salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger
    • Home
    • About Me
    • Contact Me
    • Tekno
    • Film
    • Travel
    • Food

     

    Sebuah mobil melintas di jalan Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur. Di pinggir jalan, seorang ibu mengais botol plastik dan kardus dari tumpukan sampah, lalu memasukkannya ke dalam gerobak kayu yang sudah tampak usang. Anak laki-laki yang ikut bersamanya duduk di atas gerobak sambil memperhatikan botol-botol yang dikumpulkan ibunya.

    Pemandangan seperti ini dulu menjadi bagian dari keseharian warga Kampung Sumur. Memulung menjadi salah satu cara keluarga mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di balik aktivitas tersebut, ternyata ada persoalan lain terkait pendidikan dan pengasuhan anak.

    “Dahulu masalahnya sangat kompleks, bahkan hampir 90 persen permasalahannya adalah penelantaran dan salah pengasuhan anak. Bahkan saat memulung, anak-anak sengaja dibawa untuk mengharapkan belas kasihan,” Ujar Pak Endang  saat di temui di Sekretariat Swara Hijau Farm, Klender, Jakarta Timur. 

    Semua berawal di tahun 2015, Yayasan Swara Peduli mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam program pendampingan bagi para pemulung dari Kementerian Sosial di kawasan Pemulung di Jakarta Timur. 

    Bapak Endang Mintarja menceritakan prosesnya dimulai dengan melakukan asesmen terhadap para pemulung dan keluarga mereka yang berdomisili Kampung Sumur, Jakarta Timur. Kemudian, Yayasan Swara Peduli menyewa sebuah tempat yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti Weekend ceria, setiap Sabtu dan Minggu. Awalnya, kegiatan tersebut banyak diisi dengan aktivitas untuk anak-anak, menghadirkan ruang belajar dan bermain di tengah keseharian mereka.

    “Saat relawan datang untuk mengajar anak-anak, kondisi jalanan masih berupa tanah. Dan, saat hujan akhirnya berubah menjadi kubangan lumpur,” Cerita Pak Endang mengenang saat awal-awal perjuangan. 

    Tak hanya pendidikan, kondisi jalanan pun sangat memprihatinkan. Saat hujan turun, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur bercampur dengan sampah-sampah. Tak hanya itu, instalasi listrik dan internet pun masih belum menyentuh Kampung Sumur.

    “Program ini untuk memutus mata rantai masalah pendidikan di Kampung Pemulung. Kini 90 persen anak-anak sudah bersekolah, bahkan 10 anak pun mendapatkan beasiswa biaya pendidikan,” Ungkap Pak Endang bangga. 

    Kampung Pemulung kini tak lagi sama, setelah anak-anak yang dulu berada di gerobak-gerobak sampah itu telah mengenakan seragam sekolah serta menenteng tas dan buku. Kini hanya tinggal 10 persen anak-anak yang belum mengenyam bangku pendidikan. Bahkan 10 anak diantaranya kini mendapatkan beasiswa pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan sekolah dan pembayaran SPP bagi anak di sekolah swasta. 

    Setelah kegiatan pendidikan berdampak pada anak-anak, kemudian donasi berdatangan dan kemudian didirikan sekretariat. Tak lama kemudian, lahan pun bertambah dan kemudian dimanfaatkan sebagai kandang ayam, budidaya maggot dan kebun sayur hidroponik serta kolam ikan. 

    Dari Gagal Panen hingga Menjadi Percontohan Urban Farming

    Inisiasi dimulai dengan pelatihan budidaya tanaman dan ikan dalam ember. Instalasi dengan media ember tersebut terdiri dari tanaman kangkung di atas dan kemudian di bawahnya terdapat ikan lele. Sekitar 50 instalasi ember untuk dibudidayakan di rumah masing-masing, namun kenyataanya hanya 50% yang berhasil. Dan, kemudian mulai saat itu, instalasi tersebut dipusatkan di sekretariat Yayasan Swara Peduli, dan saat itulah cikal bakal Swara Hijau Farm didirikan. 

    “Setelah mendapatkan over lahan di belakang sekretariat, kemudian dikembangkan lagi menjadi kandang ayam, maggot, kebun hidroponik, dan kolam ikan,” Pak Endang membeberkan bagaimana Swara Hijau Farm bermula. 

    Pada awalnya, warga Kampung Pemulung sempat bingung dengan metode pertanian ini. Biasanya dari hasil memulung, warga bisa mendapatkan upah harian sehingga bisa menyambung hidup. 

    Sedangkan budidaya tanaman dan ikan membutuhkan waktu mulai dari menanam, menyiram, merawat baru kemudian panen sehingga membutuhkan waktu beberapa minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa menikmati hasil jerih payahnya. Namun, berjalannya waktu warga mengerti bahwa dibutuhkan waktu untuk membudidayakan sehingga tercipta kesabaran dalam menghasilkan pundi-pundi ekonomi.

    Di tengah pandemi Covid-19 pada 2020, Pak Endang memberanikan diri mencoba menanam melon. Pengetahuannya saat itu masih terbatas. Ia pun belajar secara otodidak, mulai dari menonton video di YouTube hingga membaca berbagai laman tentang pertanian organik dan perikanan.

    Tidak semuanya berjalan mulus. Namun, dari mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, perlahan Pak Endang mulai memahami bagaimana merawat tanaman melon hingga akhirnya menemukan cara yang tepat untuk menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik.

    Swara Hijau Farm kemudian mendirikan greenhouse untuk penanaman melon pada tahun 2021. Sebelum akhirnya, mendapatkan bantuan dari BUMN untuk lahan green house seluas 132 meter pada tahun 2022, sebagai lahan untuk menanam melon dengan metode hidroponik. Melon dipilih dengan berbagai pertimbangan, salah satunya masa tanam dan panen tidak terlalu lama sekitar 2-3 bulan tergantung dari cuaca. 

    "Banyak perjalanannya dan banyak pula kegagalannya. Mulai dari melon rasa timun, rasanya hambar. Dan, kemudian akhirnya mulai meracik nutrisi sehingga melonnya pun kini mencapai brix 15-16 dengan tingkat kemanisan cukup tinggi," Pak Endang mengungkapkan perjalanan dari kegagalan berbuah manis. 

    Perjalanan Swara Hijau Farm tidak berhenti pada keberhasilan membudidayakan melon. Kini, kebun ini telah berkembang menjadi model percontohan dan memiliki sejumlah mitra, salah satunya Sentra Mulia Jaya di Pasar Rebo yang mengembangkan melon, sayuran hidroponik, dan budidaya ikan.

    Dari Memulung hingga Menanam Harapan di Swara Hijau Farm

    Lisna Marida, seorang pengurus kelompok tani Swara Hijau Farm mengantarkan kami ke sebuah greenhouse. Lokasinya tak jauh dari sekretariat, hanya berjalan beberapa puluh meter saja. 

    “Warga di kampung pemulung ini sangat beragam, ada dari Jawa, Sunda, Bugis,” ujar Lisna sambil berjalan menuju greenhouse. 

    Greenhouse berukuran 40-50 meter itu berdiri di tengah kampung pemulung. Tak hanya greenhouse, di lahan berukuran sekitar 132 meter itu digunakan sebagai bank sampah. Bank sampah digunakan untuk menampung sampah-sampah dari warga.

    “Sampah-sampah itu di tabung di bank sampah. Warga memang sengaja menabung sampah agar pada saat hari besar bisa ditarik,” ucap Lisna menunjukan botol-botol air mineral yang menumpuk di bank sampah. 

    Walaupun masih memulung, sebagian warga sengaja menabung sampah di Bank Sampah Swara Cipta Mandiri sebagai bagian komitmen menabung. Warga biasanya mengumpulkan sampah-sampah kemudian menabungnya di bank sampah. Setelah beberapa bulan, warga bisa mencairkan dana segar untuk kebutuhan tertentu seperti Lebaran atau hari besar lainnya. 

    “Melon itu seperti manusia, jadi sambil memetik daun dan mengawinkan biasanya diajak berbicara,” gurau Lisna sambil menunjukan tanaman melon di greenhouse.

    Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian batik menuju ke greenhouse. “Nah ini dia yang merawat melon di greenhouse ini,” Lisna menyambut seorang warga yang bertugas di greenhouse tersebut.

    "Kalau memulung itu 3 kali pekerjaan jadi bisa seharian. Kalau di Swara Hijau Farm pekerjaannya hanya pagi dan sore saja, sehingga banyak waktu luang untuk beristirahat," ucap Ibu Wasriyah menceritakan kehidupannya sebelum bergabung dengan Swara Hijau Farm. 

    Selama sekitar 20 tahun tinggal di Kampung Pemulung, Wasriyah terbiasa menghabiskan hari dengan memulung. Pekerjaan itu membuat waktunya hampir seluruhnya tersita, karena harus dilakukan beberapa kali dalam sehari untuk mendapatkan penghasilan yang cukup.

    Perubahan mulai dirasakan ketika ia bergabung dengan kelompok tani Swara Hijau Farm sekaligus menjadi anggota bank sampah. Sejak masa pandemi Covid-19, Wasriyah mulai belajar berbagai kegiatan dari budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.

    “Saya senang bisa bergabung, saya bisa bertemu dengan teman-teman. Dan, kemudian akhirnya saya berhenti mulung,” tutur Wasriyah.

    Kini, rutinitasnya pun berubah. Jika memulung bisa membuatnya bekerja hingga seharian, aktivitas di Swara Hijau Farm cukup dilakukan pada pagi dan sore hari. Ada waktu yang lebih banyak untuk beristirahat sekaligus melakukan aktivitas lainnya.

    Bagi Wasriyah, bergabung dengan Swara Hijau Farm bukan sekadar berpindah pekerjaan. Ia menemukan lingkungan baru, belajar keterampilan baru, dan perlahan menemukan cara berbeda untuk menjalani kehidupan di kampung yang selama ini menjadi rumahnya.

    Tak hanya Wasriyah, namun sekitar 35 orang dari  400 Kepala Keluarga di RT 4 dan RT 7, Kampung Sumur, telah bergabung bersama Swara Hijau Farm. Warga dibagi dalam beberapa kelompok dan secara bergantian melakukan pengelolaan budidaya melon, maggot, ayam hingga ikan.  

    “Memang tidak semua warga bergabung di Swara Hijau Farm, hanya sekitar 35 orang dan itu pun dilakukan seleksi sebelumnya,” cerita Pak Endang.

    Warga kelompok tani pun secara bergantian mengelola, bahkan untuk menunjang performanya dilakukan absensi. Kelompok tani paling rajin pun akan mendapatkan penghasilan lebih banyak berdasarkan kehadiran dan hasil panen yang didapat. 

    Ketika Bertani Mulai Naik Kelas Bersama Yayasan Astra - YDBA

    "Pernah dibalikin 20 kg karena layu sayurnya, tidak sesuai dengan spek. Dan, kemudian dikembalikan setelah 3 hari. Akhirnya dibagikan ke warga sekitar," kenang Pak Endang pada saat salah dalam pengelolaan sayuran.

    Semenjaka tahun 2023, Suara Hijau Farm telah menjalin kemitraan dengan United Tractors sebagai bagian dari Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra. Dukungan yang diberikan meliputi pengembangan kapasitas untuk memperluas UKM hidroponik, keuangan digital, penerapan 5R, serta metode business model canvas.

    "Selama ini kita terpaku dengan produknya, dan pada terjadi kesulitan saat produk tidak sesuai dengan spek karena suplier sangat selektif sekali. Pada saat itu, kami hanya  terfokus produk jadi banyak sekali kerugian. Kemudian, di scale-up untuk diversifikasi serta memperluas bisnis dengan berbagai jenis bisnis," Pak Endang menjelaskan permasalahan bisnisnya. 

    Berkaca dengan permasalahan bisnis tersebut, Swara Hijau Farm kemudian perlahan-lahan mulai membenahi pengembangan kapasitas bisnis hingga manajemen dengan bimbingan Yayasan Astra - YDBA. Mulai dari penerapan pengelolaan keuangan secara digital, penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin), hingga penerapan metode  business model canvas sehingga bisnis bisa dijelaskan dalam 1 lembar kerangka. 

    “Resiko sayuran dikembalikan itu berkurang signifikan sekitar 30-40 persen dari sebelumnya,” jelas Pak Endang Mintardja setelah melakukan berbagai perbaikan manajemen. 

    Kini Swara Hijau Farm mampu menghasilkan omzet sekitar 4-5 juta per bulan dari berbagai macam produk dengan siklus penghasilan berbeda. Telur ayam misalnya, bisa memberikan pemasukan harian. Sayuran hidroponik menghasilkan pendapatan bulanan, sementara maggot dapat dipanen dan dijual setiap minggu. Untuk melon dan ikan, masa panennya sekitar tiga bulan. 

    Masing-masing punya peran, Maggot, misalnya, dijual sekitar Rp5.000 per kilogram. Namun, setelah memperhitungkan biaya pakan dan kebutuhan lainnya, nilai jualnya belum terlalu besar. Karena itu, maggot tidak hanya dijual begitu saja, tetapi diolah menjadi pelet agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

    Begitu juga dengan budidaya ikan, Swara Hijau Farm memiliki delapan kolam dengan kapasitas sekitar 2.000 ekor ikan. Dalam satu periode, hasil panennya bisa mencapai sekitar 2 kuintal atau 200 kilogram, menyesuaikan permintaan.

    Ke depan, pengembangan tidak berhenti pada penjualan ikan segar. Salah satu yang sedang didorong adalah produk olahan seperti ikan marinasi. Produk ini dinilai memiliki peluang perputaran modal yang lebih baik karena bisa dijual dalam bentuk yang memiliki nilai tambah.

    Rencananya, tambahan modal akan digunakan untuk menyediakan freezer sebagai tempat penyimpanan ikan marinasi sekaligus mendukung distribusi. Para ibu juga akan dilibatkan dalam penjualan secara berkeliling, dengan target sekitar 10 kilogram per orang.

    Dengan modal sekitar Rp30.000-Rp35.000 per kilogram, produk tersebut ditargetkan memberikan margin sekitar Rp10.000-Rp15.000 per kilogram. Bagi Swara Hijau Farm, pola seperti inilah yang ingin terus dikembangkan bukan hanya menghasilkan produk, tetapi mengolahnya agar nilai ekonominya bertambah dan perputaran usaha bisa terus berjalan.

    “Kita bisa bermanfaat bagi orang lain itu membuat saya bahagia. Bisa melibatkan warga pemulung disini, bisa beraktivitas dan menghasilkan penghasilan tambahan, itu yang membuat saya bahagia,” kata Pak Endang berkaca-kaca. 

    Bagi warga Kampung Sumur, Swara Hijau Farm bukan sekadar tempat menanam melon, sayuran, memelihara ikan, atau mengolah maggot. Di tempat ini, warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari memulung mendapatkan ruang untuk belajar, beraktivitas, dan memperoleh penghasilan tambahan. Ke depan, Swara Hijau Farm bersama United Tractors dan Yayasan Astra - YDBA juga diarahkan untuk berkembang menjadi ruang edukasi urban farming yang dapat dikunjungi pelajar, guru, mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum. 

    Dari Pendampingan, UMKM Tumbuh dan Berdaya

    Bagi Bapak William Soeryadjaya, membangun perusahaan tidak berhenti pada bagaimana sebuah bisnis tumbuh dan menghasilkan keuntungan. Ada cita-cita yang lebih besar, yaitu menjadikan Astra seperti pohon rindang yang memberi manfaat bagi banyak orang. Pohon yang akarnya kuat, tumbuh semakin besar, menghasilkan buah, sekaligus menyediakan tempat bagi orang lain untuk berteduh dan berkembang.

    Gagasan tentang kebermanfaatan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Astra melalui empat pilar, yaitu Astra Hijau, Astra Sehat, Astra Cerdas, dan Astra Kreatif. Di dalam Astra Kreatif, perhatian diarahkan pada bagaimana potensi yang ada di masyarakat dapat dikembangkan menjadi peluang yang memberikan nilai ekonomi.


    Semangat itulah yang salah satunya dijalankan melalui Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Ketua Yayasan Astra - YDBA, Rahmat Samulo, menjelaskan bahwa YDBA menjalankan pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan untuk membantu UMKM tumbuh dan naik kelas secara berkelanjutan. Pendekatan ini membuat pembinaan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga membekali UMKM dengan kemampuan mengelola dan mengembangkan usaha. Berbagai tantangan yang muncul pun dihadapi melalui kolaborasi bersama berbagai pihak. 

    Hingga 2025, terdapat sebanyak 2.030 UMKM yang mengikuti program pembinaan Yayasan Astra - YDBA dengan penyerapan sebesar 4.674 tenaga kerja . UMKM binaan itu tersebar di seluruh wilayah di Tanah Air, menandakan luasnya jangkauan serta dampak nyata yang dihasilkan.

    Bagi warga Kampung Sumur, pembinaan tersebut membantu mereka belajar menghadapi persoalan usaha, mulai dari menjaga kualitas produk hingga mencari peluang pasar baru. Dari budidaya sayuran, melon, ikan, telur, pengolahan maggot, hingga rencana produk ikan marinasi, Swara Hijau Farm terus mengembangkan sumber pendapatan yang melibatkan warga. 

    Inilah semangat “berikan kail, bukan ikan” yaitu membekali masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mengelola usaha agar dapat terus menghasilkan dan berkembang secara mandiri diatas kaki sendiri. 


    Continue Reading

     

    “Selagi benar dan bermanfaat, saya akan lurus saja, tidak akan menengok kanan kiri,” Ucap wanita paruh baya dengan luapan semangat sambil menyuap kuah seblak di Malakasari Edufarm, Duren Sawit, Jakarta Timur. Melalui Prinsip inilah, Haryati mampu membawa kebun kecil dari pekarangan rumah menjadi sebuah oase pendidikan di tengah beton kota Jakarta. 


    Sosok wanita inilah penggerak Kelompok Tani Wanita (KWT) D’shafa berhasil mengubah tempat penampungan sampah dan kumuh menjadi lahan hijau melalui green house, tempat produksi dan edukasi melalui agrowisata Malakasari Edufarm. Mulanya, Haryati dan ibu-ibu di RW 05 Malakasari rajin menanam tanaman di pekarangan rumah sebagai bagian untuk mengisi waktu luang dan hobi. Kemudian, para pejuang penghijauan di Malakasari memenangkan lomba Gang Hijau dalam upayanya menghijaukan kawasan sekitar RW 05. 



    Kemenangan kompetisi Gang Hijau skala nasional ini memicu semangat Haryati dengan mengajak ibu-ibu memanfaatkan lahan kosong. Lahan kosong tempat pembuangan sampah seluas 200 meter dipergunakan untuk menanam di samping SMAN 44 Jakarta. 


    Bermodalkan pengetahuan dari media sosial, Haryati melakukan penanaman secara konvensional, tak hanya itu Ia melakukan pembibitan secara mandiri. Badai pandemi pun datang, namun UMKM tetap bertahan bahkan terus tumbuh karena permintaan sayuran segar meningkat. Pada tahun 2020, Haryati dan ibu-ibu pun membentuk Kelompok Tani Wanita (KWT) D’Shafa. 


    Metode penanaman pun beralih dari konvensional menjadi hidroponik, dan hasil panen pun sangat melimpah. Sayuran segar didistribusikan kepada pemasok, namun ternyata hasil penjualan tidak sesuai dengan harapan. Untuk menutupi biaya produksi dan karyawan, Haryati pun sempat kewalahan. Berbekal inovasi dan kreativitas, D’Shafa bekerja sama dengan Puskesmas, Kelurahan, dan berbagai pihak dengan produk olahan dari sayuran berupa keripik, cheese stick, produk olahan makanan dan minuman herbal dan tradisional. 


    “Tadinya saya hanya menjual ke supplier saja, namun harganya tidak begitu bagus. Kemudian, saya berinovasi dengan berbagai produk olahan seperti cheese stick kelor ini,” Wanita asal Sragen menunjukan sebuah kaleng cheese stick saat menceritakan kisah sedih sebelum menemukan inovasi dari produk olahan sayur.


    Perkembangan dan inovasi tersebutlah yang membawa KWT D’Shafa mendapatkan bantuan PemProv. DKI Jakarta dengan lahan bekas tempat pembuangan sampah. Lokasi inilah, awal mula Malakasari Edufarm lahir dengan green house, tempat produksi dan agrowisata edufarm. 


    Oase Pendidikan Melalui Malakasari Edufarm

    Riuh tawa dan candaan terdengar dari Malakasari Edufarm siang itu. Matahari telah merangkak naik, namun anak-anak tetap ceria dan beramai-ramai menuju ke green house. Haryati menunjukan salah satu tanaman yaitu pakcoi. Tanaman ini terlihat sangat segar dengan penanaman melalui hidroponik. Tak hanya dijelaskan jenis tanaman, namun anak-anak diajarkan menanam dan memanen sayur. Berbagai produk olahan dari hasil panen pun tak luput dari pantauan anak-anak. Pengenalan dunia pertanian inilah yang membuat Malakasari Edufarm sangat disukai oleh anak-anak hingga remaja bahkan dewasa. Selama tiga tahun dari 2022 hingga 2024, pengunjung Malakasari Edufarm mencapai 13.831 orang, sesuatu pencapaian yang luar biasa. 


    “Kalau dengan anak-anak dan remaja, saya jadi gurunya. Kalau dengan dosen, saya jadi mahasiswanya,” Gurau Dea, salah satu ibu-ibu yang diberdayakan. 


    Lambat laun, Malakasari Edufarm tersohor dari mulut ke mulut. Bukan hanya edukasi semata, produk pembibitan, peralatan dan perlengkapan perkebunan pun menjadi salah satu usaha yang dikembangkan oleh UMKM ini. 


    “Bukan hanya paket edukasi, namun produk bibit dan perlengkapan kebun pun sangat laku,” Haryati menjelaskan dengan penuh semangat. 


    Bahkan Haryati menjelaskan pelajar sekolah menengah pun menjadi salah satu agen penjualan dengan menawarkan paket edukasi, penjualan produk kebun hingga produk olahan dari kebun. 


    “Kalau anak sekolah malah lebih kreatif, dicampur macam-macam jadi minuman kekinian.”


    Saluran penjualan bukan datang dari kolega pemerintah, swasta dan berbagai institusi, namun dari ibu-ibu, pelajar dan masyarakat pun menjadi tulang punggung meroketnya penjualan seluruh produk dan jasa yang ditawarkan. 


    Pemberdayaan Perempuan, Inovasi Produk dan Tata Kelola Manajemen

    “Ibu Kartini, seorang pensiunan guru sangat aktif dan banyak channelnya,” Tambah Haryati sambil membetulkan posisi duduk.


    Bukan hanya usia belia, seorang lansia bernama Ibu Kartini pun menjadi salah satu penopang Malakasari Edufarm dalam menghadirkan pengunjung setiap hari kerja. Bukan hanya Ibu Kartini, namun Ibu Dea pun mengaku telah 7 tahun bergabung bersama UMKM D’Shafa. 


    “Awalnya kami tetangga di RT 01, kemudian ikut bersama Ibu Haryati dan memenangkan lomba Gang Hijau.”


    Dea merupakan tetangga Haryati, mulanya enggan bergabung karena masih sibuk dengan pekerjaannya, namun setelah diberhentikan dari perusahaan ia pun kemudian bergabung dengan UMKM D’Shafa. 



    “Dulu malam-malam kami harus mengantar invoice sendiri ke kantor. Tiba-tiba di tengah jalan, invoice pun terbawa angin,” Dengan raut sedih Ibu Dea menceritakan perjalanan panjang D’Shafa. 


    Bukan hanya Ibu Dea saja namun terdapat 13 karyawan yang tergabung dalam usaha ini. Bahkan, beberapa karyawan pun mendapatkan giliran untuk menerima pembekalan dari Yayasan Astra - YDBA diantaranya pelatihan 5R, keuangan, dan tata kelola manajemen. 


    “Dulu sebelum bergabung dengan Yayasan Astra - YDBA, kami bingung dan berantakan sekali serta kenapa terus merugi?”



    Haryati mengungkapkan bahwa sebelum bergabung dengan Yayasan Astra - YDBA tidak ada metode khusus dalam pencatatan maupun merumuskan harga pokok penjualan. Dalam operasional sehari-hari hanya mengandalkan perhitungan seadanya. Berkat mengikuti pelatihan perencanaan keuangan dan pelatihan lainnya, kini UMKM D’Shafa memiliki omset bersih sekitar 150 juta sebulan. 


    Selain secara tata kelola, inovasi produk pun semakin bervariasi mulai dari keripik, cheese stick, berbagai produk olahan hasil kebun dan minuman herbal. Kemasan produk pun mengalami perubahan cukup signifikan menjadi lebih modern dan tahan lama. 



    Salah satu tanaman unik dan langka di green house adalah Pegagan. Kebetulan tanaman ini jarang dibudidayakan oleh masyarakat, namun D’Shafa mampu membuat produk olahan seperti keripik pegagan. Pegagan ini banyak diminati namun kebun masih jarang ditemui sehingga perlu dikembangkan.



    “Salah satu impian saya adalah membuat Malakasari UMKM Festival,” Ucap Haryati sambil berkaca-kaca. 

    Harapan besar Malakasari Edufarm adalah bisa menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi banyak orang. Ke depan, Malakasari ingin berkembang menjadi pusat UMKM yang bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk tumbuh bersama.

    Salah satu langkahnya adalah menghadirkan booth pada berbagai event, agar produk anggota semakin dikenal masyarakat luas. Dari kafe sederhana yang menyajikan makanan sehat, minuman segar, hingga inovasi kekinian seperti “Ngejamu Yuk” dan makanan sehat, semua dirancang untuk memberi nilai tambah sekaligus menjaga gaya hidup sehat.

    Bergerak dan Tumbuh Bersama UMKM


    Tak hanya berbisnis, William Soeryadjaya, Founding Father Astra, memiliki cita-cita mulia menjadikan Astra sebagai pohon rindang, sebuah simbol kesejahteraan bersama. Pohon yang tidak hanya kokoh berdiri, tetapi juga berbuah manis sehingga banyak orang bisa bernaung di bawahnya dan turut menikmati hasilnya. Cita-cita tersebut diwujudkan melalui empat pilar: Astra Hijau, Astra Sehat, Astra Cerdas, dan Astra Kreatif.

    Melalui Astra Kreatif, Astra berkomitmen menggali potensi lokal dan membuka peluang usaha kreatif di masyarakat. Salah satu manifestasi nyata hadir dalam bentuk Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Bagi Astra, YDBA adalah akar yang memperkuat pohon rindang itu, mewujudkan Catur Dharma pertama: “Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.”


    Ketua Yayasan Astra - YDBA, Pak Rahmat Samulo, menegaskan bahwa YDBA menjalankan program pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan untuk mendorong UMKM naik kelas secara berkelanjutan. Tantangan memang ada, namun dapat diatasi dengan kolaborasi bersama berbagai pihak.

    Hingga 2024, terdapat sebanyak 13.668 UMKM yang mengikuti program pembinaan Yayasan Astra - YDBA. UMKM binaan itu tersebar di 19 wilayah di Tanah Air, menandakan luasnya jangkauan serta dampak nyata yang dihasilkan.

    Salah satunya adalah D’Shafa, UMKM kuliner berbasis produk makanan olahan yang tumbuh dari kebun kecil di tengah beton kota. Kehadirannya tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga memberdayakan perempuan dan membuka lapangan kerja. Melalui pendampingan dan kolaborasi yang difasilitasi YDBA, D’Shafa mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta mengakses pembiayaan.

    D’Shafa membuktikan bahwa UMKM bukan sekadar usaha bertahan hidup, melainkan pilar penting perekonomian bangsa. Dengan pembinaan yang tepat, UMKM dapat naik kelas dan menghadirkan dampak sosial yang lebih luas. Inilah buah nyata dari pohon rindang Astra, buah yang manis dan bisa dinikmati banyak orang, terutama masyarakat kecil yang kini bisa berdiri lebih tegak dan percaya diri.


    Continue Reading


    Seminggu setelah gajian atau menerima uang hasil pekerjaan, biasanya hanya menyisakan beberapa persen saja. Kalau awal gajian bisa belanja dan makan enak, tapi seminggu setelahnya hanya bisa makan di warteg dan mie instan. Percaya nggak percaya memang kondisi keuangan dipengaruhi banyak hal termasuk mengatur keuangan. Kayaknya gampang banget bilang kalau mengatur keuangan itu hanya bagi dalam beberapa pos pengeluaran, tapi nyatanya nggak seperti itu. Ngatur keuangan itu harus secara sadar dan displin, apalagi kalau gaji yang dihasilkan dan dikeluarkan itu agak ngepas, perlu strategi buat ngatur keuangan agar bisa memenuhi semua kebutuhan.  


    Setelah baca-baca, ngatur keuangan itu harus memenuhi beberapa pos seperti kebutuhan pokok (listrik, sewa, listrik, makan, transportasi, kesehatan, pendidikan dan lain-lain), kebutuhan hiburan (liburan, nongkrong, hobi, self reward dan lain-lain), tabungan dan investasi (tabungan, dana darurat, investasi),  kewajiban lain (pajak, donasi, pembayaran utang), dan pos khusus (asuransi, dana pensiun dan warisan). Ideal memang terbagi dalam 5 pos tersebut, tapi kalau bisa disederhanakan menjadi kebutuhan pokok, hiburan, tabungan dan lain-lain. Komposisinya pun tergantung dari gaji dan kebutuhan setiap orang, namun umumnya 50 persen untuk kebutuhan pokok dan hiburan, selebihnya untuk tabungan, investasi dan kebutuhan lain-lain. 


    Setelah memenuhi kebutuhan pokok, tabungan dan investasi adalah prioritas selanjutnya. Kalau misalnya masih punya hutang dan kewajiban lain, penuhi atau lunasi terlebih dahulu sehingga pos tabungan dan investasi bisa direalisasikan. Perlu diingat kalau tabungan dan investasi ini bukan kewajiban, namun sesuatu yang bisa menyelamatkan dan digunakan dalam hal-hal tak terduga seperti pada saat pandemi. Tabungan dan investasi yang aman seperti apa sih yang disarankan? Biasanya tawaran berseliweran dimana-mana dengan bunga yang tinggi, namun ternyata penipuan dan tidak terjamin keamanannya. Nah, ternyata teman menyarankan sebuah “Celangan” di aplikasi Amarthafin. 


    Bukan Celengan Biasa


    Pertama kali baca nama “Celengan”, saya sempat nyengir sendiri. Namanya lucu, kayak kenangan masa kecil pas nabung di celengan ayam dari tanah liat. Tapi ternyata, fitur ini bukan main-main. Di balik nama yang sederhana, Celengan menyimpan sistem investasi yang serius, aman, dan yang paling penting: bisa dimulai dari Rp10.000 saja.

    Saya instal aplikasi AmarthaFin di ponsel setelah baca ulasan-ulasan positif dari pengguna lain. Antarmukanya simpel dan bersih, cocok buat orang yang nggak terlalu paham soal dunia finansial seperti saya. Di bagian "Produk Keuangan", ada satu tab khusus untuk Celengan. Di situ dijelaskan dengan cukup ringkas: bunga tetap 7% per tahun, bisa top-up kapan saja, dan yang paling bikin lega nggak ada biaya admin.


    Saya iseng top-up pertama kali sebesar Rp50.000. Rasanya kayak naruh harapan kecil di sebuah toples digital. Tapi setelah dua bulan rutin isi Celengan tiap minggu, saya mulai menyadari satu hal: ini bukan cuma soal nominal yang bertambah. Ini soal disiplin dan rasa aman. Nggak seperti nabung biasa yang godaannya banyak banget, Celengan ini membuat saya merasa "mengunci" uang saya dalam tempat yang aman tapi tetap bisa bertumbuh.


    Yang saya suka lagi, setiap top-up yang saya lakukan bisa dimulai kapan saja, bahkan tengah malam saat tiba-tiba teringat ada sisa jajan. Tanpa batas minimal bulanan, tanpa penalti, tanpa perhitungan rumit. Saya tahu, 7% itu bukan angka fantastis dibanding instrumen investasi high-risk lainnya, tapi nilai stabilitas dan keamanannya membuat saya bisa tidur tenang.



    Kalau kamu seperti saya ingin menabung tapi juga ingin uangmu berkembang, tanpa harus ribet atau stres, Celengan Amartha bisa jadi jawabannya. Dengan modal kecil, bunga stabil, dan manfaat sosial yang nyata, ini lebih dari sekadar tempat nabung. Ini tentang membangun kebiasaan baik dan ikut membangun negeri, satu perak demi satu perak.


    Apalagi sekarang, saat kondisi ekonomi terasa menantang, Celengan bukan cuma jadi sarana investasi aman, tapi juga cara kita bisa tetap berkontribusi. Uang yang kita tabung, meskipun kecil, bisa membantu UMKM bertahan, berkembang, bahkan membuka lapangan kerja baru. Dan di sisi lain, kita tetap dapat keuntungan yang jelas, bisa jadi tambahan penghasilan, atau setidaknya, pondasi finansial yang lebih stabil.


    Kalau masih ragu dengan Celengan, inilah beberapa fitur dan keunggulan dari Celengan.


    Modal Terjangkau : Mulai dari Rp10.000, siapa pun bisa berinvestasi. Cocok untuk semua kalangan, termasuk pelajar atau mahasiswa.


    Imbal Hasil 7% Flat per Tahun : Imbal hasil kompetitif untuk instrumen berisiko rendah, tanpa fluktuasi atau ketidakpastian pasar.


    Tanpa Biaya Admin atau Potongan : Semua dana bekerja untuk kamu sepenuhnya. Tidak ada potongan tersembunyi.


    Fleksibel dan Bisa Top-Up Kapan Saja : Top-up bisa dilakukan kapan saja, didukung fitur pengingat dan autodebit.


    Bisa Ditarik Kapanpun Tanpa Penalti : Akses dana darurat tanpa hambatan. Tarik dana kapan pun tanpa denda.


    Transparan dan Mudah Dipantau : Laporan lengkap dan riwayat pendanaan tersedia di aplikasi, memberi kontrol penuh atas investasi.


    Memberdayakan UMKM Perempuan: Dana kamu bantu menopang pelaku usaha mikro yang kesulitan akses perbankan.


    Legal dan Diawasi OJK: Amartha sudah terdaftar dan diawasi OJK, menjamin keamanan dan kredibilitas investasi kamu.


    Berdayakan UMKM dengan Celengan 



    Yang membuat Celengan terasa berbeda dibanding produk investasi digital lain adalah dampak sosialnya. Setiap rupiah yang kita simpan, langsung diarahkan ke sektor produktif yaitu mitra UMKM perempuan yang sedang butuh modal untuk berkembang. Di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak usaha mikro kesulitan akses ke perbankan konvensional. Melalui Celengan, saya merasa bukan cuma sebagai investor, tapi juga bagian dari solusi.


    Lilis Suhartini, salah satu mitra UMKM dari Amartha. Ia berasal dari Margamekar, Pangalengan, memulai budidaya cacing lebih dari 13 tahun lalu dengan menjual cacing hidup ke pabrik farmasi. Usaha berkembang setelah Amartha memberikan pinjaman Rp 4 juta tanpa potongan pada 2023, yang digunakan untuk membeli oven besar mendorong efisiensi tinggi dan membuka lapangan kerja untuk empat orang.


    Kini Lilis memproduksi dua jenis: cacing kering Lumbricus rubellus (seharga Rp 200.000/kg), dipasok ke pabrik farmasi, dan bubuk cacing Perionyx excavatus (Rp 250.000/kg), dijual ke produsen jamu dan pelanggan via e‑commerce hingga ke Flores. Ia juga mendapat pelatihan bisnis dan keuangan digital dari Amartha, sehingga mampu memperluas pasar online. Omzet usaha ini mencapai Rp 100 juta per bulan. 


    Lilis berkomitmen meningkatkan pemanfaatan teknologi digital, memberdayakan masyarakat sekitar, dan menciptakan peluang kerja baru. Ceritanya menggambarkan bagaimana modal tepat dan pelatihan membantu UMKM pedesaan berkembang.

    Continue Reading
    Older
    Stories
    Logo Komunitas BRT Network
    Seedbacklink
    Intellifluence Herd Worth Value: $165

    Search

    Follow Me

    • facebook
    • twitter
    • youtube
    • instagram

    New Post

    Postingan Populer

    • Menjaga Mangrove dan Sumber Pangan, Inspirasi Ketahanan Pangan dari Raja Ampat
    • Menanam Harapan di Tengah Sampah, Perjuangan Swara Hijau Farm di Kampung Pemulung
    • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya Perawatan Tanpa Mengorbankan Kesehatannya
    • Kalau Bantuan Berhenti, Sudah Siapkah Berdiri Sendiri? Belajar dari Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026
    • Dari Kuala Lumpur ke Hatyai, Lalu Menemukan Penang Sekali Lagi
    • Giveaway Hop - Travel & Romance
    • 5 Cara Tampil Modis Dan Trendy
    • Yogyakarta (I) : Raminten, Prambanan & Ratu Boko
    • Mudahnya Membuka Tabungan Online
    • [Lomba Blog Pegi Pegi] Nias : Antara Lompat Batu, Surfing dan Tsunami

    Blog Archive

    • ▼  2026 (20)
      • ▼  September (3)
        • Menanam Harapan di Tengah Sampah, Perjuangan Swara...
        • Menjaga Mangrove dan Sumber Pangan, Inspirasi Keta...
        • Punya Banyak Kucing? Begini Cara Menghemat Biaya P...
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2025 (32)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (4)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2024 (52)
      • ►  Desember (6)
      • ►  November (7)
      • ►  Oktober (8)
      • ►  September (4)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
      • ►  Maret (10)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2023 (68)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (8)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (8)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (7)
      • ►  Maret (8)
      • ►  Februari (6)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2022 (75)
      • ►  Desember (14)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (12)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (4)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (12)
      • ►  Maret (6)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2021 (38)
      • ►  Desember (4)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (6)
      • ►  Mei (4)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (7)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2020 (25)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (1)
      • ►  September (1)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (2)
      • ►  April (2)
      • ►  Maret (2)
      • ►  Februari (2)
      • ►  Januari (1)
    • ►  2019 (53)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  September (6)
      • ►  Agustus (4)
      • ►  Juli (5)
      • ►  Juni (2)
      • ►  Mei (7)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (3)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (8)
    • ►  2018 (83)
      • ►  Desember (9)
      • ►  November (8)
      • ►  Oktober (7)
      • ►  September (8)
      • ►  Agustus (13)
      • ►  Juli (6)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (8)
      • ►  April (9)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2017 (36)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (2)
      • ►  Agustus (6)
      • ►  Juli (2)
      • ►  Juni (3)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (4)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2016 (41)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (4)
      • ►  Oktober (4)
      • ►  September (3)
      • ►  Agustus (2)
      • ►  Juli (3)
      • ►  Juni (7)
      • ►  Mei (3)
      • ►  April (4)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Februari (3)
      • ►  Januari (4)
    • ►  2015 (63)
      • ►  Desember (5)
      • ►  November (5)
      • ►  Oktober (11)
      • ►  September (2)
      • ►  Agustus (3)
      • ►  Juli (7)
      • ►  Juni (5)
      • ►  Mei (5)
      • ►  April (6)
      • ►  Maret (5)
      • ►  Februari (4)
      • ►  Januari (5)
    • ►  2014 (11)
      • ►  Desember (3)
      • ►  November (1)
      • ►  Oktober (3)
      • ►  Maret (1)
      • ►  Januari (3)
    • ►  2013 (5)
      • ►  Agustus (1)
      • ►  Juli (1)
      • ►  Juni (1)
      • ►  Mei (1)
      • ►  April (1)
    • ►  2010 (1)
      • ►  Desember (1)

    Blogger Friend

    • My Life My Style
      Eksplorasi Seru di Negeri di Bawah Angin, Sabah dan Kota Kinabalu
      1 hari yang lalu
    • Blog Bukunya Kimi | Banyak-banyaklah Membaca. Biar Pintar.
      Sebuah Perjalanan Panjang
      2 hari yang lalu
    • - Connect and Share Blogging Tips in Two Languages
      Ulasan Starlink Setelah 2 Tahun Pakai: Kecepatan, Biaya Asli, Kekurangan, dan Siapa yang Cocok
      3 hari yang lalu
    • fitrian.net
      Serunya Make Your Own Skincare di Wardah Skinverse
      3 hari yang lalu
    • YOGA AS YOGGAAS
      Satu Malam Penuh Cinta
      4 hari yang lalu
    • The TraveLearn
      Selamat 5 Tahun, Keluarga Kembara
      6 hari yang lalu
    • Blognya bisot
      Era Pasca-Manusia: Ketika Mesin Mulai Berpikir, Manusia Jadi Apa?
      1 minggu yang lalu
    • Small Things, Kecil Tapi Penting :)
      Berdoalah Pada Allah, Ia Sayang Sekali Pada Kita
      1 minggu yang lalu
    • Langkah Baruku
      Tips Memilih Jasa Pasang Lift Rumah yang Tepat untuk Kenyamanan dan Keamanan
      2 minggu yang lalu
    • Menuliskan Sebelum Terlupakan
      ASUS Pamerkan Laptop Tahan Banting di Blogger & KOL Gathering Yogyakarta
      2 minggu yang lalu
    • Cerita EKA
      Stamp Travel Memory: Panduan Rute Stamp Hunting di Jakarta
      3 minggu yang lalu
    • HM Zwan
      Pengalaman Menginap di Hotel Indah Palace Tawangmangu
      3 minggu yang lalu
    • Mampir yuk, kerumahku
      Kenapa Harus Belajar Bahasa Inggris? Ini Manfaatnya untuk Kehidupan Kamu
      4 minggu yang lalu
    • BLOGFAM – When Sharing Meets Caring
      60 Tahun Hari Literasi Internasional: Ketika Pengetahuan Menjadi Jalan Menuju Kemajuan
      4 minggu yang lalu
    • Ika Koentjoro
      Travel Armor Case Bag: 7 Proven Tips to Avoid Costly Packing Mistakes
      4 minggu yang lalu
    • WHEN IT'S ONLY JG & AST
      Yang Berubah Sejak Pulang Haji
      5 minggu yang lalu
    • BlogCamp
      How to Choose the Best Headhunter Company Indonesia
      5 minggu yang lalu
    • SALAMINZAGHI
      Hai. Aku Kembali.
      1 bulan yang lalu
    • punyapista
      3 Skill Sederhana yang Menentukan Sukses Gagalnya Seorang Mediator
      1 bulan yang lalu
    • Life begins at 30...
      Pulang Kampung 2026
      1 bulan yang lalu
    • Melfeyadin
      Gejala Mata Kering Bikin Nggak Nyaman
      1 bulan yang lalu
    • Berbagi Cerita
      Tips Memilih Kipas Angin yang Awet dan Ramah di Kantong
      2 bulan yang lalu
    • tindak tanduk arsitek
      lampau melekat dari angkor wat
      2 bulan yang lalu
    • ..:: ntan™ | bunga dengan nama terbuka
      Surat untuk Kamu, dan Diriku
      2 bulan yang lalu
    • Lucia Priandarini
      Ketika Anakku Bisa Mengalahkanku, Aku Menang*
      3 bulan yang lalu
    • Akhmad Muhaimin Azzet | mari bersama menggapai ridha-Nya
      Akan Datang Rezeki dari Arah yang Tidak Disangka
      4 bulan yang lalu
    • Jurnal Evi Indrawanto
      Menikmati Iskender Kebab di Yüce Hünkâr, Sensasi Kuliner yang Legendaris di Bursa
      4 bulan yang lalu
    • Motherhood
      Panduan Menggunakan WhatsApp BCA di 08111500998 untuk Cek Tagihan Kartu Kredit
      4 bulan yang lalu
    • My Purple World
      Umroh Perdana dan Mandiri - Never Ending Journey to Reach His Blessings - part 7 Jeddah
      5 bulan yang lalu
    • desperate housewife
      Postingan Terakhir
      5 bulan yang lalu
    • Tukang Ngukur Jalan
      Stop Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), Ayo Ikut Andil Mengubahnya!
      6 bulan yang lalu
    • Indah Julianti
      17 Channel YouTube Favorit Perempuan 50 Tahun Plus
      6 bulan yang lalu
    • Write Your Diary
      Ghibli vs Disney: Why They Are Nothing Alike
      7 bulan yang lalu
    • ge[n][d]ud BlogPacker
      Akurasi Pers vs Kecepatan Media Sosial
      7 bulan yang lalu
    • Kimi's Cool Blog
      Kembali Mengkristik
      8 bulan yang lalu
    • Pipit Widya
      Random
      9 bulan yang lalu
    • Shintaries
      Welcome 2026!
      9 bulan yang lalu
    • The Shymphony Of EKA
      Dubbing Film di Mall, Apa Rasanya?
      9 bulan yang lalu
    • Putrinyanormal
      Discovering Kimono : Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional
      1 tahun yang lalu
    • Herdis Suryatna | Pengalaman adalah guru yang terbaik
      Sewa Hiace Luxury Harga Terjangkau dan Nyaman di Bandung dan Ciamis
      1 tahun yang lalu
    • Rumah Mayaku
      Ada Apa Di Balik Cerita "Lauk Daun"?
      1 tahun yang lalu
    • pemainkata | sekadar bilik kecil pecinta kata
      Humor Konyol Kata Kata Bijak Lucu: Obat Ampuh Untuk Hidup
      1 tahun yang lalu
    • my story
      Saat Mata Kering Mengganggu Aktivitas Kerja, Insto Dry Eyes Solusinya
      1 tahun yang lalu
    • Macangadungan
      Microsoft is bringing cloud gaming to Xbox consoles later this year
      1 tahun yang lalu
    • udafanz[dot]com
      Strategi SEO untuk Meningkatkan Prospek Bisnis Anda
      1 tahun yang lalu
    • Linda Leenk - Little Part of My Life
      2024 Fellowship Journey
      1 tahun yang lalu
    • Dunia Kecil Indi
      Surat untuk Mika di Surga (Hari AIDS Sedunia)
      1 tahun yang lalu
    • Gembul Kecil Penuh Debu
      Mangut Iwak Wader ❤
      1 tahun yang lalu
    • Wira Nurmansyah
      Discovering Macao: A Unique Fusion of East and West
      1 tahun yang lalu
    • Sisi Hidupku
      Apa Kabar Senin Pagi
      2 tahun yang lalu
    • Lianny Hendrawati
      Resep Mini Banana Choco Cake Tanpa Mixer
      2 tahun yang lalu
    • a Dreamer - Travelographer - Food Adventurer - Travel Blogger
      Mau Liburan ke Vietnam? Catat 5 Tips Berikut!
      2 tahun yang lalu
    • Una Vida Escrita de la Una
      Bye Bye My Friend
      2 tahun yang lalu
    • every mom has a story
      Sastra masuk sekolah, mana buku sastra yang layak dibaca pelajar SMA, mana yang tidak?
      2 tahun yang lalu
    • Mira Sahid
      Hati Seperti Kertas
      2 tahun yang lalu
    • Cokelat Gosong
      Jangan Biarkan Usia Membatasimu, Stay #AgelessLimitless with ERHA ULTIMATE
      2 tahun yang lalu
    • DISGiOVERY
      Keindahan Pantai Pasir Kencana Pekalongan yang Memukau
      2 tahun yang lalu
    • Catatan Perjalananku
      Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024 di Indonesia
      3 tahun yang lalu
    • Redcarra
      PLTS: Membangun Masa Depan Bersih dan Berkelanjutan
      3 tahun yang lalu
    • Ratu de Blog
      Rekomendasi Olahraga Untuk Menurunkan Berat Badan
      3 tahun yang lalu
    • Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik » Bisnis, Motivasi, Inspirasi, Opini, Hiburan, Informasi, Sosial Media, Tip & Trik
      Over 50 Dating – Finding a Good Online Dating Site for You
      3 tahun yang lalu
    • suarane.org
      Kere-Aktif
      4 tahun yang lalu
    • SimBale - Download Software Gratis
      AVG Anti-Virus 22.8.7500
      4 tahun yang lalu
    • backpackstory
      Puncak 29 Rahtawu Gunung Muria: Kisah Pendakian Penuh Petilasan
      4 tahun yang lalu
    • Cinta Teknologi
      Router Static Berbasis CLI di Cisco Packet Tracer - Cinta Teknologi
      4 tahun yang lalu
    • Sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane
      Top 10 Satisfactory Depended On Loose Bitcoin Cloud Mining Websites Without Investment Of 2021 – The Bharat Specific News
      4 tahun yang lalu
    • Dunia Senja
      Catatan Hati Penghujung Tahun 2021
      4 tahun yang lalu
    • Blog - Lucedale.
      Dearest: New Post
      5 tahun yang lalu
    • #FDCG
      bye 🌻
      5 tahun yang lalu
    • jinjinger
      Kompleks
      5 tahun yang lalu
    • Jefferson's Stage.
      The Diplovemat
      5 tahun yang lalu
    • Nova Wijaya
      Sebelum Mulai Investasi Online, Yuk Pahami 5 Cara Aman Berinvestasi Berikut Ini
      5 tahun yang lalu
    • Resep Kuliner Indonesia dan Dunia
      Karedok Leunca
      6 tahun yang lalu
    • Dian Kelana
      Lindungi Keluarga Kita dengan Antiseptik.
      6 tahun yang lalu
    • Garis Horizon
      Apakah benar semua akan baik-baik saja?
      6 tahun yang lalu
    • .: adie DOES :.
      Sendirian di Uchisar Castle
      6 tahun yang lalu
    • Kehidupan Di Jepang
      Main Snowboard
      6 tahun yang lalu
    • Kaleng Harapan » Kamera Lubang Jarum
      3 Fakta dibalik Promo 12.12
      6 tahun yang lalu
    • Stay Hungry. Stay Foolish
      Rindu Budaya Ilmu
      6 tahun yang lalu
    • Dunia Iwok
      [Family Vacation] Menikmati Petik Apel di Kota Batu Malang - Part 4
      6 tahun yang lalu
    • Pemimpi Hujan
      Nyobain 6 Menu Terbaru Horison Ultima Ratu
      6 tahun yang lalu
    • Dija Princess
      Jelajah Desa Galengdowo
      6 tahun yang lalu
    • Fardelyn Hacky
      Setop Stigma Orang dengan Gangguan Jiwa
      6 tahun yang lalu
    • Taqorrub.com
      new chair
      6 tahun yang lalu
    • Bangsari
      Nahdliyyin Yang Bersujud Di Hadapan Yesus
      7 tahun yang lalu
    • Donna Imelda
      Bebas Komedo dan Bekas Jerawat dengan Sabun Herbal Banana Peel Carbon
      7 tahun yang lalu
    • Keluarga Haripahargio
      REPLACED
      7 tahun yang lalu
    • Blog Adi Nugraha
      Wisata Alam yang Menakjubkan di Sulawesi Utara
      7 tahun yang lalu
    • All of Putri (¬.¬)ƪ_(˘⌣˘'!)
      I wanna asking...
      7 tahun yang lalu
    • A HOUSEWIFE'S DAY OUT
      Vincent van Gogh, just my simple thought.
      7 tahun yang lalu
    • Natureve Shop
      Istri Marah Karena Terlalu Cepat Ejakulasi? Pake Ini Biar Gagah
      7 tahun yang lalu
    • BETOIJO
      GOD'S MIRACLE: I GOT A NEW JOB!
      7 tahun yang lalu
    • Ninik Setyarini
      [Bukan Sinopsis] Bohemian Rhapsody
      7 tahun yang lalu
    • TGIF! Magazine
      Kereta Hantu Pagi Hari
      7 tahun yang lalu
    • fanabis
      Craftsman Style Kitchen Faucet
      7 tahun yang lalu
    • lalank pattrya dan hal random lainnya.
      Ngatain Mereka Disini
      7 tahun yang lalu
    • Galaksi Pungky
      Review: Sakura Collagen Cream Anti Age's, Siap Menua dengan Kulit Bahagia!
      8 tahun yang lalu
    • Aksaraku
      Rasakan Indahnya Malam Pertama di Bali Itu Mudah dan Murah, Begini Caranya
      8 tahun yang lalu
    • Aulia Fasya
      Masa Lalu dan Jejak Digital
      8 tahun yang lalu
    • Anisa AE
      Penyebab Ibu Kandung Aniaya Bayi Calista
      8 tahun yang lalu
    • Narzis Blog
      Ayo Move On!
      8 tahun yang lalu
    • Beby's Diary
      Ayang-Ayangan di Depan Umum
      8 tahun yang lalu
    • sketsa hati
      Visit Zugspitze from Munich by Train
      8 tahun yang lalu
    • Ca Ya
      Yang Tidak Biasa dari Nikahan Incess Ca Ya
      8 tahun yang lalu
    • A Border that Breaks
      Janus dalam Mozaik-Mozaik Kecil
      8 tahun yang lalu
    • irhapunya
      #PontianakTrip : Menjelajah Rasa dengan Kuliner Pontianak
      8 tahun yang lalu
    • Tulisanku
      Begini Cara Memindahkan Data dari Blogdetik ke WordPress
      8 tahun yang lalu
    • Bibi Titi Teliti
      Menyongsong Masa Depan Digital bersama CBN
      8 tahun yang lalu
    • HELLO!
      9 Teknik Dasar Yang Harus di Kuasai Dalam Permainan Tenis Meja
      9 tahun yang lalu
    • Catatan Anazkia
      Gerbong Wanita, Tak Semenyeramkan yang Dikira
      9 tahun yang lalu
    • My Daily Notes
      Berbagi Inspirasi
      9 tahun yang lalu
    • Ruang Emak
      SO GOOD Ayam Potong Kuah Cabe Hijau, Sajian Spesial Di Hari Lebaran
      9 tahun yang lalu
    • eithea
      My Favorite Time of in day
      9 tahun yang lalu
    • Rianda Prayoga Blog
      Ngabisin Uang THR, Kenapa Gak?
      9 tahun yang lalu
    • Blog Anak Nelayan
      Blog Gak Pernah Update
      9 tahun yang lalu
    • Jalan Pendaki
      Annapurna Basecamp Series: Drama Pertama Menuju Tanah Dewa-Dewa Himalaya
      9 tahun yang lalu
    • Netnesia
      Telkom Buka Pemblokiran Netflix
      9 tahun yang lalu
    • Widaku.com
      Temukan Sunscreen Yang Baik Untuk Wajah Disini
      9 tahun yang lalu
    • Perjalanan Tak Berujung
      Lidah di GOYANG pak Asep Stroberi
      9 tahun yang lalu
    • Gulanya Gulali
      Ingin Menghemat Pengeluaran? Gunakan Jasa Catering Aja!
      9 tahun yang lalu
    • Travel Diary
      Si Yaki dan Tarsius Bitung yang menggemaskan
      9 tahun yang lalu
    • Jendela Keluarga
      Pentingnya Mengembangkan Kecerdasan Sosial
      10 tahun yang lalu
    • Ayu Saritem Blog
      Cara Membuka Aura Kecantikan Bagi Wanita Hamil
      10 tahun yang lalu
    • mata buku indri
      Review: Trilogi Insiden
      10 tahun yang lalu
    • Arsitektur Dunia | Gallery Arsitektur Dunia
      Lorem ipsum dolor sit amet
      10 tahun yang lalu
    • when journalist becomes backpacker
      THE FACE OF TERRACOTTA, CHINA
      10 tahun yang lalu
    • Jurnal Mira Sahid | Emak Blogger
      That Moment!
      10 tahun yang lalu
    • Jejak BOcahiLANG
      Candi-Candi Majapahit di Situs Trowulan
      10 tahun yang lalu
    • aksara senandika | Sedikit noktah kehidupan
      Aku Sedang Malas
      10 tahun yang lalu
    • Petrus Andre Blog
      10 Hal yang Harus Dilakukan agar Blog Kamu Lebih Menghasilkan
      10 tahun yang lalu
    • Nicegreen
      Allah Menegurku Dengan Syaraf Kejepit
      10 tahun yang lalu
    • Wuri Nugraeni | Reporter, Menulis, dan Wisata
      Pindah Rumah ke wurinugraeni.com
      10 tahun yang lalu
    • AGIASAZIYA
      PAKSAISME
      11 tahun yang lalu
    • Controversy
      Less is More dalam Kumpulan Cerita
      11 tahun yang lalu
    • SECAWANKOPISENJA
      [Flash Fiction] PURA-PURA PULANG
      11 tahun yang lalu
    • Febry Hadinata WordPress
      Jogja x Dieng x Solo Part 1
      11 tahun yang lalu
    • Saoscabe.com | Website Humor Indonesia
      Fakta Kota Tembung
      11 tahun yang lalu
    • Albarnation
      Mau Kredit Motor ? Di Cermati.com Aja
      11 tahun yang lalu
    • Makhluk Kecil
      Pindah
      11 tahun yang lalu
    • Ahmad Rafiq Chaniago
      Pameran Seni Rupa Lima Jari
      11 tahun yang lalu
    • Melihat Dunia
      Before I Die I Want...
      11 tahun yang lalu
    • Catatan Ruslan
      Satu Jam Menyusuri Sungai Kahayan
      11 tahun yang lalu
    • .:: Nhie ::. | Just another WordPress.com weblog
      Noda Makanan di Pakaian
      11 tahun yang lalu
    • The Dusty Sneakers
      Memori
      11 tahun yang lalu
    • Beautify Me
      Etude House Etoinette Princess Pouch
      13 tahun yang lalu
    • yosbeda
    • Chronosphere
    • hidayah-art.blogspot.co
    • zubaid.ID
    • Tukangecuprus
    • Arian's Blog
    • Benablog - Cerita Si Benakribo
    • Jogja Ready
    • Angga Ong
    • yandi punya cerita
    • Jejaring Miss Fenny
    • pegipegi.com: Pesan Hotel & Tiket Pesawat Termurah Online
    • BlogS of Hariyanto
    • Catatan Kartina
    Perlihatkan 5 Perlihatkan Semua

    Labels

    Asuransi Backpacker Bank Budaya Fashion Film Movie Review Wisata otomotif
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top