Ketika Gambut Terbakar, Keanekaragaman Hayati dan Sumber Pangan Nusantara Ikut Terancam

10/21/2026 10:51:00 PM

 

Bayangkan sebuah pagi di sebuah kampung di Kalimantan. Seorang ibu menyiapkan makanan untuk keluarganya. Ada ikan yang diperoleh dari sungai, sayuran dari kebun, dan hasil bumi yang tumbuh di sekitar tempat tinggalnya. Bahan-bahan makanan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya ada hubungan panjang antara manusia dan alam yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Sungai menyediakan ikan. Tanah menjadi tempat berbagai tanaman tumbuh. Hutan menyimpan kekayaan hayati yang menopang kehidupan. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam, semua itu bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, bagaimana jika suatu hari hutan mulai terbakar, lahan gambut mengering, dan kualitas air sungai menurun? Persoalannya bukan lagi sekadar pepohonan yang hangus atau asap yang mengganggu pernapasan. Ada kehidupan yang ikut terancam, termasuk kemampuan masyarakat untuk mendapatkan makanan dari lingkungan di sekitarnya.

Inilah sisi lain kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering luput dari perhatian. Di balik luasnya lahan yang terbakar, ada keanekaragaman hayati yang terancam dan sumber pangan lokal yang berpotensi hilang. Ketika ekosistem rusak, dampaknya dapat menjalar hingga ke meja makan masyarakat.

Indonesia sendiri memiliki sekitar 24,2 juta hektare ekosistem gambut tropis yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Luasnya kawasan ini memperlihatkan betapa pentingnya gambut bagi kehidupan dan keseimbangan lingkungan di Indonesia.

Namun, besarnya kawasan gambut juga diikuti tantangan dalam perlindungannya. Menurut Yoga Aprilliano, Communications Lead Pantau Gambut, sekitar 16,4 juta hektare Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia memiliki tingkat kerentanan kebakaran sedang hingga tinggi berdasarkan data Peatland Fire Alert 2023.

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran bukan persoalan kecil. Terlebih, gambut memiliki karakteristik yang membuatnya rentan ketika mengalami pengeringan. Api dapat merambat dan membara di bawah permukaan tanah, sehingga kebakaran terkadang tetap berlangsung meskipun api tidak lagi terlihat dari permukaan.

Yoga Aprilliano juga menjelaskan bahwa gambut yang telah terdegradasi sulit kembali ke kondisi semula. Perubahan hidrologi, kerusakan struktur tanah, dan hilangnya cadangan karbon membuat pemulihan ekosistem ini menjadi tantangan tersendiri.

Artinya, ketika gambut rusak, yang hilang bukan hanya lapisan tanah yang terbakar. Kita juga berhadapan dengan ancaman terhadap ekosistem yang selama ini menopang kehidupan, mulai dari tumbuhan dan satwa hingga masyarakat yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada alam.

Pertanyaannya, ketika ekosistem gambut kehilangan kemampuannya untuk menopang kehidupan, apa yang terjadi pada keanekaragaman hayati dan sumber pangan yang selama ini tumbuh bersamanya?

Dari Kerusakan Ekosistem hingga Ancaman bagi Keragaman Pangan

Ketika Habitat Hilang, Kehidupan Ikut Berubah

Hutan yang terbakar tidak serta-merta kembali seperti semula setelah api padam. Pepohonan mungkin perlahan tumbuh, tetapi ekosistem membutuhkan waktu untuk memulihkan struktur dan fungsinya. Sementara itu, satwa yang kehilangan tempat berlindung dan mencari makan harus menghadapi lingkungan yang telah berubah.

Di ekosistem gambut, hubungan antara tanah, air, tumbuhan, dan satwa saling berkaitan. Ketika salah satu bagian terganggu, bagian lain dapat ikut terdampak. Karena itu, kebakaran gambut bukan hanya peristiwa yang menghanguskan vegetasi, tetapi juga dapat mengubah kondisi habitat yang diperlukan berbagai spesies untuk bertahan hidup.

Gambaran mengenai dampak tersebut terlihat dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2024, berjudul Impacts of Fire and Prospects for Recovery in a Tropical Peat Forest Ecosystem.

Penelitian itu mengkaji dampak kebakaran terhadap ekosistem hutan gambut tropis di Indonesia. Hasilnya menunjukkan penurunan sebesar 58–98 persen pada sejumlah indikator habitat di lokasi terbakar dibandingkan lokasi yang tidak terbakar. Indikator yang diteliti mencakup struktur vegetasi, kepadatan pohon, dan tutupan tajuk.

Angka tersebut tidak berarti seluruh keanekaragaman hayati mengalami penurunan dengan persentase yang sama. Namun, temuan ini menunjukkan besarnya perubahan yang dapat terjadi pada habitat setelah kebakaran.

Ketika struktur hutan berubah, satwa dapat kehilangan tempat untuk berlindung, berkembang biak, atau menemukan makanan. Jika kebakaran terus berulang, proses pemulihan pun semakin sulit. Vegetasi yang tumbuh kembali belum tentu memiliki struktur dan keragaman seperti hutan sebelumnya.

Masalahnya, kerusakan gambut tidak hanya berkaitan dengan api. Kondisi air yang menopang ekosistem ini juga memegang peranan penting.

Menurut Yoga Aprilliano, gambut memiliki kemampuan menyerap dan menyalurkan air hingga sekitar 13 kali berat keringnya. Sebagai perbandingan, tanah mineral dalam perbandingan yang disampaikan Pantau Gambut hanya sekitar 0,2 kali berat keringnya.

Kemampuan menyimpan air tersebut membuat gambut memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan tata air. Namun, ketika gambut dikeringkan melalui pembangunan kanal yang berlebihan, kondisi alaminya dapat berubah. Lapisan gambut menjadi lebih rentan terbakar, sementara kemampuan ekosistem untuk mengatur air ikut terganggu.

Dampaknya dapat meluas hingga persoalan banjir dan kualitas air. Yoga menjelaskan bahwa ketika tanah yang mengandung mineral pirit mengering, mineral tersebut dapat teroksidasi dan menghasilkan senyawa asam. Kondisi ini berpotensi membuat tanah menjadi sangat asam dan memengaruhi air yang mengalir ke kanal maupun sungai.

Bagi masyarakat, perubahan tersebut bukan sekadar persoalan teknis tentang kondisi tanah. Sungai dan perairan merupakan bagian dari lingkungan tempat berbagai organisme hidup, termasuk ikan yang menjadi sumber pangan. Ketika kualitas air memburuk, kehidupan di dalamnya juga berpotensi terdampak.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa dampak kerusakan gambut saling terhubung. Kebakaran mengubah habitat, pengeringan meningkatkan kerentanan lahan, dan perubahan kualitas air dapat menambah tekanan terhadap ekosistem.

Ketika hubungan-hubungan tersebut terganggu, masyarakat yang menggantungkan hidup pada hutan, sungai, dan lahan di sekitarnya juga menghadapi risiko. Salah satunya adalah berkurangnya akses terhadap sumber pangan yang selama ini tersedia dari alam.

Indonesia Kaya Pangan, Bukan Hanya Beras

Jika berbicara tentang pangan Indonesia, beras sering kali menjadi hal pertama yang terlintas di benak kita. Padahal, kekayaan pangan Nusantara jauh lebih luas daripada itu.

Ada sagu yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di Papua dan Maluku. Ada jagung, singkong, dan berbagai jenis umbi-umbian yang telah lama dikonsumsi di sejumlah wilayah. Ada pula ikan lokal, sayuran, buah-buahan, serta berbagai hasil alam yang tumbuh mengikuti karakteristik lingkungan setempat.

Setiap sumber pangan memiliki cerita. Di balik sagu, misalnya, ada pengetahuan masyarakat tentang tanaman, pengolahan, dan tradisi makan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Begitu pula dengan singkong, jagung, dan umbi-umbian yang tumbuh di berbagai daerah.

Keragaman ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Alam menyediakan berbagai sumber kehidupan, sementara pengetahuan lokal membantu masyarakat mengenali dan memanfaatkannya.

Ahmad Arif, jurnalis Kompas, menekankan pentingnya keragaman biokultural sebagai kunci kedaulatan pangan dan iklim. Menurutnya, sistem pangan Indonesia perlu dibangun berdasarkan keberagaman sumber hayati dan budaya pangan Nusantara, bukan justru menyeragamkan makanan masyarakat di berbagai wilayah.

Pandangan tersebut mengajak kita melihat pangan dari sudut pandang yang lebih luas. Pangan bukan sekadar sesuatu yang diproduksi, dijual, lalu dikonsumsi. Pangan juga berkaitan dengan lingkungan tempat tanaman tumbuh, pengetahuan masyarakat dalam mengolahnya, serta kebudayaan yang membentuk kebiasaan makan.

Masyarakat pesisir Papua, misalnya, memiliki tradisi pangan yang berbeda dari masyarakat di wilayah persawahan Jawa. Di sejumlah wilayah Indonesia timur, sagu dan berbagai jenis umbi-umbian menjadi bagian penting dari pola pangan masyarakat. Sementara itu, di Kalimantan, masyarakat Dayak Ngaju memiliki tradisi yang menghubungkan kegiatan berladang dengan agroforestri, pemanfaatan hasil hutan, serta penanaman berbagai jenis tanaman.

Pengetahuan lokal tersebut menjadi bagian dari kekayaan yang tidak selalu terlihat dalam pembicaraan mengenai ketahanan pangan. Padahal, keberadaan beragam tanaman dan sumber pangan dapat memberikan pilihan ketika satu jenis pangan mengalami gangguan akibat perubahan musim atau kondisi lingkungan.

Sayangnya, pola konsumsi Indonesia semakin bergantung pada jenis pangan tertentu. Dalam paparan Ahmad Arif, data historis menunjukkan perubahan komposisi konsumsi dari beras, singkong, jagung, dan umbi-umbian menuju dominasi beras, disertai peningkatan konsumsi gandum. Ia juga menyoroti besarnya kontribusi beras dan gandum terhadap asupan kalori masyarakat Indonesia.

Ketergantungan pada sedikit jenis pangan dapat membuat sistem pangan lebih rentan terhadap gangguan produksi, perubahan iklim, dan gejolak harga global. Sebaliknya, keberagaman sumber pangan membuka lebih banyak pilihan bagi masyarakat sekaligus memberi ruang bagi pangan lokal untuk kembali menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Di sinilah keanekaragaman hayati memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar kekayaan alam. Keanekaragaman hayati juga berkaitan dengan keberagaman sumber pangan dan kemampuan masyarakat untuk mempertahankan pilihan pangan yang sesuai dengan kondisi lingkungannya.

Ketika Gambut Rusak, Sumber Pangan Lokal Ikut Terancam

Bayangkan jika ikan yang biasa diperoleh dari sungai semakin sulit ditemukan. Atau, tanaman yang selama ini tumbuh di sekitar permukiman mulai berkurang karena kondisi lingkungan berubah. Bagi masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap pasar, perubahan semacam ini dapat membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi lebih menantang.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana kerusakan ekosistem dapat berhubungan dengan sumber pangan lokal.

Hutan menyediakan beragam hasil yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan. Sungai dan perairan menjadi tempat hidup ikan, sedangkan lahan di sekitar permukiman dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan dan tanaman produktif lainnya. Ketika kebakaran merusak vegetasi, mengganggu habitat satwa, atau menurunkan kualitas air, akses masyarakat terhadap sumber-sumber tersebut dapat ikut terganggu.

Besarnya dampak tentu tidak selalu sama. Ada masyarakat yang sangat bergantung pada hasil hutan dan sungai, sementara masyarakat lainnya memiliki sumber pangan tambahan dari kebun, pertanian, atau pasar. Karena itu, hubungan antara kerusakan gambut dan ketahanan pangan perlu dilihat dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem serta kehidupan masyarakat setempat.

Sebuah penelitian tentang ketahanan pangan di lanskap gambut yang terdegradasi di Sumatra Selatan juga menyoroti pentingnya sumber pangan seperti ikan, madu, sayuran, dan buah-buahan bagi masyarakat. Degradasi gambut akibat berbagai tekanan, termasuk kebakaran berulang, berkaitan dengan perubahan ketersediaan sumber pangan.

Namun, persoalan ketahanan pangan tidak berhenti pada tersedia atau tidaknya bahan makanan dari alam. Kemampuan membeli pangan, kestabilan harga, akses ke pasar, dan kondisi sosial ekonomi juga menentukan apakah masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangannya.

Penelitian mengenai ketahanan pangan rumah tangga di kawasan gambut Kota Palangka Raya yang diterbitkan pada Desember 2025, misalnya, menyoroti kerentanan rumah tangga berpendapatan rendah dan pentingnya akses ekonomi terhadap pangan.

Temuan tersebut bukan bukti bahwa kebakaran secara langsung menyebabkan seluruh persoalan ketahanan pangan di wilayah itu. Akan tetapi, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa kerentanan lingkungan dan ekonomi dapat hadir secara bersamaan, sehingga membuat sebagian masyarakat menghadapi tantangan yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, menjaga gambut tidak bisa dipisahkan dari upaya memperkuat sistem pangan lokal. Perlindungan lingkungan perlu berjalan bersama penguatan akses masyarakat terhadap pangan yang beragam, terjangkau, dan sesuai dengan kondisi setempat.

Merawat Gambut, Menghidupkan Kembali Keragaman Pangan

Lalu, apa yang bisa dilakukan agar kerusakan gambut tidak semakin mengancam keanekaragaman hayati dan sumber pangan?

Langkah pertama tentu dimulai dari pencegahan kebakaran. Menjaga kondisi hidrologi gambut, menghindari pengeringan berlebihan, memulihkan lahan yang rusak, dan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas yang meningkatkan risiko kebakaran merupakan bagian penting dari upaya perlindungan ekosistem.

Yoga Aprilliano mengingatkan bahwa El Niño merupakan faktor pendukung, bukan penyebab utama karhutla. Gambut yang telah mengering akan lebih mudah terbakar. Karena itu, pencegahan tidak bisa hanya bergantung pada perkiraan cuaca atau menunggu musim kemarau berakhir. Kondisi lahan dan tata kelola gambut juga harus menjadi perhatian.

Upaya tersebut perlu diikuti dengan perlindungan keanekaragaman hayati. Hutan dan lahan gambut yang terjaga memberi kesempatan bagi ekosistem untuk mempertahankan fungsi alaminya, termasuk menyediakan habitat bagi berbagai spesies dan menjaga hubungan antara tanah serta air.

Pada saat yang sama, keragaman pangan lokal perlu mendapat perhatian lebih besar. Pengetahuan masyarakat mengenai tanaman pangan, benih, pengelolaan lahan, dan pemanfaatan hasil hutan merupakan bagian dari modal penting dalam membangun ketahanan pangan.

Gagasan Ahmad Arif tentang keragaman biokultural mengingatkan bahwa kekayaan pangan Indonesia tidak hanya terletak pada banyaknya jenis tanaman dan hasil alam. Ada pengetahuan, tradisi, dan cara hidup masyarakat yang turut menjaga keberadaan sumber pangan tersebut.

Mendorong pangan lokal bukan berarti menolak beras atau gandum. Tujuannya adalah membuka lebih banyak pilihan, sehingga masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu atau dua jenis pangan saja. Dengan dukungan yang tepat, sagu, jagung, singkong, umbi-umbian, ikan lokal, serta sumber pangan lainnya dapat terus menjadi bagian dari sistem pangan Indonesia.

Pada akhirnya, perlindungan gambut dan penguatan keragaman pangan merupakan dua upaya yang saling melengkapi. Ekosistem yang sehat membantu mempertahankan sumber kehidupan, sedangkan sistem pangan yang beragam memberi masyarakat lebih banyak pilihan untuk menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi.

Menjaga Gambut Berarti Menjaga Masa Depan Pangan

Kebakaran hutan dan lahan gambut mungkin bermula dari api yang membakar vegetasi dan mengeringkan tanah. Namun, dampaknya dapat menjalar jauh melampaui kawasan yang terbakar.

Habitat berubah, kehidupan satwa terganggu, dan kualitas air berpotensi menurun. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada lingkungan sekitarnya, perubahan tersebut dapat memengaruhi ketersediaan sumber pangan dan menambah tantangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada saat yang sama, Indonesia memiliki kekayaan pangan yang layak dirawat. Sagu, jagung, singkong, umbi-umbian, ikan lokal, serta berbagai sumber pangan lainnya merupakan bagian dari kekayaan hayati dan budaya yang telah membentuk kehidupan masyarakat Nusantara.

Keduanya tidak bisa dipisahkan. Melindungi gambut berarti menjaga ekosistem yang menopang kehidupan. Merawat keberagaman pangan berarti mempertahankan pilihan, pengetahuan lokal, dan kemampuan masyarakat untuk menghadapi perubahan.

Karena itu, pembicaraan mengenai karhutla seharusnya tidak berhenti pada luas lahan yang terbakar atau asap yang menyelimuti permukiman. Kita juga perlu melihat apa yang dipertaruhkan ketika ekosistem rusak: habitat yang hilang, sumber daya alam yang terganggu, serta kemungkinan berkurangnya pilihan pangan bagi masyarakat.

Menjaga gambut memang bukan pekerjaan yang sederhana. Begitu pula dengan upaya menghidupkan kembali keragaman pangan Nusantara. Namun, keduanya dapat dimulai dari kesadaran bahwa alam bukan hanya sesuatu yang perlu dilindungi karena keindahannya, melainkan juga karena kehidupan manusia bergantung padanya.

Sebab, ketika gambut terjaga, kita turut menjaga habitat dan sumber air. Ketika keanekaragaman hayati dirawat, kita turut melindungi kekayaan sumber pangan. Dan ketika pangan lokal tetap hidup, kita sedang menjaga warisan pengetahuan sekaligus memperkuat masa depan ketahanan pangan Indonesia.


You Might Also Like

0 Comments