri sebagai bagian komitmen menabung. Warga biasanya mengumpulkan sampah-sampah kemudian menabungnya di bank sampah. Setelah beberapa bulan, warga bisa mencairkan dana segar untuk kebutuhan tertentu seperti Lebaran atau hari besar lainnya. 

    “Melon itu seperti manusia, jadi sambil memetik daun dan mengawinkan biasanya diajak berbicara,” gurau Lisna sambil menunjukan tanaman melon di greenhouse.

    Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian batik menuju ke greenhouse. “Nah ini dia yang merawat melon di greenhouse ini,” Lisna menyambut seorang warga yang bertugas di greenhouse tersebut.

    "Kalau memulung itu 3 kali pekerjaan jadi bisa seharian. Kalau di Swara Hijau Farm pekerjaannya hanya pagi dan sore saja, sehingga banyak waktu luang untuk beristirahat," ucap Ibu Wasriyah menceritakan kehidupannya sebelum bergabung dengan Swara Hijau Farm. 

    Selama sekitar 20 tahun tinggal di Kampung Pemulung, Wasriyah terbiasa menghabiskan hari dengan memulung. Pekerjaan itu membuat waktunya hampir seluruhnya tersita, karena harus dilakukan beberapa kali dalam sehari untuk mendapatkan penghasilan yang cukup.

    Perubahan mulai dirasakan ketika ia bergabung dengan kelompok tani Swara Hijau Farm sekaligus menjadi anggota bank sampah. Sejak masa pandemi Covid-19, Wasriyah mulai belajar berbagai kegiatan dari budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.

    “Saya senang bisa bergabung, saya bisa bertemu dengan teman-teman. Dan, kemudian akhirnya saya berhenti mulung,” tutur Wasriyah.

    Kini, rutinitasnya pun berubah. Jika memulung bisa membuatnya bekerja hingga seharian, aktivitas di Swara Hijau Farm cukup dilakukan pada pagi dan sore hari. Ada waktu yang lebih banyak untuk beristirahat sekaligus melakukan aktivitas lainnya.

    Bagi Wasriyah, bergabung dengan Swara Hijau Farm bukan sekadar berpindah pekerjaan. Ia menemukan lingkungan baru, belajar keterampilan baru, dan perlahan menemukan cara berbeda untuk menjalani kehidupan di kampung yang selama ini menjadi rumahnya.

    Tak hanya Wasriyah, namun sekitar 35 orang dari  400 Kepala Keluarga di RT 4 dan RT 7, Kampung Sumur, telah bergabung bersama Swara Hijau Farm. Warga dibagi dalam beberapa kelompok dan secara bergantian melakukan pengelolaan budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.  

    “Memang tidak semua warga bergabung di Swara Hijau Farm, hanya sekitar 35 orang dan itu pun dilakukan seleksi sebelumnya,” cerita Pak Endang.

    Warga kelompok tani pun secara bergantian mengelola, bahkan untuk menunjang performanya dilakukan absensi. Kelompok tani paling rajin pun akan mendapatkan penghasilan lebih banyak berdasarkan kehadiran dan hasil panen yang didapat. 

    Ketika Bertani Mulai Naik Kelas Bersama Yayasan Astra - YDBA

    "Pernah dibalikin 20 kg karena layu sayurnya, tidak sesuai dengan spek. Dan, kemudian dikembalikan setelah 3 hari. Akhirnya dibagikan ke warga sekitar," kenang Pak Endang pada saat salah dalam pengelolaan sayuran.

    Semenjaka tahun 2023, Suara Hijau Farm telah menjalin kemitraan dengan United Tractors sebagai bagian dari Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra. Dukungan yang diberikan meliputi pengembangan kapasitas untuk memperluas UKM hidroponik, keuangan digital, penerapan 5R, serta metode business model canvas.

    "Selama ini kita terpaku dengan produknya, dan pada terjadi kesulitan saat produk tidak sesuai dengan spek karena suplier sangat selektif sekali. Pada saat itu, kami hanya  terfokus produk jadi banyak sekali kerugian. Kemudian, di scale-up untuk diversifikasi serta memperluas bisnis dengan berbagai jenis bisnis," Pak Endang menjelaskan permasalahan bisnisnya. 

    Berkaca dengan permasalahan bisnis tersebut, Swara Hijau Farm kemudian perlahan-lahan mulai membenahi pengembangan kapasitas bisnis hingga manajemen dengan bimbingan Yayasan Astra - YDBA. Mulai dari penerapan pengelolaan keuangan secara digital, penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin), hingga penerapan metode  business model canvas sehingga bisnis bisa dijelaskan dalam 1 lembar kerangka. 

    “Resiko sayuran dikembalikan itu berkurang signifikan sekitar 30-40 persen dari sebelumnya,” jelas Pak Endang Mintardja setelah melakukan berbagai perbaikan manajemen. 

    Kini Swara Hijau Farm mampu menghasilkan omzet sekitar 4-5 juta per bulan dari berbagai macam produk dengan siklus penghasilan berbeda. Telur ayam misalnya, bisa memberikan pemasukan harian. Sayuran hidroponik menghasilkan pendapatan bulanan, sementara maggot dapat dipanen dan dijual setiap minggu. Untuk melon dan ikan, masa panennya sekitar tiga bulan. 

    Masing-masing punya peran. Maggot, misalnya, dijual sekitar Rp5.000 per kilogram. Namun, setelah memperhitungkan biaya pakan dan kebutuhan lainnya, nilai jualnya belum terlalu besar. Karena itu, maggot tidak hanya dijual begitu saja, tetapi diolah menjadi pelet agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

    Begitu juga dengan budidaya ikan. Swara Hijau Farm memiliki delapan kolam dengan kapasitas sekitar 2.000 ekor ikan. Dalam satu periode, hasil panennya bisa mencapai sekitar 2 kuintal atau 200 kilogram, menyesuaikan permintaan.

    Ke depan, pengembangan tidak berhenti pada penjualan ikan segar. Salah satu yang sedang didorong adalah produk olahan seperti ikan marinasi. Produk ini dinilai memiliki peluang perputaran modal yang lebih baik karena bisa dijual dalam bentuk yang memiliki nilai tambah.

    Rencananya, tambahan modal akan digunakan untuk menyediakan freezer sebagai tempat penyimpanan ikan marinasi sekaligus mendukung distribusi. Para ibu juga akan dilibatkan dalam penjualan secara berkeliling, dengan target sekitar 10 kilogram per orang.

    Dengan modal sekitar Rp30.000-Rp35.000 per kilogram, produk tersebut ditargetkan memberikan margin sekitar Rp10.000-Rp15.000 per kilogram. Bagi Swara Hijau Farm, pola seperti inilah yang ingin terus dikembangkan: bukan hanya menghasilkan produk, tetapi mengolahnya agar nilai ekonominya bertambah dan perputaran usaha bisa terus berjalan.

    Dari Pendampingan, UMKM Tumbuh dan Berdaya

    Bagi William Soeryadjaya, membangun perusahaan tidak berhenti pada bagaimana sebuah bisnis tumbuh dan menghasilkan keuntungan. Ada cita-cita yang lebih besar, yaitu menjadikan Astra seperti pohon rindang yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pohon yang akarnya kuat, tumbuh semakin besar, menghasilkan buah, sekaligus menyediakan tempat bagi orang lain untuk berteduh dan berkembang.

    Gagasan tentang kebermanfaatan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Astra melalui empat pilar, yaitu Astra Hijau, Astra Sehat, Astra Cerdas, dan Astra Kreatif. Di dalam Astra Kreatif, perhatian diarahkan pada bagaimana potensi yang ada di masyarakat dapat dikembangkan menjadi peluang yang memberikan nilai ekonomi.


    Semangat itulah yang salah satunya dijalankan melalui Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Ketua Yayasan Astra - YDBA, Rahmat Samulo, menjelaskan bahwa YDBA menjalankan pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan untuk membantu UMKM tumbuh dan naik kelas secara berkelanjutan. Pendekatan ini membuat pembinaan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga membekali UMKM dengan kemampuan mengelola dan mengembangkan usaha. Berbagai tantangan yang muncul pun dihadapi melalui kolaborasi bersama berbagai pihak. 

    Hingga 2025, terdapat sebanyak 2.030 UMKM yang mengikuti program pembinaan Yayasan Astra - YDBA dengan penyerapan sebesar 4.674 tenaga kerja . UMKM binaan itu tersebar di seluruh wilayah di Tanah Air, menandakan luasnya jangkauan serta dampak nyata yang dihasilkan.

    Bagi warga Kampung Sumur, pembinaan tersebut membantu mereka belajar menghadapi persoalan usaha, mulai dari menjaga kualitas produk hingga mencari peluang pasar baru. Dari budidaya sayuran, melon, ikan, telur, pengolahan maggot, hingga rencana produk ikan marinasi, Swara Hijau Farm terus mengembangkan sumber pendapatan yang melibatkan warga. 

    Inilah semangat “berikan kail, bukan ikan” yaitu membekali masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mengelola usaha agar dapat terus menghasilkan dan berkembang secara mandiri diatas kaki sendiri. 


    Continue Reading

     

    Raja Ampat selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan laut dan pesisir yang luar biasa. Namun, di balik keindahan tersebut, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil juga berhadapan dengan persoalan lingkungan. Abrasi dan perubahan kondisi pesisir dapat mengancam ruang hidup, sumber air, hingga aktivitas masyarakat yang bergantung pada alam.

    Di Kampung Friwen, persoalan pesisir bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat pernah melihat bagaimana kerusakan mangrove dapat berdampak langsung pada kehidupan mereka. Karena itu, menjaga mangrove bukan hanya persoalan menjaga pepohonan di tepi laut, tetapi juga mempertahankan ruang hidup dan sumber penghidupan.

    Mangrove memiliki peran penting sebagai ekosistem pesisir. Akar-akarnya membantu meredam energi gelombang dan mengurangi resiko erosi, sekaligus menjadi tempat hidup dan berkembang berbagai jenis ikan, kepiting, dan biota lainnya. Bagi masyarakat pesisir, fungsi tersebut berarti lebih dari sekadar perlindungan lingkungan. Mangrove juga berkaitan dengan ketersediaan pangan dan mata pencaharian.

    Di sinilah kita mulai memahami bahwa jaga hutan berarti jaga sumber pangan.

    Mangrove, Menjaga Pesisir dan Menopang Kehidupan

    Mangrove sering kali hanya dilihat sebagai benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi. Padahal, ekosistem ini memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Mangrove menjadi habitat berbagai biota, membantu menjaga produktivitas perairan, sekaligus menyediakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.

    Bank Dunia mencatat bahwa mangrove merupakan bagian penting dari ketahanan pesisir sekaligus mendukung kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ekosistem mangrove menyediakan habitat bagi ikan dan krustasea serta menghasilkan berbagai produk yang dapat dimanfaatkan untuk pangan dan penghidupan.

    Artinya, ketika mangrove rusak, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada habitat ikan yang ikut terganggu, ada sumber pangan yang berkurang, dan ada pengetahuan masyarakat yang berpotensi ikut menghilang.

    Cerita dari Kampung Friwen, Raja Ampat, menunjukkan bagaimana hubungan tersebut bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

    Dari Buah Mangrove Menjadi Pangan di Kampung Friwen

    Bagi masyarakat Kampung Friwen, mangrove bukan sekadar hutan yang harus dijaga. Di dalamnya tersimpan pengetahuan pangan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

    Salah satunya adalah buah aibon dari kelompok mangrove Bruguiera. Buah ini tidak bisa langsung dimakan karena mengandung tanin yang membuat rasanya pahit. Masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengolahnya. Buah dikupas, direbus untuk mengurangi kandungan tanin, kemudian ditumbuk hingga menjadi tepung.

    Dari sekitar lima kilogram buah mangrove, dapat dihasilkan kurang lebih dua kilogram tepung. Tepung tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai jenis pangan yang lebih dekat dengan selera masyarakat saat ini, seperti mi, pizza, donat, dan kue kering.

    Yang menarik, pemanfaatan buah mangrove ini bukan sekadar inovasi pangan. Ada upaya untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang sempat ditinggalkan.

    Mama-mama di Kampung Friwen juga memiliki peran penting dalam menjaga mangrove dan pengetahuan tersebut. Mereka terlibat dalam rehabilitasi mangrove sekaligus mengembangkan pemanfaatan hasilnya. Bagi mereka, menjaga mangrove berarti memastikan sumber makanan tetap tersedia.

    Inilah bentuk ketahanan pangan yang tumbuh dari alam dan pengetahuan masyarakat sendiri. Bukan hanya mengambil apa yang tersedia, tetapi memahami cara memanfaatkan sumber daya tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.

    Dari Mangrove ke Aren, Tanaman dengan Dua Manfaat

    Cerita tentang mangrove di Raja Ampat mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki banyak tanaman lokal yang memiliki fungsi ganda. Salah satunya adalah pohon aren.

    Aren dikenal sebagai tanaman yang hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Nira dapat diolah menjadi gula aren dan gula semut, buahnya menjadi kolang-kaling, sementara pati atau tepung aren juga dapat digunakan sebagai bahan pangan.

    Namun, manfaat aren tidak berhenti di dapur. Secara ekologis, aren juga memiliki fungsi sebagai tanaman konservasi tanah dan air. Sistem perakarannya yang kuat membantu mengurangi erosi, terutama pada kawasan dengan kemiringan tertentu. Karena itu, aren memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis.

    Di sinilah kita bisa melihat kesamaan antara mangrove dan aren. Keduanya memang tumbuh di lingkungan yang berbeda. Mangrove berada di kawasan pesisir, sementara aren banyak ditemukan di wilayah daratan dan perbukitan. Namun, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa tanaman dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus menjadi bagian dari sumber pangan dan penghidupan masyarakat.

    Menjaga Alam, Menjaga Sumber Pangan

    Kisah Kampung Friwen memberikan pelajaran sederhana tetapi penting. Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari pengetahuan masyarakat terhadap alam di sekitarnya.

    Buah mangrove yang dahulu dikenal sebagai pangan lokal dapat kembali diolah menjadi tepung dan berbagai makanan. Mangrove yang direhabilitasi bukan hanya membantu menjaga pesisir, tetapi juga membuka kembali peluang pemanfaatan sumber daya lokal.

    Begitu pula dengan aren. Ketika tanaman ini dijaga dan dimanfaatkan dengan tepat, manfaatnya dapat dirasakan dari sisi lingkungan maupun ekonomi.

    Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan pohon tetap berdiri. Ada sumber pangan, pengetahuan lokal, mata pencaharian, dan kehidupan masyarakat yang ikut bergantung di dalamnya.

    Dari Raja Ampat, kita belajar bahwa jaga hutan = jaga sumber pangan. Mungkin setiap daerah di Indonesia memiliki “mangrove” dan “aren”-nya sendiri, yaitu sumber daya alam yang selama ini ada di sekitar kita, tetapi belum sepenuhnya kita kenali potensinya.

    Karena menjaga alam bukan berarti berhenti memanfaatkannya. Yang penting adalah bagaimana kita memanfaatkan, mengolah, dan menjaganya agar tetap tersedia untuk hari ini dan generasi yang akan datang.


    Continue Reading

     

    Semenjak meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Jakarta, ada banyak hal yang kadang membuat saya rindu pulang. Suasana rumah, makanan khas buatan keluarga, dan tentu saja kucing-kucing yang dulu hampir selalu ada di sekitar rumah.


    Bagi saya, kucing bukan sekadar hewan peliharaan. Sejak kecil, saya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan mereka. Almarhum Mamah dan Kakak juga sama-sama menyukai kucing. Bahkan, Kakak pernah memelihara cukup banyak kucing di rumah. Jadi, setiap kali pulang kampung, rasanya selalu ada saja kucing yang menyambut atau berkeliaran di halaman.


    Setelah Mamah dan Kakak meninggal, suasana itu perlahan berubah. Kucing-kucing yang dulu dirawat dengan penuh perhatian mulai berpencar. Ada yang pergi, ada yang lebih sering berada di rumah tetangga. Mungkin terdengar sederhana, tetapi dari situlah saya sadar bahwa ada rutinitas kecil yang ternyata sangat saya rindukan: memberikan makan, melihat mereka tidur sembarangan, atau sekadar memperhatikan tingkah lucu mereka.


    Rasa rindu itu kemudian terbawa sampai saya tinggal di Jakarta. Awalnya, saya hanya memberikan makan kepada kucing-kucing yang datang ke sekitar tempat tinggal. Lama-kelamaan mereka mulai mengenali saya. Ada yang datang ketika waktunya makan, ada juga yang hanya mampir sebentar seperti sedang memastikan apakah hari itu saya membawa makanan atau tidak.


    Sekarang, ada Komo yang saya pelihara, sementara Kimi sebenarnya adalah kucing milik tetangga. Entah karena merasa nyaman atau memang suka makan, Kimi cukup sering datang ke kontrakan saya. Setelah makan dan minum, kadang ia tidur dengan santainya seolah-olah tempat ini adalah rumah keduanya.


    Selain mereka, masih ada beberapa kucing lain yang sesekali saya beri makan. Dari situ saya mulai memahami satu hal: menyayangi kucing memang menyenangkan, tetapi merawat mereka juga membutuhkan tanggung jawab, termasuk soal biaya.


    Merawat Kucing Ternyata Ada Biayanya



    Kalau hanya satu atau dua kucing, mungkin pengeluarannya belum terlalu terasa. Namun, ketika jumlahnya bertambah, kebutuhan mereka juga ikut bertambah. Makanan, pasir, perlengkapan kebersihan, hingga kebutuhan perawatan lainnya harus dipikirkan.


    Belum lagi kalau ada kucing yang membutuhkan perhatian lebih terhadap kesehatannya. Di sinilah saya mulai belajar untuk mengatur pengeluaran dengan lebih bijak.


    Menurut saya, menghemat biaya merawat kucing bukan berarti mencari semua yang paling murah. Justru, berhemat adalah soal memahami kebutuhan mereka dan menghindari pengeluaran yang sebenarnya bisa dicegah. Berikut beberapa hal sederhana yang saya pelajari selama merawat dan memberi makan kucing.


    Pilih Makanan Sesuai Kebutuhan Kucing


    Makanan tentu menjadi salah satu pengeluaran rutin yang paling terasa. Apalagi kalau setiap hari ada beberapa mulut berbulu yang menunggu di depan pintu.


    Meski begitu, saya belajar untuk tidak hanya melihat harga ketika memilih makanan. Yang lebih penting adalah menyesuaikan makanan dengan kebutuhan kucing dan memperhatikan informasi nutrisi yang tersedia. Harga yang terlihat murah belum tentu benar-benar hemat apabila makanan tersebut ternyata tidak sesuai dan menimbulkan masalah di kemudian hari.


    Saya biasanya juga mempertimbangkan ukuran kemasan dan harga per beratnya. Kalau memang lebih hemat membeli dalam jumlah tertentu dan penyimpanannya memungkinkan, pilihan itu bisa membantu mengatur pengeluaran bulanan.


    Jangan Terlalu Mudah Percaya dengan Tatapan Memelas


    Pemilik kucing pasti paham bagian ini. Kadang mereka baru saja makan, tetapi beberapa saat kemudian sudah kembali mengeong di dekat tempat makanan. Tatapannya pun dibuat sedemikian rupa sampai kita merasa bersalah karena tidak langsung menambah porsinya.


    Padahal, belum tentu mereka benar-benar lapar. Memberikan makanan sesuai porsi dan jadwal membantu kita mengetahui kebutuhan mereka dengan lebih teratur. Selain mengurangi makanan yang terbuang, persediaan pun tidak habis lebih cepat dari yang seharusnya.


    Tentu saja, kebutuhan setiap kucing bisa berbeda. Karena itu, penting untuk menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.


    Rawat Hal-Hal Sederhana di Rumah


    Tidak semua perawatan harus dilakukan di luar rumah. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan sendiri, seperti menjaga kebersihan tempat makan dan minum, membersihkan tempat tidur, atau menyisir bulu.


    Bagi saya, kegiatan kecil seperti ini bukan hanya soal menghemat biaya. Saat kita lebih sering memperhatikan kucing, kita juga jadi lebih mengenal kebiasaan dan kondisi mereka. Kalau ada sesuatu yang terlihat tidak biasa, setidaknya kita bisa menyadarinya lebih awal.


    Namun, tentu ada batasnya. Untuk kondisi yang membutuhkan penanganan profesional, kesehatan kucing tetap harus menjadi prioritas. Menghemat bukan berarti memaksakan semua hal ditangani sendiri.


    Jaga Kebersihan Litter Box


    Pasir kucing juga menjadi pengeluaran rutin yang cukup terasa. Salah satu cara sederhana untuk menggunakannya dengan lebih efisien adalah membersihkan kotoran secara rutin.


    Dengan begitu, bagian pasir yang masih bersih tidak ikut terbuang begitu saja. Selain lebih hemat, litter box yang bersih juga membuat kucing lebih nyaman menggunakannya.


    Menurut saya, prinsipnya sederhana: yang bisa dihemat adalah penggunaannya, bukan kebersihannya.


    Kucing Tidak Selalu Membutuhkan Mainan Mahal


    Salah satu hal yang sering membuat saya tersenyum adalah melihat betapa sederhana cara kucing menikmati hidup. Kita bisa saja membeli mainan baru, tetapi mereka justru lebih tertarik pada kardus bekas yang ada di sudut ruangan.


    Mainan sederhana yang aman bisa menjadi pilihan. Namun, tetap pastikan tidak ada bagian kecil, tajam, atau benda yang berisiko membahayakan mereka.


    Kadang, yang paling mereka butuhkan juga bukan mainan baru, melainkan waktu kita. Bermain beberapa menit bersama kucing bisa menjadi hiburan sederhana, baik untuk mereka maupun untuk kita.


    Sisihkan Anggaran untuk Kebutuhan Kucing


    Saya termasuk orang yang baru benar-benar menyadari pentingnya membuat anggaran setelah memiliki beberapa kucing yang harus diperhatikan.


    Tidak perlu rumit. Cukup mengetahui kira-kira berapa pengeluaran untuk makanan, pasir, dan kebutuhan rutin lainnya setiap bulan. Kalau memungkinkan, ada baiknya menyisihkan sedikit dana cadangan untuk kebutuhan yang tidak terduga.


    Jumlahnya tidak harus besar. Yang penting disesuaikan dengan kemampuan dan dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, kita tidak terlalu kaget ketika ada kebutuhan tambahan.


    Memilih Makanan yang Tepat Juga Bagian dari Berhemat



    Dari semua kebutuhan kucing, makanan tetap menjadi salah satu yang paling penting. Karena diberikan setiap hari, memilih makanan yang sesuai tentu perlu dipertimbangkan dengan baik.


    Belakangan, saya juga mengenal BOLT Cat Food sebagai salah satu pilihan makanan kucing yang menarik bagi pemilik yang ingin memperhatikan kebutuhan nutrisi tanpa membuat pengeluaran terlalu berat. Bagi saya, hal seperti ini cukup penting, terutama ketika kita merawat lebih dari satu kucing.


    Tentunya, kebutuhan setiap kucing berbeda. Usia, aktivitas, dan kondisi sehari-hari bisa menjadi pertimbangan sebelum menentukan makanan. Karena itu, menurut saya memilih makanan bukan sekadar mencari yang paling mahal, tetapi mencari yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus kemampuan kita.


    Konsep seperti ini membuat saya melihat BOLT Cat Food sebagai salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan. Yang terpenting, kita tetap memahami kebutuhan kucing dan tidak mengabaikan kualitas makanan hanya karena ingin berhemat.


    Pada akhirnya, merawat kucing memang membutuhkan biaya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semuanya bisa dilakukan dengan murah, karena setiap kucing memiliki kebutuhan yang berbeda. Namun, biaya tersebut tetap bisa dikelola dengan perencanaan yang baik.


    Dari Komo, Kimi, dan kucing-kucing lain yang pernah hadir dalam hidup saya, saya belajar bahwa merawat mereka bukan hanya soal menyediakan makanan. Ada perhatian, waktu, dan tanggung jawab yang ikut menyertainya.


    Kucing mungkin tidak pernah mengatakan terima kasih dengan kata-kata. Mereka hanya datang ketika lapar, tidur di dekat kita ketika merasa nyaman, atau mengikuti langkah kita tanpa alasan yang jelas. Tetapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah, kehadiran mereka terasa begitu berarti.


    Jadi, hemat dalam merawat kucing tentu boleh. Pilih makanan dengan bijak, atur kebutuhan, dan hindari pengeluaran yang tidak perlu. Namun, perhatian terhadap kesehatan dan kenyamanan mereka tetap harus menjadi prioritas. Karena merawat kucing dengan baik bukan soal seberapa mahal yang kita berikan, melainkan seberapa bertanggung jawab kita terhadap mereka.


    Kalau kamu ingin mencari informasi lebih lengkap tentang BOLT Cat Food, yuk mampir ke Instagram @boltpetfoodid, TikTok boltpetfoodid atau Facebook BOLT Pet Food Indonesia.


    Sementara itu, untuk pembelian, BOLT Cat Food sudah tersedia di pet shop terdekat maupun Official Store CPPETINDO di e-commerce favoritmu. Biar lebih sat set, kamu juga bisa langsung BOLT Cat Food.



    Continue Reading

     Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026

    Saat berada di Kongres Kemandirian 2026, sebuah acara bagian dari peringatan Milad Dompet Dhuafa ke-33 tahun, saya terkesima dengan beberapa booth. Ternyata beragam lini hadir dalam kemeriahan kali, tak hanya donasi, pemberdayaan masyarakat mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan Dompet Dhuafa mendorong masyarakat untuk naik kelas dan punya daya untuk menentukan masa depannya sendiri dalam Kongres Kemandirian 2026. 


    Terlintas ingatan ketika Saya melihat bagaimana semangat pemberdayaan itu berjalan melalui program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa di Cianjur. Kurban ternyata bukan hanya tentang menyalurkan daging kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat ketika hewan kurban berasal dari peternak lokal yang dibina secara berkelanjutan. 


    Sentra Ternak Cianjur, yang digarap bersama masyarakat, menjadi salah satu contoh bagaimana dana zakat dapat dikembangkan secara produktif sehingga peternak mendapatkan ruang untuk tumbuh, kapasitas produksi berkembang, dan manfaat kurban akhirnya tidak hanya dirasakan oleh penerima daging, tetapi juga oleh masyarakat yang berada di balik proses penyediaan hewan kurban. Dari sini saya melihat bahwa pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan menciptakan ekosistem agar masyarakat memiliki kesempatan untuk tumbuh dan semakin mandiri. 


    Semangat tersebut sejalan dengan nafas yang dibawa Dompet Dhuafa sejak awal berdiri pada 2 Juli 1993. Berawal dari kepedulian untuk mengelola dana donasi dan bantuan yang dipercayakan masyarakat, Dompet Dhuafa kemudian mengembangkan pengelolaannya melalui lima pilar utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kemanusiaan, serta dakwah dan budaya. 


    Dana yang terkumpul tidak hanya dipandang sebagai bantuan yang selesai setelah disalurkan, tetapi diupayakan menjadi sumber daya yang dapat membuka akses, meningkatkan kapasitas, menciptakan peluang ekonomi, dan membangun kemampuan masyarakat untuk berkembang. Dari sinilah pemberdayaan menjadi bagian penting dalam perjalanan Dompet Dhuafa untuk mengubah semangat berbagi menjadi upaya jangka panjang agar masyarakat yang sebelumnya membutuhkan dukungan perlahan memiliki kemampuan untuk berdiri, menentukan pilihan, dan membangun masa depannya sendiri.


    Baca juga : Memilih Kambing Jantan Terbaik Dari Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa


    Dari Berbagi Menuju Berdikari, Semangat Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026

    Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026

    Bagi saya, kemandirian masyarakat tidak cukup hanya dilihat dari seberapa kuat seseorang secara ekonomi. Masyarakat yang benar-benar berdaya juga harus memiliki akses terhadap pendidikan dan kesehatan, mampu menghadapi perubahan, serta memiliki kemampuan untuk bangkit ketika berhadapan dengan krisis. Cara pandang inilah yang terasa kuat dalam Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 yang mengusung tema “Satu Forum, Satu Peta Jalan Kemandirian Bangsa”. Forum ini tidak hanya membicarakan bagaimana masyarakat mendapatkan bantuan, tetapi lebih jauh membahas bagaimana berbagai potensi yang ada dapat dikolaborasikan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.


    Semangat tersebut kemudian terlihat dalam Diskusi Panel tentang Kesehatan dan Ketahanan Sosial bertajuk “Strengthening Community Wellbeing for Sustainable Development”. Diskusi ini menarik karena memperlihatkan bahwa membangun masyarakat yang mandiri juga berarti membangun masyarakat yang tangguh ketika menghadapi situasi tidak terduga. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 hingga berbagai bencana alam menunjukkan bahwa krisis dapat datang kapan saja, sehingga masyarakat membutuhkan kesiapsiagaan (emergency response), inovasi, dan fleksibilitas dalam menghadapinya.


    Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026


    Dalam diskusi tersebut, perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang memiliki pengalaman dalam penanganan berbagai situasi krisis, termasuk sebagai Ketua Satgas Bencana Kemenkes RI, menekankan pentingnya membangun sistem kesehatan yang mampu merespons kondisi darurat. Pengalaman penanganan pandemi COVID-19, bencana di berbagai daerah seperti Flores, hingga misi kemanusiaan di Al-Arish untuk penyaluran bantuan ke Palestina menjadi pembelajaran bahwa persoalan kesehatan dan kemanusiaan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.


    Hal ini juga berkaitan dengan enam pilar transformasi kesehatan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan, terutama dalam memperkuat sistem ketahanan kesehatan. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, koordinasi antar-lembaga, serta keterlibatan berbagai sektor menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi krisis. Dalam konteks ini, lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa memiliki posisi yang strategis karena memiliki kedekatan dengan masyarakat dan pengalaman dalam menjalankan berbagai program sosial serta kemanusiaan.


    Dari diskusi tersebut saya menangkap satu hal penting yaitu kemandirian bukan berarti harus berjalan sendiri. Justru masyarakat akan menjadi lebih kuat ketika pemerintah, lembaga filantropi, akademisi, dunia usaha, komunitas, praktisi, hingga masyarakat penerima manfaat dapat saling menguatkan. Kolaborasi menjadi modal penting agar bantuan yang diberikan tidak berhenti pada penyelesaian masalah sesaat, tetapi berkembang menjadi kemampuan masyarakat untuk menghadapi persoalan berikutnya.


    Inilah yang membuat Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 terasa relevan. Kemandirian bukan sebuah kondisi yang tiba-tiba muncul setelah seseorang menerima bantuan, melainkan proses panjang untuk membangun kapasitas manusia dan ekosistem yang mendukungnya. Dari kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga ketahanan sosial, semuanya saling berkaitan. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, kesehatan yang baik, kesempatan ekonomi, dan lingkungan yang mendukung, mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi dapat tumbuh menjadi pelaku perubahan di lingkungan sekitarnya.


    Baca juga : Berzakat Itu Kalcer, Sambut Ramadan Dengan Ibadah Rutin


    Kemandirian Bukan Akhir, tetapi Awal Perubahan

    Kongres-Kemandirian-Dompet-Dhuafa-2026

    Pada akhirnya, Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 mengingatkan saya bahwa membantu masyarakat tidak seharusnya berhenti pada memberikan apa yang dibutuhkan hari ini. Bantuan memang penting ketika seseorang berada dalam kondisi sulit, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana bantuan tersebut menjadi pintu menuju kehidupan yang lebih mandiri. Ketika masyarakat mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi, keterampilan, serta ruang untuk berkembang, mereka memiliki bekal untuk menentukan masa depannya sendiri.


    Semangat tersebut sejalan dengan perjalanan Dompet Dhuafa sejak awal berdiri. Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi dikembangkan melalui lima pilar, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial kemanusiaan, serta dakwah dan budaya. Berbagai program pemberdayaan menjadi bukti bahwa filantropi dapat memberikan dampak yang lebih panjang ketika masyarakat ditempatkan sebagai subjek perubahan.


    Kongres Kemandirian kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kekuatan tersebut. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, praktisi, lembaga filantropi, alumni penerima beasiswa, hingga penerima manfaat memiliki peran untuk membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat tumbuh dan berdaya. Diskusi mengenai kesehatan dan ketahanan sosial juga menunjukkan bahwa kemandirian bukan berarti harus berjalan sendirian. Justru kolaborasi menjadi kekuatan agar masyarakat mampu menghadapi berbagai tantangan dan bangkit ketika krisis datang.


    Bagi saya, pesan paling penting dari Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 adalah perubahan cara pandang dari sekadar membantu menjadi memberdayakan, dari penerima manfaat menjadi pelaku perubahan, dan dari bergantung menjadi mampu berdiri dengan kekuatan sendiri.


    Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan kebaikan bukan hanya tentang seberapa banyak bantuan yang diberikan, tetapi tentang seberapa banyak orang yang mampu bangkit, berdiri, dan kemudian membantu orang lain untuk tumbuh bersama. Di situlah makna kemandirian benar-benar menemukan bentuknya.


    Dompet Dhuafa 

    Website : https://digital.dompetdhuafa.org/

    Instagram : https://www.instagram.com/dompetdhuafaorg/


    Continue Reading

     

    "Kalau ke Hatyai gimana?"

    Padahal awalnya cuma ada dua pilihan, Melaka atau Penang. Dua kota yang sudah cukup akrab buat saya, jadi rasanya tinggal pilih mana yang paling gampang dijangkau dari Kuala Lumpur. Tapi namanya juga obrolan santai sambil duduk di kafe, satu pertanyaan sederhana soal Hatyai justru membuka pintu ke rencana yang sama sekali tidak ada dalam bayangan. Bahkan sempat muncul ide yang jauh lebih nekat, naik kereta dari Kuala Lumpur menuju Bangkok dengan transit dulu di Hatyai, yang kalau benar dijalani bisa memakan waktu sehari semalam penuh di perjalanan.

    "Kalau ke Hatyai naik apa?"

    Astari, sahabat perjalanan saya selama di Kuala Lumpur, ikut penasaran. Pertanyaannya justru membuat ide yang tadinya cuma bercanda terasa semakin mungkin untuk dijalankan.

    Sebenarnya, kedatangan saya ke Kuala Lumpur kali itu bukan sekadar liburan biasa. Saya diundang oleh penyelenggara untuk mengikuti Keretapi Sarong, sebuah perhelatan budaya internasional yang dirayakan setiap Hari Malaysia di Dataran Merdeka. Sebagai konten kreator yang diundang mewakili Indonesia, ada rasa bangga tersendiri bisa ikut berbaur bersama ribuan orang dari berbagai etnis, semuanya mengenakan kain dan sarung sambil naik transportasi umum menuju Dataran Merdeka. Saya sendiri memilih memadukan sarung bermotif khas Nusantara dengan udeng Bali di kepala, sebuah cara kecil untuk menunjukkan bahwa Indonesia juga punya warisan kain dan budaya yang tidak kalah kaya. Setelah acara itu usai, jiwa penjelajah saya rupanya belum puas, dan di sinilah cerita Hatyai dimulai.

    "Kalau mau cepat bisa naik kereta sih."

    Tanpa banyak diskusi lagi, kami langsung menuju KL Sentral. Buat saya, KL Sentral selalu punya daya tarik tersendiri. Bukan sekadar stasiun, tapi semacam titik pertemuan berbagai arah perjalanan. Orang datang dari mana saja, turun dari satu moda transportasi, lalu berpindah ke moda lain untuk melanjutkan tujuan masing-masing. Ada yang menuju bandara, ada yang pulang kampung, ada pula yang sedang memulai perjalanan lintas negara seperti kami berdua siang itu.

    Sialnya, begitu sampai di loket kereta menuju Padang Besar, stasiun penghubung sebelum Hatyai, kami langsung disambut kabar yang bikin lemas.

    "Habis tiketnya."

    Weekend. Kami sampai lupa hari itu akhir pekan, saat orang-orang juga sama semangatnya untuk bepergian. Duduk sebentar di bangku tunggu, saya dan Astari mulai memikirkan opsi lain.

    "Kita ke Pudu Sentral aja, cari tiket bus di sana."

    Naik taksi online, kami pindah ke Pudu Sentral, terminal bus antarkota sekaligus lintas negara yang cukup besar di Malaysia. Sempat bingung juga cara membeli tiketnya, sebab meski bisa pesan lewat aplikasi RedBus, tetap harus ditukar dulu di loket. Antreannya panjang sekali, bukan cuma belasan orang tapi terasa seperti ratusan, semuanya berdesakan membawa koper, ransel, bahkan ada yang menggendong anak kecil sambil menunggu giliran. Saya sempat memperhatikan wajah-wajah di sekitar, beragam etnis bercampur begitu saja di satu ruangan yang sama, ada yang berkulit gelap, berkulit terang, bermata sipit, bermata lebar. Entah kenapa momen itu selalu membuat saya berpikir bahwa Kuala Lumpur ini semacam pintu masuk bagi siapa saja, baik yang sedang mengadu nasib maupun yang cuma numpang lewat seperti kami.

    Setelah tiket akhirnya di tangan, Astari mengajak makan dulu sebelum naik bus.

    "Yuk, makan dulu di atas."

    Perjalanan dari Pudu Sentral menuju Hatyai memakan waktu sekitar enam sampai tujuh jam, dan untungnya kami memilih bus malam supaya sebagian waktu bisa dipakai tidur. Saya sempat memejamkan mata begitu bus mulai berjalan meninggalkan lampu-lampu kota, tapi entah kenapa pikiran malah melayang ke sebelas tahun lalu, saat saya pernah melakukan rute yang mirip, hanya urutannya berbeda. Dulu saya berangkat dari Kuala Lumpur, bermalam semalam di Penang untuk berkeliling George Town, lalu transit di Hatyai sebelum meneruskan perjalanan ke Phuket, dan setelah hanya sempat menikmati pantainya sebentar, saya kembali lagi ke Hatyai dan pulang ke Kuala Lumpur.

    Kalau bisa bicara ke diri sendiri yang dulu, mungkin saya akan bilang, "Kamu hebat, Man." Saya pasti akan memuji Salman yang waktu itu sanggup menempuh perjalanan sehari semalam demi mengejar destinasi yang belum pernah dijamah. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda. Saya tidak lagi merasa perlu memaksakan diri mengejar sebanyak mungkin tempat dalam satu perjalanan.

    "Bilang saja jompo," saya membatin sambil tersenyum sendiri.

    Mungkin ada benarnya, tapi saya rasa bukan cuma soal fisik. Cara saya menikmati perjalanan memang sudah berubah dalam sepuluh tahun terakhir. Dulu perjalanan panjang bukan masalah, yang penting sampai. Sekarang saya lebih suka menikmati tiap tahapnya, tidak buru-buru, dan tidak lagi merasa harus mengejar waktu atau tempat.

    Hatyai dan Penang, 11 Tahun Akhirnya Kembali

    Ketika mata saya kembali terbuka, matahari sudah bangun lebih dulu. Rupanya bus sudah sampai di perbatasan Malaysia dan Thailand. Paspor kami dikumpulkan untuk distempel di Imigrasi Bukit Kayu Hitam, lalu tak jauh dari situ bus berhenti lagi di Imigrasi Sadao. Semuanya berjalan lancar, meski jujur saja sudah lama sekali saya tidak melewati perbatasan negara lewat jalur darat seperti ini. Setelah proses imigrasi kelar, jarak menuju Hatyai tinggal sekitar satu sampai dua jam lagi.

    "Krukk!" Perut saya tiba-tiba memberontak, mengingatkan kalau sejak makan di Pudu Sentral belum ada yang masuk lagi. Saya buru-buru mengambil snack dari tas dan melahapnya. Saya sempat mencoba memejamkan mata lagi, tapi pemandangan dari kaca bus rasanya sayang untuk dilewatkan. Pedesaan Thailand terlihat tidak terlalu jauh berbeda dengan suasana kampung di Indonesia, rumah-rumah berdiri di antara sawah dan kebun yang membentang panjang.

    "Hatyai!" teriak petugas bus, tanda perjalanan malam itu sudah sampai di titik akhir. Saya bergegas turun bersama Astari, dan setelah sebelas tahun, akhirnya saya menginjakkan kaki lagi di kota kecil ini.

    Kami mencari minimarket untuk mengisi perut, sambil sekalian memesan hostel untuk semalam karena keesokan harinya saya berencana melanjutkan perjalanan ke Penang. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki, kami tiba di hostel yang lobinya sekaligus berfungsi sebagai kafe. "Your passport," kata resepsionis, dan seperti biasa paspor jadi syarat wajib saat check in.

    "Can we take a shower?"

    "Yes!"

    Rasanya itu jawaban paling melegakan setelah semalaman duduk di bus. Setelah mandi dan berganti baju, kami mulai menjelajah Hatyai, kota kecil yang dikenal sebagai gerbang Provinsi Songkhla di Thailand Selatan, dengan mayoritas masyarakatnya memeluk Islam sehingga tidak sulit menemukan pedagang makanan yang mengenakan jilbab. 

    Sebelum benar-benar check in, kami mampir dulu memesan Thai tea yang menggoda di tengah cuaca panas. "Thai tea two, please!" dan tegukan terakhirnya jadi penutup manis sebelum kami resmi menaruh koper di kamar.

    Malamnya kami menyusuri pasar malam yang memanjang di dekat sebuah mal. Nasi goreng jadi pilihan makan malam, lalu dilanjut mampir ke deretan toko yang menjual skincare khas Thailand, harganya murah dengan kualitas yang cukup bagus, jadi sekalian saja saya membeli beberapa produk yang stoknya sudah habis. Esok paginya kami sempat mengunjungi Wat Hatyai Nai, kuil dengan patung Buddha berbaring sepanjang 35 meter, serta Masjid Mahmudiyah Hatyai-Nai yang lokasinya tidak jauh dari sana.

    Menariknya, sepanjang menjelajah tempat-tempat itu, saya baru sadar betapa sibuknya mata saya bekerja tanpa henti. Sebagai blogger dan content creator, hampir mustahil rasanya benar-benar lepas dari layar. Setiap menemukan sudut yang menarik, tangan otomatis meraih smartphone, mengambil foto, merekam video, lalu memeriksa hasilnya berkali-kali. 

    Sesekali membuka Instagram untuk melihat unggahan sebelumnya, sesekali membuka TikTok, membalas pesan yang masuk, mengecek Google Maps supaya tidak salah arah, sampai menulis catatan kecil untuk bahan tulisan nanti. Belum lagi malam harinya, ketika laptop dibuka untuk memindahkan foto, mengedit video, dan mulai menyusun cerita perjalanan. Saya baru sadar, ternyata sepanjang perjalanan itu mata saya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

    Sebelum meninggalkan Hatyai, kami sempat berfoto di depan hostel, sekadar kenang-kenangan meski cuma menginap semalam. Resepsionis mengucap "Thank you!" sebagai salam perpisahan, dan tibalah waktunya berpisah dengan Astari. Ia akan kembali ke Kuala Lumpur naik kereta, sementara saya melanjutkan perjalanan lintas negara menuju Penang sore itu.

    "Hati-hati ceu," ucap saya sebelum kami benar-benar berpisah.

    Saya melanjutkan perjalanan naik minivan berisi sekitar sepuluh sampai dua belas penumpang, memakan waktu sekitar empat jam menuju Penang. Karena harus melewati perbatasan lagi, minivan sempat berhenti di Imigrasi Sadao lalu Bukit Kayu Hitam. Kalau Sadao terasa ramah dengan senyum petugasnya, Bukit Kayu Hitam justru terasa seperti gerbang selamat datang versi yang jauh lebih tegas. Sempat ada rasa was-was ketika berhadapan dengan petugas imigrasi Malaysia, saya sempat berpikir mereka akan bertanya kenapa hanya dua hari berada di Thailand, tapi ternyata itu cuma ketakutan yang saya ciptakan sendiri di kepala. Begitu stempel mendarat di paspor, rasa lega langsung datang. Hello Penang, I'm coming.

    Rute Hatyai menuju Penang ini sebenarnya mengingatkan saya lagi pada perjalanan sebelas tahun lalu, hanya saja urutannya kebalik. Dulu saya ke Penang dulu baru ke Hatyai, sekarang justru sebaliknya. Tapi satu hal yang tidak berubah adalah kebiasaan menatap jendela sepanjang perjalanan. Pemandangan sawah dan aktivitas warga Thailand perlahan berganti jadi jalanan mulus khas Malaysia begitu kami memasuki perbatasan. Mata terasa berat, sesekali terpejam mengikuti deru mesin minivan, sampai akhirnya senja datang tepat ketika kami memasuki jembatan dari Butterworth menuju Pulau Penang. Warna keemasan sempat mendominasi langit meski tidak berlangsung lama karena cuaca yang kurang cerah.

    Malam itu, setelah tubuh benar-benar duduk tenang di penginapan, saya baru merasakan sesuatu yang berbeda pada mata saya. Setelah seharian penuh melihat papan informasi di KL Sentral, mengantre di Pudu Sentral, memandangi jalanan dari kaca bus, membuka peta, memotret, merekam video, mengecek Instagram dan TikTok, sampai menatap layar laptop untuk menulis, mata saya mulai terasa sepet, kemudian perih, dan akhirnya lelah. Saya jadi lebih sering berkedip, bahkan beberapa kali ingin memejamkan mata lebih lama dari biasanya.

    Dari situ saya mulai memahami satu istilah sederhana yang belakangan sering saya jadikan pengingat, MATA SEPELE. SE untuk sepet, PE untuk perih, LE untuk lelah. Tiga kata pendek yang ternyata cukup menggambarkan apa yang saya rasakan setelah perjalanan panjang dan aktivitas digital yang seharian tidak berhenti. Saya juga mulai memahami bahwa Gejala Mata Kering bisa terasa begitu dekat dengan aktivitas sehari-hari, terutama ketika mata terus digunakan untuk menatap layar dan beraktivitas tanpa jeda. Rasanya bukan hal besar, tapi kalau dibiarkan terus menerus, lama-lama jadi mengganggu kenyamanan.

    Sejak perjalanan itu, saya mulai memperhatikan satu hal kecil yang sebelumnya sering terlupakan, yaitu apa saja yang saya bawa untuk menjaga kenyamanan selama perjalanan. Kalau dulu isi tas cuma soal kamera, charger, dan power bank, sekarang saya menambahkan satu perlengkapan pribadi yang ringkas tapi cukup penting, INSTO DRY EYES. Ketika mengalami Gejala Mata Kering di tengah perjalanan atau saat begadang menyelesaikan tulisan, saya membawanya sebagai bagian dari perlengkapan pribadi dan memakainya sesuai kebutuhan serta petunjuk pada kemasan. Kalau mata mulai terasa kurang nyaman setelah seharian menatap layar, saya tinggal Tetesin insto dry eyes sesuai petunjuk pada kemasan, lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa.

    Mata Kering Jangan Disepelein, karena kalau dipikir-pikir, kita sering fokus menjaga stamina tubuh untuk perjalanan panjang, tapi lupa kalau mata juga ikut bekerja keras sepanjang hari.

    Perjalanan Boleh Jauh, Mata Tetap Butuh Jeda


    Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Hatyai lalu berlanjut ke Penang ini akhirnya jadi jauh lebih berkesan dari yang saya bayangkan waktu pertama kali bertanya, "Kalau ke Hatyai gimana?" Dari rencana sederhana memilih Melaka atau Penang, berubah jadi perjalanan naik bus malam, mengantre tiket di Pudu Sentral, melewati dua kali perbatasan negara, mampir menikmati Thai tea dan pasar malam di Hatyai, sampai akhirnya kembali menyusuri jalan darat menuju Penang saat senja mulai turun.

    Dua hari di Hatyai memang terasa singkat, tapi cukup untuk mengobati rasa kangen yang sudah tersimpan sebelas tahun. Saya juga bertemu kembali dengan versi diri saya yang dulu, yang dengan gagah berani menempuh perjalanan seharian penuh demi mengejar destinasi baru. Dulu saya mengejar perjalanan. Sekarang saya belajar menikmati perjalanan. Bukan lagi soal berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi, tapi soal seberapa nyaman saya menjalani tiap langkahnya.

    Tapi ada satu hal yang tetap sama sejak dulu sampai sekarang, mata ikut menjalani seluruh perjalanan itu bersama saya. Mata ikut berangkat dari Kuala Lumpur. Mata ikut menyeberangi perbatasan menuju Hatyai. Mata ikut menikmati pasar malam dan Thai tea. Mata ikut memandangi sawah Thailand dari kaca minivan, lalu ikut menyaksikan senja di atas jembatan menuju Penang. Sebagai blogger dan content creator, mata saya bahkan bekerja dua kali lipat, bukan cuma menikmati pemandangan tapi juga membaca papan informasi, mengecek smartphone, membuka peta, mengambil foto dan video, sampai menatap layar laptop untuk menuliskan semua cerita ini.

    Karena itu, sejak perjalanan Hatyai ini saya jadi lebih sadar untuk menjaga kenyamanan mata di sela-sela aktivitas harian yang padat. Saya tidak ingin lagi menunggu sampai mata terasa sepet, perih, dan lelah baru mulai memperhatikannya. INSTO DRY EYES sekarang jadi bagian kecil dari perlengkapan perjalanan saya, sesuatu yang mudah dibawa dan dipakai sesuai kebutuhan serta petunjuk pada kemasan, terutama setelah seharian penuh naik bus, melewati perbatasan, dan sibuk mengurus konten untuk blog maupun media sosial.

    Sejauh apa pun kita pergi, sebanyak apa pun cerita yang ingin kita tulis, tubuh tetap membutuhkan jeda. Termasuk mata. Dan mungkin, perjalanan terbaik bukan ketika kita berhasil melihat sebanyak mungkin tempat, tetapi ketika kita masih bisa menikmati setiap pemandangan dengan mata yang tetap nyaman sampai akhir perjalanan.

    "Selamat datang kembali di Penang," ucap saya dalam hati begitu Pulau Mutiara Timur itu akhirnya terlihat dari kejauhan. Bukan cuma sebagai Salman yang kembali setelah sebelas tahun, tapi juga sebagai seseorang yang akhirnya belajar bahwa menjaga kenyamanan diri sendiri, termasuk sekadar Mata Kering Jangan Disepelein, sama pentingnya dengan mengejar cerita perjalanan itu sendiri.

    #InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein




    Continue Reading
    Older
    Stories
    Logo Komunitas BRT Network
    Seedbacklink
    Intellifluence Herd Worth Value: $165

    Search

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • youtube
    • instagram

    New Post

    Postingan Populer

    • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya Perawatan Tanpa Mengorbankan Kesehatannya
    • Kalau Bantuan Berhenti, Sudah Siapkah Berdiri Sendiri? Belajar dari Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026
    • Dari Kuala Lumpur ke Hatyai, Lalu Menemukan Penang Sekali Lagi
    • Menemukan Harta Karun di Belakang Seniman Pangan Cafe
    • INDONESIA DREAM FESTIVAL 2026, DOMPET DHUAFA WUJUDKAN IMPIAN ANAK INDONESIA
    • Yogyakarta (I) : Raminten, Prambanan & Ratu Boko
    • Tokyo Tower : Antara Aku, Ibu dan Terkadang Ayahku
    • Mudahnya Membuka Tabungan Online
    • 5 Cara Tampil Modis Dan Trendy
    • [Lomba Blog Pegi Pegi] Nias : Antara Lompat Batu, Surfing dan Tsunami

    Blog Archive

    • ▼  2026 (20)
      • ▼  September (3)
        • Menanam Harapan di Tengah Sampah, Perjuangan Swara...
        • Menjaga Mangrove dan Sumber Pangan, Inspirasi Keta...
        • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya P...
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2025 (32)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2024 (52)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (7)
      • ►  Oktober (8)
      • ►  September (4)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2023 (68)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (8)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (8)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (7)
      • ►  Maret (8)
      • ►  Februari (6)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2022 (75)
      • ►  Desember (14)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (12)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (4)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (12)
      • ►  Maret (6)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2021 (38)
      • ►  Desember (4)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (4)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (7)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2020 (25)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (53)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (4)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (7)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (3)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (8)
    • ►  2018 (83)
      • ►  Desember (9)
      • ►  November (8)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (8)
      • ►  Agustus (13)
      • ►  Juli (6)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (8)
      • ►  April (9)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2017 (36)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Agustus (6)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2016 (41)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (4)
      • ►  September (3)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (7)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2015 (63)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (11)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (6)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2014 (11)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2013 (5)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
    • ►  2010 (1)
      • ►  Desember (1)

    Blogger Friend

    • Small Things, Kecil Tapi Penting :)
    • Jurnal Evi Indrawanto
    • All of Putri (¬.¬)ƪ_(˘⌣˘'!)
    • BETOIJO
    • Catatan Anazkia
    • Jalan Pendaki
    • Ninik Setyarini
    • jinjinger
    • yosbeda
    • Dunia Kecil Indi
    • Indah Julianti
    • WHEN IT'S ONLY JG & AST
    • ..:: ntan™ | bunga dengan nama terbuka
    • desperate housewife
    • Herdis Suryatna | Pengalaman adalah guru yang terbaik
    • Albarnation
    • Melfeyadin
    • Blog Bukunya Kimi | Banyak-banyaklah Membaca. Biar Pintar.
    • Lucia Priandarini
    • Ca Ya
    • Chronosphere
    • Wuri Nugraeni | Reporter, Menulis, dan Wisata
    • irhapunya
    • Ratu de Blog
    • Linda Leenk - Little Part of My Life
    • Motherhood
    • Lianny Hendrawati
    • Saoscabe.com | Website Humor Indonesia
    • Melihat Dunia
    • Catatan Ruslan
    • Cokelat Gosong
    • Berbagi Cerita
    • Mira Sahid
    • Tulisanku
    • pemainkata | sekadar bilik kecil pecinta kata
    • DISGiOVERY
    • Blog - Lucedale.
    • Gulanya Gulali
    • Redcarra
    • Ahmad Rafiq Chaniago
    • hidayah-art.blogspot.co
    • suarane.org
    • zubaid.ID
    • Macangadungan
    • Write Your Diary
    • Blognya bisot
    • Aulia Fasya
    • Ruang Emak
    • HM Zwan
    • Narzis Blog
    • Life begins at 30...
    • Rianda Prayoga Blog
    • Cerita EKA
    • Tukangecuprus
    • Arian's Blog
    • HELLO!
    • Bangsari
    • tindak tanduk arsitek
    • Resep Kuliner Indonesia dan Dunia
    • udafanz[dot]com
    • Donna Imelda
    • Tukang Ngukur Jalan
    • Benablog - Cerita Si Benakribo
    • sketsa hati
    • #FDCG
    • Natureve Shop
    • SimBale - Download Software Gratis
    • Kimi's Cool Blog
    • Nicegreen
    • Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik » Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik
    • Jogja Ready
    • Kaleng Harapan » Kamera Lubang Jarum
    • fanabis
    • backpackstory
    • - Connect and Share Blogging Tips in Two Languages
    • ge[n][d]ud BlogPacker
    • Akhmad Muhaimin Azzet | mari bersama menggapai ridha-Nya
    • Jendela Keluarga
    • Febry Hadinata WordPress
    • Jefferson's Stage.
    • Wira Nurmansyah
    • Keluarga Haripahargio
    • Cinta Teknologi
    • My Daily Notes
    • Arsitektur Dunia | Gallery Arsitektur Dunia
    • Una Vida Escrita de la Una
    • The Dusty Sneakers
    • Mampir yuk, kerumahku
    • A HOUSEWIFE'S DAY OUT
    • Pemimpi Hujan
    • AGIASAZIYA
    • Angga Ong
    • Kehidupan Di Jepang
    • YOGA AS YOGGAAS
    • Dian Kelana
    • my story
    • fitrian.net
    • Putrinyanormal
    • Jejak BOcahiLANG
    • Petrus Andre Blog
    • SECAWANKOPISENJA
    • The TraveLearn
    • Blog Adi Nugraha
    • Pipit Widya
    • yandi punya cerita
    • Nova Wijaya
    • Taqorrub.com
    • .: adie DOES :.
    • Garis Horizon
    • Langkah Baruku
    • A Border that Breaks
    • Rumah Mayaku
    • Galaksi Pungky
    • Netnesia
    • lalank pattrya dan hal random lainnya.
    • Menuliskan Sebelum Terlupakan
    • aksara senandika | Sedikit noktah kehidupan
    • Jejaring Miss Fenny
    • SALAMINZAGHI
    • Travel Diary
    • Fardelyn Hacky
    • Gembul Kecil Penuh Debu
    • Dunia Senja
    • Sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane
    • pegipegi.com: Pesan Hotel & Tiket Pesawat Termurah Online
    • BLOGFAM – When Sharing Meets Caring
    • Widaku.com
    • Dija Princess
    • TGIF! Magazine
    • BlogCamp
    • when journalist becomes backpacker
    • Shintaries
    • Ika Koentjoro
    • Makhluk Kecil
    • .:: Nhie ::. | Just another WordPress.com weblog
    • Sisi Hidupku
    • Anisa AE
    • BlogS of Hariyanto
    • My Purple World
    • punyapista
    • every mom has a story
    • mata buku indri
    • Blog Anak Nelayan
    • Perjalanan Tak Berujung
    • The Shymphony Of EKA
    • Bibi Titi Teliti
    • Controversy
    • My Life My Style
    • Catatan Perjalananku
    • Ayu Saritem Blog
    • Beautify Me
    • Dunia Iwok
    • Catatan Kartina
    • eithea
    • Stay Hungry. Stay Foolish
    • Aksaraku
    • Jurnal Mira Sahid | Emak Blogger
    • Beby's Diary
    • a Dreamer - Travelographer - Food Adventurer - Travel Blogger
    Perlihatkan 5 Perlihatkan Semua

    Labels

    Asuransi Backpacker Bank Budaya Fashion Film Movie Review Wisata otomotif
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top