Alam Untuk Air

  • 4/02/2018 09:18:00 PM
  • By Salman Faris
  • 0 Comments

Tahukah bahwa krisis air akan terjadi jika alam yang kita tinggali sudah tidak mampu lagi memproduksi air bersih dalam jumlah yang banyak? Tahukah bahwa sebetulnya air siap minum hanya sebesar 1 persen dari jumlah air di Bumi? Tahukah bahwa sebetulnya kita pun dapat mandiri tanpa PDAM atau perusahaan penyuplai air? Seluruh pertanyaan ini sebetulnya harus dijawab oleh kita semuanya, bukan hanya beberapa pihak saja.Kalau saya ditanya dengan pertanyaan yang sama, tentu saja saya akan tergagap menjawabnya. Bahkan jika ditanyakan orang lain, baik yang memiliki ilmu ataupun kurang memiliki ilmu. 

Perjalanan menuju ke Sukabumi ditempuh sekitar 2,5 jam. Sesuai dengan jadwal yang direncanakan, karena banyak sekali agenda termasuk mengunjungi beberapa contoh yang dilakukan oleh AQUA-Danone di sekitar pabrik di Sukabumi.


Tadinya saya tidak mengetahui secara jelas apa yang akan kami lakukan dalam rangka hari air sedunia tanggal 22 Maret ini, namun dengan penjelasan yang dilakukan oleh Pak Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia, saya cukup mengerti. Beliau menjelaskan tema yang akan diangkat dan pelaksanaannya di sekitar pabrik AQUA - Danone.

Sedangkan Pak Karyanto mengedepankan pengetahuan tentang analisis air dan tanah serta strategi perencanaan konservasi air yang efektif bagi masyarakat dan perusahaan. Selain itu, pemahaman bahwa air yang dikonsumsi manusia hanyalah berjumlah 1 persen dari total air di bumi ini juga menyadarkan kita bahwa sebaiknya mulai sekarang hematlah dalam menggunakan air. Bukan dari kesadaran orang lain terlebih dahulu kemudian memberitahu kita, namun kesadaran diri sendiri betapa berharganya air dan berusaha menghemat air.

Hari air sedunia itu mengingatkan kita untuk senantiasa mencari solusi atas masalah kelangkaan air dan kebutuhan air bersih. Alam yang baik akan menghasilkan kebaikan untuk kita terutama air. Percaya atau tidak, alam untuk air bukanlah slogan semata, namun sangat dalam dan mampu menjawab tantangan ketersediaan dan pelestarian air di masa mendatang.

Pak Karyanto menyebutkan setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh kita semuanya untuk konservasi atau pelestarian air. Danone-AQUA menjadikan Sukabumi sebagai percontohan konservasi air untuk daerah lain. Hal tersebut adalah :


1.  Penanaman 580.000 pohon yang tersebar di delapan desa di Sukabumi.
2.  Pembuatan kolam resapan air (Water Pond) dimana limpasan air dari kolam tersebut dimasukan ke dalam tanah melalui lubang resapan yang ada di sekitar area kolam.
3. Pembangunan Pemanen Air Hujan (PAH) dengan memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan pemenuhan air bersih di mushola, madrasah, sekolah, atau rumah warga yang tersebar di Desa Pesawahan, Desa Tenjolaya dan Desa Cisaat.
4.  Pembuatan DAM Resapan Air yang berguna untuk menjaga memasukan air ke dalam tanah.
5.  Pembuatan 40 buah sumur resapan dengan kapasitas resapan sebesar 2.200 m3 untuk setiap sumur resapan yang tersebar di tiga desa yaitu Desa Pesawahan, Desa Tenjolaya dan Desa Cisaat. Tujuan dari sumur resapan ini agar dapat bermanfaat untuk mengimbuh sumur masyarakat dan mengurangi genangan atau banjir serta membantu menyuburkan tanah.


 
Sebagai individu, saya sangat salut dengan upaya Danone - AQUA dan masyarakat Sukabumi yang mampu memberikan inspirasi kepada kita semuanya bahwa dengan hal-hal sederhana yang dilakukan seperti membuat sumur resapan, lubang biopori, water pond dan lainnya membantu kita melestarikan air. Bahkan air hujan yang di tampung tersebut dapat digunakan oleh satu keluarga selama setahun bahkan lebih sehingga kita tidak akan tergantung kepada PDAM atau penyedia air.

So, selanjutnya tugas kita sendirilah yang harus melestarikan air dengan cara sederhana. Apakah sumur resapan atau water pond dapat diterapkan di rumah padat penduduk? Jawabannya adalah bisa, bahkan lubang yang dibutuhkan tidak lebih dari 1-2 meter dengan kedalaman 2 meter. Kalau belum mampu membuat sumur resapan, apa yang dilakukan? Setidaknya kita berusaha menghemat air yang ada di rumah dengan cara kita sendiri.



Kalau bukan kita maka siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi? Sudah saatnya sadar melestarikan dan menjaga sumber air yang ada di alam dengan cara kita sendiri. Demikian oleh-oleh dari Sukabumi yang bisa saya bagikan. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.
  


  • Share

Fun For Fam : Lingkungan Ramah Anak Di RT 13 Curug Kota Bogor

  • 6/05/2017 02:30:00 PM
  • By Salman Faris
  • 0 Comments

Anak-anak yang polos dan ceria menambah semaraknya lingkungan rumah kita. Bayangkan bila anak-anak kemudian murung dan tak ceria seperti biasanya? What happen with them? Kita akan bertanya seperti itu. pasti ada sebab mengapa anak-anak kelihatan murung dan cenderung pendiam. Tugas orang tua akan lebih berat dalam menjalankan tugasnya untuk membuat anak-anak kembal ceria dan bermain.

Salah satu cara membuat anak-anak bermain adalah dengan memberikan ruang untuk bermain dan mengekspresikan diri. Lingkungan tumbuh kembang anak pun perlu diperhatikan, apalagi zaman sekarang yang penuh dengan dinamika dengan arus globalisasi yang bukan tidak mungkin mempengaruhi perkembangan anak. 


Baru -baru ini, Desa Curug, Kota Bogor mengadakan sebuah program yang seru bertajuk "Fun For Fam : Lingkungan Ramah Anak". 




  • Share

Blogger Bicara Lingkungan : Mulai Dari Diri Sendiri

  • 3/16/2014 09:00:00 PM
  • By Salman Faris
  • 7 Comments
Sebetulnya merasa bosan banget ngomongin masalah lingkungan. Kenapa bosan? Karena memang banyak hal yang membuatnya begitu rumit, susah dilaksanakan, dan sulit diterapkan di Indonesia tercinta ini.

Ngomongin masalah lingkungan pasti kaitannya erat dengan penanganan sampah, konservasi hutan, penanganan satwa karena pembakaran hutan dan lain-lain. so, kayaknya bakalan jadi topik yang lumayan berat kan ?

Kebetulan banget Blogdetik bekerjasama dengan WWF Indonesia mengadakan acara yang bertajuk "Blogger Bicara Lingkungan" menghadirkan beberapa Artis yang sangat peduli dengan lingkungan yaitu Nugie, Melanie Subono, Davina, dan Anda Wardhana (Dulu pernah punya band namanya apa gitu).

Suasana Pembukaan Blogger Bicara Lingkungan 
Tampil sebagai MC adalah Karel (MC BlogDetik) dan rekannya. Karel banyak membicarakan masalah Asap yang terjadi di Riau dan sebagain Sumatera dan ingin mengetuk pintu nurani dan keprihatinan kita bersama atas masalah Asap dan pembakaran hutan liar di Sumatera.

Uniknya, Blogger dan undangan yang hadir diminta oleh MC untuk ikut peduli dan empati dengan mengenakan Masker sebagai wujud kepedulian terhadap Asap yang melanda Riau dan sekitarnya.

Nhie & Mba Mamie
Herdis

Mba Dahlia : Saya Ninja hahaha


Sebetulnya, pembagian masker ini hanya merupakan sebuah keprihatinan bersama, namun ketika sebuah keprihantinan diwujudkan dengan sebuah gerakan yang dimulai dari seorang maka akan menularkan pula ke seseorang lain, hingga akan menjadi sebuah gerakan yang membuahkan hasill yang nyata dan serta berdampak bagi orang lain. Beberapa waktu lalu, hastag #MelawanAsap sempat ramai ditwitter, saya sebetulnya tidak tahu apa itu, namun ketika MC mengungkaplan bahwa hastag itu adalah sebuah ungkapan dari penguna sosial media untuk mencurahkan keprihatinannya atas kejadian yang melanda Riau saat itu.



Sebuah Video di Tampilkan di awal topik bahasan. Sebuah simple video, namun memliki makna yang luar biasa. Kalau saya bilang, Gambar akan dapat bercerita lebih banyak daripada hanya dengan kata-kata. Yuk kita simak Video berikut ini, dan saya tak perlu panjang lebar untuk mengungkapkan isi dari Video itu sendiri. Video has own meaning lah (sok Inggris yah hahaha).




Setelah selesai dengan klip yang membuka mata kita akan pentingnya lingkungan disekitar kita, maka acara itu berlanjut dengan ngobrol bareng Davina, Nugie, Melanie Subono, dan Anda Wardhana.


Nugie, Artis peduli akan lingkungan berkat lagu-lagunya yang bernuansa kritik terhadap lingkungan, mengungkapkan bahwa hal yng terpenting yang saat ini ia lakukan adalah konsisten dengan apa yang sudah ia lakukan dari awal pada saat isu lingkungan masih anyar sampai saat ini. Nugie menjelaskan bahwa konsisten memang membutuhkan sebuah proses dan ia contohkan dengan bersepeda kemanapun lokasi yang bias ia jangkau dengan bersepeda.


Menarik, dan beberapa blogger juga menanggapi dengan positif, salah satu contohnya adalah Blogger Bandung yang konsisten menanamkan cinta lingkungan kepada anak dan keluarganya. Sementara itu, blogger perempuan pun ikut ngobrol membeberkan masalah sampah yang cukup menghantuinya, betapa seberapapun keras ia memisahkan sampah dari tempatnya, tapi akan berujung pada si pengangkut sampah yang kembali mencampuradukan sampah itu dan berujung pada TPA yang bercampur menjadi satu. sebuah malapetaka yang susah untuk dihindarkan.


Davina, lebih menyoroti kekayaan alam, dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia cukup lengkap, Davina berujar bahwa Indonesia punya semuanya, apapun ada disini. So, apa yang ditunggu, kita harus jaga kelestariannya.


Melanie Subono, aktivis dan pengerak isu lingkungan, merujuk pada filosof yang sederhana namun mengena, apapun yang kamu lakukan, itu dimulai dari diri kita sendiri. Kitalah yang menjadikan sebuah usaha itu berhasil, dan menjadikan usaha itu sebagai contoh buat orang lain.


Lain lagi Anda Wardhana, yang mengungkapkan bahwa sekelumit permasalahan lingkungan itu menjadi sesuatu yang harus kita jaga bersama-sama. Apapun usaha untuk menjaga lingkungan itu ia apresiasi tinggi-tinggi. Bahkan beberapa lagunya kini berkaitan erat dengan isu lingkungan dan beberapa isu lain yang terkait.


So, apapun yang anda lakukan untuk negeri ini, mulailah dari diri sendiri, berikan contoh dan teladan, maka dengan sendirinya, orang lain akan menirukan yang telah kita lakukan dengan konsisten.
  • Share