Menemukan Harta Karun di Belakang Seniman Pangan Cafe
8/12/2026 01:30:00 PM
Saya kira hari itu saya hanya akan datang ke sebuah cafe di Bekasi. Seniman Pangan Cafe dari luar terlihat seperti tempat yang cocok untuk menikmati makanan, berbincang, atau sekadar menghabiskan waktu bersama teman. Tidak ada bayangan sedikit pun kalau beberapa langkah setelah meninggalkan bangunan cafe, saya justru akan menemukan kebun pangan yang luasnya sekitar tiga hektare. Saya mengikuti rombongan menuju bagian belakang cafe, melewati area yang semakin lama semakin hijau, sampai akhirnya jalan yang kami lewati bukan lagi lantai seperti di dalam cafe, melainkan tanah yang di kanan kirinya ditumbuhi berbagai tanaman. Saya sempat berhenti dan memperhatikan sekeliling, sedikit tidak percaya bahwa lahan seluas ini berada tepat di belakang sebuah cafe di Bekasi.
Menemukan Kebun di Belakang Cafe
Kami kemudian berjalan lebih jauh ke dalam kebun. Ada singkong, kopi, bunga telang, belimbing dan berbagai tanaman lainnya yang tumbuh di beberapa bagian lahan. Beberapa memang langsung saya kenali, tetapi tidak sedikit pula yang membuat saya harus bertanya. Lucu juga kalau dipikir-pikir, selama ini saya merasa cukup mengenal makanan karena hampir setiap hari bertemu dengannya, tetapi ternyata mengenal makanan tidak berarti saya mengenal tanamannya. Saya tahu kopi ketika sudah berada di dalam cangkir, tahu singkong ketika sudah tersaji di atas meja, dan mengenal bunga telang ketika warnanya sudah berubah menjadi minuman, tetapi ketika semuanya kembali ke bentuk aslinya di kebun, saya justru seperti sedang berkenalan dengan sesuatu yang baru. Mungkin kehidupan kota memang membuat saya terlalu sering bertemu dengan hasil akhirnya, sampai lupa bahwa sebelum menjadi makanan, semuanya pernah tumbuh dari tanah dan dirawat oleh seseorang.
Hari itu saya tidak hanya diajak melihat-lihat. Kami juga diberi kesempatan untuk ikut menanam dan memanen hasil kebun. Tangan yang biasanya lebih sering memegang kamera atau ponsel kali ini harus berurusan dengan tanah. Saya mencoba menanam, kemudian beralih untuk memanen singkong. Batangnya saya pegang dan saya tarik perlahan, tetapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Tanah di sekelilingnya ikut terangkat sebelum akhirnya bagian singkong yang selama ini bersembunyi di bawah permukaan tanah mulai terlihat. Ada rasa senang yang sederhana ketika akhirnya hasil panen itu berhasil berada di tangan saya. Hanya singkong, memang, tetapi pengalaman mencabutnya sendiri membuat saya melihat makanan dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini saya tinggal membeli dan menikmati, sementara di sini saya bisa melihat salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang yang harus dilalui sebuah bahan pangan sebelum sampai ke meja makan.
Dari kebun itu pula saya mulai mendengar cerita yang lebih panjang tentang Seniman Pangan. Ternyata apa yang saya lihat di belakang cafe bukan sekadar kebun untuk melengkapi suasana, melainkan bagian dari perjalanan untuk mengenalkan kembali kekayaan pangan Indonesia. Javara sendiri didirikan oleh Helianti Hilman pada 2008, sementara Sekolah Seniman Pangan mulai dikembangkan pada 2017 sebagai ruang untuk belajar, berkreasi dan mengembangkan potensi pangan lokal bersama petani serta masyarakat di berbagai daerah. Dari sana saya mulai memahami mengapa cerita tentang kebun, petani dan produk pangan terasa begitu kuat. Hasil kebun tidak berhenti ketika dipanen, tetapi masih memiliki perjalanan berikutnya, mulai dari pengolahan, pengembangan produk sampai akhirnya bisa dikenal oleh konsumen yang lebih luas.
Dari Kebun Menjadi Pangan yang Mendunia
Saya kemudian mendengar bahwa Seniman Pangan berkelana dari Sabang sampai Merauke, berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya untuk bertemu dengan petani dan mitra, mengenal berbagai tanaman sekaligus menggali resep serta pengetahuan pangan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Bagi saya, bagian ini justru yang paling menarik. Sebab sebuah resep kadang tidak ditemukan di buku, melainkan hidup dari cerita seorang ibu kepada anaknya, dari orang tua kepada generasi berikutnya, atau dari kebiasaan masyarakat yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Begitu pula dengan tanaman. Hari ini mungkin masih tumbuh dan dimanfaatkan, tetapi ketika hutan ditebang, lahan berubah atau generasi berikutnya tidak lagi mengenalnya, bukan tidak mungkin tanaman tersebut perlahan menghilang bersama pengetahuan yang menyertainya.
Dari cerita tentang petani dan hasil kebun itu, saya kemudian mengetahui bahwa perjalanan pangan yang dikembangkan melalui ekosistem Javara sudah jauh melampaui pasar lokal. Berbagai produk pangan dari Indonesia telah diekspor ke lebih dari 25 negara di lima benua. Ada gula kelapa, coconut chips, beragam produk kelapa, mie dari bahan pangan lokal, beras, garam, rempah, madu dan berbagai produk pangan artisan lainnya. Saya membayangkan bagaimana sebuah bahan yang mungkin awalnya tumbuh di kebun seorang petani di pelosok Indonesia kemudian melewati proses yang panjang hingga akhirnya bisa berada di meja makan seseorang yang tinggal ribuan kilometer dari tempat asalnya. Dari tanah, berpindah ke tangan petani, kemudian diolah dan dikemas, sebelum akhirnya melakukan perjalanan ke negara lain. Ternyata di balik sebuah produk pangan ada begitu banyak tangan yang bekerja.
Salah satu cerita yang kemudian membuat saya semakin penasaran adalah Sinagi Papua. Saya baru mengetahui tentang produk ini ketika mendengar bagaimana kekayaan pangan dan pengetahuan masyarakat di Papua bisa dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai lebih luas. Ada Bumbu Asin Nipah, garam yang dibuat dengan memanfaatkan tanaman nipah, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya. Kalau mendengar kata garam, yang muncul di kepala tentu saja air laut dan tambak garam. Namun ternyata ada pengetahuan masyarakat di Papua tentang bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka. Sinagi Papua juga mengembangkan Teh Moi Kamlowele, Kerupuk Sagu dan Keripik Ubi Tiga Warna. Ceritanya menjadi semakin menarik karena produk-produk tersebut tidak sekadar membawa rasa, tetapi juga membawa pengetahuan dan identitas masyarakat asalnya.
Setelah berkeliling kebun dan mendengar berbagai cerita tersebut, saya kemudian diajak mengikuti workshop pengolahan pangan. Kali ini bukan lagi berjalan di antara tanaman, tetapi duduk dan mencoba mengolah bahan yang sebelumnya saya lihat di kebun. Salah satunya adalah membuat selai rosela. Saya mengikuti prosesnya sambil memperhatikan bagaimana bahan yang sederhana perlahan berubah menjadi produk yang sama sekali berbeda. Warna rosela yang khas membuat prosesnya terlihat menarik, sampai akhirnya kami bisa mencicipi hasil olahan sendiri. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau rosela yang saya kenal sebagai tanaman bisa menjadi selai yang bisa dinikmati dengan cara berbeda.
Belum selesai dengan rosela, kami kemudian mencoba membuat sirup kemangi. Nah, yang satu ini benar-benar membuat saya penasaran karena selama ini kemangi bagi saya hanya punya satu tempat, yaitu di samping nasi, ayam goreng dan sambal sebagai lalapan. Ternyata ketika diolah dengan cara berbeda, kemangi bisa berubah menjadi sirup. Saya mencicipinya sambil tersenyum karena pengalaman sederhana itu kembali mengingatkan saya bahwa bahan pangan yang terlihat biasa ternyata bisa memiliki banyak kemungkinan. Mungkin yang dibutuhkan bukan selalu tanaman baru, melainkan cara baru untuk melihat tanaman yang sudah ada.
Ketika Pangan Bukan Sekadar Makanan
Semakin lama berada di Seniman Pangan, saya justru semakin sering memikirkan tanaman-tanaman yang tadi saya temui di kebun. Ada beberapa yang baru saya kenal, padahal mungkin bagi orang lain tanaman tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lalu muncul pertanyaan yang rasanya sederhana, tetapi cukup mengganggu pikiran saya: bagaimana kalau generasi mendatang hanya mengenal nama tanaman tanpa pernah melihat tanamannya secara langsung? Mereka mungkin tahu singkong, tetapi tidak pernah mencabutnya dari tanah. Mengenal bunga telang, tetapi hanya melalui foto. Mengetahui kemangi, tetapi tidak pernah tahu bahwa daun yang biasa dijadikan lalapan itu bisa diolah menjadi sirup. Dan yang lebih jauh lagi, bagaimana jika resep-resep yang diwariskan turun-temurun juga berhenti karena tidak lagi didokumentasikan dan diteruskan?
Pertanyaan itu terasa semakin dekat ketika mengingat 9 Agustus sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia. Masyarakat adat di berbagai wilayah Indonesia memiliki hubungan yang begitu dekat dengan hutan, tanah, tanaman dan pangan. Banyak pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan alam tidak lahir dari buku atau ruang kelas, melainkan dari pengalaman panjang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika kita berbicara tentang menjaga lingkungan, mungkin yang perlu dijaga bukan hanya pohonnya, tetapi juga pengetahuan yang hidup bersama pohon tersebut. Ada tanaman yang menjadi pangan, ada resep yang menjadi bagian dari budaya, dan ada masyarakat yang selama bertahun-tahun mengetahui bagaimana semuanya berjalan berdampingan.
Menjelang pulang, saya sempat melihat kembali ke arah kebun yang tadi kami jelajahi. Rasanya sedikit berbeda dibanding ketika pertama kali datang. Singkong yang tadi saya lewati kini terasa lebih dekat karena saya sudah mencabutnya sendiri dari tanah. Kopi bukan hanya minuman yang biasa saya pesan. Bunga telang bukan sekadar warna biru yang cantik di dalam gelas. Begitu pula kemangi dan rosela yang beberapa jam sebelumnya saya lihat sebagai tanaman biasa, kini sudah memiliki cerita tersendiri setelah saya ikut mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa dinikmati.
Saya datang ke Seniman Pangan Cafe dengan pikiran akan mengunjungi sebuah cafe, tetapi justru kebun di belakangnya yang paling banyak saya bawa pulang dalam ingatan. Ada tanah, tanaman, petani, resep, pengetahuan, teknologi dan orang-orang yang mencoba mempertemukan semuanya agar pangan lokal tidak berhenti menjadi sesuatu yang hanya dikenal di tempat asalnya. Mungkin itulah harta karun yang sebenarnya saya temukan hari itu. Bukan sesuatu yang berkilauan atau tersimpan jauh di dalam tanah, tetapi sesuatu yang tumbuh di atasnya dan selama ini mungkin terlalu sering kita lewati tanpa benar-benar kita kenali.
Dan ketika saya kembali mengingat pertanyaan yang beberapa kali muncul hari itu, “Ini tanaman apa?”, saya berharap suatu hari nanti anak-anak kita masih bisa menanyakannya sambil berdiri langsung di sebuah kebun, bukan karena mereka melihatnya di buku, tetapi karena tanaman itu masih tumbuh di hadapan mereka.










0 Comments