Di tengah upaya pemulihan pasca bencana banjir dan longsor di Sumatera, ada kisah-kisah yang jarang terlihat oleh publik. Ketika bantuan mulai berkurang dan perhatian masyarakat perlahan beralih ke isu lain, banyak keluarga masih berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar, termasuk menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak mereka. Di beberapa wilayah terdampak, seorang ibu bahkan hanya mampu memberikan air tajin, air rebusan beras yang biasa dianggap sebagai makanan darurat, sebagai pengganti susu untuk balitanya.
Temuan tersebut ditemukan saat Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama Makes PP Aisyiyah mengunjungi tiga wilayah terdampak bencana, yakni Kabupaten Langkat di Sumatera Utara, Kabupaten Aceh Tamiang di Aceh, dan Kabupaten Agam di Sumatera Barat. Hampir enam bulan setelah banjir dan longsor melanda, masyarakat memang telah kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Namun dibalik itu, masih banyak persoalan yang belum sepenuhnya pulih.
Kerusakan infrastruktur, akses jalan yang belum optimal, serta keterbatasan air bersih masih menjadi tantangan yang dihadapi warga. Kondisi tersebut turut mempengaruhi akses masyarakat terhadap bahan pangan bergizi. Harga kebutuhan pokok menjadi lebih mahal, sementara kemampuan ekonomi keluarga belum sepenuhnya pulih setelah bencana. Akibatnya, banyak keluarga terpaksa mengutamakan makanan yang murah, mudah diperoleh, dan mengenyangkan, meskipun nilai gizinya terbatas.
Di sejumlah lokasi, makanan instan, minuman tinggi gula, dan kental manis menjadi konsumsi yang semakin umum dijumpai. Bahkan, sebagian masyarakat masih memahami kental manis sebagai pengganti susu untuk anak. Padahal, pemenuhan gizi anak memerlukan asupan yang lebih lengkap untuk mendukung tumbuh kembang mereka, terutama di masa pemulihan pascabencana.
Temuan ini menunjukkan bahwa pemulihan pasca bencana tidak hanya soal membangun kembali rumah, jembatan, atau fasilitas umum yang rusak. Lebih dari itu, ada tantangan lain yang tidak kalah penting, yaitu memastikan anak-anak tetap mendapatkan akses terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan, dan dukungan yang mereka butuhkan untuk tumbuh sehat di tengah berbagai keterbatasan.
Dari Edukasi hingga Trauma Healing: Upaya Memulihkan Masa Depan Anak Pascabencana
Berangkat dari berbagai temuan di lapangan, YAICI bersama Makes PP Aisyiyah menyadari bahwa pemulihan pasca bencana tidak cukup hanya dilakukan melalui penyaluran bantuan logistik. Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk membantu masyarakat bangkit, khususnya bagi ibu dan anak yang menjadi kelompok paling rentan. Oleh karena itu, Program Edukasi dan Pemulihan Gizi Ibu dan Balita di Daerah Bencana hadir sebagai upaya untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, mulai dari rendahnya literasi gizi, terbatasnya akses terhadap pangan bergizi, hingga dampak psikologis yang masih dirasakan anak-anak pascabencana. Program ini dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan edukasi, pendampingan, trauma healing, serta pemberian bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
1. Edukasi Gizi untuk Ibu: Menjaga Masa Depan Anak di Tengah Keterbatasan
Di tengah berbagai tantangan pascabencana, para ibu menjadi garda terdepan dalam memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Namun kondisi ekonomi yang belum pulih, terbatasnya akses terhadap bahan pangan bergizi, serta minimnya informasi mengenai gizi anak membuat banyak keluarga harus mengambil keputusan yang sulit terkait konsumsi sehari-hari.
Melalui sesi edukasi gizi, para ibu diajak memahami pentingnya pemenuhan nutrisi anak, terutama pada masa pemulihan pasca bencana. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan informasi mengenai kebutuhan gizi balita, pentingnya protein hewani, serta pemahaman bahwa kental manis bukanlah pengganti susu pertumbuhan anak. Edukasi ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa meskipun berada dalam situasi yang sulit, kebutuhan gizi anak tetap harus menjadi prioritas utama.
2. Edukasi dan Trauma Healing untuk Anak: Mengembalikan Senyum yang Sempat Hilang
Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis yang sering kali tidak terlihat. Banyak anak yang mengalami perubahan perilaku, menjadi lebih pendiam, kurang percaya diri, hingga kehilangan ruang bermain yang aman setelah bencana terjadi.
Melalui berbagai kegiatan interaktif seperti mewarnai, bermain bersama, mendongeng, dan story telling, anak-anak diajak kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Suasana yang awalnya canggung perlahan berubah menjadi penuh tawa dan keceriaan. Aktivitas sederhana ini menjadi bagian penting dari proses trauma healing agar anak-anak dapat kembali merasa aman, nyaman, dan memiliki ruang untuk tumbuh secara sehat, baik secara fisik maupun emosional.
3. Penyaluran Bantuan Kebutuhan Dasar: Hadir di Saat Bantuan Mulai Berkurang
Seiring berjalannya waktu, bantuan yang sebelumnya banyak berdatangan mulai berkurang. Padahal bagi sebagian keluarga terdampak, kebutuhan sehari-hari masih menjadi tantangan yang harus dihadapi hingga saat ini.
Melalui program ini, bantuan kebutuhan dasar disalurkan kepada keluarga yang masih berada dalam proses pemulihan. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan rumah tangga, perlengkapan anak, hingga berbagai kebutuhan yang mendukung aktivitas sehari-hari. Kehadiran bantuan ini tidak hanya membantu meringankan beban ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi bentuk dukungan moral bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.
4. Pemberian Makanan Bergizi: Memastikan Anak Tetap Mendapatkan Asupan yang Layak
Salah satu tantangan terbesar pasca bencana adalah menurunnya kualitas konsumsi keluarga. Ketika bahan pangan bergizi sulit dijangkau, makanan instan sering kali menjadi pilihan utama karena lebih murah dan mudah diperoleh.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, program ini juga menghadirkan pemberian makanan bergizi bagi anak-anak dan keluarga terdampak. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pasca bencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada upaya menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak. Dengan asupan yang lebih baik, anak-anak memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih sehat dan kuat dalam menghadapi masa pemulihan.
Saatnya Indonesia Memiliki SOP Pemulihan Gizi Anak Pascabencana
Temuan lapangan di Kabupaten Langkat, Aceh Tamiang, dan Kabupaten Agam menunjukkan bahwa tantangan pascabencana tidak berhenti pada pemulihan infrastruktur dan distribusi bantuan logistik. Di balik proses pemulihan tersebut, masih terdapat persoalan yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat, terutama anak-anak. Perubahan pola konsumsi keluarga, terbatasnya akses terhadap pangan bergizi, rendahnya literasi gizi, hingga dampak psikologis yang dialami anak menjadi isu yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius dalam sistem penanganan bencana di Indonesia.
Karena itu, diperlukan penyusunan SOP Pemulihan Gizi Anak Pasca Bencana sebagai bagian dari upaya pemulihan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. SOP ini dapat menjadi panduan bagi pemerintah, lembaga kemanusiaan, tenaga kesehatan, dan relawan dalam memastikan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi setelah masa tanggap darurat berakhir.
SOP tersebut setidaknya mencakup standar bantuan pangan yang ramah anak dan bergizi, mekanisme distribusi sumber protein serta susu yang sesuai untuk kebutuhan tumbuh kembang anak, pemantauan status gizi secara berkala melalui layanan kesehatan dan posyandu darurat, serta edukasi berkelanjutan bagi keluarga mengenai pola konsumsi yang sehat. Selain itu, aspek pemulihan psikososial anak juga perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan melalui penyediaan ruang aman, aktivitas bermain, dan pendampingan yang memadai.
Melalui pendekatan yang lebih terintegrasi, pemulihan pasca bencana tidak hanya berfokus pada membangun kembali wilayah yang terdampak, tetapi juga memastikan anak-anak dapat tumbuh sehat, kuat, dan memiliki masa depan yang lebih baik setelah melewati situasi bencana.


