Dari Kontrakan di Tangsel dan Kesadaran Lingkungan yang Tumbuh

1/08/2026 05:31:00 PM




Tinggal di sebuah kontrakan di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, membuat saya berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan yang sebelumnya lebih sering saya temui lewat tulisan. Ketertarikan pada isu lingkungan awalnya tumbuh dari kebiasaan menulis di blog dan merawat tanaman hias di kosan. Aktivitas sederhana itu perlahan membentuk kepedulian, meski masih terasa personal dan terbatas.

Namun, kepindahan dari Jakarta Selatan ke Tangerang Selatan menghadirkan realitas yang lebih nyata. Di lingkungan sekitar kontrakan, sampah masih sering dipahami sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Cara yang paling umum dilakukan adalah dengan membakar sampah, termasuk plastik. Di sebelah kontrakan terdapat lahan kosong yang ditanami pisang dan singkong, tetapi juga menjadi tempat penumpukan sampah. Ketika sampah itu dibakar, asap pekat menyebar, debu sisa pembakaran beterbangan, dan udara menjadi tidak sehat untuk dihirup.

Awalnya saya mencoba memaklumi kebiasaan tersebut. Namun, ketika kejadian itu berulang dan dampaknya semakin terasa, saya menyadari bahwa persoalan sampah bukan hanya soal kebiasaan lama, tetapi juga minimnya pengetahuan dan alternatif pengelolaan. Dari pengalaman inilah saya mulai mencari pendekatan yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Recycling Village dan Harapan Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas


Pencarian tersebut membawa saya pada konsep ekonomi sirkular, khususnya praktik Recycling Village atau Creative Village. Program ini menawarkan pendekatan berbeda dalam mengelola sampah plastik, dengan mengubahnya menjadi produk bernilai seperti sepatu, sandal, pakaian, dan aksesori fashion. Sampah plastik tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai bahan baku yang memiliki nilai ekonomi.

Dalam konsep Recycling Village, masyarakat dilibatkan secara aktif mulai dari pemilahan sampah, pengolahan bahan, hingga proses produksi dan pemasaran. Keterlibatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Produk hasil daur ulang memberikan sumber pendapatan tambahan, terutama bagi pelaku UMKM dan komunitas lokal.

Dampak dari pendekatan ini terasa ganda. Lingkungan menjadi lebih bersih karena volume sampah plastik berkurang, sementara masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Recycling Village menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi.

Pengalaman hidup di Tangsel membuat saya percaya bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Dengan edukasi, kolaborasi komunitas, dan pendekatan ekonomi sirkular seperti Recycling Village, perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

You Might Also Like

0 Comments