Kertas Dalam Seribu Kata



Bermula Dari Surat 

Ketika sebuah surat datang  ke rumah, sontak hati saya girang. Ini pertama kalinya seseorang membalas surat yang dikirim dalam rangka tugas sekolah. Gadis berambut sebahu, berpakaian putih abu-abu dan mengenakan sebuah kalung tergambar jelas di foto yang berada dalam satu amplop dengan sebuah surat. 

Sahabat pena, sebutan khas kala seorang memiliki keterikatan kuat hanya karena surat yang diterima dari teman yang tertulis di belakang amplop. Membayangkan apa yang saat menuliskan kabar kemudian mengirimkannya dan menerima kembali adalah sebuah memori yang masih melekat. Kadang saat saya pulang kampung, saya iseng membaca kembali surat-surat yang dan bernostalgia kembali mengulang masa putih abu-abu. Surat sudah tergerus jaman namun kenangan mengenai surat-surat menjadi abadi dalam diri saya.

Bukan karena jadul atau bagaimana, namun saya merindukan sensasi dari surat dan sahabat pena. Saya bisa merasakan kesedihan atau kesenangan yang dialami sahabat hanya dengan membaca surat begitu pula sebaliknya, bahkan saat beberapa kali tidak mendapatkan respon atau jawaban surat, saya kadang merasakan kekhawatiran yang terlalu berlebih. Begitu dalam kenangan ini melekat dan tak mau dilepaskan.

Surat itu nostalgia bagi saya. Surat menjadi bagian hidup bahkan telah merubah kehidupan saya. Kesendirian yang dialami berubah menjadi senyum simpul kecil.


Surat pulalah yang mengantarkan saya menuju ke Jepang. Saat putih abu-abu, saya dan sahabat sekelas memiliki kesukaan yang sama yaitu menyukai semua hal yang berhubungan dengan Jepang, entah tarian, musik, olahraga sumo dan bahkan sahabat saya sempat menguasai tulisan hiragana dan katakana (huruf yang digunakan dalam bahasa Jepang). 

Saya berkirim surat ke kedutaan Jepang di Jakarta. Waktu itu, saya tak mengharapkan balasan apapun, karena teman saya yang terlebih dahulu berkirim surat pun tak mendapatkan kabar apapun. Tak berapa lama, sahabat saya dengan raut muka riang memberikan kabar gembira, Dia mendapatkan buku panduan kebudayaan dari Kedutaan Jepang. Beberapa hari kemudian, beruntunglah saya juga mendapatkan buku yang sama. Bahagia. Gembira. Berjuta rasa tumbuh dalam diri saya, sampai-sampai saya berharap dapat menginjakan kaki saya di Jepang. Tuhan Maha Adil, setelah sepuluh tahun berlalu, akhirnya saya benar-benar bisa mengunjungi Tokyo dan beberapa kota di sekitarnya. Sungguh anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Semoga saya bisa ke Jepang dalam waktu dekat, amin.

Kertas Dan Buku



Surat membutuhkan kertas. Buku pun membutuhkan kertas. Saya juga butuh kertas. Semua orang membutuhkan kertas untuk kebutuhan sekolah, kuliah, kerja, wirausaha. Semua lini kehidupan tak lepas dari peran kertas. Seperti udara yang dihirup kala bernapas, seperti itu pula eratnya saya dan kertas ini. Aih, bahasanya terlalu dalam banget ya. Namun, begitulah kertas memberikan saya napas panjang karena pekerjaan saya pun berhubungan erat dengan kertas ini.

Saya suka buku bahkan saat membuka sampul plastik tipis, kadang saya suka mencium bau kertas buku baru yang khas. Lagi-lagi seperti kertas ini menyatu dan larut bersama saya menghirup udara. Sensasinya sangat berbeda.

Fakta Menarik Kertas


Bermula Dari Papirus

Peradaban Mesir mencatat bahwa Papirus adalah media tulis yang digunakan pada semua lini terutama kerajaan yang dipimpin oleh Firaun. Bahkan karena kepraktisan ini, papirus pun menyebar dari Mesir ke Timur Tengah bahkan sampai Bangsa Romawi pun mengunakan media ini untuk menulis. Tak berapa lama setelah beredar di Romani, hampir seluruh kawasan Eropa pun kemudian mengunakan papirus tersebut.

Paper = Papyrus

Bahasa Inggris kertas adalah Paper, tapi tahukah bahwa kata paper ini sebetulnya berasal dari Papirus atau Papyrus. Saya pun baru tahu bahwa Paper ini sangat erat kaitannya dengan papirus. Selain Inggris, ternyata Belanda, Jerman Spanyol dan Perancis juga mengunakan papirus sebagai kata untuk menyebut kertas. Dalam bahasa Belanda dan Jerman kertas adalah papier, dan ternyata bahasa Perancis juga menyebut kertas dengan papier sedangkan bahasa Spanyol mengunakan padanan papel.

Peradaban Kertas di Tiongkok

Bila saja Tsai Lun tidak menemukan kertas yang berbahan dasar dari bambu, maka bentuk buku pun tak bisa setipis dan seringan sekarang ini. Sekitar tahun 101 Masehi, Tsai Lun berhasil menemukan teknik pembuatan kertas mengunakan bambu yang menyebar hingga Jepang dan Korea.

Setelah peperangan Talas sekitar 700an Masehi, teknik pembuatan kertas dari bambu ini jatuh ke bangsa Arab sehingga muncul pusat-pusat industri kertas di Timur Tengah bahkan sampai ke Eropa.

Penemuan Mesin Fourdriner 

Pada saat proses pembuatan kertas, setelah bubur kertas sudah siap tahap selanjutnya yang harus dilakukan mencetak kertas. Nah, mesin cetak kertas inilah yang disebut sebagai Mesin Fourdriner. Cara kerjanya pun memisahkan atau meniriskan air dengan bubur kertas melalui wire screen atau tatakan besar.

Dibalik proses tersebut, tahukan bahwa seorang berkewarganegaraan Perancis yang menemukan mesin Fourdriner ini. Nicholas Louis Robert menemukan mesin ini sebagai mesin pertama yang dapat memisahkan air dengan bubur kertas dan meniriskan sehingga proses pembuatan kertas sangat praktis dan dapat dilakukan dalam skala besar atau pabrik.

Kertas Dan Pabrik  



Saya memiliki rasa penasaran yeng berlebih mengenai proses pembuatan kertas karena sejarahnya yang luar biasa berliku-liku. Bahkan, setelah saya berusia lebih dari seperempat abad ini, saya belum tahu betul bagaimana kertas di produksi dan bagaimana seluk beluk perindustrian kertas di Indonesia ini?

Lalu bagaimana wajah industri kertas di Indonesia? Bagian mata atau hidung saja saya belum terlalu banyak tahu, tapi saya tetap mencari tahu sebenarnya industri ini.

Sebelum jauh melangkah ke bahasan yang lebih mendalam dan teknis, ada baiknya saya akan mengajak kamu melihat salah satu perusahaan kertas di Karawang yaitu Pindo Deli. Ini dia profil singkat mengenai Pindo Deli.


Sebetulnya saya tahu bahwa konsumsi kertas di Indonesia sangat rendah khususnya pembelian buku, majalah atau koran. Ini sangat erat kaitannya dengan minat baca yang juga masih rendah. Konsumsi kertas pada tahun 2015 hanya sekitar 32,5 Kg per kapita dibandingkan dengan Jepang sekitar 242 Kg per kapita atau Amerika Serikat yang mengkonsumsi 324 Kg per kapita. Wow, fakta yang cukup mencengangkan.

Dan fakta berikutnya adalah rendahnya penyerapan produk kertas dalam negeri sehingga produk yang beredar lebih banyak yang berasal dari luar Indonesia.

Nah, menjawab seluruh kegundahan tersebut, saya beruntung bisa mengunjungi PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills di Karawang untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan kertas dan segala macam yang berhubungan dengan kertas.

Saya akan posting kunjungan ke Pindo Deli di Karawang di postingan selanjutnya. Sampai jumpa di postingan kedua mengenai kertas dan kunjungan ke pabrik kertas di Karawang.



Kertas Dalam Seribu Kata Kertas Dalam Seribu Kata Reviewed by Salman Faris on 5/02/2016 11:30:00 PM Rating: 5

9 komentar:

  1. Selalu menarik tulisan-tulisan mas Salman ini :)

    BalasHapus
  2. sebagai pegiat media, saya (kami) dan kertas itu tak terpisahkan *eaaa
    terima kasih mas tambahan referensinya, pas banget
    semoga bisa ikut ke pabrik APP di wilayan lainnya :)

    btw, berdasarkan rasio per kapita dan demografis, kita masih kalah dengan Jepang n paman Sam...
    ironis juga sih, mengingat ini membuktikan minat baca kita memang (untuk saat ini) masih rendah ya

    BalasHapus
  3. Ulalala...jadi belajar sejarah keryas, dulu waktu kerja di pabrik kertas ga pernah diajarin sejarahnya *ya oyalah, diajarinnya jualan & bikin nota* :)))

    BalasHapus
  4. Aku pernah hampir masuk perusahaan kertas d Riau. Tapi gajadi karena gda mall di pedalaman wkwkw. Ditunggu lah kalau di Karawang ini bedanya gimana sama yg Riau

    BalasHapus
  5. aku masih inget banget pelajaran sekolah duku tetang papyrus

    BalasHapus
  6. Ya ampun sahabat pena, udah lama banget ya. Dulu sampai suka koleksi perangko yg ada stempel pos nya

    BalasHapus
  7. pengetahuan baru nih hehehe.. terima kasih banyak mas, tulisannya selalu menginspirasi

    BalasHapus
  8. aku belum pernah ngerasain kirim-kiriman surat X")

    BalasHapus
  9. Gitu ya anak muda kaya saya ini taunya tinggal pakai saja gak tau sejarahnya... wah tambah ilmu ini

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.