salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
    • Home
    • About Me
    • Contact Me
    • Tekno
    • Film
    • Travel
    • Food

     

    Sebuah mobil melintas di jalan Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur. Di pinggir jalan, seorang ibu mengais botol plastik dan kardus dari tumpukan sampah, lalu memasukkannya ke dalam gerobak kayu yang sudah tampak usang. Anak laki-laki yang ikut bersamanya duduk di atas gerobak sambil memperhatikan botol-botol yang dikumpulkan ibunya.

    Pemandangan seperti ini dulu menjadi bagian dari keseharian warga Kampung Sumur. Memulung menjadi salah satu cara keluarga mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di balik aktivitas tersebut, ternyata ada persoalan lain terkait pendidikan dan pengasuhan anak.

    “Dahulu masalahnya sangat kompleks, bahkan hampir 90 persen permasalahannya adalah penelantaran dan salah pengasuhan anak. Bahkan saat memulung, anak-anak sengaja dibawa untuk mengharapkan belas kasihan,” Ujar Pak Endang  saat di temui di Sekretariat Swara Hijau Farm, Klender, Jakarta Timur. 

    Semua berawal di tahun 2015, Yayasan Swara Peduli mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam program pendampingan bagi para pemulung dari Kementerian Sosial di kawasan Pemulung di Jakarta Timur. 

    Bapak Endang Mintarja menceritakan prosesnya dimulai dengan melakukan asesmen terhadap para pemulung dan keluarga mereka yang berdomisili Kampung Sumur, Jakarta Timur. Kemudian, Yayasan Swara Peduli menyewa sebuah tempat yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti Weekend ceria, setiap Sabtu dan Minggu. Awalnya, kegiatan tersebut banyak diisi dengan aktivitas untuk anak-anak, menghadirkan ruang belajar dan bermain di tengah keseharian mereka.

    “Saat relawan datang untuk mengajar anak-anak, kondisi jalanan masih berupa tanah. Dan, saat hujan akhirnya berubah menjadi kubangan lumpur,” Cerita Pak Endang mengenang saat awal-awal perjuangan. 

    Tak hanya pendidikan, kondisi jalanan pun sangat memprihatinkan. Saat hujan turun, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur bercampur dengan sampah-sampah. Tak hanya itu, instalasi listrik dan internet pun masih belum menyentuh Kampung Sumur.

    “Program ini untuk memutus mata rantai masalah pendidikan di Kampung Pemulung. Kini 90 persen anak-anak sudah bersekolah, bahkan 10 anak pun mendapatkan beasiswa biaya pendidikan,” Ungkap Pak Endang bangga. 

    Kampung Pemulung kini tak lagi sama, setelah anak-anak yang dulu berada di gerobak-gerobak sampah itu telah mengenakan seragam sekolah serta menenteng tas dan buku. Kini hanya tinggal 10 persen anak-anak yang belum mengenyam bangku pendidikan. Bahkan 10 anak diantaranya kini mendapatkan beasiswa pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan sekolah dan pembayaran SPP bagi anak di sekolah swasta. 

    Setelah kegiatan pendidikan berdampak pada anak-anak, kemudian donasi berdatangan dan kemudian didirikan sekretariat. Tak lama kemudian, lahan pun bertambah dan kemudian dimanfaatkan sebagai kandang ayam, budidaya maggot dan kebun sayur hidroponik serta kolam ikan. 

    Dari Gagal Panen hingga Menjadi Percontohan Urban Farming

    Inisiasi dimulai dengan pelatihan budidaya tanaman dan ikan dalam ember. Instalasi dengan media ember tersebut terdiri dari tanaman kangkung di atas dan kemudian di bawahnya terdapat ikan lele. Sekitar 50 instalasi ember untuk dibudidayakan di rumah masing-masing, namun kenyataanya hanya 50% yang berhasil. Dan, kemudian mulai saat itu, instalasi tersebut dipusatkan di sekretariat Yayasan Swara Peduli, dan saat itulah cikal bakal Swara Hijau Farm didirikan. 

    “Setelah mendapatkan over lahan di belakang sekretariat, kemudian dikembangkan lagi menjadi kandang ayam, maggot, kebun hidroponik, dan kolam ikan,” Pak Endang membeberkan bagaimana Swara Hijau Farm bermula. 

    Pada awalnya, warga Kampung Pemulung sempat bingung dengan metode pertanian ini. Biasanya dari hasil memulung, warga bisa mendapatkan upah harian sehingga bisa menyambung hidup. 

    Sedangkan budidaya tanaman dan ikan membutuhkan waktu mulai dari menanam, menyiram, merawat baru kemudian panen sehingga membutuhkan waktu beberapa minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa menikmati hasil jerih payahnya. Namun, berjalannya waktu warga mengerti bahwa dibutuhkan waktu untuk membudidayakan sehingga tercipta kesabaran dalam menghasilkan pundi-pundi ekonomi.

    Di tengah pandemi Covid-19 pada 2020, Pak Endang memberanikan diri mencoba menanam melon. Pengetahuannya saat itu masih terbatas. Ia pun belajar secara otodidak, mulai dari menonton video di YouTube hingga membaca berbagai laman tentang pertanian organik dan perikanan.

    Tidak semuanya berjalan mulus. Namun, dari mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, perlahan Pak Endang mulai memahami bagaimana merawat tanaman melon hingga akhirnya menemukan cara yang tepat untuk menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik.

    Swara Hijau Farm kemudian mendirikan greenhouse untuk penanaman melon pada tahun 2021. Sebelum akhirnya, mendapatkan bantuan dari BUMN untuk lahan green house seluas 132 meter pada tahun 2022, sebagai lahan untuk menanam melon dengan metode hidroponik. Melon dipilih dengan berbagai pertimbangan, salah satunya masa tanam dan panen tidak terlalu lama sekitar 2-3 bulan tergantung dari cuaca. 

    "Banyak perjalanannya dan banyak pula kegagalannya. Mulai dari melon rasa timun, rasanya hambar. Dan, kemudian akhirnya mulai meracik nutrisi sehingga melonnya pun kini mencapai brix 15-16 dengan tingkat kemanisan cukup tinggi," Pak Endang mengungkapkan perjalanan dari kegagalan berbuah manis. 

    Perjalanan Swara Hijau Farm tidak berhenti pada keberhasilan membudidayakan melon. Kini, kebun ini telah berkembang menjadi model percontohan dan memiliki sejumlah mitra, salah satunya Sentra Mulia Jaya di Pasar Rebo yang mengembangkan melon, sayuran hidroponik, dan budidaya ikan.

    Dari Memulung hingga Menanam Harapan di Swara Hijau Farm

    Lisna Marida, seorang pengurus kelompok tani Swara Hijau Farm mengantarkan kami ke sebuah greenhouse. Lokasinya tak jauh dari sekretariat, hanya berjalan beberapa puluh meter saja. 

    “Warga di kampung pemulung ini sangat beragam, ada dari Jawa, Sunda, Bugis,” ujar Lisna sambil berjalan menuju greenhouse. 

    Greenhouse berukuran 40-50 meter itu berdiri di tengah kampung pemulung. Tak hanya greenhouse, di lahan berukuran sekitar 132 meter itu digunakan sebagai bank sampah. Bank sampah digunakan untuk menampung sampah-sampah dari warga.

    “Sampah-sampah itu di tabung di bank sampah. Warga memang sengaja menabung sampah agar pada saat hari besar bisa ditarik,” ucap Lisna menunjukan botol-botol air mineral yang menumpuk di bank sampah. 

    Walaupun masih memulung, sebagian warga sengaja menabung sampah di Bank Sampah Swara Cipta Mandiri sebagai bagian komitmen menabung. Warga biasanya mengumpulkan sampah-sampah kemudian menabungnya di bank sampah. Setelah beberapa bulan, warga bisa mencairkan dana segar untuk kebutuhan tertentu seperti Lebaran atau hari besar lainnya. 

    “Melon itu seperti manusia, jadi sambil memetik daun dan mengawinkan biasanya diajak berbicara,” gurau Lisna sambil menunjukan tanaman melon di greenhouse.

    Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian batik menuju ke greenhouse. “Nah ini dia yang merawat melon di greenhouse ini,” Lisna menyambut seorang warga yang bertugas di greenhouse tersebut.

    "Kalau memulung itu 3 kali pekerjaan jadi bisa seharian. Kalau di Swara Hijau Farm pekerjaannya hanya pagi dan sore saja, sehingga banyak waktu luang untuk beristirahat," ucap Ibu Wasriyah menceritakan kehidupannya sebelum bergabung dengan Swara Hijau Farm. 

    Selama sekitar 20 tahun tinggal di Kampung Pemulung, Wasriyah terbiasa menghabiskan hari dengan memulung. Pekerjaan itu membuat waktunya hampir seluruhnya tersita, karena harus dilakukan beberapa kali dalam sehari untuk mendapatkan penghasilan yang cukup.

    Perubahan mulai dirasakan ketika ia bergabung dengan kelompok tani Swara Hijau Farm sekaligus menjadi anggota bank sampah. Sejak masa pandemi Covid-19, Wasriyah mulai belajar berbagai kegiatan dari budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.

    “Saya senang bisa bergabung, saya bisa bertemu dengan teman-teman. Dan, kemudian akhirnya saya berhenti mulung,” tutur Wasriyah.

    Kini, rutinitasnya pun berubah. Jika memulung bisa membuatnya bekerja hingga seharian, aktivitas di Swara Hijau Farm cukup dilakukan pada pagi dan sore hari. Ada waktu yang lebih banyak untuk beristirahat sekaligus melakukan aktivitas lainnya.

    Bagi Wasriyah, bergabung dengan Swara Hijau Farm bukan sekadar berpindah pekerjaan. Ia menemukan lingkungan baru, belajar keterampilan baru, dan perlahan menemukan cara berbeda untuk menjalani kehidupan di kampung yang selama ini menjadi rumahnya.

    Tak hanya Wasriyah, namun sekitar 35 orang dari  400 Kepala Keluarga di RT 4 dan RT 7, Kampung Sumur, telah bergabung bersama Swara Hijau Farm. Warga dibagi dalam beberapa kelompok dan secara bergantian melakukan pengelolaan budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.  

    “Memang tidak semua warga bergabung di Swara Hijau Farm, hanya sekitar 35 orang dan itu pun dilakukan seleksi sebelumnya,” cerita Pak Endang.

    Warga kelompok tani pun secara bergantian mengelola, bahkan untuk menunjang performanya dilakukan absensi. Kelompok tani paling rajin pun akan mendapatkan penghasilan lebih banyak berdasarkan kehadiran dan hasil panen yang didapat. 

    Ketika Bertani Mulai Naik Kelas Bersama Yayasan Astra - YDBA

    "Pernah dibalikin 20 kg karena layu sayurnya, tidak sesuai dengan spek. Dan, kemudian dikembalikan setelah 3 hari. Akhirnya dibagikan ke warga sekitar," kenang Pak Endang pada saat salah dalam pengelolaan sayuran.

    Semenjaka tahun 2023, Suara Hijau Farm telah menjalin kemitraan dengan United Tractors sebagai bagian dari Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra. Dukungan yang diberikan meliputi pengembangan kapasitas untuk memperluas UKM hidroponik, keuangan digital, penerapan 5R, serta metode business model canvas.

    "Selama ini kita terpaku dengan produknya, dan pada terjadi kesulitan saat produk tidak sesuai dengan spek karena suplier sangat selektif sekali. Pada saat itu, kami hanya  terfokus produk jadi banyak sekali kerugian. Kemudian, di scale-up untuk diversifikasi serta memperluas bisnis dengan berbagai jenis bisnis," Pak Endang menjelaskan permasalahan bisnisnya. 

    Berkaca dengan permasalahan bisnis tersebut, Swara Hijau Farm kemudian perlahan-lahan mulai membenahi pengembangan kapasitas bisnis hingga manajemen dengan bimbingan Yayasan Astra - YDBA. Mulai dari penerapan pengelolaan keuangan secara digital, penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin), hingga penerapan metode  business model canvas sehingga bisnis bisa dijelaskan dalam 1 lembar kerangka. 

    “Resiko sayuran dikembalikan itu berkurang signifikan sekitar 30-40 persen dari sebelumnya,” jelas Pak Endang Mintardja setelah melakukan berbagai perbaikan manajemen. 

    Kini Swara Hijau Farm mampu menghasilkan omzet sekitar 4-5 juta per bulan dari berbagai macam produk dengan siklus penghasilan berbeda. Telur ayam misalnya, bisa memberikan pemasukan harian. Sayuran hidroponik menghasilkan pendapatan bulanan, sementara maggot dapat dipanen dan dijual setiap minggu. Untuk melon dan ikan, masa panennya sekitar tiga bulan. 

    Masing-masing punya peran, Maggot, misalnya, dijual sekitar Rp5.000 per kilogram. Namun, setelah memperhitungkan biaya pakan dan kebutuhan lainnya, nilai jualnya belum terlalu besar. Karena itu, maggot tidak hanya dijual begitu saja, tetapi diolah menjadi pelet agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

    Begitu juga dengan budidaya ikan, Swara Hijau Farm memiliki delapan kolam dengan kapasitas sekitar 2.000 ekor ikan. Dalam satu periode, hasil panennya bisa mencapai sekitar 2 kuintal atau 200 kilogram, menyesuaikan permintaan.

    Ke depan, pengembangan tidak berhenti pada penjualan ikan segar. Salah satu yang sedang didorong adalah produk olahan seperti ikan marinasi. Produk ini dinilai memiliki peluang perputaran modal yang lebih baik karena bisa dijual dalam bentuk yang memiliki nilai tambah.

    Rencananya, tambahan modal akan digunakan untuk menyediakan freezer sebagai tempat penyimpanan ikan marinasi sekaligus mendukung distribusi. Para ibu juga akan dilibatkan dalam penjualan secara berkeliling, dengan target sekitar 10 kilogram per orang.

    Dengan modal sekitar Rp30.000-Rp35.000 per kilogram, produk tersebut ditargetkan memberikan margin sekitar Rp10.000-Rp15.000 per kilogram. Bagi Swara Hijau Farm, pola seperti inilah yang ingin terus dikembangkan bukan hanya menghasilkan produk, tetapi mengolahnya agar nilai ekonominya bertambah dan perputaran usaha bisa terus berjalan.

    “Kita bisa bermanfaat bagi orang lain itu membuat saya bahagia. Bisa melibatkan warga pemulung disini, bisa beraktivitas dan menghasilkan penghasilan tambahan, itu yang membuat saya bahagia,” kata Pak Endang berkaca-kaca. 

    Bagi warga Kampung Sumur, Swara Hijau Farm bukan sekadar tempat menanam melon, sayuran, memelihara ikan, atau mengolah maggot. Di tempat ini, warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari memulung mendapatkan ruang untuk belajar, beraktivitas, dan memperoleh penghasilan tambahan. Ke depan, Swara Hijau Farm bersama United Tractors dan Yayasan Astra - YDBA juga diarahkan untuk berkembang menjadi ruang edukasi urban farming yang dapat dikunjungi pelajar, guru, mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum. 

    Dari Pendampingan, UMKM Tumbuh dan Berdaya

    Bagi Bapak William Soeryadjaya, membangun perusahaan tidak berhenti pada bagaimana sebuah bisnis tumbuh dan menghasilkan keuntungan. Ada cita-cita yang lebih besar, yaitu menjadikan Astra seperti pohon rindang yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pohon yang akarnya kuat, tumbuh semakin besar, menghasilkan buah, sekaligus menyediakan tempat bagi orang lain untuk berteduh dan berkembang.

    Gagasan tentang kebermanfaatan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Astra melalui empat pilar, yaitu Astra Hijau, Astra Sehat, Astra Cerdas, dan Astra Kreatif. Di dalam Astra Kreatif, perhatian diarahkan pada bagaimana potensi yang ada di masyarakat dapat dikembangkan menjadi peluang yang memberikan nilai ekonomi.


    Semangat itulah yang salah satunya dijalankan melalui Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Ketua Yayasan Astra - YDBA, Rahmat Samulo, menjelaskan bahwa YDBA menjalankan pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan untuk membantu UMKM tumbuh dan naik kelas secara berkelanjutan. Pendekatan ini membuat pembinaan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga membekali UMKM dengan kemampuan mengelola dan mengembangkan usaha. Berbagai tantangan yang muncul pun dihadapi melalui kolaborasi bersama berbagai pihak. 

    Hingga 2025, terdapat sebanyak 2.030 UMKM yang mengikuti program pembinaan Yayasan Astra - YDBA dengan penyerapan sebesar 4.674 tenaga kerja . UMKM binaan itu tersebar di seluruh wilayah di Tanah Air, menandakan luasnya jangkauan serta dampak nyata yang dihasilkan.

    Bagi warga Kampung Sumur, pembinaan tersebut membantu mereka belajar menghadapi persoalan usaha, mulai dari menjaga kualitas produk hingga mencari peluang pasar baru. Dari budidaya sayuran, melon, ikan, telur, pengolahan maggot, hingga rencana produk ikan marinasi, Swara Hijau Farm terus mengembangkan sumber pendapatan yang melibatkan warga. 

    Inilah semangat “berikan kail, bukan ikan” yaitu membekali masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mengelola usaha agar dapat terus menghasilkan dan berkembang secara mandiri diatas kaki sendiri. 


    Continue Reading

     

    Namaku Sphyrna, aku terlahir di perairan laut Jawa, di antara ratusan saudara kecil yang berenang membentuk gerombolan. Tak seperti temanku, mata dan lubang hidungku berada di ujung kepala. Kepalaku lonjong seperti martil, walau bentuk kepalaku unik tapi akulah penjaga keseimbangan di lautan lepas. Namun mirisnya, aku jugalah yang paling diburu. 


    Saat tubuhku belum genap satu meter, ketika hidupku belum dimulai, jaring besar itu menutup langit biru di atas permukaan air. Aku ditarik ke dek kapal bersama puluhan saudara dan teman-teman, semuanya belum dewasa. Aku belum sempat tumbuh, belum sempat mengembalikan satupun kehidupan ke laut yang melahirkanku. 


    Aku dilindungi, setidaknya dalam aturan manusia. Namun di pelabuhan, tubuhku dipotong tanpa ragu, siripku ditimbang dengan cepat. Tidak ada yang bertanya apakah aku martil harus dijaga, atau dilarang diperdagangkan. Tidak ada yang peduli, berempati apalagi mengembalikan aku ke lautan lepas. 


    Sampai suatu hari, seorang pemuda dari Banyuwangi bernama Oka Bayu Pratama, menyadari bahwa permasalahan utamanya bukan hanya penangkapan namun karena ketidaktahuan. Aku mati bukan karena kejahatan, namun karena manusia tidak bisa membedakan dari jenis ikan lainnya di lautan luas. 


    Saat Hiu diburu, Hati Oka Bayu Pratama Membeku  


    Angin laut membelai rambut pendek seorang pemuda di pelabuhan Banyuwangi. Ia membetulkan posisi kacamata, sambil terus mengamati perahu nelayan mendekati bibir dermaga. Tiap harinya, ratusan ton ikan berhasil ditangkap oleh nelayan hingga akhirnya dipasarkan pelelangan ikan di Pancer, Muncar, dan Grajagan, Kabupaten Banyuwangi. Ikan tuna, tenggiri, tongkol, kembung, kakap dan cakalang merupakan hasil tangkapan disamping ikan lemuru, sang primadona di perairan selat Bali. 


    “Banyak sekali overfishing yang terjadi di Indonesia, semua ikan yang nilai jualnya tinggi dan banyak pasarnya,” Jelas Oka Bayu dengan menggebu-gebu. 


    Lemuru, bak artis ternama sangat populer dikalangan ibu-ibu rumah tangga dan anak kos saat tanggal tua. Sardinella Lemuru telah menjadi komoditas unggulan Banyuwangi, tak dipungkiri dari tahun ke tahun permintaan semakin banyak karena menjadi konsumsi skala nasional. Permintaan banyak sehingga nelayan pun melakukan penangkapan secara besar-besaran sehingga terjadi overfishing. 


    Dalam 2024, Kabupaten Banyuwangi menyumbang 30.534 kg hasil tangkapan, sekitar 46,12 persen tangkapan ikan lemuru di Indonesia. Disamping itu, penangkapan ikan lemuru telah melampaui jumlah tangkap yang diperbolehkan secara ekonomi sehingga mengancam keberlanjutan populasi ikan apabila tidak dilakukan dengan hati-hati (Jurnal Akuatiklestari, 2025).


    “Karena overfishing lemuru, akibatnya harus mendatangkan ikan dari India karena lemuru membutuhkan waktu bereproduksi kembali,” Ucap Oka Bayu trenyuh. 



    Jaring-jaring kuat dan rapat ditarik oleh nelayan kemudian dimasukan ke dalam dek kapal. Pukat cincin, sebuah jaring menyerupai kantong besar melingkari dan mengurung gerombolan ikan. Kemudian, dengan satu tarikan saja di bagian bawah, baik ikan besar maupun kecil tidak bisa meloloskan diri. Mirisnya, bukan hanya ikan lemuru ataupun jenis ikan yang bisa dikonsumsi saja, namun ikan hiu pun turut terjaring. 


    Seorang nelayan mengangkut hasil tangkapan menuju tempat pelelangan ikan. Hasil tangkapannya melimpah terutama ikan lemuru. Hati Oka Bayu Pratama terpacu saat melihat ke arah lantai. Kumpulan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ternyata bukan ikan layak konsumsi, namun ikan hiu yang dilindungi.


    “Hiu-hiu sudah dipotong sehingga tinggal sirip bahkan tinggal kulitnya karena dicacah,” Ungkap Oka Bayu. 


    Hiu-hiu yang terjaring pukat, dipotong-potong bagian tubuhnya. Sirip dan bagian berharga dipisahkan untuk dijual. Sementara, potongan tubuh ikan sudah tak berbentuk sehingga tak bisa dikenali lagi sebagai hiu. 


    “Ternyata justru yang ditangkap itu hiu-hiu yang dilindungi dan dibatasi bahkan di kuota, namun di lapangan masih belum ada pengawasan yang ketat,” Tambah Oka Bayu berkaca-kaca. 


    Panggilan Hati, Oka Bayu Pratama Bergerak Meneliti

    Luasnya laut Indonesia, tersimpan kekayaan satwa laut terutama ikan dilindungi seperti hiu, penyu, pari dan duyung. Namun, mirisnya menurut TRAFFIC (Komite Pemantau Perdagangan Satwa Liar Internasional), Indonesia merupakan penangkap hiu terbesar di dunia, setiap tahunnya bisa menangkap 110.737 hiu dan menyumbang sekitar 16,8% dari total tangkapan hiu di dunia. Sebetulnya, ikan-ikan tersebut dilindungi oleh beberapa peraturan salah satunya Keputusan Menteri No. 66 tahun 2025. Ikan hiu yang dilindungi antara lain Hiu Paus, Hiu Berjalan, Hiu Martil, dan Hiu Koboi. 


    Fakta dilapangan berbeda 180 derajat dari peraturan yang dibuat. Selagi permintaan pasar masih banyak, sebanyak apapun peraturan yang disampaikan tak akan digubris. Bahkan petugas di lapangan pun tidak bisa mengidentifikasi ikan hiu karena faktor ketidaktahuan dan keterbatasan teknologi dalam identifikasi hiu dan jenis ikan lainnya. Hal inilah yang mengusik Oka Bayu Pratama.  


    “Sebagai orang perikanan yang bisa IT, saya ingin berkontribusi untuk permasalahan yang urgen untuk diselesaikan,” Oka Bayu memaparkan keinginan berkontribusi melalui identifikasi ikan hiu melalui  teknologi IT dan AI. 


    Semangat pemuda asal Desa Bayu, Banyuwangi menggebu. Berbekal latar belakang Akuakultur Universitas Airlangga, Oka Bayu pun melakukan survey dan studi terlebih dahulu. Bahkan biaya penelitian dan pengembangan aplikasi dibiayai dari hasil budidaya lele yang ia jalankan, baru kemudian ia mendapatkan dukungan dana penelitian dari organisasi non profit  bernama Indonesian Youth Elasmobranch Scholarship (IYES). Kebetulan IYES mendukung penelitian terkait hiu dan pari di Indonesia.   



    “Sebetulnya, ekspektasi saya ketika di pelabuhan besar di Jawa Timur itu tidak terjadi penangkapan hiu. Justru ketika saya disana, mirisnya hiu disana banyak ditangkap bahkan seharusnya dilindungi,” Ujar Oka Bayu mengungkapkan fakta dilapangan ketika mengunjungi pelabuhan di Lamongan, Jawa Timur. 


    Tak hanya itu, petugas pendata pun hanya melakukan tugas identifikasi ikan hanya beberapa kali dalam sebulan. Tidak ada metode khusus dalam mengidentifikasi, hanya dilakukan beberapa sampel sehingga tidak  efektif dalam mengenali hiu-hiu yang dilindungi. 


    Dalam perjalanan survey ke beberapa daerah seperti Banyuwangi, Lamongan dan Lombok Timur, Oka Bayu sebetulnya masih sangsi, apakah bisa memecahkan permasalahan yang terjadi di lapangan mulai dari proses identifikasi dengan kondisi pengambilan data, kondisi masyarakat dan berbagai macam kendala di lapangan. 


    SeeShark, Aplikasi AI Identifikasi Hiu Pertama di Dunia 


    Berkat usaha kerasnya kurang dari setahun, SeeShark lahir sebagai salah satu aplikasi AI untuk mengidentifikasi spesies hiu secara akurat. Saat ini SeeShark memiliki database lebih dari 9.600 gambar hiu dari 10 jenis spesies hiu yang dilindungi dan paling rentan dieksploitasi dengan tingkat akurasi 95,3 persen sehingga sangat membantu petugas di pelabuhan dalam proses pengidentifikasi hiu-hiu tersebut.  


    “SeeShark itu pertama di dunia. Identifikasi hiu melalui potongan tubuh dan kulit dengan AI, tidak ada yang pernah melakukannya sebelumnya,” Ucap Oka Bayu dengan semangat.


    Sebelum SeeShark, Food and Agriculture Organization (FOA) of United Nation terlebih dahulu menciptakan ISharkFin, sebuah teknologi identifikasi spesies hiu dengan sirip hiu dengan mengunggah foto sirip dorsal atau pectoral. Namun, fakta di lapangan terutama di pelabuhan Indonesia, sirip hiu sudah dipisahkan dan hanya tersisa potongan hiu saja sehingga sulit diidentifikasi. SeeShark menggunakan teknologi AI dan mampu mengidentifikasi hiu hanya dari sirip, potongan tubuh atau kulit. 


    Dalam hitungan detik, sistem AI memproses pola kulit, bentuk potongan, dan tekstur yang tidak bisa dikenali mata manusia, kemudian menampilkan hasil identifikasi spesies beserta status perlindungannya. Dengan cara sederhana ini, petugas dapat segera mengetahui apakah potongan tersebut berasal dari hiu yang dilindungi, tanpa perlu alat khusus atau keahlian identifikasi manual yang rumit.


    “Kami mengutamakan user experience. Bahkan orang awam bisa mengidentifikasi hiu hanya dengan memotret dan mengunggah gambarnya.”


    Bukan hanya petugas di pelabuhan dan pemerintah, namun masyarakat pun bisa menggunakan aplikasi SeeShark dengan leluasa, sehingga pengawasan dan partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan. 


    Antara Tradisi dan Kecantikan Diri, Hiu pun Banyak Dicari

    Namaku Sphyrna, saat di pelabuhan aku berpisah dengan saudara dan temanku. Tubuhku tertupuk dengan ikan lain. Sulit rasanya melepaskan diri. Aku melihat satu persatu tubuh saudaraku dipotong dipisahkan sirip dan potongan tubuh lain. Bagi sebagian penduduk Indonesia, potongan tubuhku bisa mengundang kemakmuran dan kesejahteraan.


    Aku pun mendengar orang berbicara, “Squalene juga banyak yang cari.” 


    Bukan hanya siripku saja, namun minyak hatiku ternyata diburu untuk dijadikan produk kecantikan. Bagi manusia, ternyata kecantikan itu dibayar mahal dengan mengorbankanku. 


    ***

    “Selama permintaannya tinggi, hiu akan tetap ditangkap,” Ungkap Oka Bayu mengenai masih maraknya penangkapan hiu di Indonesia. 

    Di sebagian wilayah Indonesia, hiu merupakan simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Pada perayaan hari tertentu, mengkonsumsi sirip ikan hiu diyakini bisa membawa keberuntungan dan bagian dari ucapan rasa syukur atas kehidupan selama ini. Bukan hanya simbol kemakmuran, sirip hiu juga dipercaya sebagai bagian menunjukan status sosial. 


    Saat melihat etalase toko online, mata tertuju pada produk kecantikan dengan bahan minyak squalene. Bukan hanya satu atau dua produk, namun banyak produk minyak squalene bisa bebas diperjualbelikan. Minyak squalene berasal dari minyak hati ikan hiu. Produk kecantikan dan kesehatan masih banyak yang menggunakan squalene.



    “Kami tidak ingin menyalahkan nelayan. Mereka bekerja karena ada permintaan. Kami ingin membantu mereka mendapatkan penghasilan yang lebih baik dengan cara yang lebih baik.”


    Selama ini, nelayan memenuhi permintaan dari pasar skala nasional. Jika permintaan masih terus menerus berdatangan, maka nelayan pun akan berusaha memenuhinya. Faktor ekonomi dan supply demand masih menjadi momok bagi SeeShark dan komunitas konservasi hiu. Apalagi jika ingin mengurai jalur perdagangan hiu, resikonya sangat berat karena terkoneksi dengan perusahan besar yang menguasai Indonesia. 


    “Perusahaan-perusahaan harus mulai beralih. Squalene bisa dari zaitun, bahkan dari mikroalga. Tidak harus dari hiu.”


    Oka Bayu berharap perusahaan-perusahaan kosmetik dan suplemen dengan bahan dasar squalene bisa beralih menggunakan bahan plant base. Indonesia memiliki keragaman hayati, sehingga banyak sekali alternatif minyak squalene dari zaitun dan mikroalga. 


    “Karena itu kami menyasar hilir berupa audit dan regulasi untuk produk kosmetik dari squalene dan produk jadi.”


    Tak berhenti sampai disitu, Oka juga mendorong berbagai regulasi jelas agar perusahaan-perusahaan tidak menggunakan bahan baku squalene dengan audit, sertifikasi seperti ISO dan regulasi ketat di skala nasional seperti peraturan pemerintah atau undang-undang.


    “Kami tidak ingin membatasi nelayan, karena mereka punya hak untuk menangkap ikan termasuk hiu, namun memang ada batasan.”


    Oka Bayu mengungkapkan bahwa nelayan sebetulnya tidak memiliki pilihan karena faktor ekonomi. SeeShark dan komunitas serta NGO pun kedepannya bisa melakukan tindakan berupa regulasi jelas dan bisa membuka peluang baru dari penangkapan hiu ke produk lain yaitu squalene seperti zaitun dan mikroalga. Bukan hanya membuka peluang ekonomi, namun ekosistem di laut pun akan semakin membaik sehingga ikan-ikan pun melimpah.


    Inovasi Besar Lahir Dari Desa Bayu

    Setelah SeeShark lahir, dampak luar biasa terasa. Upaya Oka Bayu Pratama mengenalkan inovasi berupa aplikasi pendeteksi hiu berbasis kecerdasan buatan (AI) membuahkan hasil mendapatkan apresiasi dari SATU Indonesia Awards 2025 dalam kategori Teknologi Tepat Guna. 


    “Saya hanya ingin membuktikan bahwa inovasi besar bisa lahir dari desa, dari tangan-tangan yang mau bekerja keras,” ujar Oka.


    Oka berhasil menyisihkan 17.700 pendaftar dari seluruh Indonesia. Karya inovasi lahir dari sebuah desa, yang ternyata memberikan dampak luar biasa bagi keberlangsungan kehidupan hiu yang dilindungi. 


    “Dari kolam lele, Oka berhasil menciptakan inovasi berkelas skala nasional. “


    Ketua Garda Lestari, Andri Saputra mengungkapkan bahwa inovasi bisa lahir dari kesederhanaan dan perjuangan Oka ini bisa menginspirasi pemuda-pemuda di seluruh Indonesia untuk menciptakan inovasi dari kegelisahan dan kegalauan dari berbagai permasalahan yang dihadapi di kehidupan sehari-hari. 


    ***

    Namaku Sphyrna, tubuhku kembali merasakan arus hangat yang memeluk siripku. Dari kejauhan, kulihat pemuda berkacamata itu berdiri, menatap laut yang sama yang pernah hampir merenggut hidupku. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tindakannya sudah cukup, ia mengenaliku bukan sekadar sebagai ikan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga.

    Air mengalir melewati kepalaku yang berbentuk martil. Rasanya seperti nafas kedua. Rasanya seperti kesempatan untuk tumbuh dan suatu hari, melahirkan kehidupan baru di laut ini.


    Terima kasih, manusia muda. Semoga langkahmu menjadi awal dari ribuan langkah lain, agar aku tidak lagi menjadi angka tanpa nama di pelabuhan. Semoga semakin banyak orang yang mau melihat, mengenali, dan melepaskanku kembali.


    Laut ini milik kita bersama. Jika aku terus hidup, maka kehidupan manusia pun akan terus berlanjut.


    Sumber Referensi : 

    • Wawancara dengan Oka Bayu Pratama 

    • Windra Neka, Mochammad Fattah, Dwi Sofiati, Asyifa Anandya: Status Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) di Perairan Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur (Jurnal Akuatiklestari, 2025)

    • Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 66 tahun 2025 

    • https://banyuwanginews.com/view/modal-dari-kolam-lele-pemuda-banyuwangi-ciptakan-aplikasi-ai-pelindung-hiu

    • https://banyuwanginews.com/view/aplikasi-seeshark-ciptaan-pemuda-banyuwangi-masuk-satu-indonesia-awards-2025

    Sumber dokumentasi : 

    Foto diambil dari unsplash.com dan Dokumentasi Oka Bayu Pratama (SeeShark).



    Continue Reading
    Older
    Stories
    Logo Komunitas BRT Network
    Seedbacklink
    Intellifluence Herd Worth Value: $165

    Search

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • youtube
    • instagram

    New Post

    Postingan Populer

    • Menanam Harapan di Tengah Sampah, Perjuangan Swara Hijau Farm di Kampung Pemulung
    • Menjaga Mangrove dan Sumber Pangan, Inspirasi Ketahanan Pangan dari Raja Ampat
    • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya Perawatan Tanpa Mengorbankan Kesehatannya
    • Kalau Bantuan Berhenti, Sudah Siapkah Berdiri Sendiri? Belajar dari Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026
    • Dari Kuala Lumpur ke Hatyai, Lalu Menemukan Penang Sekali Lagi
    • Giveaway Hop - Travel & Romance
    • 5 Cara Tampil Modis Dan Trendy
    • Yogyakarta (I) : Raminten, Prambanan & Ratu Boko
    • Mudahnya Membuka Tabungan Online
    • [Lomba Blog Pegi Pegi] Nias : Antara Lompat Batu, Surfing dan Tsunami

    Blog Archive

    • ▼  2026 (20)
      • ▼  September (3)
        • Menanam Harapan di Tengah Sampah, Perjuangan Swara...
        • Menjaga Mangrove dan Sumber Pangan, Inspirasi Keta...
        • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya P...
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2025 (32)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2024 (52)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (7)
      • ►  Oktober (8)
      • ►  September (4)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2023 (68)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (8)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (8)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (7)
      • ►  Maret (8)
      • ►  Februari (6)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2022 (75)
      • ►  Desember (14)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (12)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (4)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (12)
      • ►  Maret (6)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2021 (38)
      • ►  Desember (4)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (4)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (7)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2020 (25)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (53)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (4)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (7)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (3)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (8)
    • ►  2018 (83)
      • ►  Desember (9)
      • ►  November (8)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (8)
      • ►  Agustus (13)
      • ►  Juli (6)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (8)
      • ►  April (9)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2017 (36)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Agustus (6)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2016 (41)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (4)
      • ►  September (3)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (7)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2015 (63)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (11)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (6)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2014 (11)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2013 (5)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
    • ►  2010 (1)
      • ►  Desember (1)

    Blogger Friend

    • - Connect and Share Blogging Tips in Two Languages
      The Hunger Games: Sunrise on the Reaping Movie Guide: Release Date, Cast, Story and What to Know
      1 hari yang lalu
    • My Life My Style
      Eksplorasi Seru di Negeri Bawah Angin, Sabah dan Kota Kinabalu
      4 hari yang lalu
    • YOGA AS YOGGAAS
      Satu Malam Penuh Cinta
      1 minggu yang lalu
    • Small Things, Kecil Tapi Penting :)
      Berdoalah Pada Allah, Ia Sayang Sekali Pada Kita
      1 minggu yang lalu
    • Langkah Baruku
      Tips Memilih Jasa Pasang Lift Rumah yang Tepat untuk Kenyamanan dan Keamanan
      2 minggu yang lalu
    • Cerita EKA
      Stamp Travel Memory: Panduan Rute Stamp Hunting di Jakarta
      3 minggu yang lalu
    • HM Zwan
      Pengalaman Menginap di Hotel Indah Palace Tawangmangu
      3 minggu yang lalu
    • Mampir yuk, kerumahku
      Kenapa Harus Belajar Bahasa Inggris? Ini Manfaatnya untuk Kehidupan Kamu
      4 minggu yang lalu
    • WHEN IT'S ONLY JG & AST
      Yang Berubah Sejak Pulang Haji
      5 minggu yang lalu
    • BlogCamp
      How to Choose the Best Headhunter Company Indonesia
      5 minggu yang lalu
    • punyapista
      3 Skill Sederhana yang Menentukan Sukses Gagalnya Seorang Mediator
      1 bulan yang lalu
    • Life begins at 30...
      Pulang Kampung 2026
      1 bulan yang lalu
    • Melfeyadin
      Gejala Mata Kering Bikin Nggak Nyaman
      1 bulan yang lalu
    • Berbagi Cerita
      Tips Memilih Kipas Angin yang Awet dan Ramah di Kantong
      2 bulan yang lalu
    • tindak tanduk arsitek
      lampau melekat dari angkor wat
      2 bulan yang lalu
    • ..:: ntan™ | bunga dengan nama terbuka
      Surat untuk Kamu, dan Diriku
      2 bulan yang lalu
    • Lucia Priandarini
      Ketika Anakku Bisa Mengalahkanku, Aku Menang*
      3 bulan yang lalu
    • Akhmad Muhaimin Azzet | mari bersama menggapai ridha-Nya
      Akan Datang Rezeki dari Arah yang Tidak Disangka
      4 bulan yang lalu
    • Jurnal Evi Indrawanto
      Menikmati Iskender Kebab di Yüce Hünkâr, Sensasi Kuliner yang Legendaris di Bursa
      4 bulan yang lalu
    • Motherhood
      Panduan Menggunakan WhatsApp BCA di 08111500998 untuk Cek Tagihan Kartu Kredit
      4 bulan yang lalu
    • desperate housewife
      Postingan Terakhir
      5 bulan yang lalu
    • Tukang Ngukur Jalan
      Stop Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), Ayo Ikut Andil Mengubahnya!
      6 bulan yang lalu
    • Indah Julianti
      17 Channel YouTube Favorit Perempuan 50 Tahun Plus
      6 bulan yang lalu
    • Write Your Diary
      Ghibli vs Disney: Why They Are Nothing Alike
      7 bulan yang lalu
    • Kimi's Cool Blog
      Kembali Mengkristik
      8 bulan yang lalu
    • The Shymphony Of EKA
      Dubbing Film di Mall, Apa Rasanya?
      9 bulan yang lalu
    • Putrinyanormal
      Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
      1 tahun yang lalu
    • my story
      Saat Mata Kering Mengganggu Aktivitas Kerja, Insto Dry Eyes Solusinya
      1 tahun yang lalu
    • Macangadungan
      Microsoft is bringing cloud gaming to Xbox consoles later this year
      1 tahun yang lalu
    • udafanz[dot]com
      Strategi SEO untuk Meningkatkan Prospek Bisnis Anda
      1 tahun yang lalu
    • Linda Leenk - Little Part of My Life
      2024 Fellowship Journey
      1 tahun yang lalu
    • Dunia Kecil Indi
      Surat untuk Mika di Surga (Hari AIDS Sedunia)
      1 tahun yang lalu
    • Gembul Kecil Penuh Debu
      Mangut Iwak Wader ❤
      1 tahun yang lalu
    • Wira Nurmansyah
      Discovering Macao: A Unique Fusion of East and West
      1 tahun yang lalu
    • a Dreamer - Travelographer - Food Adventurer - Travel Blogger
      Mau Liburan ke Vietnam? Catat 5 Tips Berikut!
      2 tahun yang lalu
    • Una Vida Escrita de la Una
      Bye Bye My Friend
      2 tahun yang lalu
    • Mira Sahid
      Hati Seperti Kertas
      2 tahun yang lalu
    • Cokelat Gosong
      Jangan Biarkan Usia Membatasimu, Stay #AgelessLimitless with ERHA ULTIMATE
      2 tahun yang lalu
    • DISGiOVERY
      Keindahan Pantai Pasir Kencana Pekalongan yang Memukau
      2 tahun yang lalu
    • Catatan Perjalananku
      Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
      3 tahun yang lalu
    • Ratu de Blog
      Rekomendasi Olahraga Untuk Menurunkan Berat Badan
      3 tahun yang lalu
    • Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik » Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik
      Over 50 Dating – Finding a Good Online Dating Site for You
      3 tahun yang lalu
    • SimBale - Download Software Gratis
      AVG Anti-Virus 22.8.7500
      4 tahun yang lalu
    • Dunia Senja
      Catatan Hati Penghujung Tahun 2021
      4 tahun yang lalu
    • #FDCG
      bye 🌻
      5 tahun yang lalu
    • jinjinger
      Kompleks
      5 tahun yang lalu
    • Jefferson's Stage.
      The Diplovemat
      5 tahun yang lalu
    • Nova Wijaya
      Sebelum Mulai Investasi Online, Yuk Pahami 5 Cara Aman Berinvestasi Berikut Ini
      5 tahun yang lalu
    • Resep Kuliner Indonesia dan Dunia
      Karedok Leunca
      6 tahun yang lalu
    • .: adie DOES :.
      Sendirian di Uchisar Castle
      6 tahun yang lalu
    • Kehidupan Di Jepang
      Main Snowboard
      6 tahun yang lalu
    • Stay Hungry. Stay Foolish
      Rindu Budaya Ilmu
      6 tahun yang lalu
    • Pemimpi Hujan
      Nyobain 6 Menu Terbaru Horison Ultima Ratu
      6 tahun yang lalu
    • Dija Princess
      Jelajah Desa Galengdowo
      6 tahun yang lalu
    • Fardelyn Hacky
      Setop Stigma Orang dengan Gangguan Jiwa
      6 tahun yang lalu
    • Bangsari
      Nahdliyyin Yang Bersujud Di Hadapan Yesus
      7 tahun yang lalu
    • Keluarga Haripahargio
      REPLACED
      7 tahun yang lalu
    • All of Putri (¬.¬)ƪ_(˘⌣˘'!)
      I wanna asking...
      7 tahun yang lalu
    • A HOUSEWIFE'S DAY OUT
      Vincent van Gogh, just my simple thought.
      7 tahun yang lalu
    • Natureve Shop
      Istri Marah Karena Terlalu Cepat Ejakulasi? Pake Ini Biar Gagah
      7 tahun yang lalu
    • BETOIJO
      GOD'S MIRACLE: I GOT A NEW JOB!
      7 tahun yang lalu
    • Ninik Setyarini
      [Bukan Sinopsis] Bohemian Rhapsody
      7 tahun yang lalu
    • fanabis
      Craftsman Style Kitchen Faucet
      7 tahun yang lalu
    • lalank pattrya dan hal random lainnya.
      Ngatain Mereka Disini
      7 tahun yang lalu
    • Galaksi Pungky
      Review: Sakura Collagen Cream Anti Age's, Siap Menua dengan Kulit Bahagia!
      8 tahun yang lalu
    • Aulia Fasya
      Masa Lalu dan Jejak Digital
      8 tahun yang lalu
    • A Border that Breaks
      Janus dalam Mozaik-Mozaik Kecil
      8 tahun yang lalu
    • Tulisanku
      Begini Cara Memindahkan Data dari Blogdetik ke WordPress
      8 tahun yang lalu
    • HELLO!
      9 Teknik Dasar Yang Harus di Kuasai Dalam Permainan Tenis Meja
      9 tahun yang lalu
    • Catatan Anazkia
      Gerbong Wanita, Tak Semenyeramkan yang Dikira
      9 tahun yang lalu
    • Ruang Emak
      SO GOOD Ayam Potong Kuah Cabe Hijau, Sajian Spesial Di Hari Lebaran
      9 tahun yang lalu
    • eithea
      My Favorite Time of in day
      9 tahun yang lalu
    • Jalan Pendaki
      Annapurna Basecamp Series: Drama Pertama Menuju Tanah Dewa-Dewa Himalaya
      9 tahun yang lalu
    • Widaku.com
      Temukan Sunscreen Yang Baik Untuk Wajah Disini
      9 tahun yang lalu
    • Perjalanan Tak Berujung
      Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
      9 tahun yang lalu
    • Jendela Keluarga
      Pentingnya Mengembangkan Kecerdasan Sosial
      10 tahun yang lalu
    • when journalist becomes backpacker
      THE FACE OF TERRACOTTA, CHINA
      10 tahun yang lalu
    • Jurnal Mira Sahid | Emak Blogger
      That Moment!
      10 tahun yang lalu
    • aksara senandika | Sedikit noktah kehidupan
      Aku Sedang Malas
      10 tahun yang lalu
    • Petrus Andre Blog
      10 Hal yang Harus Dilakukan agar Blog Kamu Lebih Menghasilkan
      10 tahun yang lalu
    • Wuri Nugraeni | Reporter, Menulis, dan Wisata
      Pindah Rumah ke wurinugraeni.com
      10 tahun yang lalu
    • AGIASAZIYA
      PAKSAISME
      11 tahun yang lalu
    • Controversy
      Less is More dalam Kumpulan Cerita
      11 tahun yang lalu
    • SECAWANKOPISENJA
      [Flash Fiction] PURA-PURA PULANG
      11 tahun yang lalu
    • Febry Hadinata WordPress
      Jogja x Dieng x Solo Part 1
      11 tahun yang lalu
    • Saoscabe.com | Website Humor Indonesia
      Fakta Kota Tembung
      11 tahun yang lalu
    • Makhluk Kecil
      Pindah
      11 tahun yang lalu
    • Ahmad Rafiq Chaniago
      Pameran Seni Rupa Lima Jari
      11 tahun yang lalu
    • Catatan Ruslan
      Satu Jam Menyusuri Sungai Kahayan
      11 tahun yang lalu
    • .:: Nhie ::. | Just another WordPress.com weblog
      Noda Makanan di Pakaian
      11 tahun yang lalu
    • yosbeda
    • Herdis Suryatna | Pengalaman adalah guru yang terbaik
    • Albarnation
    • Blog Bukunya Kimi | Banyak-banyaklah Membaca. Biar Pintar.
    • Ca Ya
    • Chronosphere
    • irhapunya
    • Lianny Hendrawati
    • Melihat Dunia
    • pemainkata | sekadar bilik kecil pecinta kata
    • Blog - Lucedale.
    • Gulanya Gulali
    • Redcarra
    • hidayah-art.blogspot.co
    • suarane.org
    • zubaid.ID
    • Blognya bisot
    • Narzis Blog
    • Rianda Prayoga Blog
    • Tukangecuprus
    • Arian's Blog
    • Donna Imelda
    • Benablog - Cerita Si Benakribo
    • sketsa hati
    • Nicegreen
    • Jogja Ready
    • Kaleng Harapan » Kamera Lubang Jarum
    • backpackstory
    • ge[n][d]ud BlogPacker
    • Cinta Teknologi
    • My Daily Notes
    • Arsitektur Dunia | Gallery Arsitektur Dunia
    • The Dusty Sneakers
    • Angga Ong
    • Dian Kelana
    • fitrian.net
    • Jejak BOcahiLANG
    • The TraveLearn
    • Blog Adi Nugraha
    • Pipit Widya
    • yandi punya cerita
    • Taqorrub.com
    • Garis Horizon
    • Rumah Mayaku
    • Netnesia
    • Menuliskan Sebelum Terlupakan
    • Jejaring Miss Fenny
    • SALAMINZAGHI
    • Travel Diary
    • Sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane
    • pegipegi.com: Pesan Hotel & Tiket Pesawat Termurah Online
    • BLOGFAM – When Sharing Meets Caring
    • TGIF! Magazine
    • Shintaries
    • Ika Koentjoro
    • Sisi Hidupku
    • Anisa AE
    • BlogS of Hariyanto
    • My Purple World
    • every mom has a story
    • mata buku indri
    • Blog Anak Nelayan
    • Bibi Titi Teliti
    • Ayu Saritem Blog
    • Beautify Me
    • Dunia Iwok
    • Catatan Kartina
    • Aksaraku
    • Beby's Diary
    Perlihatkan 5 Perlihatkan Semua

    Labels

    Asuransi Backpacker Bank Budaya Fashion Film Movie Review Wisata otomotif
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top