Konser Syukur Atas Cinta & Kehidupan



Tepat tanggal 27 Juni lalu, sebuah konser musik untuk pendidikan anak bertajuk Syukur Atas Cinta dan Kehidupan di gelar di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Konser ini merupakan persembahan anak-anak Sanggar Anak Akar yang menyajikan beberapa penampil termasuk Akar Grandsamble yang dibesut oleh pengelola Sanggar Anak Akar.

Dalam postingan sebelumnya mengenai konser ini, dijelaskan bahwa lahan dan bangunan yang berada di wilayah Cipinang Melayu, tempat sebagian anak-anak jalanan dan kaum marjinal menimba berbagai ilmu ini akan di hancurkan oleh sebuah proyek pembuatan jalan tol Bekasi, Cakung, Kalimalang, Kampung Melayu atau yang biasa di sebut dengan Tol Becakayu yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Sungguh menyentuh kabar tersebut, apalagi pendidikan formal dengan slogan wajib belajar 9 tahun pun tak menyentuh beberapa anak yang putus sekolah dan anak jalanan.

Masalah ini pelik, namun sebagai lulusan pendidikan tinggi dari orang tua berpunya, saya selalu mengucap syukur, saya tak merasakan kesulitan yang dialami anak-anak Sanggar Akar. Wajib belajar 9 tahun di tambah dengan pendidikan tinggi di Universitas saya peroleh dengan biaya orang tua. Namun, anak-anak ini memiliki kendala yang harus dipikirkan bersama, karena masalah sosial seperti ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, namun masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama. 


Akar Grandsamble Penampil Pertama 

Sebelum konser di mulai, Rektor IKJ sempat menyampaikan beberapa kalimat mengenai peran penting sebuah institusi pendidikan tinggi yang ikut turut serta membantu pendidikan non formal seperti yang dilaksanakan Sanggar Anak Akar. Hadir pula Menteri Pendidikan, Bapak Anis Baswedan yang ikut serta mendukung Konser  Musik Untuk Pendidikan. Bapak Anis menyebutkan bahwa tak hanya Pemerintah, namun masyarakat juga harus memiliki visi sama mengenai pendidikan non formal, dan dapat dilaksanakan oleh siapapun.

Akar Grandsamble menampilkan beberapa lagu yang di arasemen langsung oleh anggota Akar Grandsamble. Tampil membawakan lagu dengan santai dan menyenangkan, namun sangat menghibur. Anak-anak pun tampil bernyanyi dan bermain berserta Akar Grandsamble. 

Setelah Akar Grandsamble, giliran Marya Genova dan Ratu Queenous menampilkan lagu sendu yang diciptakan semuanya oleh Akart Grandsamble. Lagu-lagu yang ditampilkan merupakan buah dari kegundahan akan nasib anak-anak yang ingin mengenyam pendidikan di Sanggar Anak Akar, namun sepertinya impian dan cita-cita mereka sirnah karena traktor-traktor dan tiang pancang besi itu menancapkan kepedihan mendalam. Tak hanya mengenai pendidikan, namun kritik sosial pun menwarnai beberapa lagu yang dibawakan secara mendalam oleh Marya Genova dan Ratu Queenous.


Bonita dan The Hus Band membangunkan saya dari kantuk, ketika membawakan sebuah lagu dengan suara merdu Bonita. Nah, saya suka sebuah lagu yang dinyanyikan Bonita, salah satu pengalan dari lagu itu adalah 

Dunia ini semakin gelap ...

Penuh duka nestapa

Bongkar telinga hatimu
Tuk mendengar suara-suara di sekelilingmu
Tentang hilangnya harapan ....

Dari lirik, saya temukan makna empati, simpati dan rasa berbagi terhadap orang lain di sekitar kita. Mungkin, saya memilih keluarga yang harus saya perhatikan, kemudian teman, tetangga dan orang tak dikenal sekalipun yang memiliki kekurangan, wajib hukumnya untuk kita tolong. Menolong pun sesuai dengan kemampuan dan kemauan yang dimiliki, misalnya yang saya lakukan sampai saat ini adalah berbagi melalui tulisan dan pemikiran.


Di akhir, Tony Q Rastavara dan Navicula mengoyang Taman Ismail Marzuki dengan lagu-lagu yang sangat familiar di telinga para fans fanatiknya masing-masing. Tony Q Rastavara dengan genre musik reagenya dan Navicula dengan musik poprock yang liriknya banyak mengkritisi pejabat yang senang mengelapkan uang rakyat.

Diantara waktu jeda, terdapat lelang lukisan dan hasil karya beberapa orang seperti lukisan Tony Q Rastavara, kemudian foto hasil karya kamera lubang jarum yang dipersembahkan dari Sekolah Raya dan beberapa orang lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.



Dari Lelang tersebut, terkumpul dana lahan dan bangunan sekitar 28 Juta Rupiah, dari nominal tersebut diantaranya merupakan sumbangan langsung dari Kementerian Pendidikan RI. Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berbaik hati menyumbangkan dana, tenaga dan pemikiran untuk konser kali ini. Merekalah malaikat tanpa sayap yang hadir di Dunia ini untuk membantu sesamanya.


  • Share

JENG BUKU



Setiap manusia memiliki peran dalam kehidupannya masing-masing, ada yang memiliki peran dan profesi sebagai guru, pejabat, dokter, polisi, politisi, pegawai kantoran, dan lainnya. Peran ini hanyalah sebagian kecil, masih banyak peran yang bisa dilakukan, tidak terbatas dan tidak mengenal suku, agama dan hal-hal yang membatasi lainnya. Kita adalah peran yang kita pilih, entah itu baik buruk, kecil besar, ataupun abu-abu maupun samar, peran ini hanya sebuah pilihan, pilihan yang sekali lagi bebas dan bertanggung jawab.

Komunitas Beraksi (KORSI) mengajak kita semua berperan nyata bagi kemajuan bangsa melalui buku dan aksi sosial lain

Berlatar dari peran tersebutlah KORSI bergerak maju selangkah demi selangkah mengengam harapan setiap anak manusia di ujung Indonesia sana yang menantikan setiap buku bacaan yang seharusnya kami salurkan dengan dukungan dana yang mencukupi. 

KORSI bukanlah suatu bentuk yang baku, kami melebur menjadi bentuk semu namun nyata, karena kami hanya wujud sementara dari beberapa komunitas yang peduli dengan nasib anak bangsa yang ingin mengetahui setiap kata-kata dan pembelajaran dari buku yang disalurkan. Komunitas yang bergerak di dalamnya ada Hibah Buku, SAJUBU, Buku Bagi NTT, Sagu Maluku, Komunitas Filantropi, Buku Berkaki, Blogfam, Sekolah Raya, dan kami masih menerima beberapa komunitas dan perseorangan lain yang ingin bergabung demi aksi nyata ini.

#JENGBUKU membuka Donasi
#JengBuku (Jualan Demi Ongkir Buku) akan diadakan pada hari Sabtu, 4 Juli 2015 bertempat di Taman Menteng, Jakarta. Untuk menyemarakan suasana #JengBuku menghadirkan beberapa musisi yang menemani sore sebelum berbuka dalam lapak melodi, kemudian terdapat Lapak donasi yang membuka dropbox (sumbangan) berupa buku bacaan , buku gambar, pensil warna dan lainnya, tak lupa bagi anak-anak dan remaja serta dewasa yang ingin membaca, disediakan lapak baca berupa perpustakaan keliling.



Sebagai wujud pengumpulan donasi, kami membuka lapak dibuang sayang, yatu penjualan barang-barang bekas yang masih layak pakai. Untuk memenuhi lapak tersebut, kami membuka dan menerima donasi berupa pakaian, aksesoris, tas, sepatu dan beberapa barang lainnya dengan menghubungi Salman dan Novita. 



Website KORSI : http://komunitasberaksi.tumblr.com
Twitter : @aksikami 
  • Share

Melodi dari Sanggar Anak Akar


Sumber Foto : Sanggar Anak Akar 

Jakarta dengan segudang harapan, Jakarta yang telah membuat saya, atau siapa pun turut bertahan demi tuntutan kebutuhan sehari-hari. Jakarta, kota penuh peluh, keringat dan air mata para pengais rejeki, entah di jalan, di kantor, atau pun di dalam gedung-gedung megah. Jakarta yang mengerogoti sebuah akar dari anak-anak yang bernaung di dalamnya. Jakarta yang hanya mampu menuruti segala nafsu duniawi, tanpa adanya empati dan rasa memiliki.

Tulisan saya kali ini dibuka dengan sebuah puisi mini yang sebetulnya mencerminkan sebuah kegundahan dan keresahan yang kian mendalam. Sebuah kabar inilah yang masih menjadi masalah besar bagi "Sanggar Anak Akar".

Sanggar Anak Akar


Mendengar nama "Sanggar Anak Akar" tentunya sangat erat kaitannya dengan rumah bernaung bagi siswa-siswa yang ingin belajar dan menimba ilmu. Sanggar ini memberikan keterampilan, pengembangan bakat, life skill dan masih banyak ilmu lainya. Sanggar Anak Akar berdiri sejak November 1994. Tujuan utama pendiriannya adalah menyediakan rumah untuk tumbuh kembang anak. Pendirian tersebut mengalami kendala, karena sering berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, nomaden, tidak memiliki sebuah tempat tetap.

Beruntung pada tahun 2003, Sahabat Akar memberikan dukungan berupa penggalangan dana yang bertujuan mengadakan lahan dan bangunan Sanggar Anak Akar. Alhamdulillah setahun kemudian, tanah seluas 900 M2 berhasil dikumpulkan dari hasil penggalangan dana tersebut.

Namun, kebahagian anak-anak Sanggar Akar tak bertahan lama. Anak-anak jalanan tersebut harus kembali terombang-ambing dalam ketidakpastian setelah kabar rencana pembangunan jalan Tol Bekasi Cawang Kampung Melayu (Becakayu) resmi diumumkan. Kabar inilah yang membuat tanah dan bangunan Sanggar Anak Akar akan tergerus dan digusur oleh berjalannya sebuah pembangunan jalan tol yang akan dilaksanakan sekitar tahun 2017.

Sahabat Akar, relawan dari Sanggar Anak Akar, mencoba beberapa alternatif penggalangan dana yang diharapkan dapat menyuplai sumber dana untuk lahan dan bangunan baru bagi anak-anak jalanan dari kaum marjinal. Beberapa kali, Anak Sanggar Akar tampil di Teater Jakarta demi mendapatkan dukungan dana.

Kini, sebuah Konser Musik Untuk Pendidikan Anak telah dirancang sebagai bagian pengumpulan pundi-pundi kebaikan tersebut. Konser bertajuk "Syukur Atas Cinta & Kehidupan". Mari kita bantu Sanggar Anak Akar untuk memberikan harapan-harapan nyata anak-anak jalanan dari kaum marjinal yang tergerus oleh traktor-traktor ganas Jakarta yang meratakan harapan mereka satu per satu.

Anak-anak pun ingin menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memukau para penonton. Latihan hari-demi hari, harapan demi harapan, keringat dan peluh, serta kekuatan sebuah ketulusan hati dengan mempersembahkan kepada kita, inilah anak-anak Sanggar Akar yang memiliki cinta dan kasih sayang kepada sesamanya melalui Melodi dari Akar Grandsamlbe. 

Tak hanya anak-anak, beberapa musisi turut serta menyemarakan konser ini, yaitu Bonita and the hus band, Ratu Queenous, Marya Genova, Tony Q dan Navicula.Untuk menyaksikan konser musik ini harga tiket Donasinya sebesar Rp 150.000.



Berawal dari kabar pengusuran tanah dan bangunan Sanggar Anak Akar tersebut, maka digelarlah sebuah konser bertajuk KONSER MUSIK UNTUK PENDIDIKAN ANAK : SYUKUR ATAS CINTA DAN KEHIDUPAN 

Program Kegiatan Sanggar Anak Akar 



Kontak Sanggar Anak Akar

Alamat : 
Jl. Inspeksi Saluran Jatiluhur No. 30 RT 007/001
Cipinang Melayu Gudang Seng
Jakarta Timur, Indonesia 13620

Phone : 021 - 8574 923

Email : sanggarakar@yahoo.com

Twitter : @SanggarAnakAkar

Web site : SanggarAnakAkar
  • Share

Belajar dari Samsung di Banjarmasin


Jagad raya itu adalah laboratorium  bagi pikiran yang serba ingin tahu ~ Martin H. Fischer

Alam semesta dan jagad raya itu luas dan tak terbatas, begitu juga bumi ini pun luas. Bagi siapapun yang ingin mengetahui ilmu apapun, sebenarnya Tuhan telah memberikan beberapa sabdaNYA, bahwa alam dan seisinya merupakan tempat pembelajaran yang sangat luas dan tak akan habis jika digali terus-menerus. 

Martin H. Fischer menyebut jagad raya itu sebagai laboratorium, sebagai tempat bagi orang yang ingin tahu. Keingintahuan yang tinggi inilah yang mendasari beberapa penemuan ilmu dan pengembangan ilmu pada era sekarang. Kita tahu bahwa teknologi kini merupakan penyempurnaan dari edisi sebelumnya. Tidak statis namun dinamis dan akan terus menerus diperbaharui.

Secara singkat, belajar bisa dilaksanakan dimana pun, dan oleh siapapun yang ingin menjadi mahir di bidangnya. Dan, hal ini saya temukan pada beberapa hari lalu, tepatnya 28 Mei 2015, ketika saya berkesempatan hadir dalam pembukaan Rumah Belajar Samsung (RBS) di Banjarmasin. RBS saya artikan sebagai laboratorium pembelajaran yang sangat bermanfaat.

Rumah Belajar Samsung di Banjarmasin   
 

Sebelumnya, Rumah Belajar Samsung telah di resmikan di beberapa tempat, yaitu Jakarta, Cikarang, Medan, dan Tanjung Morrawa (dekat Makassar). Bisa diartikan bahwa Banjarmasin sendiri merupakan tempat kelima RBS tersebut. PT Samsung Electronics Indonesia berkomitmen melalui Corporate Citizenship yang diwujudkan dengan pendirian RBS. Tujuan utama yang ingin dicapai sangat mulia, yaitu mengurangi jumlah angka pengangguran di usia produktif. Usia produktif berkisar antara 17-24 tahun.

Samsung mengandeng beberapa pihak yang ikut berkolaborasi dalam pembukaan RBS tersebut, Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), dan SMK Yayasan Pendidikan Teknologi (YPT) Banjarmasin. Selain kedua pihak, pihak Provinsi Kalimantan Selatan, dan Kota Banjarmasin memberikan dukungan penuh pada peresmian RBS tersebut.

Sebagai pelaksana program Rumah Belajar Samsung, SMK YPT memiliki standar kurikulum dan ISO dengan kualifikasi siswa yang mendukung program tersebut sehingga melahirkan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja nantinya. Hal ini sepenuhnya berhubungan dengan komitmen RBS untuk mengurangi pengangguran di usia produktif.

Pada Rumah Belajar Samsung di Banjarmasin ini terdapat Samsung Smart Library. Samsung Smart Library merupakan sebuah media pembelajaran yang disiapkan pada Rumah Belajar Samsung untuk membantu proses belajar. Disiapkan sebanyak 20 Samsung Galaxy Tab untuk mendukung Smart Library yang berisi teori pendukung dan softskill yang dapat dipergunakan baik oleh siswa maupun masyarakat sekitar.

Ibu Siti Masitah, Kepala Sekolah SMK YPT Banjarmasin
Hadir dalam pembukaan Rumah Belajar Samsung, Kepala Sekolah SMK YPT Banjarmasin Ibu Siti Masitah, Vice President PT Samsung Electronics Bapak Lee Kang Hyun, Bapak Agum Gumelar beserta Istri, Perwakilan dari Gubernur Kalimantan Selatan, Bapak Iskandar Irwan dari Yayasan Cinta Anak Bangsa, dan beberapa perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin.

Pada sambutannya, Pak Lee mengungkapkan bahwa Samsung berkomitmen dalam pendidikan dan pengangguran, hal ini telah direalisasikan dalam "Rumah Belajar Samsung". Para pembicara lain, juga menyatakan hal serupa dan mendukung kegiatan Rumah Belajar Samsung dan diharapkan beberapa perusahaan lain ikut melaksanakan program yang sama. 



Kisah Sukses Almuni RBS 


Bukti bahwa RBS telah berhasil mengurangi angka pengangguran di usia produktif dihadirkan Deri sebagai pembicara dalam sesi tanya jawab dengan media dan blogger. Deri mennyatakan bahwa RBS telah memberikan kontribusi sangat positif terhadap karirnya. Saat ini ia telah memiliki perusahaan kecil yang bergerak dalam bidang jasa perbaikan AC.

Galeri Foto




  • Share

Kado Buku Di Harbuknas

 

Dengan Buku, Aku Melihat Dunia Tanpa Batas 
17 Mei, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). Patut kita rayakan dengan meriah dan megah, ya seperti pesta tahun baru dengan kembang api, atau mungkin pada saat 17 Agustus yang dirayakan dengan lomba-lomba meriah, dan upacara bendera. Namun, nyatanya, hanya sebagian orang saja yang memeriahkan. Padalah buku itu sumber ilmu, wawasan dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Patut kita renungkan bersama, mengapa tidak ada pesta yang memeriahkan sebuah hari tentang buku yang begitu penting. Mungkin saja, hanya beberapa toko buku yang mengelar pesta bukunya, pun sudah begitu bergembira dengan adanya pesta buku semacam itu.

Berangkat dari sebuah sinergi yang sama pasukan singkong mewujudkan sebuah kado buku untuk Taman Baca Masyarakat dan Individu. Pasukan singkong merupakan kumpulan anak muda yang rajin berbagi, mereka berasal Komunitas dari Hibah Buku, Sajubu, Buku Berkaki, Buku Bagi NTT, Sagu Maluku, Relawan KFP dan Blogfam, namun terdapat individu yang bergabung tanpa mengusung bendera komunitas.

Lomba ini membuka kesempatan bagi TBM dan Individu untuk mengungkapkan minat baca yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Mengapa minat baca yang kami perhatikan? Jawabnya mungkin saja sama dengan antusiasme menyambut Harbuknas itu sendiri. Minat baca di Indonesia lebih rendah di bandingkan beberapa negara tetangga di ASEAN. 

Info lomba selengkapnya dan pemenang : Kado di Harbuknas 


Pemenang Kado di Harbuknas

Sumber Foto : Hibah Buku

Setelah melalui tahap penjurian, ditetapkanlah 4 pemenang, 1 Individu dan 3 dari TBM. Berikut Pemenangnya :

Individu : Adisa Soedarso 

Adisa tergabung dalam Klub Buku Bandung. Adisa menuliskan minat baca pada kota Bandung. Beberapa hal yang dilakukan oleh Kota Bandung sebenernya telah maksimal, seperti mengadakan Pesta Buku, Penyediaan Perpustakaan dengan koleksi lengkap dan Seminar dan Talkshow pun ikut digelar. Menurutnya, minat baca warga Bandung masih minim, dibandingkan dengan televisi dan radio.

Berikut tulisan lengkap Adisa : Mencintai Literasi Sejak Dini.


TBM : Ruang Inspirasi - Naluri Bella Wati

Ada semacam perasaan sedih ketika membaca sebuah artikel dari Naluri yang berjudul R.I.P Ruang Inspirasi. Ruang Inspirasi adalah sebuah Taman Baca yang didirikan di Desa Titi Akar, Pulau Rapat, Kabupaten Bengkalis, Riau. Namun, pada sekitar Desember 2014, Ruang Inpirasi habis dilalap si jago merah. Seakan merasakan betapa kehilangan sebuah tempat yang bukan hanya sebuah taman baca, namun tempat belajar, diskusi, dan melahirkan karya-karya baru.

Bagi yang ingin berbagi menyumbangkan buku ke Ruang Inspirasi bisa kontak langsung Naluri di twitternya

Berikut tulisan lengkap Naluri : R.I.P Ruang Inspirasi 


TBM : Perpustakaan SMK Taman Siswa Jetis Yogyakarta - Alit P. Samekto 

Alit merupakan pustakawan di SMK Taman Siswa Jetis Yogyakarta. Sebagai sekolah swasta, Perpus tersebut tidak mendapatkan suplai rutin dari pihak tertentu. Kondisi perpustakaan tersebut yang membuat Alit membuat tulisan dan mengajukannya dalam kado harbuknas ini.

Tulisan lengkap Alit dapat di baca : Perpustakaan Taman Siswa 


TBM : Taman Baca Sebangau For Kids - Hardian Agustin 



Membaca note facebook dari Hardian Agustin ini, serasa dibawa kembali kemasa lalu, masa bermain, dan bercita-cita tinggi. Ada Via, yang bercita-cita menjadi pramugari, lain lagi dengan Ihwan yang ingin menerbangkan pesawat dengan cita-citanya sebagai pilot, dan Ryan yang ingin populer sebagai pemain sepakbola. Mereka bertiga merupakan pembaca setia di Taman Baca Sebangau For Kids. Dengan adanya Taman Baca, semoga cita-cita tulus mereka dapat terealisasi. Amin.

Kisah lengkapnya dapat dilihat di : Taman Baca Sebangau For Kids.


Demikian, sharing saya mengenai Harbuknas. Semoga semangat berbagi bukan hanya hak prerogratif orang berpunya, namun menjadi hak setiap manusia yang memiliki hati dan mau berbagi dalam bentuk apapun, termasuk berbagi dengan tulisan ini.


Baca Juga :
Indahnya Symphony of Light Hongkong
Berkeliling Museum Benteng Vredebrug Yogyakarta
Rasa Indonesia di Cuaseway Bay Hongkong 
Sisi Sunyi Taman Sunyaragi Cirebon
Surga Lampion di Jawa Tengah  

  • Share