salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
    • Home
    • About Me
    • Contact Me
    • Tekno
    • Film
    • Travel
    • Food

     

    Sebuah mobil melintas di jalan Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur. Di pinggir jalan, seorang ibu mengais botol plastik dan kardus dari tumpukan sampah, lalu memasukkannya ke dalam gerobak kayu yang sudah tampak usang. Anak laki-laki yang ikut bersamanya duduk di atas gerobak sambil memperhatikan botol-botol yang dikumpulkan ibunya.

    Pemandangan seperti ini dulu menjadi bagian dari keseharian warga Kampung Sumur. Memulung menjadi salah satu cara keluarga mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di balik aktivitas tersebut, ternyata ada persoalan lain terkait pendidikan dan pengasuhan anak.

    “Dahulu masalahnya sangat kompleks, bahkan hampir 90 persen permasalahannya adalah penelantaran dan salah pengasuhan anak. Bahkan saat memulung, anak-anak sengaja dibawa untuk mengharapkan belas kasihan,” Ujar Pak Endang  saat di temui di Sekretariat Swara Hijau Farm, Klender, Jakarta Timur. 

    Semua berawal di tahun 2015, Yayasan Swara Peduli mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam program pendampingan bagi para pemulung dari Kementerian Sosial di kawasan Pemulung di Jakarta Timur. 

    Bapak Endang Mintarja menceritakan prosesnya dimulai dengan melakukan asesmen terhadap para pemulung dan keluarga mereka yang berdomisili Kampung Sumur, Jakarta Timur. Kemudian, Yayasan Swara Peduli menyewa sebuah tempat yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti Weekend ceria, setiap Sabtu dan Minggu. Awalnya, kegiatan tersebut banyak diisi dengan aktivitas untuk anak-anak, menghadirkan ruang belajar dan bermain di tengah keseharian mereka.

    “Saat relawan datang untuk mengajar anak-anak, kondisi jalanan masih berupa tanah. Dan, saat hujan akhirnya berubah menjadi kubangan lumpur,” Cerita Pak Endang mengenang saat awal-awal perjuangan. 

    Tak hanya pendidikan, kondisi jalanan pun sangat memprihatinkan. Saat hujan turun, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur bercampur dengan sampah-sampah. Tak hanya itu, instalasi listrik dan internet pun masih belum menyentuh Kampung Sumur.

    “Program ini untuk memutus mata rantai masalah pendidikan di Kampung Pemulung. Kini 90 persen anak-anak sudah bersekolah, bahkan 10 anak pun mendapatkan beasiswa biaya pendidikan,” Ungkap Pak Endang bangga. 

    Kampung Pemulung kini tak lagi sama, setelah anak-anak yang dulu berada di gerobak-gerobak sampah itu telah mengenakan seragam sekolah serta menenteng tas dan buku. Kini hanya tinggal 10 persen anak-anak yang belum mengenyam bangku pendidikan. Bahkan 10 anak diantaranya kini mendapatkan beasiswa pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan sekolah dan pembayaran SPP bagi anak di sekolah swasta. 

    Setelah kegiatan pendidikan berdampak pada anak-anak, kemudian donasi berdatangan dan kemudian didirikan sekretariat. Tak lama kemudian, lahan pun bertambah dan kemudian dimanfaatkan sebagai kandang ayam, budidaya maggot dan kebun sayur hidroponik serta kolam ikan. 

    Dari Gagal Panen hingga Menjadi Percontohan Urban Farming

    Inisiasi dimulai dengan pelatihan budidaya tanaman dan ikan dalam ember. Instalasi dengan media ember tersebut terdiri dari tanaman kangkung di atas dan kemudian di bawahnya terdapat ikan lele. Sekitar 50 instalasi ember untuk dibudidayakan di rumah masing-masing, namun kenyataanya hanya 50% yang berhasil. Dan, kemudian mulai saat itu, instalasi tersebut dipusatkan di sekretariat Yayasan Swara Peduli, dan saat itulah cikal bakal Swara Hijau Farm didirikan. 

    “Setelah mendapatkan over lahan di belakang sekretariat, kemudian dikembangkan lagi menjadi kandang ayam, maggot, kebun hidroponik, dan kolam ikan,” Pak Endang membeberkan bagaimana Swara Hijau Farm bermula. 

    Pada awalnya, warga Kampung Pemulung sempat bingung dengan metode pertanian ini. Biasanya dari hasil memulung, warga bisa mendapatkan upah harian sehingga bisa menyambung hidup. 

    Sedangkan budidaya tanaman dan ikan membutuhkan waktu mulai dari menanam, menyiram, merawat baru kemudian panen sehingga membutuhkan waktu beberapa minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa menikmati hasil jerih payahnya. Namun, berjalannya waktu warga mengerti bahwa dibutuhkan waktu untuk membudidayakan sehingga tercipta kesabaran dalam menghasilkan pundi-pundi ekonomi.

    Di tengah pandemi Covid-19 pada 2020, Pak Endang memberanikan diri mencoba menanam melon. Pengetahuannya saat itu masih terbatas. Ia pun belajar secara otodidak, mulai dari menonton video di YouTube hingga membaca berbagai laman tentang pertanian organik dan perikanan.

    Tidak semuanya berjalan mulus. Namun, dari mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, perlahan Pak Endang mulai memahami bagaimana merawat tanaman melon hingga akhirnya menemukan cara yang tepat untuk menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik.

    Swara Hijau Farm kemudian mendirikan greenhouse untuk penanaman melon pada tahun 2021. Sebelum akhirnya, mendapatkan bantuan dari BUMN untuk lahan green house seluas 132 meter pada tahun 2022, sebagai lahan untuk menanam melon dengan metode hidroponik. Melon dipilih dengan berbagai pertimbangan, salah satunya masa tanam dan panen tidak terlalu lama sekitar 2-3 bulan tergantung dari cuaca. 

    "Banyak perjalanannya dan banyak pula kegagalannya. Mulai dari melon rasa timun, rasanya hambar. Dan, kemudian akhirnya mulai meracik nutrisi sehingga melonnya pun kini mencapai brix 15-16 dengan tingkat kemanisan cukup tinggi," Pak Endang mengungkapkan perjalanan dari kegagalan berbuah manis. 

    Perjalanan Swara Hijau Farm tidak berhenti pada keberhasilan membudidayakan melon. Kini, kebun ini telah berkembang menjadi model percontohan dan memiliki sejumlah mitra, salah satunya Sentra Mulia Jaya di Pasar Rebo yang mengembangkan melon, sayuran hidroponik, dan budidaya ikan.

    Dari Memulung hingga Menanam Harapan di Swara Hijau Farm

    Lisna Marida, seorang pengurus kelompok tani Swara Hijau Farm mengantarkan kami ke sebuah greenhouse. Lokasinya tak jauh dari sekretariat, hanya berjalan beberapa puluh meter saja. 

    “Warga di kampung pemulung ini sangat beragam, ada dari Jawa, Sunda, Bugis,” ujar Lisna sambil berjalan menuju greenhouse. 

    Greenhouse berukuran 40-50 meter itu berdiri di tengah kampung pemulung. Tak hanya greenhouse, di lahan berukuran sekitar 132 meter itu digunakan sebagai bank sampah. Bank sampah digunakan untuk menampung sampah-sampah dari warga.

    “Sampah-sampah itu di tabung di bank sampah. Warga memang sengaja menabung sampah agar pada saat hari besar bisa ditarik,” ucap Lisna menunjukan botol-botol air mineral yang menumpuk di bank sampah. 

    Walaupun masih memulung, sebagian warga sengaja menabung sampah di Bank Sampah Swara Cipta Mandiri sebagai bagian komitmen menabung. Warga biasanya mengumpulkan sampah-sampah kemudian menabungnya di bank sampah. Setelah beberapa bulan, warga bisa mencairkan dana segar untuk kebutuhan tertentu seperti Lebaran atau hari besar lainnya. 

    “Melon itu seperti manusia, jadi sambil memetik daun dan mengawinkan biasanya diajak berbicara,” gurau Lisna sambil menunjukan tanaman melon di greenhouse.

    Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian batik menuju ke greenhouse. “Nah ini dia yang merawat melon di greenhouse ini,” Lisna menyambut seorang warga yang bertugas di greenhouse tersebut.

    "Kalau memulung itu 3 kali pekerjaan jadi bisa seharian. Kalau di Swara Hijau Farm pekerjaannya hanya pagi dan sore saja, sehingga banyak waktu luang untuk beristirahat," ucap Ibu Wasriyah menceritakan kehidupannya sebelum bergabung dengan Swara Hijau Farm. 

    Selama sekitar 20 tahun tinggal di Kampung Pemulung, Wasriyah terbiasa menghabiskan hari dengan memulung. Pekerjaan itu membuat waktunya hampir seluruhnya tersita, karena harus dilakukan beberapa kali dalam sehari untuk mendapatkan penghasilan yang cukup.

    Perubahan mulai dirasakan ketika ia bergabung dengan kelompok tani Swara Hijau Farm sekaligus menjadi anggota bank sampah. Sejak masa pandemi Covid-19, Wasriyah mulai belajar berbagai kegiatan dari budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.

    “Saya senang bisa bergabung, saya bisa bertemu dengan teman-teman. Dan, kemudian akhirnya saya berhenti mulung,” tutur Wasriyah.

    Kini, rutinitasnya pun berubah. Jika memulung bisa membuatnya bekerja hingga seharian, aktivitas di Swara Hijau Farm cukup dilakukan pada pagi dan sore hari. Ada waktu yang lebih banyak untuk beristirahat sekaligus melakukan aktivitas lainnya.

    Bagi Wasriyah, bergabung dengan Swara Hijau Farm bukan sekadar berpindah pekerjaan. Ia menemukan lingkungan baru, belajar keterampilan baru, dan perlahan menemukan cara berbeda untuk menjalani kehidupan di kampung yang selama ini menjadi rumahnya.

    Tak hanya Wasriyah, namun sekitar 35 orang dari  400 Kepala Keluarga di RT 4 dan RT 7, Kampung Sumur, telah bergabung bersama Swara Hijau Farm. Warga dibagi dalam beberapa kelompok dan secara bergantian melakukan pengelolaan budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.  

    “Memang tidak semua warga bergabung di Swara Hijau Farm, hanya sekitar 35 orang dan itu pun dilakukan seleksi sebelumnya,” cerita Pak Endang.

    Warga kelompok tani pun secara bergantian mengelola, bahkan untuk menunjang performanya dilakukan absensi. Kelompok tani paling rajin pun akan mendapatkan penghasilan lebih banyak berdasarkan kehadiran dan hasil panen yang didapat. 

    Ketika Bertani Mulai Naik Kelas Bersama Yayasan Astra - YDBA

    "Pernah dibalikin 20 kg karena layu sayurnya, tidak sesuai dengan spek. Dan, kemudian dikembalikan setelah 3 hari. Akhirnya dibagikan ke warga sekitar," kenang Pak Endang pada saat salah dalam pengelolaan sayuran.

    Semenjaka tahun 2023, Suara Hijau Farm telah menjalin kemitraan dengan United Tractors sebagai bagian dari Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra. Dukungan yang diberikan meliputi pengembangan kapasitas untuk memperluas UKM hidroponik, keuangan digital, penerapan 5R, serta metode business model canvas.

    "Selama ini kita terpaku dengan produknya, dan pada terjadi kesulitan saat produk tidak sesuai dengan spek karena suplier sangat selektif sekali. Pada saat itu, kami hanya  terfokus produk jadi banyak sekali kerugian. Kemudian, di scale-up untuk diversifikasi serta memperluas bisnis dengan berbagai jenis bisnis," Pak Endang menjelaskan permasalahan bisnisnya. 

    Berkaca dengan permasalahan bisnis tersebut, Swara Hijau Farm kemudian perlahan-lahan mulai membenahi pengembangan kapasitas bisnis hingga manajemen dengan bimbingan Yayasan Astra - YDBA. Mulai dari penerapan pengelolaan keuangan secara digital, penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin), hingga penerapan metode  business model canvas sehingga bisnis bisa dijelaskan dalam 1 lembar kerangka. 

    “Resiko sayuran dikembalikan itu berkurang signifikan sekitar 30-40 persen dari sebelumnya,” jelas Pak Endang Mintardja setelah melakukan berbagai perbaikan manajemen. 

    Kini Swara Hijau Farm mampu menghasilkan omzet sekitar 4-5 juta per bulan dari berbagai macam produk dengan siklus penghasilan berbeda. Telur ayam misalnya, bisa memberikan pemasukan harian. Sayuran hidroponik menghasilkan pendapatan bulanan, sementara maggot dapat dipanen dan dijual setiap minggu. Untuk melon dan ikan, masa panennya sekitar tiga bulan. 

    Masing-masing punya peran, Maggot, misalnya, dijual sekitar Rp5.000 per kilogram. Namun, setelah memperhitungkan biaya pakan dan kebutuhan lainnya, nilai jualnya belum terlalu besar. Karena itu, maggot tidak hanya dijual begitu saja, tetapi diolah menjadi pelet agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

    Begitu juga dengan budidaya ikan, Swara Hijau Farm memiliki delapan kolam dengan kapasitas sekitar 2.000 ekor ikan. Dalam satu periode, hasil panennya bisa mencapai sekitar 2 kuintal atau 200 kilogram, menyesuaikan permintaan.

    Ke depan, pengembangan tidak berhenti pada penjualan ikan segar. Salah satu yang sedang didorong adalah produk olahan seperti ikan marinasi. Produk ini dinilai memiliki peluang perputaran modal yang lebih baik karena bisa dijual dalam bentuk yang memiliki nilai tambah.

    Rencananya, tambahan modal akan digunakan untuk menyediakan freezer sebagai tempat penyimpanan ikan marinasi sekaligus mendukung distribusi. Para ibu juga akan dilibatkan dalam penjualan secara berkeliling, dengan target sekitar 10 kilogram per orang.

    Dengan modal sekitar Rp30.000-Rp35.000 per kilogram, produk tersebut ditargetkan memberikan margin sekitar Rp10.000-Rp15.000 per kilogram. Bagi Swara Hijau Farm, pola seperti inilah yang ingin terus dikembangkan bukan hanya menghasilkan produk, tetapi mengolahnya agar nilai ekonominya bertambah dan perputaran usaha bisa terus berjalan.

    “Kita bisa bermanfaat bagi orang lain itu membuat saya bahagia. Bisa melibatkan warga pemulung disini, bisa beraktivitas dan menghasilkan penghasilan tambahan, itu yang membuat saya bahagia,” kata Pak Endang berkaca-kaca. 

    Bagi warga Kampung Sumur, Swara Hijau Farm bukan sekadar tempat menanam melon, sayuran, memelihara ikan, atau mengolah maggot. Di tempat ini, warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari memulung mendapatkan ruang untuk belajar, beraktivitas, dan memperoleh penghasilan tambahan. Ke depan, Swara Hijau Farm bersama United Tractors dan Yayasan Astra - YDBA juga diarahkan untuk berkembang menjadi ruang edukasi urban farming yang dapat dikunjungi pelajar, guru, mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum. 

    Dari Pendampingan, UMKM Tumbuh dan Berdaya

    Bagi Bapak William Soeryadjaya, membangun perusahaan tidak berhenti pada bagaimana sebuah bisnis tumbuh dan menghasilkan keuntungan. Ada cita-cita yang lebih besar, yaitu menjadikan Astra seperti pohon rindang yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pohon yang akarnya kuat, tumbuh semakin besar, menghasilkan buah, sekaligus menyediakan tempat bagi orang lain untuk berteduh dan berkembang.

    Gagasan tentang kebermanfaatan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Astra melalui empat pilar, yaitu Astra Hijau, Astra Sehat, Astra Cerdas, dan Astra Kreatif. Di dalam Astra Kreatif, perhatian diarahkan pada bagaimana potensi yang ada di masyarakat dapat dikembangkan menjadi peluang yang memberikan nilai ekonomi.


    Semangat itulah yang salah satunya dijalankan melalui Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Ketua Yayasan Astra - YDBA, Rahmat Samulo, menjelaskan bahwa YDBA menjalankan pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan untuk membantu UMKM tumbuh dan naik kelas secara berkelanjutan. Pendekatan ini membuat pembinaan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga membekali UMKM dengan kemampuan mengelola dan mengembangkan usaha. Berbagai tantangan yang muncul pun dihadapi melalui kolaborasi bersama berbagai pihak. 

    Hingga 2025, terdapat sebanyak 2.030 UMKM yang mengikuti program pembinaan Yayasan Astra - YDBA dengan penyerapan sebesar 4.674 tenaga kerja . UMKM binaan itu tersebar di seluruh wilayah di Tanah Air, menandakan luasnya jangkauan serta dampak nyata yang dihasilkan.

    Bagi warga Kampung Sumur, pembinaan tersebut membantu mereka belajar menghadapi persoalan usaha, mulai dari menjaga kualitas produk hingga mencari peluang pasar baru. Dari budidaya sayuran, melon, ikan, telur, pengolahan maggot, hingga rencana produk ikan marinasi, Swara Hijau Farm terus mengembangkan sumber pendapatan yang melibatkan warga. 

    Inilah semangat “berikan kail, bukan ikan” yaitu membekali masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mengelola usaha agar dapat terus menghasilkan dan berkembang secara mandiri diatas kaki sendiri. 


    Continue Reading

     

    Raja Ampat selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan laut dan pesisir yang luar biasa. Namun, di balik keindahan tersebut, masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil juga berhadapan dengan persoalan lingkungan. Abrasi dan perubahan kondisi pesisir dapat mengancam ruang hidup, sumber air, hingga aktivitas masyarakat yang bergantung pada alam.

    Di Kampung Friwen, persoalan pesisir bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat pernah melihat bagaimana kerusakan mangrove dapat berdampak langsung pada kehidupan mereka. Karena itu, menjaga mangrove bukan hanya persoalan menjaga pepohonan di tepi laut, tetapi juga mempertahankan ruang hidup dan sumber penghidupan.

    Mangrove memiliki peran penting sebagai ekosistem pesisir. Akar-akarnya membantu meredam energi gelombang dan mengurangi resiko erosi, sekaligus menjadi tempat hidup dan berkembang berbagai jenis ikan, kepiting, dan biota lainnya. Bagi masyarakat pesisir, fungsi tersebut berarti lebih dari sekadar perlindungan lingkungan. Mangrove juga berkaitan dengan ketersediaan pangan dan mata pencaharian.

    Di sinilah kita mulai memahami bahwa jaga hutan berarti jaga sumber pangan.

    Mangrove, Menjaga Pesisir dan Menopang Kehidupan

    Mangrove sering kali hanya dilihat sebagai benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi. Padahal, ekosistem ini memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Mangrove menjadi habitat berbagai biota, membantu menjaga produktivitas perairan, sekaligus menyediakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.

    Bank Dunia mencatat bahwa mangrove merupakan bagian penting dari ketahanan pesisir sekaligus mendukung kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ekosistem mangrove menyediakan habitat bagi ikan dan krustasea serta menghasilkan berbagai produk yang dapat dimanfaatkan untuk pangan dan penghidupan.

    Artinya, ketika mangrove rusak, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada habitat ikan yang ikut terganggu, ada sumber pangan yang berkurang, dan ada pengetahuan masyarakat yang berpotensi ikut menghilang.

    Cerita dari Kampung Friwen, Raja Ampat, menunjukkan bagaimana hubungan tersebut bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

    Dari Buah Mangrove Menjadi Pangan di Kampung Friwen

    Bagi masyarakat Kampung Friwen, mangrove bukan sekadar hutan yang harus dijaga. Di dalamnya tersimpan pengetahuan pangan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.

    Salah satunya adalah buah aibon dari kelompok mangrove Bruguiera. Buah ini tidak bisa langsung dimakan karena mengandung tanin yang membuat rasanya pahit. Masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengolahnya. Buah dikupas, direbus untuk mengurangi kandungan tanin, kemudian ditumbuk hingga menjadi tepung.

    Dari sekitar lima kilogram buah mangrove, dapat dihasilkan kurang lebih dua kilogram tepung. Tepung tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai jenis pangan yang lebih dekat dengan selera masyarakat saat ini, seperti mi, pizza, donat, dan kue kering.

    Yang menarik, pemanfaatan buah mangrove ini bukan sekadar inovasi pangan. Ada upaya untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang sempat ditinggalkan.

    Mama-mama di Kampung Friwen juga memiliki peran penting dalam menjaga mangrove dan pengetahuan tersebut. Mereka terlibat dalam rehabilitasi mangrove sekaligus mengembangkan pemanfaatan hasilnya. Bagi mereka, menjaga mangrove berarti memastikan sumber makanan tetap tersedia.

    Inilah bentuk ketahanan pangan yang tumbuh dari alam dan pengetahuan masyarakat sendiri. Bukan hanya mengambil apa yang tersedia, tetapi memahami cara memanfaatkan sumber daya tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.

    Dari Mangrove ke Aren, Tanaman dengan Dua Manfaat

    Cerita tentang mangrove di Raja Ampat mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki banyak tanaman lokal yang memiliki fungsi ganda. Salah satunya adalah pohon aren.

    Aren dikenal sebagai tanaman yang hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Nira dapat diolah menjadi gula aren dan gula semut, buahnya menjadi kolang-kaling, sementara pati atau tepung aren juga dapat digunakan sebagai bahan pangan.

    Namun, manfaat aren tidak berhenti di dapur. Secara ekologis, aren juga memiliki fungsi sebagai tanaman konservasi tanah dan air. Sistem perakarannya yang kuat membantu mengurangi erosi, terutama pada kawasan dengan kemiringan tertentu. Karena itu, aren memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis.

    Di sinilah kita bisa melihat kesamaan antara mangrove dan aren. Keduanya memang tumbuh di lingkungan yang berbeda. Mangrove berada di kawasan pesisir, sementara aren banyak ditemukan di wilayah daratan dan perbukitan. Namun, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa tanaman dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus menjadi bagian dari sumber pangan dan penghidupan masyarakat.

    Menjaga Alam, Menjaga Sumber Pangan

    Kisah Kampung Friwen memberikan pelajaran sederhana tetapi penting. Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari pengetahuan masyarakat terhadap alam di sekitarnya.

    Buah mangrove yang dahulu dikenal sebagai pangan lokal dapat kembali diolah menjadi tepung dan berbagai makanan. Mangrove yang direhabilitasi bukan hanya membantu menjaga pesisir, tetapi juga membuka kembali peluang pemanfaatan sumber daya lokal.

    Begitu pula dengan aren. Ketika tanaman ini dijaga dan dimanfaatkan dengan tepat, manfaatnya dapat dirasakan dari sisi lingkungan maupun ekonomi.

    Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan pohon tetap berdiri. Ada sumber pangan, pengetahuan lokal, mata pencaharian, dan kehidupan masyarakat yang ikut bergantung di dalamnya.

    Dari Raja Ampat, kita belajar bahwa jaga hutan = jaga sumber pangan. Mungkin setiap daerah di Indonesia memiliki “mangrove” dan “aren”-nya sendiri, yaitu sumber daya alam yang selama ini ada di sekitar kita, tetapi belum sepenuhnya kita kenali potensinya.

    Karena menjaga alam bukan berarti berhenti memanfaatkannya. Yang penting adalah bagaimana kita memanfaatkan, mengolah, dan menjaganya agar tetap tersedia untuk hari ini dan generasi yang akan datang.


    Continue Reading

     

    Semenjak meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Jakarta, ada banyak hal yang kadang membuat saya rindu pulang. Suasana rumah, makanan khas buatan keluarga, dan tentu saja kucing-kucing yang dulu hampir selalu ada di sekitar rumah.


    Bagi saya, kucing bukan sekadar hewan peliharaan. Sejak kecil, saya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan mereka. Almarhum Mamah dan Kakak juga sama-sama menyukai kucing. Bahkan, Kakak pernah memelihara cukup banyak kucing di rumah. Jadi, setiap kali pulang kampung, rasanya selalu ada saja kucing yang menyambut atau berkeliaran di halaman.


    Setelah Mamah dan Kakak meninggal, suasana itu perlahan berubah. Kucing-kucing yang dulu dirawat dengan penuh perhatian mulai berpencar. Ada yang pergi, ada yang lebih sering berada di rumah tetangga. Mungkin terdengar sederhana, tetapi dari situlah saya sadar bahwa ada rutinitas kecil yang ternyata sangat saya rindukan: memberikan makan, melihat mereka tidur sembarangan, atau sekadar memperhatikan tingkah lucu mereka.


    Rasa rindu itu kemudian terbawa sampai saya tinggal di Jakarta. Awalnya, saya hanya memberikan makan kepada kucing-kucing yang datang ke sekitar tempat tinggal. Lama-kelamaan mereka mulai mengenali saya. Ada yang datang ketika waktunya makan, ada juga yang hanya mampir sebentar seperti sedang memastikan apakah hari itu saya membawa makanan atau tidak.


    Sekarang, ada Komo yang saya pelihara, sementara Kimi sebenarnya adalah kucing milik tetangga. Entah karena merasa nyaman atau memang suka makan, Kimi cukup sering datang ke kontrakan saya. Setelah makan dan minum, kadang ia tidur dengan santainya seolah-olah tempat ini adalah rumah keduanya.


    Selain mereka, masih ada beberapa kucing lain yang sesekali saya beri makan. Dari situ saya mulai memahami satu hal: menyayangi kucing memang menyenangkan, tetapi merawat mereka juga membutuhkan tanggung jawab, termasuk soal biaya.


    Merawat Kucing Ternyata Ada Biayanya



    Kalau hanya satu atau dua kucing, mungkin pengeluarannya belum terlalu terasa. Namun, ketika jumlahnya bertambah, kebutuhan mereka juga ikut bertambah. Makanan, pasir, perlengkapan kebersihan, hingga kebutuhan perawatan lainnya harus dipikirkan.


    Belum lagi kalau ada kucing yang membutuhkan perhatian lebih terhadap kesehatannya. Di sinilah saya mulai belajar untuk mengatur pengeluaran dengan lebih bijak.


    Menurut saya, menghemat biaya merawat kucing bukan berarti mencari semua yang paling murah. Justru, berhemat adalah soal memahami kebutuhan mereka dan menghindari pengeluaran yang sebenarnya bisa dicegah. Berikut beberapa hal sederhana yang saya pelajari selama merawat dan memberi makan kucing.


    Pilih Makanan Sesuai Kebutuhan Kucing


    Makanan tentu menjadi salah satu pengeluaran rutin yang paling terasa. Apalagi kalau setiap hari ada beberapa mulut berbulu yang menunggu di depan pintu.


    Meski begitu, saya belajar untuk tidak hanya melihat harga ketika memilih makanan. Yang lebih penting adalah menyesuaikan makanan dengan kebutuhan kucing dan memperhatikan informasi nutrisi yang tersedia. Harga yang terlihat murah belum tentu benar-benar hemat apabila makanan tersebut ternyata tidak sesuai dan menimbulkan masalah di kemudian hari.


    Saya biasanya juga mempertimbangkan ukuran kemasan dan harga per beratnya. Kalau memang lebih hemat membeli dalam jumlah tertentu dan penyimpanannya memungkinkan, pilihan itu bisa membantu mengatur pengeluaran bulanan.


    Jangan Terlalu Mudah Percaya dengan Tatapan Memelas


    Pemilik kucing pasti paham bagian ini. Kadang mereka baru saja makan, tetapi beberapa saat kemudian sudah kembali mengeong di dekat tempat makanan. Tatapannya pun dibuat sedemikian rupa sampai kita merasa bersalah karena tidak langsung menambah porsinya.


    Padahal, belum tentu mereka benar-benar lapar. Memberikan makanan sesuai porsi dan jadwal membantu kita mengetahui kebutuhan mereka dengan lebih teratur. Selain mengurangi makanan yang terbuang, persediaan pun tidak habis lebih cepat dari yang seharusnya.


    Tentu saja, kebutuhan setiap kucing bisa berbeda. Karena itu, penting untuk menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.


    Rawat Hal-Hal Sederhana di Rumah


    Tidak semua perawatan harus dilakukan di luar rumah. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan sendiri, seperti menjaga kebersihan tempat makan dan minum, membersihkan tempat tidur, atau menyisir bulu.


    Bagi saya, kegiatan kecil seperti ini bukan hanya soal menghemat biaya. Saat kita lebih sering memperhatikan kucing, kita juga jadi lebih mengenal kebiasaan dan kondisi mereka. Kalau ada sesuatu yang terlihat tidak biasa, setidaknya kita bisa menyadarinya lebih awal.


    Namun, tentu ada batasnya. Untuk kondisi yang membutuhkan penanganan profesional, kesehatan kucing tetap harus menjadi prioritas. Menghemat bukan berarti memaksakan semua hal ditangani sendiri.


    Jaga Kebersihan Litter Box


    Pasir kucing juga menjadi pengeluaran rutin yang cukup terasa. Salah satu cara sederhana untuk menggunakannya dengan lebih efisien adalah membersihkan kotoran secara rutin.


    Dengan begitu, bagian pasir yang masih bersih tidak ikut terbuang begitu saja. Selain lebih hemat, litter box yang bersih juga membuat kucing lebih nyaman menggunakannya.


    Menurut saya, prinsipnya sederhana: yang bisa dihemat adalah penggunaannya, bukan kebersihannya.


    Kucing Tidak Selalu Membutuhkan Mainan Mahal


    Salah satu hal yang sering membuat saya tersenyum adalah melihat betapa sederhana cara kucing menikmati hidup. Kita bisa saja membeli mainan baru, tetapi mereka justru lebih tertarik pada kardus bekas yang ada di sudut ruangan.


    Mainan sederhana yang aman bisa menjadi pilihan. Namun, tetap pastikan tidak ada bagian kecil, tajam, atau benda yang berisiko membahayakan mereka.


    Kadang, yang paling mereka butuhkan juga bukan mainan baru, melainkan waktu kita. Bermain beberapa menit bersama kucing bisa menjadi hiburan sederhana, baik untuk mereka maupun untuk kita.


    Sisihkan Anggaran untuk Kebutuhan Kucing


    Saya termasuk orang yang baru benar-benar menyadari pentingnya membuat anggaran setelah memiliki beberapa kucing yang harus diperhatikan.


    Tidak perlu rumit. Cukup mengetahui kira-kira berapa pengeluaran untuk makanan, pasir, dan kebutuhan rutin lainnya setiap bulan. Kalau memungkinkan, ada baiknya menyisihkan sedikit dana cadangan untuk kebutuhan yang tidak terduga.


    Jumlahnya tidak harus besar. Yang penting disesuaikan dengan kemampuan dan dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, kita tidak terlalu kaget ketika ada kebutuhan tambahan.


    Memilih Makanan yang Tepat Juga Bagian dari Berhemat



    Dari semua kebutuhan kucing, makanan tetap menjadi salah satu yang paling penting. Karena diberikan setiap hari, memilih makanan yang sesuai tentu perlu dipertimbangkan dengan baik.


    Belakangan, saya juga mengenal BOLT Cat Food sebagai salah satu pilihan makanan kucing yang menarik bagi pemilik yang ingin memperhatikan kebutuhan nutrisi tanpa membuat pengeluaran terlalu berat. Bagi saya, hal seperti ini cukup penting, terutama ketika kita merawat lebih dari satu kucing.


    Tentunya, kebutuhan setiap kucing berbeda. Usia, aktivitas, dan kondisi sehari-hari bisa menjadi pertimbangan sebelum menentukan makanan. Karena itu, menurut saya memilih makanan bukan sekadar mencari yang paling mahal, tetapi mencari yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus kemampuan kita.


    Konsep seperti ini membuat saya melihat BOLT Cat Food sebagai salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan. Yang terpenting, kita tetap memahami kebutuhan kucing dan tidak mengabaikan kualitas makanan hanya karena ingin berhemat.


    Pada akhirnya, merawat kucing memang membutuhkan biaya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa semuanya bisa dilakukan dengan murah, karena setiap kucing memiliki kebutuhan yang berbeda. Namun, biaya tersebut tetap bisa dikelola dengan perencanaan yang baik.


    Dari Komo, Kimi, dan kucing-kucing lain yang pernah hadir dalam hidup saya, saya belajar bahwa merawat mereka bukan hanya soal menyediakan makanan. Ada perhatian, waktu, dan tanggung jawab yang ikut menyertainya.


    Kucing mungkin tidak pernah mengatakan terima kasih dengan kata-kata. Mereka hanya datang ketika lapar, tidur di dekat kita ketika merasa nyaman, atau mengikuti langkah kita tanpa alasan yang jelas. Tetapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah, kehadiran mereka terasa begitu berarti.


    Jadi, hemat dalam merawat kucing tentu boleh. Pilih makanan dengan bijak, atur kebutuhan, dan hindari pengeluaran yang tidak perlu. Namun, perhatian terhadap kesehatan dan kenyamanan mereka tetap harus menjadi prioritas. Karena merawat kucing dengan baik bukan soal seberapa mahal yang kita berikan, melainkan seberapa bertanggung jawab kita terhadap mereka.


    Kalau kamu ingin mencari informasi lebih lengkap tentang BOLT Cat Food, yuk mampir ke Instagram @boltpetfoodid, TikTok boltpetfoodid atau Facebook BOLT Pet Food Indonesia.


    Sementara itu, untuk pembelian, BOLT Cat Food sudah tersedia di pet shop terdekat maupun Official Store CPPETINDO di e-commerce favoritmu. Biar lebih sat set, kamu juga bisa langsung BOLT Cat Food.



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories
    Logo Komunitas BRT Network
    Seedbacklink
    Intellifluence Herd Worth Value: $165

    Search

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • youtube
    • instagram

    New Post

    Postingan Populer

    • Menjaga Mangrove dan Sumber Pangan, Inspirasi Ketahanan Pangan dari Raja Ampat
    • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya Perawatan Tanpa Mengorbankan Kesehatannya
    • Kalau Bantuan Berhenti, Sudah Siapkah Berdiri Sendiri? Belajar dari Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026
    • Menanam Harapan di Tengah Sampah, Perjuangan Swara Hijau Farm di Kampung Pemulung
    • Dari Kuala Lumpur ke Hatyai, Lalu Menemukan Penang Sekali Lagi
    • Yogyakarta (I) : Raminten, Prambanan & Ratu Boko
    • Giveaway Hop - Travel & Romance
    • 5 Cara Tampil Modis Dan Trendy
    • Kabar dari Rumah
    • Mudahnya Membuka Tabungan Online

    Blog Archive

    • ▼  2026 (20)
      • ▼  September (3)
        • Menanam Harapan di Tengah Sampah, Perjuangan Swara...
        • Menjaga Mangrove dan Sumber Pangan, Inspirasi Keta...
        • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya P...
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2025 (32)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2024 (52)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (7)
      • ►  Oktober (8)
      • ►  September (4)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2023 (68)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (8)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (8)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (7)
      • ►  Maret (8)
      • ►  Februari (6)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2022 (75)
      • ►  Desember (14)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (12)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (4)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (12)
      • ►  Maret (6)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2021 (38)
      • ►  Desember (4)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (4)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (7)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2020 (25)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (53)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (4)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (7)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (3)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (8)
    • ►  2018 (83)
      • ►  Desember (9)
      • ►  November (8)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (8)
      • ►  Agustus (13)
      • ►  Juli (6)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (8)
      • ►  April (9)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2017 (36)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Agustus (6)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2016 (41)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (4)
      • ►  September (3)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (7)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2015 (63)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (11)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (6)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2014 (11)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2013 (5)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
    • ►  2010 (1)
      • ►  Desember (1)

    Blogger Friend

    • My Life My Style
      Eksplorasi Seru di Negeri di Bawah Angin, Sabah dan Kota Kinabalu
      1 hari yang lalu
    • Blog Bukunya Kimi | Banyak-banyaklah Membaca. Biar Pintar.
      Sebuah Perjalanan Panjang
      1 hari yang lalu
    • - Connect and Share Blogging Tips in Two Languages
      Ulasan Starlink Setelah 2 Tahun Pakai: Kecepatan, Biaya Asli, Kekurangan, dan Siapa yang Cocok
      2 hari yang lalu
    • fitrian.net
      Serunya Make Your Own Skincare di Wardah Skinverse
      3 hari yang lalu
    • YOGA AS YOGGAAS
      Satu Malam Penuh Cinta
      4 hari yang lalu
    • The TraveLearn
      Selamat 5 Tahun, Keluarga Kembara
      6 hari yang lalu
    • Blognya bisot
      Era Pasca-Manusia: Ketika Mesin Mulai Berpikir, Manusia Jadi Apa?
      1 minggu yang lalu
    • Small Things, Kecil Tapi Penting :)
      Berdoalah Pada Allah, Ia Sayang Sekali Pada Kita
      1 minggu yang lalu
    • Langkah Baruku
      Tips Memilih Jasa Pasang Lift Rumah yang Tepat untuk Kenyamanan dan Keamanan
      2 minggu yang lalu
    • Menuliskan Sebelum Terlupakan
      ASUS Pamerkan Laptop Tahan Banting di Blogger & KOL Gathering Yogyakarta
      2 minggu yang lalu
    • Cerita EKA
      Stamp Travel Memory: Panduan Rute Stamp Hunting di Jakarta
      3 minggu yang lalu
    • HM Zwan
      Pengalaman Menginap di Hotel Indah Palace Tawangmangu
      3 minggu yang lalu
    • Mampir yuk, kerumahku
      Kenapa Harus Belajar Bahasa Inggris? Ini Manfaatnya untuk Kehidupan Kamu
      3 minggu yang lalu
    • BLOGFAM – When Sharing Meets Caring
      60 Tahun Hari Literasi Internasional: Ketika Pengetahuan Menjadi Jalan Menuju Kemajuan
      4 minggu yang lalu
    • Ika Koentjoro
      Travel Armor Case Bag: 7 Proven Tips to Avoid Costly Packing Mistakes
      4 minggu yang lalu
    • WHEN IT'S ONLY JG & AST
      Yang Berubah Sejak Pulang Haji
      4 minggu yang lalu
    • BlogCamp
      How to Choose the Best Headhunter Company Indonesia
      5 minggu yang lalu
    • SALAMINZAGHI
      Hai. Aku Kembali.
      1 bulan yang lalu
    • punyapista
      3 Skill Sederhana yang Menentukan Sukses Gagalnya Seorang Mediator
      1 bulan yang lalu
    • Life begins at 30...
      Pulang Kampung 2026
      1 bulan yang lalu
    • Melfeyadin
      Gejala Mata Kering Bikin Nggak Nyaman
      1 bulan yang lalu
    • Berbagi Cerita
      Tips Memilih Kipas Angin yang Awet dan Ramah di Kantong
      2 bulan yang lalu
    • tindak tanduk arsitek
      lampau melekat dari angkor wat
      2 bulan yang lalu
    • ..:: ntan™ | bunga dengan nama terbuka
      Surat untuk Kamu, dan Diriku
      2 bulan yang lalu
    • Lucia Priandarini
      Ketika Anakku Bisa Mengalahkanku, Aku Menang*
      3 bulan yang lalu
    • Akhmad Muhaimin Azzet | mari bersama menggapai ridha-Nya
      Akan Datang Rezeki dari Arah yang Tidak Disangka
      4 bulan yang lalu
    • Jurnal Evi Indrawanto
      Menikmati Iskender Kebab di Yüce Hünkâr, Sensasi Kuliner yang Legendaris di Bursa
      4 bulan yang lalu
    • Motherhood
      Panduan Menggunakan WhatsApp BCA di 08111500998 untuk Cek Tagihan Kartu Kredit
      4 bulan yang lalu
    • My Purple World
      Umroh Perdana dan Mandiri - Never Ending Journey to Reach His Blessings - part 7 Jeddah
      5 bulan yang lalu
    • desperate housewife
      Postingan Terakhir
      5 bulan yang lalu
    • Tukang Ngukur Jalan
      Stop Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), Ayo Ikut Andil Mengubahnya!
      6 bulan yang lalu
    • Indah Julianti
      17 Channel YouTube Favorit Perempuan 50 Tahun Plus
      6 bulan yang lalu
    • Write Your Diary
      Ghibli vs Disney: Why They Are Nothing Alike
      7 bulan yang lalu
    • ge[n][d]ud BlogPacker
      Akurasi Pers vs Kecepatan Media Sosial
      7 bulan yang lalu
    • Kimi's Cool Blog
      Kembali Mengkristik
      8 bulan yang lalu
    • Pipit Widya
      Random
      9 bulan yang lalu
    • Shintaries
      Welcome 2026!
      9 bulan yang lalu
    • The Shymphony Of EKA
      Dubbing Film di Mall, Apa Rasanya?
      9 bulan yang lalu
    • Putrinyanormal
      Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
      1 tahun yang lalu
    • Herdis Suryatna | Pengalaman adalah guru yang terbaik
      Sewa Hiace Luxury Harga Terjangkau dan Nyaman di Bandung dan Ciamis
      1 tahun yang lalu
    • Rumah Mayaku
      Ada Apa Di Balik Cerita "Lauk Daun"?
      1 tahun yang lalu
    • pemainkata | sekadar bilik kecil pecinta kata
      Humor Konyol Kata Kata Bijak Lucu: Obat Ampuh Untuk Hidup
      1 tahun yang lalu
    • my story
      Saat Mata Kering Mengganggu Aktivitas Kerja, Insto Dry Eyes Solusinya
      1 tahun yang lalu
    • Macangadungan
      Microsoft is bringing cloud gaming to Xbox consoles later this year
      1 tahun yang lalu
    • udafanz[dot]com
      Strategi SEO untuk Meningkatkan Prospek Bisnis Anda
      1 tahun yang lalu
    • Linda Leenk - Little Part of My Life
      2024 Fellowship Journey
      1 tahun yang lalu
    • Dunia Kecil Indi
      Surat untuk Mika di Surga (Hari AIDS Sedunia)
      1 tahun yang lalu
    • Gembul Kecil Penuh Debu
      Mangut Iwak Wader ❤
      1 tahun yang lalu
    • Wira Nurmansyah
      Discovering Macao: A Unique Fusion of East and West
      1 tahun yang lalu
    • Sisi Hidupku
      Apa Kabar Senin Pagi
      2 tahun yang lalu
    • Lianny Hendrawati
      Resep Mini Banana Choco Cake Tanpa Mixer
      2 tahun yang lalu
    • a Dreamer - Travelographer - Food Adventurer - Travel Blogger
      Mau Liburan ke Vietnam? Catat 5 Tips Berikut!
      2 tahun yang lalu
    • Una Vida Escrita de la Una
      Bye Bye My Friend
      2 tahun yang lalu
    • every mom has a story
      Sastra masuk sekolah, mana buku sastra yang layak dibaca pelajar SMA, mana yang tidak?
      2 tahun yang lalu
    • Mira Sahid
      Hati Seperti Kertas
      2 tahun yang lalu
    • Cokelat Gosong
      Jangan Biarkan Usia Membatasimu, Stay #AgelessLimitless with ERHA ULTIMATE
      2 tahun yang lalu
    • DISGiOVERY
      Keindahan Pantai Pasir Kencana Pekalongan yang Memukau
      2 tahun yang lalu
    • Catatan Perjalananku
      Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
      3 tahun yang lalu
    • Redcarra
      PLTS: Membangun Masa Depan Bersih dan Berkelanjutan
      3 tahun yang lalu
    • Ratu de Blog
      Rekomendasi Olahraga Untuk Menurunkan Berat Badan
      3 tahun yang lalu
    • Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik » Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik
      Over 50 Dating – Finding a Good Online Dating Site for You
      3 tahun yang lalu
    • suarane.org
      Kere-Aktif
      4 tahun yang lalu
    • SimBale - Download Software Gratis
      AVG Anti-Virus 22.8.7500
      4 tahun yang lalu
    • backpackstory
      Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
      4 tahun yang lalu
    • Cinta Teknologi
      Router Static Berbasis CLI di Cisco Packet Tracer - Cinta Teknologi
      4 tahun yang lalu
    • Sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane
      Top 10 Satisfactory Depended On Loose Bitcoin Cloud Mining Websites Without Investment Of 2021 – The Bharat Specific News
      4 tahun yang lalu
    • Dunia Senja
      Catatan Hati Penghujung Tahun 2021
      4 tahun yang lalu
    • Blog - Lucedale.
      Dearest: New Post
      5 tahun yang lalu
    • #FDCG
      bye 🌻
      5 tahun yang lalu
    • jinjinger
      Kompleks
      5 tahun yang lalu
    • Jefferson's Stage.
      The Diplovemat
      5 tahun yang lalu
    • Nova Wijaya
      Sebelum Mulai Investasi Online, Yuk Pahami 5 Cara Aman Berinvestasi Berikut Ini
      5 tahun yang lalu
    • Resep Kuliner Indonesia dan Dunia
      Karedok Leunca
      6 tahun yang lalu
    • Dian Kelana
      Lindungi Keluarga Kita dengan Antiseptik.
      6 tahun yang lalu
    • Garis Horizon
      Apakah benar semua akan baik-baik saja?
      6 tahun yang lalu
    • .: adie DOES :.
      Sendirian di Uchisar Castle
      6 tahun yang lalu
    • Kehidupan Di Jepang
      Main Snowboard
      6 tahun yang lalu
    • Kaleng Harapan » Kamera Lubang Jarum
      3 Fakta dibalik Promo 12.12
      6 tahun yang lalu
    • Stay Hungry. Stay Foolish
      Rindu Budaya Ilmu
      6 tahun yang lalu
    • Dunia Iwok
      [Family Vacation] Menikmati Petik Apel di Kota Batu Malang - Part 4
      6 tahun yang lalu
    • Pemimpi Hujan
      Nyobain 6 Menu Terbaru Horison Ultima Ratu
      6 tahun yang lalu
    • Dija Princess
      Jelajah Desa Galengdowo
      6 tahun yang lalu
    • Fardelyn Hacky
      Setop Stigma Orang dengan Gangguan Jiwa
      6 tahun yang lalu
    • Taqorrub.com
      new chair
      6 tahun yang lalu
    • Bangsari
      Nahdliyyin Yang Bersujud Di Hadapan Yesus
      7 tahun yang lalu
    • Donna Imelda
      Bebas Komedo dan Bekas Jerawat dengan Sabun Herbal Banana Peel Carbon
      7 tahun yang lalu
    • Keluarga Haripahargio
      REPLACED
      7 tahun yang lalu
    • Blog Adi Nugraha
      Wisata Alam yang Menakjubkan di Sulawesi Utara
      7 tahun yang lalu
    • All of Putri (¬.¬)ƪ_(˘⌣˘'!)
      I wanna asking...
      7 tahun yang lalu
    • A HOUSEWIFE'S DAY OUT
      Vincent van Gogh, just my simple thought.
      7 tahun yang lalu
    • Natureve Shop
      Istri Marah Karena Terlalu Cepat Ejakulasi? Pake Ini Biar Gagah
      7 tahun yang lalu
    • BETOIJO
      GOD'S MIRACLE: I GOT A NEW JOB!
      7 tahun yang lalu
    • Ninik Setyarini
      [Bukan Sinopsis] Bohemian Rhapsody
      7 tahun yang lalu
    • TGIF! Magazine
      Kereta Hantu Pagi Hari
      7 tahun yang lalu
    • fanabis
      Craftsman Style Kitchen Faucet
      7 tahun yang lalu
    • lalank pattrya dan hal random lainnya.
      Ngatain Mereka Disini
      7 tahun yang lalu
    • Galaksi Pungky
      Review: Sakura Collagen Cream Anti Age's, Siap Menua dengan Kulit Bahagia!
      8 tahun yang lalu
    • Aksaraku
      Rasakan Indahnya Malam Pertama di Bali Itu Mudah dan Murah, Begini Caranya
      8 tahun yang lalu
    • Aulia Fasya
      Masa Lalu dan Jejak Digital
      8 tahun yang lalu
    • Anisa AE
      Penyebab Ibu Kandung Aniaya Bayi Calista
      8 tahun yang lalu
    • Narzis Blog
      Ayo Move On!
      8 tahun yang lalu
    • Beby's Diary
      Ayang-Ayangan di Depan Umum
      8 tahun yang lalu
    • sketsa hati
      Visit Zugspitze from Munich by Train
      8 tahun yang lalu
    • Ca Ya
      Yang Tidak Biasa dari Nikahan Incess Ca Ya
      8 tahun yang lalu
    • A Border that Breaks
      Janus dalam Mozaik-Mozaik Kecil
      8 tahun yang lalu
    • irhapunya
      #PontianakTrip : Menjelajah Rasa dengan Kuliner Pontianak
      8 tahun yang lalu
    • Tulisanku
      Begini Cara Memindahkan Data dari Blogdetik ke WordPress
      8 tahun yang lalu
    • Bibi Titi Teliti
      Menyongsong Masa Depan Digital bersama CBN
      8 tahun yang lalu
    • HELLO!
      9 Teknik Dasar Yang Harus di Kuasai Dalam Permainan Tenis Meja
      9 tahun yang lalu
    • Catatan Anazkia
      Gerbong Wanita, Tak Semenyeramkan yang Dikira
      9 tahun yang lalu
    • My Daily Notes
      Berbagi Inspirasi
      9 tahun yang lalu
    • Ruang Emak
      SO GOOD Ayam Potong Kuah Cabe Hijau, Sajian Spesial Di Hari Lebaran
      9 tahun yang lalu
    • eithea
      My Favorite Time of in day
      9 tahun yang lalu
    • Rianda Prayoga Blog
      Ngabisin Uang THR, Kenapa Gak?
      9 tahun yang lalu
    • Blog Anak Nelayan
      Blog Gak Pernah Update
      9 tahun yang lalu
    • Jalan Pendaki
      Annapurna Basecamp Series: Drama Pertama Menuju Tanah Dewa-Dewa Himalaya
      9 tahun yang lalu
    • Netnesia
      Telkom Buka Pemblokiran Netflix
      9 tahun yang lalu
    • Widaku.com
      Temukan Sunscreen Yang Baik Untuk Wajah Disini
      9 tahun yang lalu
    • Perjalanan Tak Berujung
      Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
      9 tahun yang lalu
    • Gulanya Gulali
      Ingin Menghemat Pengeluaran? Gunakan Jasa Catering Aja!
      9 tahun yang lalu
    • Travel Diary
      Si Yaki dan Tarsius Bitung yang menggemaskan
      9 tahun yang lalu
    • Jendela Keluarga
      Pentingnya Mengembangkan Kecerdasan Sosial
      10 tahun yang lalu
    • Ayu Saritem Blog
      Cara Membuka Aura Kecantikan Bagi Wanita Hamil
      10 tahun yang lalu
    • mata buku indri
      Review: Trilogi Insiden
      10 tahun yang lalu
    • Arsitektur Dunia | Gallery Arsitektur Dunia
      Lorem ipsum dolor sit amet
      10 tahun yang lalu
    • when journalist becomes backpacker
      THE FACE OF TERRACOTTA, CHINA
      10 tahun yang lalu
    • Jurnal Mira Sahid | Emak Blogger
      That Moment!
      10 tahun yang lalu
    • Jejak BOcahiLANG
      Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
      10 tahun yang lalu
    • aksara senandika | Sedikit noktah kehidupan
      Aku Sedang Malas
      10 tahun yang lalu
    • Petrus Andre Blog
      10 Hal yang Harus Dilakukan agar Blog Kamu Lebih Menghasilkan
      10 tahun yang lalu
    • Nicegreen
      Allah Menegurku Dengan Syaraf Kejepit
      10 tahun yang lalu
    • Wuri Nugraeni | Reporter, Menulis, dan Wisata
      Pindah Rumah ke wurinugraeni.com
      10 tahun yang lalu
    • AGIASAZIYA
      PAKSAISME
      11 tahun yang lalu
    • Controversy
      Less is More dalam Kumpulan Cerita
      11 tahun yang lalu
    • SECAWANKOPISENJA
      [Flash Fiction] PURA-PURA PULANG
      11 tahun yang lalu
    • Febry Hadinata WordPress
      Jogja x Dieng x Solo Part 1
      11 tahun yang lalu
    • Saoscabe.com | Website Humor Indonesia
      Fakta Kota Tembung
      11 tahun yang lalu
    • Albarnation
      Mau Kredit Motor ? Di Cermati.com Aja
      11 tahun yang lalu
    • Makhluk Kecil
      Pindah
      11 tahun yang lalu
    • Ahmad Rafiq Chaniago
      Pameran Seni Rupa Lima Jari
      11 tahun yang lalu
    • Melihat Dunia
      Before I Die I Want...
      11 tahun yang lalu
    • Catatan Ruslan
      Satu Jam Menyusuri Sungai Kahayan
      11 tahun yang lalu
    • .:: Nhie ::. | Just another WordPress.com weblog
      Noda Makanan di Pakaian
      11 tahun yang lalu
    • The Dusty Sneakers
      Memori
      11 tahun yang lalu
    • Beautify Me
      Etude House Etoinette Princess Pouch
      13 tahun yang lalu
    • yosbeda
    • Chronosphere
    • hidayah-art.blogspot.co
    • zubaid.ID
    • Tukangecuprus
    • Arian's Blog
    • Benablog - Cerita Si Benakribo
    • Jogja Ready
    • Angga Ong
    • yandi punya cerita
    • Jejaring Miss Fenny
    • pegipegi.com: Pesan Hotel & Tiket Pesawat Termurah Online
    • BlogS of Hariyanto
    • Catatan Kartina
    Perlihatkan 5 Perlihatkan Semua

    Labels

    Asuransi Backpacker Bank Budaya Fashion Film Movie Review Wisata otomotif
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top